
1 bulan kemudian
Adisya dinyatakan koma oleh dokter, Vanessa dkk hanya bisa menunggu Adisya sadar. Vanessa dan satria pun sudah sangat dekat, kemanapun Vanessa pergi pasti satria akan mengantarkannya, kecuali jika Vanessa menuju markas. Seperti pagi ini Vanessa akan menuju ke perusahaan dan satria sudah menjemputnya, ya awalnya Vanessa menolak tetapi seiring berjalannya waktu Vanessa mulai menerima perlakuan satria.
"Ayah,bunda Nessa berangkat dulu ya." Ucap Vanessa lalu mencium pipi kedua orang tuanya.
"Dadah kakak gantengku dan adikku tersayang." Ucap Vanessa mencium ketiga kakaknya dan daniar.
"Hati-hati dijalan sayang." Ucap ayah dan bunda.
"Bro jagain Adek gue." Ucap Dean. Satria hanya mengangguk saja.
Mereka berjalan menuju ke mobil satria. Vanessa sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi ceria kembali, entah apa yang membuatnya menjadi ceria kembali. Bahkan keluarga dari Adi Pratama saja masih berada di penjara bawah tanah, sedangkan Sharon dan ibunya sudah tewas karena ulah Vanya.
-Flashback On-
Pagi ini 4V ke markas karena sesuai ucapan vanya bahwa hari ini adalah kematian Sharon dan ibunya. 4V juga masih menanti Adisya bangun, jadi ia menyuruh Dinda menjaga Adisya. Karena Irene harus mengurus beberapa perusahaan dibantu oleh Tania dan Rani.
4V sampai di markas utama dan langsung menuju penjara bawah tanah, Viko dan rudin di perintahkan Vanya untuk memisahkan Sharon dan ibunya ke ruang penyiksaan dari keluarga Adi Pratama.
"Hiks..kumohon jangan bawa Dian..hiks.." Ucap Diana terisak-isak sambil memegang kaki Viko.
Dengan cepat Viko memerintahkan penjaga untuk menyingkirkan tangan Diana dari kakinya, sedangkan Adi Pratama tidak dapat berbuat apa-apa, ia benar-benar pasrah jika harus mati ditangan anak kandungnya.
__ADS_1
"Enggaaaakkkkkk.......lepasiiinnnnnnnn ddiiiiaaannnnnn......" Teriak Diana histeris.
Sedangkan Sharon dan Dian hanya bisa menangis, ia melawan pun tenaganya lebih besar tangan kanan BLS. Dian menoleh sebentar ke arah Diana dan tersenyum manis. Diana tetap histeris melihat saudaranya akan berakhir pagi ini.
4V sudah menunggu kedatangan Dian dan Sharon, tapi sayangnya yang akan menghukum mereka adalah Vanya karena sudah berani masuk dan merusak keluarganya. Ruang penyiksaan memang banyak senjata, tapi Vanya hanya memegang 2 suntikan yang berisi racun kematian. Vanya tidak ingin terlalu mengotori tangannya.
Dian dan Sharon sudah berlutut di hadapan 4V, setelah Dian dan Sharon diletakkan dihadapan mereka. Vanessa,viola dan vinda mundur beberapa langkah dan hanya Vanya yang berdiri tegap di hadapan mereka.
"Wah ternyata kalian sudah siap ya." Ucap Vanya datar. Dian dan Sharon tidak menjawab apapun, mereka hanya menunduk.
Vanya berjalan ke belakang mereka lalu menyuntikkan racun yang sangat mematikan di daftar racun milik BLS karena setelah menunggu 5 menit racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuh dan kematian pun dimulai. Setelah Vanya menyuntikkan racun itu, Viko dan rudin membawa Sharon dan Dian di penjara dekat Adi,Diana dan sinta.
Diana yang melihat Dian dan Sharon di penjara sebelahnya pun mencoba untuk meraih tangannya tapi tidak bisa, 4V berdiri di depan penjara Dian dan Sharon dengan tatapan tajam dan aura yang mematikan.
"Aaaaaaaaaaaaaaakkkkhhhhhhhhhhhhhhh......."
Teriakan mereka menggema di penjara bawah tanah, bahkan orang yang sengaja mencelakai Adis dan keluarganya terkejut melihat kejadian di depan matanya. Begitu pula Diana,Sinta dan Adi. Mereka mulai khawatir dengan mereka kedepannya.
10 menit kemudian Sharon dan Dian sudah tidak bernyawa, dengan keadaan yang mengenaskan. Vanya tersenyum senang karena ia sudah menghancurkan orang yang merusak kebahagiaan keluarganya.
"Bereskan mayat itu." Ucap Vanya datar.
"Baik bos." Ucap Viko dan rudin serempak.
__ADS_1
4V meninggalkan penjara bawah tanah dan menuju ke ruang kerja mereka.
-Flashback Off-
"Mampir ke supermarket bentar kak." Ucap Vanessa sedikit datar. Satria hanya membalas dengan deheman.
Satria membelokkan mobilnya ke supermarket, vanessa pun turun lalu masuk ke supermarket. Satria hanya diam menunggu di mobil, sambil menunggu Vanessa dengan membuka ponselnya. Tidak lama Vanessa pun kembali membawa roti dan minuman lalu masuk ke mobil.
"Nih." Ucap Vanessa sambil menyodorkan roti dan minuman ke satria, sedangkan satria hanya menaikkan alisnya sebelah.
"Aku tau kakak belum makan." Ucap Vanessa dan saat satria akan menolak Vanessa sudah menyela ucapan satria.
"Sorry kak gaada penolakan." Ucap Vanessa lalu meraih kedua tangan satria dan meletakkan roti dan minum ketangannya.
Satria pun menerimanya, lalu melanjutkan perjalanan ke perusahaan Vanessa. Vanessa benar-benar fokus pada ponselnya, sesekali satria melirik ke arah Vanessa lalu kembali menatap jalan raya.
Setengah jam kemudian sampai di depan perusahaan Vanessa, biasanya satria akan mengantar sampai gerbang saja tetapi kali ini ia mengantar Vanessa hingga ke depan gedung.
"Nanti kalau kamu lembur atau tidak kabari aja." Ucap satria tanpa mengalihkan pandangan ke Vanessa.
Vanessa hanya menjawab dengan deheman lalu keluar dan menuju ke perusahaan. Sampai di loby semua karyawan menyapa Vanessa, Vanessa menggunakan masker tanpa memakai kaca mata.
Sedangkan di mobil satria segera melajukan mobilnya menuju perusahaannya, sambil memakan roti pemberian Vanessa. Sesekali ia tersenyum karena Vanessa sudah mulai perhatian padanya.
__ADS_1