
Setelah 4 jam Vanya terbaring di ranjang rumah sakit akhirnya dia mulai sadar dan membuka mata. Yang ia lihat hanya ruangan putih dan selang infus yang menempel di tangannya.
"Ahhss, pusing." Ucap Vanya sambil memegang keningnya.
"Akhirnya kamu sadar." Ucap seseorang duduk di sofa ruangan yang Vanya tempati.
"Ngapain lo disini?" Ucap Vanya datar
"Aku yang membawamu kesini." Ucap seseorang.
"Kau yang mencoba membunuhku kan." Ucap Vanya dengan nada datar.
"Aku tidak segila itu van." Ucap seseorang. Vanya mengalihkan pandangannya ke arah jendela, yang sudah menunjukkan langit gelap penuh bintang.
"Aku tidak mungkin membahayakan orang yang aku sayangi." Ucap seseorang yang mulai bangkit dari sofa dan menuju ke ranjang Vanya.
"Apa kau tidak memiliki kegiatan lain hah?" Ucap Vanya ketus.
"Bagaimana aku bisa melakukan kegiatanku jika orang yang aku sayang terbaring disini." Ucap seseorang yang sudah berdiri di samping ranjang.
"Pergilah, aku bisa menghubungi keluargaku." Ucap Vanya ketus.
Cup
Orang itu mencium pipi Vanya, tentu saja Vanya sangat terkejut. Saat Vanya akan menatap orang itu, Vanya memundurkan kepalanya. Karena wajah orang itu berada tepat di hadapan Vanya.
"Menyingkir dari depan wajahku." Ucap Vanya ketus.
Cup
Orang itu mencium kening Vanya, hal itu membuat Vanya semakin malu.
"ARJUNAA....." Teriak Vanya. Ya orang itu adalah Arjuna.
"Ahahaha, kamu teriak sekencang apapun tidak akan ada yang mendengarnya sayang. Ruangan ini kedap suara." Ucap Arjuna lalu mengacak-acak rambut Vanya.
Tok tok tok
"Masuk" Ucap Vanya.
"Permisi, ini makan malam untuk nona Vanya." Ucap perawat
"Taruh di meja." Ucap Arjuna tanpa memandang perawat yang masih ada di depan pintu.
"Bagaimana keadaan anda nona Vanya." Ucap perawat itu.
"Jika dia baik-baik saja, dia tidak akan berada di ranjang ini." Ucap Arjuna ketus
"Maaf tuan." Ucap perawat itu dengan kepala menunduk.
"Kau ini jahat sekali." Ucap Vanya pada Arjuna
__ADS_1
"Maaf, kapan saya boleh pulang?" Ucap Vanya pada perawat itu.
"Saya belum bisa memastikan nona, karna dokter yang tadinya merawat anda sedang sangat sibuk." Ucap perawat itu sambil membenarkan infus yang tertancap di tangan Vanya.
"Baiklah nona,tuan saya permisi keluar, untuk nona Vanya akan ada pemberitahuan kembali jika anda sudah boleh pulang." Ucap perawat itu, Vanya hanya mengangguk. Sedangkan Arjuna memberikan tatapan dingin pada perawat itu.
"Vanya sayangku, makan lalu minum obat, aku suapin." Ucap Arjuna yang mengambil piring makan dari rumah sakit untuk Vanya.
"Gak." Ucap Vanya sambil memalingkan wajahnya dari Arjuna.
"Sayang, kalau kamu gak makan, kamu gak akan keluar dari rumah sakit ini." Ucap Arjuna
"Kau makan sendiri saja." Ucap Vanya ketus
"Vanya..." Arjuna mulai menekan suaranya
"Makanan rumah sakit gaenak, harusnya lo paham, gimana sih." Ucap Vanya ketus
"Baiklah, sayangku ini mau makan apa?" Ucap Arjuna yang mulai meraih ponselnya.
"Telat, gue udah order barusan." Ucap vanya yang
"Batalin." Ucap Arjuna
"Apaan sih lo, mending lo ke kantor sana, capek gue lihat muka lo." Ucap Vanya sambil memainkan ponselnya.
"Aneh, padahal selama ini para wanita suka melihat wajahku, kenapa kamu yang aku sayang tidak suka melihat wajahku." Ucap Arjuna sambil memainkan ponselnya yang membuka di aplikasi kamera.
"Kamu sangat beruntung sayang, karna hanya kamu yang aku pilih dalam hatiku." Sambung arjuna.
"Jijik." Ucap Vanya tanpa memandang Arjuna.
Tiba-tiba ponsel Vanya pun berdering, dilayar ponselnya tertera nama viola yang menggabungkan Vanya di video call bersama vinda dan Irene. Vanya pun menerima video call tersebut.
"Vanyaaaa....." Teriak vinda.
"Berisik." Ucap Vanya ketus.
"Lo gapapa kan?" Ucap viola
"Vi, kalau Vanya gapapa dia gabakal terbaring disitu." Ucap Irene
"Bukan gitu kampret, maksut gue keadaan Vanya udah membaik apa belum." Ucap viola
"Gue gapapa." Ucap Vanya
"Gila, badan lo tadi udah pucat banget." Ucap vinda
"Tapi kayaknya dia ga kesepian deh vin." Ucap Irene
"Ya kan tadi dia ditolong sama pangeran bermobilnya." Ucap viola
__ADS_1
"Tenang saja, aku tidak akan meninggalkan kekasihku sendirian." Ucap Arjuna tanpa melihat ke arah Vanya, karena Arjuna duduk di sofa mengotak Atik laptop miliknya.
"Wah iya, masih ditemani ternyata." Ucap Irene
"Kak Arjun, jaga dia baik-baik ya." Ucap vinda
"Apaan sih lo pada." Ucap vanya
"Btw, kalian ga di mansion?" Sambung Vanya.
"Gue pulang, soalnya kakak gue ada dirumah." Ucap viola.
"Gue males di markas kalau gada kalian, mending tidur di apart." Ucap vinda.
"Gue harus balik ke apart karna tadi ada seseorang yg coba buat nerobos ke apart gue." Ucap Irene
"Siapa?" Ucap Vanya,viola dan vinda.
"Gue juga gatau, pakaian yg dia gunakan pun serba item, jaketnya polos banget." Ucap Irene
"Kayaknya lo harus pindah apart deh ren." Ucap vinda
"Gaperlu." Ucap vanya
"Kok gaperlu van?" Ucap viola
"Tau tuh, lo mau kehilangan temen lagi hah." Ucap vinda
"Biarin aja ren kalau dia mau nerobos masuk, lagian barang-barang lo kan ada di markas, di apart cuma barang-barang gapenting." Ucap Vanya santai
"Iya juga sih, tapi sekarang gue lagi di apart sendiri." Ucap Irene
"Sejak kapan tangan kanan mafia punya takut." Ucap viola
"Ga gitu pe'a, gue males aja sampe ada yg nerobos masuk." Ucap Irene
"Emang lo kasih tau password apart ke siapa aja selain kita?" Ucap vinda
"Ada sih 1 orang, gara-gara gue nemuin ponselnya, tapi gue suruh orang itu ambil sendiri." Ucap Irene
"Biarin aja kalau ada yang nerobos masuk ren." Ucap Vanya
"Biar aman, lo ke apart gue aja ren, khawatir gue." Ucap vinda
"Aelah, pake khawatir segala lo vin, santai aja." Ucap Irene
"Eh kutil, gue gamau ya kehilangan kawan lagi. Gue bom juga nih apartemen lo." Ucap vinda
"Ngeri." Ucap viola dan Vanya
"Gue bentar lagi ke apart lo aja ren." Ucap vinda
__ADS_1
"Yaudah terserah lo." Ucap Irene