
Arsean dan Vanilla berhasil lolos dari kejaran orang-orang yang masih menjadi misteri untuk Vanilla itu, keduanya pergi kekantor Vanilla terpaksa harus mengikuti Arsean kesana. Padahal arin sudah meminta untuk diberhentikan di dekat kantor dan kembali kerumah dengan taksi namun pria itu dengan arogannya bilang tidak.
Vanilla masuk kedalam ruangan Arsean dimana dulu juga ia pernah kemari, entah Vanilla kebawa ke masa itu dimana dia dan Arsean melakukan adegan panas di ruangan ini. Bayang-bayang saat mereka melakukan itu seakan arin kembali ke sana itu. Vanilla tidak menyangka jika pada akhirnya dia akan menjadi istrinya takdir terkadang seperti lelucon yang terkadang membuat tertawa dan menangis.
"Kau tinggal lah disini, jika kau lelah kau bisa tidur diruangan itu dan jika kau lapar panggil lah sekertaris saya untuk membelikannya, saya ada meeting" Arsean di meja sana sedang sibuk mencari dokumen yang akan dia bawa untuk meeting, Vanilla membalik dan mengangguk.
Sebenarnya tidak terlalu jauh dari Arsean, pria itu berjalan kearah Vanilla dan mengusap kepala wanita itu dan mencium kening Vanilla, Vanilla kaget dengan apa yang soobin lakukan begitupun Arsean kenapa dia jadi bersiap manis pada Vanilla. "Sa-saya keluar" menyadari ada yang salah dengan dirinya Arsean laku meninggalkan ruangan Itu.
Vanilla mematung disana dan mengangkat tanganya dengan perlahan memegang bekas ciuman dikeningnya dengan tatapan tak percaya atas apa yang dilakukan oleh Arsean. Tanpa sadar kedua sudutnya terangkat, dia memejamkan matanya sebentar sampai dia menyadari apa yang dia lakukan.
Vanilla menggelengkan kepalanya dan berjalan kekamar yang saat itu dia tempati bersama Arsean, terbaring diatas sana perlahan matanya mulai menutup karena rasa bosan dan kantuk.
*****
Arsean baru saja selesai dengan meetingnya tepat pukul 07:00 PM dia langsung bergegas kembali keruangan dirinya untuk memastikan Vanilla masih ditempat, yah Arsean tak mengizinkan arin untuk pulang sendiri karena apapun bisa terjadi disaat bendera perang sudah berkibar. Bisa-bisanya wanita itu akan menjadi sasarannya.
Saat Arsean membuka pintu ruangan gelap dan tak ada tanda kehidupan diruangan itu, Arsean berjalan menelusuri siap ruangan itu sampai di kamar pribadinya insting Arsean berkata jika Vanilla ada dalam sana dengan segera ia membuka pintu itu dan benar saja arin disana masih tertidur, dengan perlahan dia menutup kembali pintu itu dan dia membuka jas beserta dasi yang seakan mencekiknya. Dia memanggil sekertaris.
"Baik Mr. De Lucania ada yang bisa saya bantu" seorang wanita cantik datang keruangan itu berdiri didepan Arsean yang duduk bersandar di sopanya sambil menghisap rokok, "Tolong belikan makanan, saya ingin secepatnya dan usahakan makanan itu masih fresh dan hangat" wanita itu mengangguk, dia menatap ruangan itu mencari seseorang. Yah dia mencari Vanilla tadi sekertaris itu sempat melihat Vanilla yang masuk kesini, tapi setelah melihat penampilan Arsean dia tau pasti Vanilla sedang tidur mungkin lelah telah melayani suaminya setidaknya itu yang di pikirkan oleh gadis itu tanpa banyak lagi tanya dia langsung keluar meninggalkan ruangan Itu.
Arsean pun bangun dan mematikan rokoknya, dia berjalan kekamar mandi berniat untuk membersihkan dirinya.
Vanilla terbangun dari tidurnya, dia merasakan tubuhnya di banjiri keringat dan perasaan gelisah "oh tuhan untung itu hanya mimpi saja" Vanilla mengelap keringat yang berada di pelipisnya, yah tadi Vanilla mimpi buruk dia didatangi seorang anak kecil laki-laki memanggilnya 'mommy' Vanilla takut sungguh. Tidak mungkin kan dia sedang hamil ? Vanilla memegang perutnya tidak sunggu Vanilla mengelak akan hal itu. Tepat saat arin masih melanum Arsean memasuki ruangan itu.
__ADS_1
"Kau bangun" Arsean berjalan dan berakhir duduk disisi ranjang dekat Vanilla. Vanilla sendiri sedikit linglung dia hanya menatap Arsean lama, "kau baik-baik saja ?" Vanilla mengalihkan atensinya seluruh ruangan itu dan kembali menatap Arsean dan mengangguk. Ketukan pintu mengagetkan mereka dengan segera Arsean membuka pintu sedikit ternyata itu sekertarisnya yang mengantarkan makanan yang Arsean pesan.
"Berikan" Arsean mengambil alih nampan yang pegang oleh sekertarisnya "Terima kasih, kau boleh melanjutkan pekerjaan kau" Arsean langsung menutup pintu itu saat secara terang-terangan wanita itu sedang mencoba ngintip kedalam.
"Makanlah, kau pasti lapar setelah tidur dari tadi siang" Vanilla baru saja keluar dari kamar mandi yang berada diruangan itu, dia tampak lebih segar. Tanpa banyak bicara dia memakan makanan yang di bawa Arsean. Arsean yang melihat Vanilla makan dengan lahap membuka mulutnya, Vanilla mengangkat halisnya. Arsean diam tak memberikan kelanjutannya dan beberapa saat kemudian Vanilla mendekatkan piringnya ke arah Arsean memberikan sumpitnya.
Arsean hanya ngedengus kesal, bagaimana Vanilla tidak mengerti. Tak lama tawa Vanilla meledak melihat Vanilla menatapnya datar. "Iya, yah kemarilah" Arsean mendekat kearah Vanilla, Vanilla menyuapi Arsean. Dia tau Arsean bukan orang yang bertingkah romantis karena dia dibesarkan dengan ketegasan tidak ada waktu untuk bermain-main dengan wanita begitupun dengan soya yang merupakan mantan tunangannya.
*****
Keduanya beranjak dari kantor pukul 11:00 PM, sedikit berbincang-bincang dan selebihnya hanya terdiam. Vanilla menatap keluar jendela dia mengingat lagi tentang mimpi itu, dia bisa merasakan bagaimana seorang anak kecil berusia 4 tahun berlari padanya dan menangis dipangkuannya mengadu jika dia tidak boleh meninggalkannya.
"Ada yang kau pikirkan ?" Tanya Arsean yang tiba-tiba membuat Vanilla berhenti dari lamunannya "tidak ada hanya saja...." Vanilla menggantung ucapannya "hanya saja ?" Beo Arsean. "Tidak jadi" tadinya arin akan memberi tahu Arsean tapi dia mengurungkan niatnya.
"Saya keluar, jika terjadi sesuatu kabari saya" Vanilla mengangguk kembali, dia menjenderkan dirinya di pada jok dan memejam kan matanya. Dia tidak tidur hanya sedang berpikir saja.
Tak lama ada suara ribut di luar Vanilla membuka matanya, betapa terkejutnya dia menemukan arga yang sedang berbincang-bincang didepan sana dengan anak buahnya. Vanilla terdiam dia seakan membeku, dia mengingat-ingat ketika arga coba menjambah tubuhnya. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka menghampiri mobil yang diduduki arin, orang itu mengutuk-ngetuk jendela mobil itu.
Vanilla kaget dia bingung harus melakukan apa, dia menurunkan kacanya sedikit "ada apa?" Vanilla tak menunjukan wajahnya dia hanya mengeluarkan suaranya. "Mobil anda menghalangi mobil teman saya yang akan parkir disini" nada bicara orang itu tidak sopan seakan mengejek Vanilla.
"Saya terlebih dahulu disini, jadi anda tidak ada hak untuk mengusir saya dari sini" balas Vanilla dengan suara yang naik satu okta dia kesal saat arga menatap ke mobilnya, beruntung kaca mobil terlihat gelap jika dari luar.
"Tapi saya berkuasa disini" orang itu mengetuk semakin kencang, dengan cepat Vanilla menutup jendela itu. Dia was-was berharap soobin cepat keluar dari sebrang sana. Saat gedoran itu semakin kencang Arga menghampiri orang itu dan berbincang-bincang yang pasti Vanilla tidak tau.
__ADS_1
"Nona, tolong buka kacanya saya ingin berbicara baik-baik" ucapan itu tak kunjung dapat sambutan baik dari Vanilla. "Nona bisakah saya berbicara dengan anda" arga ikut mengetuk kaca mobil itu. Karena berisik Vanilla membuka kacanya seperti tadi. "Saya tidak ada waktu untuk berbincang dengan anda" dan setelahnya Vanilla langsung menutup jendela.
Arga yang sudah kesal dengan itu menendang mobil itu tepat di pintu bagian pintu Vanilla. Vanilla menutup telinganya dia sebenarnya masih trauma dan takut tapi ini tidak bisa dibiarkan lagi. Vanilla membuka pintu dengan cepat membuat kedua orang itu menjauh.
"Bukan kah anda tidak sopan tuan, jika menendangi mobil orang" Vanilla menatap datar arga sebaliknya arga kaget dengan kehadiran Vanilla dan tersenyum setelahnya.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi nona manis" ucap arga dengan informal dan brengsek. Vanilla mengangkat kedua bahunya memberi tatapan jijik akan arga. "Kau sungguh menjijikan" Vanilla dengan datarnya, anak buahnya yang tersinggung akan ucapan Vanilla maju hendak melayangkan sebuab tonjokan pada Vanilla namun sayang di hentikan oleh arga "santai saja jangan terpancing" ucapnya sambil menarik tangan anak buahnya itu sedangkan Vanilla hanya memutarkan matanya.
"Kau baik-baik sajakan nona" Vanilla tak menghiraukan ucapan arga hendak masuk kembali kedalam dan kembali ditahan oleh pria sialan itu. "Sebenarnya apa yang anda inginkan tuan sialan" Vanilla tidak bisa menahan dirinya lagi, "keinginanku kau ikut denganku" Vanilla berdecak "tidak akan, saya tidak akan ikut dengan manusia rendahan seperti anda" arga tersenyum miring mendengar umpatan dari wanita itu.
Dan yah anak buahnya yang sudah gatal ingin menonjok muka Vanilla kembali mencoba melakukan hal yang dia inginkan, "diam" ucap Arga pada anak buahnya yang baru saja maju satu langkah darinya. "Aku tidak serendah dirimu yang menjadi wanita yang dijualan, menjadi simpanan orang lain dan dengan cepat bisa menjadi istri sah. Yang rendahan itu aku tau kau nona" arga menarik anak buahnya untuk meninggalkan Vanilla tepat saat Arsean keluar dari kedai disebelah sana.
Arsean yang melihat itu dengan cepat menghampiri Vanilla. Vanilla pun masuk kedalam mobil saat arga pergi "apa dia melakukan sesuatu ?" Tanya Arsean ketika dia sudah membuka pintu mobil itu. "Tidak ada" tapi Vanilla menahan tangisnya katanya tidak ada tapi wanita itu ingin menangis.
"Dia tidak melakukan yang macam-macamkan padamu ?" Tanya Arsean dan mendapati gelengan dari Vanilla. "Aku ingin pulang" Arsean tak banyak tanya lagi dia langsung bergegas meinggalkan tempat itu.
__________________________________________
[Jumat, 07 Januari 2022]
Author : Safira Aulia Hamidah
Ig : Sfiranjk341
__ADS_1