
Selama 4 hari ini hubungan keduanya semakin dekat, yah keduanya sering menghabiskan waktu mereka berdua untuk berlatih diruangan bawah. Vanilla sempat bertanya-tanya kenapa harus ruangan bawah tanah yang gelap itu.
Yang dia dapatkan hanya kalimat agar nyaman, tapi setelah Vanilla berlatih di situ dia memang merasakan nyaman dan mudah mempelajari apa yang diajarkan oleh Arsean. Arsean akan selalu mengangguk ketika Vanilla dapat dengan mudah mempelajarinya dia akan tersenyum sedikit setidaknya tidak terlalu dingin, apa lagi seperti sekarang Vanilla yang sudah berlatih dan menjadi lebih semakin kuat. Arsean memberikan tepuk tangan dan tersenyum mendekati Vanilla memgusap kepala gadis itu.
"Kau belajar dengan baik" puji Arsean seperti seoramg guru yang bangga pada anak muridnya yang mendapatkan peringkat satu umum. "Yah" Vanilla membalas senyuman itu Vanilla juga mulai melunak kembali tak ada cacian atau makian pada Arsean hanya saat-saat emang tak menguntungkan untuk wanita itu dan tak ada tatapan tajam serta sinis.
"Bagaimana jika untuk merayakan keberhasilan kau ini kita pergi keluar untuk makan malam ?" Ucap Arsean pada Vanilla yang sedang berjalan di sisinya. "Ide bagus, aku sudah lama tidak keluar" selama berlatih Vanilla memang tidak pernah keluar bahkan untuk sekedar mengabari heuningkai dia hanya bisa dimalam hari karena selebihnya dia akan bersama Arsean.
*****
Vanilla sudah siap dengan balutan gaun berwarna nevy yang membuat tubuhnya terbentuk sempurna, Vanilla padukan dengan make up yang tipis namun cukup menambah elegan pada dirinya.
Arsean sudah berdiri di pintu dia bersandar menatap Vanilla yang sejak tadi belum juga selesai. "Sampai kapan saya harus menunggu kau" protes Arsean pasalnya dia sudah berdiri disana 25 menit lamanya, tapi Vanilla tak kunjung selesai. "Aku sudah selesai honey kau banyak bicara" Vanilla menatap dengan genit Arsean cukup ngeri dengan apa yang dilakukan wanita itu jadi dia hanya menatap dengan dinginnya.
Vanilla berdiri disamping Arsean, Arsean merangkul Vanilla menaruh tangannya di pinggang ramping milik Vanilla, Arsean hanya tersenyum ketika Vanilla menatapnya dan Vanilla kembali membalas senyuman pria itu.
Mereka turun ke bawah bersama terlihat sangat mesra tentu itu membuat beberapa maid yang berada disana menatap heran, tidak bisanya mereka seperti itu selama mereka menikah dan tinggal di sini mereka tidak pernah sekalipun tertangkap berbicara satu sama lain bahkan para sering menemukan mereka tidur di kamar yang berbeda.
Hari ini Arsean keluar dengan membawa mobilnya sendiri, dia membuka kan pintu penumpang di sebelah kemudi "Thank you honey" Vanilla terkekeh sedangkan Arsean hanya mengangguk dengan datar.
__ADS_1
Sepanjang di perjalanan mereka hanya membicarakan tentang pembalasan dendam mereka, keduanya sedang memikirkan bagaimana strategi yang bagus untuk melancarkan rencana mereka itu.
Vanilla cukup terkejut karena mafia yang menghancurkan keluarganya itu bukan kelompok biasa itu ada sangkut pautnya dengan pemerintahan di negara itu, dan juga Arsean yang diam-diam ingin menghancurkan mereka karena tidak terima atas kematian ayahnya yang juga disebabkan oleh mereka.
*****
Mereka sampai disebuah resporan bintang lima, keduanya di sambut oleh pemilik restoran itu. Mereka di bawa ke rooftop.
"Jika begitu Mr. De Lucania saya permisi, terima kasih telah meluangkan waktu untuk mampir ke restoran saya" pria paruh baya itu pergi meninggalkan keduanya di sana dengan suasana yang sangat bagus. Angin malam yang tidak terlalu dingin dan lampu-lampu yang menyala disebrang sana bagaikan galaksi diatas bumi dipadukan dengan galaksi diatas sana.
"Apa kau menyukai tempat ini ?" Arsean bertanya dia mengeluarkan rokok dan bensin dari saku jasnya. "Yah, aku menyukai disini bagus dan nyaman" Vanilla tersenyum.
Tak lama pesanan mereka sampai, keduanya memakannya dengan santai. Tiba-tiba sebuah harycopter melintas dan berhenti di atas mereka. Arsean merasakan keanehan, "oh ****" umpat Arsean dia segera berdiri dan menarik tangan Vanilla agar bangun.
"Apa kau membawa senjata ?" Arsean mengeluarkan senatapan nya arin mengangguk dan mengeluarkan benda itu yang ia simpat di belakang pahanya.
Tak ada cara lain terjadilah baku tembak antara mereka 2 banding banyak tentu saja yang sedikit akan kalah.
Arsean keabisan peluruh, Vanilla pun sama keruanya menatap orang-orang itu. Arsean kembali menarik tangan Vanilla dan membawanya ke ujung rooftop itu menatap kebawah dari lantai 7 ini. Jika mereka melompat nyawa mereka akan hilang, Arsean kembali dibuat berpikir bagaimana ia bisa melarikan diri sedangkan waktunya tak banyak.
__ADS_1
Ketemu, Arsean menemukan sebuah celah yang bisa ia gunakan untuk melarikan diri. "Ikut denganku" keduanya berlari ke sisi lain walau di hujani oleh peluruh keduanya tidak terkena mungkin karena perkiraan Arsean yang tepat pendapat Vanilla seperti itu.
"Naiklah" Arsean menuruh arin untuk naik ketembok pembatas duluan, Vanilla menggeleng ia takut ketinggian. "Cepat naik kita tidak memiliki banyak waktu" Arsean membentak Vanilla dia bukan takut ia akan mati tapi dia lebih mengkhawatirkan Vanilla.
Dengan tubuh yang sudah berkeringat dan gemetaran Vanilla naik keatas barulah Arsean ikut naik saat Arsean naik, sebuah peluruh salah satu dari mereka mengenai tangan atas Arsean membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Tanpa memerdukikan lukanya dia menuntun Vanilla untuk turun kebawah akhirnya mereka turun ke lantai 3 orang-orang itu masih mengejar tepat saat akan turun ke lantai selanjutnya mereka menjatuhkan boom. "Kemari, berpegangan" saat itu juga Arsean memeluk tubuh Vanilla begitupun dengan kakinya sudah lemas ia sudah berpikir apa yang akan Arsean lakukan mereka akan terjun kebawa.
Punggung Arsean membentur lantai terotoan tentu itu menjadi tontonan orang-orang disana, dengan cepat mereka berdiri dan memperingati orang-orang disana "pergi dari sini cepat" setelah peringatan itu boom itu meledak.
Vanilla menutup mata dan telinganya, setelah suara itu hilang dia membuka mata dan menatap keseliling mencari sosok Arsean. Mereka terpisah tadi, Vanilla semakin takut jika terjadi hal buruk lagi pada Arsean dia melawan arus orang-orang untuk menemukan Arsean.
Tanpa kerasa arin sudah menangis dan tak taruan meneriaki nama Arsean sampai disebuah bangku terotoan ia menemukan seseorang yang tengah duduk menyender dengan tubuh yang lemas. "Yah bangun" Vanilla duduk disana menepuk-nepuk pipi Arsean.
"Kumohon bangun jangan tertidur" Vanilla terisak dia takut, bahkan sangat takut. Vanilla beberapa kali memanggil nama Arsean sampai memohon-mohon agar pria itu bangun. Sebuah tangan terulur dan menghapus air mata di pipi Vanilla dengan segera arin mengangkat kepalanya dan menemukan Arsean yang tengah menatapnya sayu.
"Saya baik-baik saja kamu jangan khawatir" bukannya berhenti menangis Vanilla malah semakin terisak dan berhambur ke dalam pelukan Arsean.
__________________________________________
[Jumat, 07 Januari 2022]
__ADS_1
Author : Safira Aulia Hamidah
Ig : Sfiranjk341