
Di tempat lain.
Satria masih berada di ruangan yang sama, ruangan yang penuh dengan foto Vanessa. Salah satu foto kesukaan satria saat Vanessa memakai kaos putih dan jaket hitam. Satria selalu tersenyum ketika mengingat waktu bersama Vanessa.
-----back-----
Satria bersiap untuk segera menjemput Vanessa, karena ia janji akan mengantarkan Vanessa ke toko buku. Awalnya Vanessa ingin pergi sendiri, tetapi satria mendengar ucapan Vanessa. Karena Vanessa berbicara pada Dean untuk pergi ke toko buku sendiri.
Skip
Satria sampai di depan mansion keluarga samudra, ia pun masuk dan melihat Dean sibuk dengan laptopnya.
"Vanessa mana?" Ucap satria
"Haishh, kau ini datang-datang langsung cari Vanessa." Ucap Dean yang terkejut dengan kedatangan satria.
"Nes... Cepat turunn... Supirmu sudah sampai." Teriak Dean. Satria menatap Dean dengan tatapan datar, karena Dean mengatakan satria supir.
"Apa? Kau memang supir adikku kan? Atau saat ini kau bersama Steve." Ucap Dean yang sadar dengan tatapan satria.
"Sendiri." Ucap satria datar
"Yasudah, berarti kau saat ini menjadi supir." Ucap Dean.
Vanessa turun dari lantai 2. Satria menatap Vanessa dengan tatapan kagum, karena yang satria ketahui kebanyakan wanita akan memakai dress jika berjalan dengan seorang laki-laki. Tapi Vanessa benar-benar memakai pakaian seperti biasanya.
Tanpa pikir panjang, satria menarik tangan Vanessa. Tanpa pamit pada Dean, bahkan Vanessa terkejut dengan sikap satria.
"E-eh.. kak Dean, Nessa berangkat." Teriak Vanessa. Sedangkan Dean hanya berdehem karena ia sudah tau sifat satria.
Satria membukakan pintu untuk Vanessa. Disepanjang perjalanan tidak ada percakapan, yang ada hanya iringan musik jazz.
Sampai di mall, satria tetap membukakan pintu untuk Vanessa. Ketika Vanessa akan berjalan lebih dulu, satria menarik tangan Vanessa.
"Apaan sih." Ucap Vanessa ketus.
"Jangan berjalan sendiri." Ucap satria
"Gue bukan bocah." Ucap Vanessa
Tanpa memperdulikan ucapan Vanessa, satria menggenggam tangan Vanessa.
Biarkan saja Vanessa, paling penting buku yang kau incar sekarang. Batin Vanessa
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua pun berjalan layaknya pasang kekasih, tetapi tatapan mereka datar. Ada beberapa orang yang mengenal satria, bahkan berita satria berjalan dengan Vanessa masuk ke berita.
'PRESDIR VEBRANZA GROUP KENCAN DENGAN GADIS CANTIK.
PRESDIR YANG JARANG DIKETAHUI BANYAK ORANG BERKENCAN DENGAN GADIS CANTIK.
SIAPA GADIS CANTIK YANG BERSAMA PRESDIR VEBRANZA GROUP.'
dan masih banyak artikel terkait mereka berdua.
Sampai ditoko buku, Vanessa segera menuju rak yang ia inginkan. Satria melepaskan genggamannya ketika sampai di toko buku. Ia hanya mengikuti Vanessa dari belakang. Satria awalnya sedikit terkejut karena Vanessa menuju rak buku horor.
"Kau suka membaca buku seperti ini." Ucap satria mengambil salah satu buku psycopath
"Ya begitulah kak." Ucap Vanessa sambil memilih beberapa buku.
"Di ruang kerja ku banyak buku seperti ini, Steve sering membaca buku seperti ini. Tapi takut ketika ada kejadian yang mirip dengan cerita dibuku." Ucap satria.
"Benarkah?" Ucap Vanessa. Satria terkejut dengan reaksi Vanessa.
"Bisakah aku meminjam buku yang kakak punya." Ucap Vanessa
"Kamu baca sepuasnya juga gapapa." Ucap Satria
"Aih. Berapa nomor rekening kakak." Ucap Vanessa
"Harganya ga seberapa, setelah ini mau kemana?" Ucap Satria
"Pulang." Ucap Vanessa.
Satria kembali menggandeng tangan Vanessa, tetapi Vanessa meminta satria untuk ke lantai bawah menuju luar, karena ada camilan yang ia inginkan, satria menuruti kemauan Vanessa.
"Bagus nih Keknya buat foto." Ucap Vanessa lirih.
"Kak."
"Hemm."
"Fotoin Nessa dong."
"Yaudah, cepet gaya."
"Pake ponsel Nessa aja."
__ADS_1
"No."
Akhirnya Vanessa membiarkan satria mengambil gambarnya menggunakan ponsel milik satria. Vanessa bergaya dengan tangan ala anak punk.
"Cantik." Ucap satria lirih.
"Kirim ke nessa ya kak." Ucap Vanessa sambil tersenyum. Satria yang melihat Vanessa senyum untuknya pun ikut tersenyum tipis. Satria yang gemas terhadap Vanessa pun mengacak-acak rambut Vanessa.
"Aih gaada bedanya sama kak dean, hobi acak-acak rambut." Vanessa berjalan mendahului satria, baru beberapa langkah Vanessa berjalan, satria sudah menggandeng tangannya kembali.
-----back off-----
"Nessa, sampai kapanpun aku tetap menunggumu, karena aku tau kau pasti masih hidup. Kau tau nes, aku rindu ketika kau manja padaku. Karena tidak semua orang tau ketika kau manja padaku (termasuk para pembaca ini)." Ucap satria
"Aku akan terus berusaha untuk menemukan kamu nes, kamu gadis kuat yang pernah kukenal. Sampai kapanpun kamu milikku nes." Sambung satria sambil memeluk foto Vanessa yang sudah ia cetak. (Dih bucin mampus)
****
Di kediaman samudra, Dean,Reno,Rino terus mengutus orang untuk mencari Vanessa. Karena orang suruhan mereka berhasil menemukan 1 bukti milik vanessa. Gelang pemberian ayah jatuh di bibir pantai dan jejak kaki yang mengarah ke hutan.
Mereka mengerahkan banyak orang untuk menemukan Vanessa, mau keadaan hidup atau tidak. Disatu sisi mereka ingat jika bunda pernah bermimpi tentang vanessa masih hidup.
"Bagaimana kak?" Ucap Reno pada Dean
"Mereka masih mengikuti jejak yang mereka temukan." Ucap Dean yang fokus pada laptop karena ia juga harus menyelesaikan urusan perusahaan.
"Kak apa kita ikut juga aja buat nyari vanessa?" Ucap Rino
"Lalu perusahaan kalian berdua akan kalian serahkan pada siapa? Padaku?" Ucap Dean
"Kita minta bantuan kak Steve." Ucap Rino
"Steve sudah pusing dengan pekerjaan yang Satria berikan, jangan kalian tambah beban pikiran Steve sebelum dia mati muda." Ucap Dean
"Bagaimana Dean?" Ucap ayah yang tiba-tiba ada di samping Reno
"Belum menemukan apapun ayah, tapi mereka masih terus mengikuti jejak yang mereka temukan." Ucap Dean
"Semoga mereka cepat menemukan Vanessa." Ucap ayah
"Iya ayah." Ucap Dean,Reno, Rino
Ayah pun kembali ke kamar karena semenjak kepergian Vanessa, Bunda menjadi lebih sering mengurung diri dikamar. Bahkan ketika Daniar mencari bunda pun selalu menuju kamar.
__ADS_1