I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 191


__ADS_3

-Mansion Satria


"Tuan,sampai kapan anda seperti ini?" Ucap Steve


Tanpa menjawab ucapan Steve, Satria memberikan kunci mobil pada Steve. Steve pun bingung dengan Satria.


"Dean." Ucap satria dingin.


Steve mengerti apa yang satria inginkan. Dengan senang hati Steve mengantarkan satria ke mansion keluarga Dean.


Sampai ruang tamu, satria melihat mama dan papa nya membawa seorang gadis. Tatapan satria semakin tajam karena mamanya membawa gadis yang pernah mengejarnya.


"Hai sayang, lihatlah Siska baru saja kembali dari negara I." Ucap Mama


"Ngapain mama bawa dia?" Ucap Satria dingin


Papa satria sudah tau jika Satria memang tidak tertarik pada wanita lain kecuali Vanessa. Papa satria tidak ingin ikut campur lalu pergi ke kamar yang di sediakan Satria untuk orang tuanya.


"Tenanglah, dia hanya ingin bermain ke mansion kamu." Ucap Mama


"Lebih baik anda pergi nona." Ucap Steve karena Steve tau jika Siska adalah gadis yang melakukan segala cara agar mendapatkan Satria.


"Ayolah Steve, aku hanya ingin menemui Satria." Ucap Siska dengan tidak tau malunya berjalan mendekati Satria. Tetapi dengan sigap Steve menghentikan langkah Siska sebelum mendekat pada Satria


"Steve jangan larang Siska untuk bertemu Satria." Ucap Mama


"Maaf nyonya, saat ini tuan benar-benar sibuk." Ucap Steve


"Aku tau, Satria sibuk memikirkan gadis mafia itu kan." Ucap Mama


"Ma." Ucap Satria


"Kenapa? Mama benar kan, lihat saja diri kamu seperti tidak terurus hanya karna memikirkan gadis itu." Ucap Mama


"Apa yang sudah gadis itu berikan, dia hanya bisa melukai kamu bukan membahagiakan kamu. Ketua mafia pasti memiliki musuh yang banyak, lebih baik kamu berhenti memikirkan dia dan mencari yang lebih baik darinya." Ucap Mama


"Contohnya Siska. Dia cantik,baik, wanita karir juga." Ucap Mama. Siska yang mendapat pujian dari mama Satria pun mengangkat kepalanya.


"Kalau bagi saya lebih unggul nona Vanessa." Ucap Steve


"Siska lebih mirip wanita murah*n bukan wanita karir." Ucap Satria lalu meninggalkan ruang tamu


Siska yang mendengar ucapan satria pun menganga, ia tidak menyangka jika satria masih tidak menyukainya.


"Satria jaga ucapan kamu." Ucap Mama


"Satria berhentiii." Ucap Mama tetapi satria terus berjalan menuju mobilnya, Steve pun segera menyusul Satria.


"Tante..." Ucap Siska bergetar menahan tangisnya.


"Ssst, sudah ya Siska kamu tenang aja. Tante akan terus berusaha membuat Satria bersama kamu." Ucap Mama


Yes. Lagian apa yang harus dibanggakan dari mafia itu coba, masih cantikan gue. Batin Siska menyeringai


Didalam mobil, satria menjadi lebih dingin karena ia tidak menyangka jika mamanya akan membawa Siska ke mansionnya bukan ke mansion keluarga. Steve yang berada di kemudi pun terus melirik satria dari kaca mobil, ia tau jika Satria akan merasa terancam jika Siska mulai kembali untuk mengejarnya.

__ADS_1


Satria ingat jika Siska pernah akan membunuhnya karena Satria tidak mau menerima pelukan dari Siska. Sebenarnya Satria tidak takut pada Siska, tetapi ia harus bisa menjaga nama baik dirinya sebagai pengurus perusahaan.


"Kapan dia kembali Steve?" Ucap Satria


"Apa yang anda maksud adalah nona Siska?"


"Nona Siska kembali dari negara I kemarin malam tuan, Ia tinggal di apartemen milik anda tuan." Ucap Steve


"Bukannya dia sudah di blacklist dari apartemen milikku?" Ucap Satria


"Benar tuan, tetapi nona Siska memakai kartu nama manager nya untuk tinggal di apartemen anda. Nona Siska juga menggunakan nama anda ketika diusir oleh security." Ucap Steve


"Nona Siska mengatakan jika anda akan segera menikah dengannya." Ucap Steve


"Lancang." Ucap Satria


"Apa ada yang harus saya lakukan tuan?" Ucap Steve


"Tidak, biarkan saja sampai sejauh apa dia menggila." Ucap Satria


"Baik tuan. Jika nyawa anda terancam izinkan saya mengirim nona Siska untuk menetap di negara I." Ucap Steve


"Itu terserah kau." Ucap Satria


"Baik tuan."


---------


"Bagaimana Dean sudah kamu hubungi Satria?" Ucap ayah


"Sudah ayah, dia menuju kesini?" Ucap Dean


"Disini yang merasa kehilangan bukan hanya kita Rino, tapi Satria juga. Bunda harap kamu tidak lupa dengan apa yang telah Satria lakukan demi mencari tau informasi tentang Vanessa." Ucap Bunda


"Iya Rino paham bunda, bahkan Rino juga tau jika Kak Satria menolak semua wanita yang dijodohkan dengannya." Ucap Rino


"Kak Satria benar-benar tulus pada Vanessa, Arjuna bilang kalau di mansion nya ada 1 ruangan yang siapapun tidak boleh masuk kecuali Kak Satria. Ketika Arjuna mencoba masuk ternyata ruangan itu berisi tentang Vanessa." Ucap Reno


"Mungkin dimata banyak orang, Vanessa adalah gadis yang kejam. Padahal kebaikan yang selalu Vanessa berikan juga banyak." Ucap Dean


"Kita tunggu Satria dulu, lalu kita bahas berita yang Viola berikan ini." Ucap ayah


Beberapa saat kemudian Satria datang bersama Steve, benar saja mereka terkejut dengan penampilan Satria yang biasanya kemanapun menggunakan pakaian formal tetapi sekarang ia hanya memakai kaos putih polos dengan celana pendek saja.


"Astaga sekacau ini kau sekarang?" Ucap Dean


"Berita apa?" Ucap Satria


"Ayah yang akan menjelaskannya." Ucap Dean


"Baiklah, sekarang kalian sudah berkumpul. Jadi aku mendapat berita ini dari Viola, semoga dengan ini ada petunjuk berikutnya." Ucap Ayah


"Berita apa om?" Ucap Satria


"Jadi...

__ADS_1


Flashback On


"Vin kita ke makam Adisya sekarang aja, keburu malem ogah gue kesono." Ucap Viola


"Iya sekarang Vi, dah ayo." Ucap Vinda


Mereka pun menuju ke makam Adisya, makam Adisya bersebelahan dengan makam kedua orang tuanya. Ketika mereka sampai di makam Adisya, mereka heran karena makam Adisya dan kedua orang tuanya penuh bunga bahkan bunga itu masih segar.


"Vi, kita kan jarang kesini ya. Kenapa makam adis sama kedua orang tuanya banyak bunga, bunga juga masih baru kan." Ucap Vinda


"Iya juga, kita kan nyuruh orang buat ganti Bunga mereka setiap tiga hari sekali." Ucap Viola


"Nanti aja deh kita tanyakan ke penjaga makam." Ucap Vinda


"Adis, gue sama yang lain minta maaf ya jarang ngunjungin lo. Vanessa belom ketemu dis, bahkan sedikitpun jejak tidak ada tentang Vanessa." Ucap Viola sambil mengelus batu nisan Adisya


"Dis, kalau emang lo disana ketemu Vanessa bisa ga lo tanyain dimana jasad dia." Ucap Vinda


"Dis,gue sama Vinda bawain bunga kesayangan lo nih, bunga lily yang bisa buat lo ceria lagi." Ucap Viola


Vinda dan Viola pun menaburkan bunga ke makam Adisya, juga ke makam kedua orang tuanya.


"Om,tante, kami benar-benar minta maaf karna tidak bisa menjaga Adisya, bahkan kami gagal menjaga om sama tante. Kami sudah menemukan orang yang menyebabkan om sama tante kecelakaan waktu itu, kami janji orang itu akan mendapatkan pelajaran yang setimpal." Ucap Vinda


"Dis,om,tante kami berdua kembali dulu ya. Maaf jika kami jarang kesini karena kami juga mencari keberadaan Vanessa." Ucap Viola


"Kami balik dulu dis,om,tan." Ucap Vinda


Mereka meninggalkan makam, menuju ke tempat penjaga makam yang sudah mengenal mereka.


"Permisi pak." Ucap Viola dan Vinda


"Oh iya, kalian rupanya." Ucap penjaga makam


"Iya pak, bapak masih ingat kami kan?" Ucap Vinda


"Tentu saja bapak masih mengingat kalian, kalian yang meminta untuk mengganti bunga tiga makam itu kan?" Ucap penjaga makam


"Betul pak." Ucap Viola dan Vinda


"Ada apa ya kalian mencari saya?" Ucap penjaga makam


"Jadi gini pak, kami kan meminta bapak mengganti bunga untuk tiga makam itu tiap tiga hari sekali." Ucap Vinda, penjaga makam menganggukkan kepala


"Tapi waktu kami kesini, kenapa sepertinya bunga itu selalu tertumpuk dengan bunga baru ya." Ucap Viola


"Jadi begini nak, setiap hari ada seorang wanita yang menuju ke tiga makam itu. Waktu bapak tanya dia siapa, Katanya kerabat mereka." Ucap penjaga makam


Bukannya Adisya gapunya kerabat lain, karena kedua orang tuanya anak tunggal. Batin Viola dan Vinda


"Dia tiap hari kesini kok nak, menjelang malam dia selalu kesini. Mungkin sebentar lagi dia akan datang." Ucap penjaga makam


Belum ada 1menit penjaga makam mengucapkan itu, orang yang dimaksud penjaga makam itupun datang.


"Nah itu dia nak." Ucap penjaga makam, Viola dan Vinda pun melihat ke arah makam Adisya dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Mata Viola dan Vinda pun melebar, karena mereka mengenal wanita itu. Dari rambut, tinggi dan cara pakaiannya sangat mirip dengan orang yang mereka kenal.


"VANESSA."


__ADS_2