I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 178


__ADS_3

"Lo bercanda kan ren?" Ucap Vanya datar.


"Kalian pikir ini waktu yang tepat untuk bercanda." Ucap Irene dengan nada tinggi.


"Turunkan nada bicaramu ren." Ucap vinda dengan nada tinggi.


"Jika kalian teman sejati harusnya tidak membiarkan 2 teman kalian pergi di hari yang sama. Mulai dari Vanessa yang jatuh dari tebing dan Adisya yang harus tewas di Medan perang." Ucap Irene dengan nada tinggi.


"Apa kau pikir kami meminta hal ini terjadi hah,ini semua takdir. Tidak ada yang tau apa yang terjadi selanjutnya." Bentak Viola.


"Apa selama ini kalian ikut menjaga Adis, tidak! Kalian sibuk dengan dunia kalian." Ucap Irene yang masih terus berbicara dengan nada tinggi.


"Jaga ucapan lo, harusnya lo sadar darimana lo berasal. Lo cuma orang lain yang kehidupannya di biayai oleh Vanessa.". Bentak Viola.


"Vi." Ucap Vanya.


Irene pun terdiam mendengar ucapan Viola, karena Irene masih bisa sekolah tinggi juga karena Vanessa. Sedangkan viola sudah pergi dari ruang medis menuju kamarnya, tidak lama Irene pun menangis.


"Aku tau.. aku hanya orang lain yang hadir di persahabatan kalian. Maafkan aku.." Ucap Irene yang mulai menangis.


"Ren plis, jangan lo masukin hati ucapan vio. Vio lelah ren, gue pun sama. Kita semua sama lelahnya. Jadi gue mohon jangan lo pedulikan ucapan vio." Ucap vinda yang mulai menenangkan Irene.


"Lo tetap bagian dari keluarga BLS ren, Lo tetap bisa disini karena lo pantas. Maafkan vio okey." Ucap Vanya.


"Apa yang diucapkan vio ada benarnya ren. Kita pun tidak meminta hal ini terjadi. Semua ini kehendak Tuhan." Sambung Vanya.


"Lebih baik kalian bubarkan saja mafia ini. Sudah cukup nyawa orang yang menjadi korban, mulai dari anggota maupun teman kita sendiri." Ucap Irene yang mulai tenang.


"Sorry ren, mungkin kita memang ketua. Tapi yang paling berkuasa disini adalah Vanessa, gue gak bisa bubarin kalau bukan atas perintah Vanessa." Ucap Vanya datar.

__ADS_1


"Vanya benar ren, kami tidak bisa berbuat apapun. Mafia ini dibuat oleh Vanessa. Dan yang pantas untuk membubarkan mafia ini hanya Vanessa." Ucap Vinda.


"Kita akan bicarakan ini nanti. Lebih baik sekarang kita urus jasad Adisya dan para Mafioso yang lain, mereka harus menerima pemakaman yang layak." sambung Vinda.


"Untuk para musuh, bakar saja." Ucap Vanya datar.


Mereka pun mulai mengurus jasad Adisya, agar segera di makamkan. Sedangkan viola berada di kamarnya, dia pun menangis. Viola merasa malu karena berbicara kasar pada Irene. Akhirnya viola pun keluar untuk menemui Irene sekaligus membantu untuk mengurus jasad Adisya.


------


3V menahan tangis saat jasad Adisya mulai di kebumikan, dimakam hanya ada beberapa anggota BLS yang ikut mengantar jasad Adisya ke tempat istirahat terakhirnya.Ketika para anggota BLS telah kembali ke markas, 3V,Irene.


"Kita kembali dulu ya." Ucap Viko.


Mereka hanya mengangguk saja, tidak dapat menjawab sama sekali.


Akhirnya tersisa 3V dan Irene yg masih ada di makam Adisya. Disana mereka akhirnya meneteskan air mata yang mereka tahan di depan anggota BLS.


"Dis, kenapa lo pergi secepat ini." Ucap Viola dengan air mata yg terus mengalir ke pipinya.


"Kita belum menemukan seseorang yang berani celakain lo dis, tapi kenapa lo udah pergi gitu aja. Apa lo gamau nemuin orangnya sendiri." Ucap Vinda dengan bibir bergetar.


"Dis, gue terimakasih banget lo udah tolongin gue. Tapi bukan berarti dengan korbanin diri lo, tugas kantor banyak dis. Siapa yang bantuin gue? Siapa yang halangin kak Brian buat ketemu gue? Gaada dis. Hobi lo jelek dis, ninggalin orang pas lagi sayang-sayangnya." Ucap Irene yang diiringi candaan.


"Nyesek banget gak tuh." Ucap Vinda di sela-sela tangisnya.


Mereka pun tertawa tetapi dengan air mata yang terus mengalir di pipi mereka.


Gue janji dis, gue akan cari orang yang berani nyelakain lo sama bonyok lo. Gue cari sendiri orang itu, setelah gue menemukan dia. Dan maaf dis kalau gue lakukan hal kejam di rumah lo, agar dia tau jika dia berurusan dengan orang yg salah. Batin vanya

__ADS_1


"Jika sudah selesai lebih baik kita kembali, hari mulai gelap. Kita juga harus rencanakan buat pencarian Vanessa." Ucap Vanya datar sambil mengusap air matanya.


"Dis, kita balik dulu ya. Lo tenang aja secepatnya kita bakal temuin orang yang udah ngebunuh nyokap bokap lo." Ucap Viola


"Orang yang udah bunuh Adisya ada dimana?" Ucap Vinda


"Tempat pembakaran, dia mati di tanganku." Ucap Irene


"Secepatnya kita harus pergi dari sini, kurasa ada beberapa pasang mata yang memperhatikan kita." Ucap Vanya


Vinda, viola dan Irene pun melihat sekeliling makam dan benar saja, dari kejauhan dari segala arah ada seseorang memakai jubah hitam.


"Dis, kita pergi dulu. Disini mulai tidak aman, kami akan sering-sering datang kesini." Ucap Irene


Mereka pun segera melangkah dengan cepat, karena keadaan mulai tidak aman. Di depan makam mobil yang telah disiapkan anggota BLS pun tidak dapat mereka naiki karena ban mobil yang sengaja di kempes.


"****." Ucap Vinda


"Sekarang kita harus apa Van." Ucap Irene


"Masuk mobil sekarang." Ucap Vanya


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil, benar saja setelah mereka masuk, tidak lama orang-orang berjubah hitam mendekati mobil mereka. Mereka berjumlah 15 orang, sedangkan Vanya,viola,vinda dan Irene tidak dikawal para anggota BLS.


"Oh ****, sekarang apa yang harus kita lakukan." Ucap Irene


Akhirnya mata mereka pun tertuju pada 1 kotak panjang, mereka saling tatap dan tersenyum licik.


"Keluar kalian."

__ADS_1


__ADS_2