I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 148


__ADS_3

"Princess kamu kenapa." Ucap Dean karena tidak mengerti dengan Vanessa.


"Hiks.. Nessa gagal kak hiks.." Ucap Vanessa lirih tetapi Dean masih bisa mendengarnya.


Dean yang tidak mengerti dengan sikap adiknya hanya bisa mengeratkan pelukan dan mengusap punggung Vanessa agar dirinya tenang. Vanessa memang tidak berbicara tetapi isakannya begitu menunjukkan bila dirinya sedang dilanda masalah.


Kakak memang tidak tau apa yang terjadi pada kamu princess, tapi kakak percaya kamu bisa melewatinya. Batin Dean


Tidak lama Vanessa tertidur di pelukan dean, Dean yang tidak mendengar isakan Vanessa pun melepaskan pelukan yang ia lihat adalah wajah Vanessa yang tenang tetapi mata sembab dan hidung merah. Kemeja Dean pun basah karena ulah Vanessa, Dean pun menggendong Vanessa ala bridal style menuju kamar Vanessa.


Setelah mengantar Vanessa ke kamarnya, Dean pun mengganti kemejanya dengan kemeja lain lalu kembali turun ke ruang tamu.


"Princess kenapa kak?" Ucap Rino


"Entahlah, jika bangun saja kita tanyakan padanya." Ucap Dean


"Apa kalian tau siapa ayah kandung Vanessa." Ucap satria datar.


"Kami masih mencari informasi yang akurat." Ucap Reno


"Tidak perlu, ayah kandung Vanessa adalah Adi Pratama." Ucap satria santai.


"APA..." Ucap Dean,Reno dan Rino serempak. Sedangkan satria hanya menatap mereka dengan tatapan datar.


"Bagaimana bisa tuan Adi Pratama ayahnya Vanessa." Ucap Rino. Satria melirik ke arah Steve, Steve pun mulai menceritakan yang sebenarnya.


Ketiga kakak Vanessa mendengarkan dengan seksama sesekali mereka menjawab ucapan Steve. Akhirnya mereka pun mengerti bagaimana Vanessa sampai ke negara ini dan sifatnya berubah menjadi gadis pendiam.


"Dasar biadab, lihat saja akan kubuat kehidupannya hancur." Ucap Reno geram dengan sikap Adi Pratama.

__ADS_1


"Tidak perlu." Ucap satria datar.


"Apa maksutmu tidak perlu." Ucap Dean yang bingung dengan satria.


"Karena perusahaan tuan Adi Pratama jatuh ke tangan va akkhhmmm.." ucapan Steve terhenti karena satria menginjak kakinya.


Hampir saja Steve keceplosan menyebut Vanessa, karena satria sudah berjanji pada Vanessa untuk tida memberi tahu keluarga samudra jika Vanessa pemilik V'LI CORPORATION dan biarkan Vanessa sendiri yang memberitahu keluarganya. Satria menatap tajam ke arah Steve, Steve hanya menelan ludahnya kasar.


"Perusahaan Adi Pratama jatuh ke pemilik V'LI CORPORATION." Ucap Steve tegas.


Mereka aneh. Batin Dean,Reno dan Rino.


"Kita pamit dulu, 2 jam lagi aku ada meeting dengan client." Ucap satria.


"Ah baiklah." Ucap Dean. Satria dan Steve beranjak dari sofa menuju ke mobil mereka.


Satria dan Steve meninggalkan kediaman samudra menuju ke Vebranza group. Di dalam mobil satria mengotak-atik ponselnya, sesekali Steve melihat ke arah satria dengan tatapan takut.


"Lain kali jaga ucapanmu Steve." Ucap satria datar.


"Baik tuan, maafkan saya." Ucap Steve hanya dijawab deheman oleh satria.


Satri membuka email dan mengerjakan tugas kantornya dengan cepat, sebelum ia bertemu client.


Di rumah sakit


Adisya sudah dipindah ke ruang VVIP karena Vanya yang meminta. Sofa disana bisa ditarik menjadi tempat tidur, jadi mereka tidak begitu pusing jika harus istirahat. Vanya,viola,vinda dan Irene menjaga Adisya hingga mereka tertidur. Tetapi vinda bangun lebih dulu, ia melihat seseorang berpakaian hitam dan menyuntikkan sesuatu ke infus Adisya, vinda yang melihat itu pura-pura memejamkan matanya walau sedikit demi sedikit ia mengintip.


Siapa orang itu, dan apa yang disuntikkan ke infus Adisya. Batin vinda

__ADS_1


Vinda mengambil salah satu pisau lipatnya, dan ia bidik ke arah kaki orang itu. Belum sempat vinda melepaskan pisaunya, tiba-tiba 2 gunting kecil sudah menancap di kedua kaki orang itu. Seketika orang itu pun kesakitan dan saat berusaha berdiri ternyata Vanya sudah lebih dulu menghalanginya dan memukul tengkuk orang itu hingga pingsan.


"Sejak kapan lo bangun." Ucap vinda yang terkejut karena orang itu sudah lebih dulu ditaklukkan Vanya.


"Sejak terdengar suara pintu terbuka."Ucap Vanya datar.


Tiba-tiba tubuh adisya kejang-kejang dan vinda segera membangunkan Irene, karena Irene lebih mengerti mengenai racun.


"Shit, orang itu memasukkan racun yang akan membuat semua organ tubuh seseorang menjadi rusak." Ucap Irene panik


"Lo pasti punya penawarnya kan." Ucap viola yang ikut terbangun karena suara vinda.


"Ada, tapi di apartemen." Ucap Irene lemah.


"Terlalu lama kalau lo harus bolak balik apartemen, Lo buat aja disini." Ucap vinda yang khawatir jika racun itu cepat menyerang tubuh adisya.


"Tidak bisa Vin, bahan-bahannya tidak ada." Ucap Irene


Vanya merogoh saku orang yang menyuntikkan racun itu ke Adisya, tiba-tiba Vanya menemukan botol kecil berwarna biru tua.


"Ini apa." Ucap Vanya


"Itu penawarnya, sini biar gue suntik ke Adisya." Ucap Irene.


Vanya memberikan penawar itu ke Irene, Irene segera meraih salah satu alat suntik nya dari tas miliknya sendiri. Irene segera menyuntikkan penawar itu ketubuh Adisya, tidak lama tubuh adisya pun mulai tenang kembali. Tetapi raut wajah Irene berubah menjadi sendu.


"Racun ini bergerak sangat cepat, gue gak tau organ Adis ada yang sudah terkena atau belum. Lebih baik kita cek." Ucap Irene. 3V mengangguk.


"Gue bawa dia ke markas." Ucap Vanya datar. Diangguk i semua temannya.

__ADS_1


Vanya pun menyeret orang itu, banyak orang yang menatapnya. Bahkan ada petugas yang hampir menangkap Vanya, tetapi dengan cepat Vanya menunjukkan bahwa orang yang ia seret sudah hampir membunuh temannya. Dan Vanya juga menegaskan untuk tidak menghalanginya daripada berurusan dengan mafia BLS.


__ADS_2