I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
Episode 21


__ADS_3

Dari kejadian kemarin beruntungnya Arsean tidak mengalami luka yang lebih parah dia hanya sedikit keserepet peluruh itu, tapi tetap saja Arsean kehilangan banyak darah.


Beruntungnya disaat-saat seperti itu samuel datang bersama Yamooto, sebenarnya keduanya sudah memperingati Arsean sewaktu di resporan melalu ponselnya sayang sekali jika deringan ponselnya tidak di kubiskan sama sekali.


"Jadi mereka mulai menyerang ?" Tanya Arsean yang masih terbaring di ranjang sedangkan kedua sahabatnya duduk disopa. Dimana Vanilla ? Gadis itu sedikit terguncang jadi dia memilih untuk menyendiri dulu padahal ini sudah 2 hari berlalu tetap saja arin tidak bisa melupakannya dengan mudah.


"Yah, mungkin mereka tidak akan langsung membunuhmu mereka ingin bermain-main denganmu terlebih dahulu" Ucap Samuel dengan santai sambil memainkan tabletnya. "Jika begitu perketat keamanan kekuarga saya" Arsean memejamkan matanya yang sedikit pusing karena kehilangan banyak darah. Padahal Arsean sudah diberikan perawatan yang bagus tapi tetap saja.


Vanilla sedang duduk di taman belakang, sesekali tatapannya kosong ia mencoba kembali untuk sadar dia tidak boleh takut.


"HI, lama tidak jumpa" taehyun ikut bergabung bersama Vanilla duduk di ayunan itu Vanilla hanya melirik nya sebentar dan kembali menatap kedepan. "Hmm" Sebenarnya Vanilla bukan tak ingin menbalas sapaan itu namun rasanya sulit untuk bersuara maka dari itu ia hanya membalas dengan guman.


"Apa kau masih terkejut atas kejadian kemarin ini ?" Samuel mengikuti pandangan Vanilla menatap kedepan kearah kolam berenang. Tak ada respon dari Vanilla, Samuel cukup mengerti dia mengangguk "butuh psikolog ?" Kali ini vanilla menggelengkan kepalanya dia rasa dirinya tidak begitu trauma dengan hal itu jadi dia tidak membutuhkannya.


"Jika begitu dengarkan aku Vanilla, kalau ini terus belangsung dan kau masih takut maka kau harus melupakan ambisi mu untuk membalaskan dendam orang tuamu" dengan cepat Vanilla menatap Samuel bisa-bisanya dia berucap seperti itu. Vanilla tidak bersuara dia hanya mengakat satu halisnya seraya bertanya apa maksud pria itu.


"Yah, jika hanya karena hal ini saja kau sudah terguncang bagaimana kedepannya. Musuh yang akan kau hadapi itu bukan orang-orang biasa, mereka bisa saja melakukan hal yang lebih buruk dari ini jadi kau harus menyiapkan diri fisik dan mental kau jika masih belum siap dan takut kau bisa mundur sekarang dan melupakan tujuan kau" Vanilla menatap lekat Samuel dia memikirkan ucapan taehyun memang benar ada nya, seharusnya Vanilla sudah berpikir jika hal itu akan terjadi dan dia tidak boleh lengah dan terpengaruh bisa saja musuhnya memang merencanakan itu untuk membuatnya menyerah.

__ADS_1


"Aku mengerti terima kasih Samuel" Akhirnya selama 2 hari ini membisu Vanilla mau mengeluarkan suaranya lebih tepatnya suaranya mau keluar. Samuel mengangguk lega pria itu tersenyum tipis.


******


Saat ini Vanilla sedang di kamar bersama dengan Arsean, Vanilla membantu pria itu untuk makan dan meminum obatnya.


"Apa kau sudah baik-baik saja ?" Sejak terakhir kali mereka bertemu Arsean bisa merasakan jika arin terguncang. "Aku sudah baik-baik saja sebaiknya kamu segera sembuh" Vanilla menyodorkan beberapa butir obat dan air putih pada Arsean.


"Bukankah kau memiliki teman yang bergerak dalam Heck ?" Arsean memberikan kembali gelas yang telah ia teguk isinya sampai habis. "Yah, dia Tomlinson apa ada masalah ?" Vanilla masih duduk dibangku yang disisi Arsean.


"Jika begitu bisakah dia di ajak untuk berkerja sama ?" Vanilla sempat bingung kenapa Arsean menanyainya hal begitu, dia ingat jika Tomlin juga sangat menyukai keluarga De Lucania jadi tentu saja dia akan sangat senang. "Yah asalkan kau sebut kau siapa dia pasti mau karena dia sangat mengidolakan mu dan yah kau bisa mengetes nya langsung jika kau tidak percaya" Arsean mengangguk, "nanti saya akan mencobanya tolong kirimkan nomer ponselnya pada saya" kali ini Vanilla yang mengangguk dia menatap wajah Arsean sebentar dan beralih pada tangan atas Arsean yang di balut kain kasa, ada sendu tersendiri saat Vanilla menatapnya Arsean mengikuti arah pandang Vanilla.


"Bisakah saya meminta tolong lagi padamu ?" Vanilla kembali mengkat pandangannya menatap Arsean. "Iya ?" Vanilla yang tadi melamun kembali tersadar "Tolong pijiti pinggang saya, rasanya begitu sakit" Vanilla langsung bangun dan berdiri di dekat kepala ranjang dan mengangkat tubuh atas Arsean agar condong kedepan.


"Bagaimana apa terasa ?" Tanya arin saat dia mulai memiji bahu Arsean "kurang sedikit" jujur saja tadinya Arsean hanya ingin menghilangkan raut sendu milik Vanilla dia tak ingin jika wanita itu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.


"Saya ingin bertanya boleh ?" Arsean kembali kaku lagi pada Vanilla, dia jadi merasa takut akan membuat wanita itu terluka. "Tentu" Vanilla hanya membalas itu saja tak lebih. "Apa yang membuat kau terguncang ? Padahal saat di pernikahan kita juga terjadi hal yang sama bahkan ledakannya lebih besar di banding hari itu ?" Jika dipikir-pikir benar kata Arsean untuk apa Vanilla terguncang paska pernikahannya saja dia hampir entah itu tertembak ataupun meledak bersama boom yang di pasang di hotel tempa mereka menikah. Dan untuk boom yang kemarin hanya boom yang kecil ledaknya pun tak seberapa.

__ADS_1


"Entahlah, aku takut ketinggian mungkin itu yang membuat terguncang" mereka berbicara banyak sekali bahkan sampai tanpa mereka sadari keduanya membicarakan hal yang tak penting sekalipun.


"Sudah" Arsean menghentikan pijatan Vanilla yang sedang memijat bagian pinggang nya. Vanilla berhenti hendak turun dari ranjang itu. "Jangan kemana, temanin saya tidur" Arsean megenggam tangan Vanilla berharap jika wanita itu tak akan pergi.


"Tapi, aku mau ganti bajuku terlebih dahulu" Arsean melepaskannya memberikan ruang untuk wanita itu berganti pakaian.


Vanilla keluar dari kamar mandi dengan pakai piamanya, Arsean yang masih dalam keadaan duduk dan menyender ke kepala ranjang menatap Vanilla yang tersenyum walau tak terlalu lebar dibalas dengan senyuman oleh Arsean tapi tipis bahkan tak terlalu terlihat.


"Bantu saya untuk tiduran" dengan hati-hati Vanilla membantu Arsean tiduran dia menyelimuti tubuh Arsean terlebih dahulu barulah dia merebahkan dirinya disisi lain ikut bergabung kedalam selimut, sebenarnya Vanilla merasakan perasaan gugup sebisa mungkin dia tidak menunjukannya dengan Pura-pura tertidur santai ia benar-benar tertidur.


__________________________________________


[Jumat, 07 Januari 2022]


Author : Safira Aulia Hamidah


Ig : Sfiranjk341

__ADS_1


__ADS_2