I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 63


__ADS_3

Pagi hari vanessa dkk bersiap untuk ke kelas. Setelah itu mereka akan pergi ke perusahaan untuk membongkar 2 penghianat disana.


"Udah dapat yang gue suruh kemarin." Ucap vanessa


"Tenang bosku semua sudah ada ditangan kita, tinggal bongkar hukum sudah deh selesai." Ucap alvian


"Baguslah." Ucap vanya santai.


"Tunggu² kalian ngadain misi tapi gak ngomong ke kita?" Ucap irene


"Nanti di perusahaan lo juga tau." Ucap vanya ketus


"Santai aja keles." Ucap irene ketus


Vanessa dkk pergi menuju ke kelas akselerasinya sedangkan alvian dan kevin menuju perusahaan agar 2 orang laki-laki itu tidak kabur.


Siang hari vanessa dkk langsung menuju ke perusahaan mereka memakai jubah dan topeng kebesarannya. Para karyawan yang melihat presdir dan sekretaris nya semakin merinding karena mereka tidak akan datang ke perusahaan dengan pakaian seperti itu kecuali ada yang janggal. Mereka langsung berjalan menuju lift khusus presdir, banyak karyawan yang menunduk dan ada juga yang kagum bisa melihat mereka mengenakan jubah dan topeng kebanggaannya.


Sampai di depan ruangan milik kevin dan alvian mereka langsung masuk dan menyuruh tangan kanan laki-laki mereka untuk mengumpulkan karyawan di aula dan 2 orang itu harus diikat tangannya. Semua karyawan yang mendapatkan perintah itu bingung, kenapa harus ke aula? Dan kenapa presdir mereka mengenakan jubah tempurnya? Sampai di aula mereka terkejut karena 2 orang laki-laki tangannya terikat keatas dan mereka pun menggantung.


Baru pertama kali bagi para karyawan ada yang dapat hukuman seperti ini. Karena biasanya hanya akan dipecat dan tidak akan diterima kerja dimanapun, tetapi ini seperti akan terjadi pembunuhan. Tidak berselang lama 4V muncul dan berjalan dengan membawa katana di tangan mereka.


Semua karyawan yang tadinya bisik-bisik mulai senyap karena melihat presdir mereka membawa katana. Kevin dan alvian yang terbiasa melihat mereka seperti itu hanya bisa diam, begitu pula adis dan irene mereka membawa senapan untuk berjaga-jaga apabila ada penghianat lain di dalam aula. Aula BL COMPANY sangat tertutup tidak semua orang dapat masuk kesana, lebih tepatnya mereka menghindar dari musuh yang ingin menyerang dari luar. Di dalam aula penjagaan sangat ketat.


Mata 2 orang laki-laki itu ditutup jadi mereka tidak tau apa yang akan terjadi pada mereka. Saat penutup itu dibuka oleh kevin dan alvian kedua laki-laki itu terkejut karena presdir mereka berubah menjadi malaikat maut.


"Kenapa, terkejut ya?" Ucap vanessa tersenyum miring.

__ADS_1


"N..nona ma..maksutnya ap..apa ini?" Ucap roni tergagap.


"Berani kalian korupsi di perusahaan milik BLS." Ucap vanya dingin


"Ka..kami tid..ak..mengerti maksud kali..an nona" Ucap a'an yang mulai merinding karena atmosfer aula sudah berubah.


"Kevin tunjukkan kepadanya." Ucap vanessa datar. Kevin pun mengangguk dan menunjukkan vidio percakapan mereka berdua di gudang belakang, serta vidio mereka di club malam bersama wanita ****** dan mereka mengakui penghianatan yang mereka lakukan di BLS.


Roni dan A'an mulai pucat karena rahasia terbesar mereka sudah diketahui. Ditambah ini hari terakhir mereka menghirup udara di dunia. Karena 4 presdir BL COMPANY benar-benar murka. Mereka tau bahwa BLS akan menghukum penghianat tanpa ampun, bahkan dibakar hidup-hidup pun dilakukan oleh mereka. Bagi BLS lebih baik membunuh daripada dibunuh karena sekali penghianat maka akan tetap menjadi penghianat.


"Terkejut ya.. selamat kalian berdua membangunkan iblis sedang tidur." Ucap viola datar


"Apa gaji yang kita berikan pada kalian berdua masih kurang sehingga korupsi pun kalian lakukan hah." Bentak vinda. Para karyawan semakin takut melihat 4 presdir mereka murka.


"Kalian kan tau kami ini sangat membenci penghianat." Ucap vanya dingin


"I..iya no..nona" ucap mereka serempak.


"Kalian juga berani memasukkan karyawan tanpa sepengetahuan kami." Ucap viola


"Panggil OG itu kesini." Ucap vanessa dingin.


"Berapa banyak yang kau berikan pada mereka." Ucap vanya dingin


"5juta nona." Ucap og itu yang masih menunduk.


"Saya akan kembalikan uang kamu dan angkat kaki dari sini. Tenang saja gaji kamu tetap saya kasih kok." Ucap vanessa. Seketika OG itu bersimpuh di depan 4V.

__ADS_1


"Saya mohon nona, saya butuh pekerjaan, anak saya membutuhkan banyak biaya untuk sekolahnya. Saya mohon jangan pecat saya nona, biarkan saya bekerja disini nona." Ucap og itu yang mulai meneteskan air mata. 4V pun hanya menghela nafas bagaimanapun wanita didepan mereka sudah menjadi seorang ibu.


"Huh baiklah anda masih bekerja disini, jangan buat kesalahan apapun." Ucap vanya.


"Bagaimana dengan mereka ini." Ucap viola menunjuk 2 orang yang menggantung di aula.


"Atau kita kirim ke rumahnya saja." Ucap vinda datar


"Rumah mereka kan hancur mangkanya korupsi dan memasukkan karyawan tanpa adanya lowongan sehingga bisa ditarik biaya." Ucap vanessa santai.


"GREEN SNAKE DISINI HANCUR." Ucap vanessa datar


"Oooo jadi bagian dari green snake." Ucap viola


"Baguslah mengantarkan nyawa langsung kepada kita." Ucap vanya


Tanpa pikir panjang 4V menyiksa mereka mulai dari menyayat kulitnya,memotong jari,kaki,tangan,telinga, menusuk seluruh badan mereka. Semua karyawan yang melihat itu sangat takut karena pembantaian penghianat yang dilakukan presdir/Ketua BLS mereka tonton secara langsung. Para karyawan semakin merinding karena 2 laki-laki itu sangat mengenaskan. Mereka juga berjanji tidak akan membuat kesalahan dalam bekerja sehingga memancing emosi presdir mereka.


"DENGAR SEMUA, INILAH HUKUMAN UNTUK PENGHIANAT. BILA KALIAN INGIN BERNASIB SAMA DENGAN MEREKA MAJULAH. TAPI BILA KALIAN MASIH INGIN MENIKMATI DUNIA JANGAN PERNAH MEMANTIK KEMARAHAN KAMI. PAHAM SEMUA." Ucap vanessa dengan nada tinggi hingga suaranya menggema di aula.


"Paham nona." Ucap para karyawan serempak.


"Bakar mereka di belakang setelah itu bersihkan tempat ini dan sterilkan kembali." Ucap vanessa lalu meninggalkan aula.


"Setelah pembakaran selesai jangan lupa bersihkan dan sterilkan. Paham." Ucap vanya kepada para penjaga di aula.


"Paham bos." Ucap mereka.

__ADS_1


Vanya dan yang lain pun pergi meninggalkan aula, begitu juga para karyawan yang pergi ke meja mereka masing-masing. Mereka masih terkejut karena pembunuhan di depan mereka, tetapi mereka juga bersyukur tidak pernah membuat presdir mereka marah.


__ADS_2