I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
Episode 7


__ADS_3

Setelah hari itu Vanilla semakin menjadi pendiam tak banyak bicara, jujur saja Vanilla merasa bersalah terhadap soya baginya soya merupakan orang baik. Vanilla sering di perlakukan baik oleh soya dan itu semakin membuat rasa bersalah di hati Vanilla semakin besar. Vanilla juga merasa jijik dengan dirinya sendiri, ia merasa jika ia kotor tak layak dan hancur Vanilla selalu berharap semua ini hanya mimpi yang buruk dan menjijikkan yang pernah ia rasakan tapi semua itu menjadi tamparan untuknya.


Soal Arsean ia sekarang sedang sibuk dengan urusannya baik itu di dunia mafia atau perusahannya yang  tengah berkembang pesat dari sebelumnya. “segeralah siap-siap, kita akaan pergi ke Las Vegas 2 jam lagi” ucap Arsean datar sebelum meninggalkan Vanilla sendirian di ruangan bekas meeting. Vanilla menghembuskan nafasnya kasar, sebenarnya Vanilla sudah sangat bosan dengan pekerjaan ini namun apa boleh buat ?. Sebenarnya Vanilla pun banyak belajar tentang perusahaan dari Arsean maupun dari rekan-rekan kantor yang bisa di ajak berbicara.


Karena sudah di perintahkan Vanilla kembali kemension berniat mengambil koper nya dan Arsean yang sudah di siapkan oleh maid-maid yang di mension disana, saat akan kembali ke mobilnya malah bertemu dengan soya yang tengah terduduk di sofa dengan majalah yang tengah ia baca. “kau sepertinya sedang buru-buru” sapa soya sambil menatap dua koper yang tengah di gusur oleh Vanilla, Vanilla tersenyum sebelum akhinya menjawab. "ah yah seperti yang kau lihat” ucap Vanilla sebelum senyumnya menjadi begitu canggung karena terus di perhatikan oleh soya dengan intens.


“apa kalian akan melakukan perjalanan bisnis ?” soya memincingkan matanya pada Vanilla yang terlihat gugup itu. “ah iya, apa Arsean eh maksud saya Mr. Arsean belum memberi tahu mu” balas Vanilla dengan mencoba terlihat normal menyembunyikan rasa gugupnya.


“oh,, berapa lama ?” tanya soya dengan raut wajah yang terlihat sedih, “saya kurang tau” jawab Vanilla jujur.  “Vanilla jika begitu aku titipkan Arsean ku padamu, tolong jaga dia jangan sampai selingkuh yah” entah ini peringatan atau sindiran untuk Vanilla yang jelas saja vanilla semakin merasa bersalah dan merasa sesak di hatinya.  “yah, jika begitu saya pamit” setelah itu Vanilla benar-benar pergi dari hadapan Vanilla dengan perasaan yang masih sama sakit, entalah rasanya benar-benar sakit.


Kini keduanya sudah berada di pesat milik Arsean, Vanilla duduk di sebelah Vanilla ia menatap keluar jendela yang menampilkan view awan. “Kau jadi lebih pendiam ?” suara berat itu membuat lamunan Vanilla buyar, Vanilla membalik menatap pria itu sebentar kembali  menatap lagi jendela itu.


“Hmm” Guman Vanilla, ia sudah terlalu muak untuk semuanya untuk kisah hidupnya mungkin. “Apa ada sesuatu yang kau inginkan ?” tanya Arsean yang terus membaca beberapa proposal dan dokumen serta beberapa kali berbicara dengan klien yang menggunakan jasanya di dunia gelap.


“Aku ingin mengakhiri semuanya” setelah itu ta kada lagi pembicangan di antara keduanya keheningan menemani mereka. Arsean malas meladeni hal itu.


“ekm… bagaimana kita akhiri hubungan gila ini?” tanya Vanilla ia menatap Arsean serius dan Arsean menatapnya kembali, pria itu yang tadinya sedang sibuk dengan pekerjaannya seketika menatap Vanilla. Arsean menaikan sebelah halisnya meminta penjelasan lebih lanjut. “apa kau pikir hubungan ini waras ? hubungan kita tidak waras, kau memiliki soya tunangan mu dan dia juga sudah ku anggap teman apa wajar jika itu terjadi ? jadi jangan melanjutkan hungungan ini lagi” Vanilla terlihat menahan sesuatu di hatinya yang sejak tadi bergejola di hatinya.

__ADS_1


“bukankah kau sangat menyayangi soya ? kenapa kau berbuat seperti ini ?” ucap Vanilla dengaan suara yang mengecil dan itu tetap bisa di dengar oleh Arsean. “kau tau hubungan dengan adanya perselingkuhan tak akan ada kebahagiaan aku tak mau itu” lagi-lagi Vanilla mengucap dengan suara yang terdengar pelan.  “kau melupakan fakta jika selagi kau belum melunasi harga dirimu pada saya, kau masih menjadi orang saya berkerja untuk saya termasuk dengan kebutuhan biologi saya” ucap Arsean dengan dingin dan datar tentu itu melukai hati Vanilla apa katanya tadi jika selagi Vanilla belum melunasi dirinya sendiri ia harus memenuhi kebutuhan biologi Arsean dan itu secara tidak langsung Arsean bilang dia jal*ng miliknya.  Seharusnya Vanilla menyadari itu bukan melibatkan perasaannya. Sialan dengan semuanya. Vanilla mati-matian menahan air matanya agar tak jatuh di hadapan Arsean cukup harga dirinya di rendahkan didepan pria itu. Untuk saat ini Vanilla ingin berteriak pada dunia ia ingin menumpahkan semua perasaanya.


Jika dulu saat ia masih bersama mantan pacaranya yang sialan itu, walau dia sialan tapi tak seberengsek seperti Arsean. Setidaknya lelaki itu masih mendengarkan apa yang dinginkan oleh Vanilla dan apapun yang Vanilla ceritakan padanya. Pelakuannya pun jauh dari apa yang di lakukan oleh Arsean, dia akan melakukan hal manis yang semakin membuat hati Vanilla meleleh oleh perlakuan orang itu. Saat itu ia merasakan bagaimana jadi orang yang paling dicintai sampai akhirnya menjadi  mimpi buruk. Vanilla menyenderkan kepalanya pada kursi pesawat dan menutup matanya mengingat semua hal manis pernah terjadi di hidupnya walau tak semua yang ia ingat membuat air matanya yang terbendung jatuh, ia sangat merindukan hidupnya dulu. Arsean menghapus air mata yang terjatuh di wajah Vanilla, Vanilla pikir pria itu kembali sibuk setelah mengucapkan hal yang tidak manusiawi itu. Masa bodolah tidur, Vanilla pikir itu hal yang bagus lakukan yaitu tidur dan berharap dia tak pernah terbangun lagi. Vanilla membiarkanya ia sudah lelah untuk mendengarkan ucapan Arsean yang mungkin saja akan membuatnya sakit hati.


'Saya tidak bisa menerik kata-kata saya itu hal mutlak' batin Arsean.


Mereka sudah sampai di Roma setelahnya mereka langsung Check In di hotel yang Arsean sewa dia sedang tak ingin menginap di Hotel perusahaan, dia membutuhkan suasana baru. kamar Arsean dan Vanilla berbeda itu atas permintaannya.


Arsean tengah sibuk dengan ponselnya mencerna beberapa kode yang ia terima dari anak buahnya yang akhirnya gugur sebelum bisa menjelaskan kode apa itu pada Arsean. “Samuel, kau periksa ini” ucap Arsean tepat ketika Samuel masuk kedalam kamarnya Arsean. Sebelumnya Arsean telah memanggil pria itu masuk tanpa ketuk pintu yah itu adalah sifat mutlak milik pria itu, dengan cepat Samuel mengambil ponsel milik Arsean dan mulai menyambungkan dengan laptopnya, mengetik beberapa kode. Arsean mengambil wine yang berada di ruangan tersebut dan menuangkannya pada dua gelas miliknya dan milik Samuel.


Arsean mengawasi Samuel dari belakang ia sungguh tidak sabaran menunggu pria pintar yang merupakan tangan kanannya itu sedang membuka beberapa kode, bagi Samuel bermain-main dengan kode rahasia bukanlah hal sulit karena sejak masih duduk di sekolah dasar ayahnya selalu mengajarinya tentang dunia hack itu bukan masalah besar.


“kita akan bermain-main” ucap Samuel dengan senyum miring Arsean ikut tersenyum mengerti maksud sang sahabat. “jika begitu siapkan pasukan” Arsean mengangkat wine yang ada di gelasnya dan menekuknya sampai habis dengan sekali tekukan tentunya. Vanilla yang baru saja terbangun dari tidurnya terdiam sebentar dengan tatapan menatap pada meja yang berada di sisi ranjang, ada makanan, segelas air minum dan surat. Perlahan Vanilla bangkit mengambil surat terlebih dahulu.


“makanlah, hari ini kau istirahatlah kau tidak perlu berkerja” itulah isi surat yang jelas itu dari Arsean, Vanilla terdiam sebentar tak usah ikut dengannya lebih baik bukan ? lagian sekarang sudah malam tepatnya sekarang pukul  10:40 PM untuk apa ia ikut jam segini.


Setelah mengnyantap makan malamnya Vanilla pergi ke toilet untuk membersihkan dirinya, Vanilla memilih berendam dengan lilin aroma terapi yang di sediakan oleh hotel kelas atas itu. Sesekali Vanilla memainkan kelopak bunga yang berada di bathinet nya.

__ADS_1


Sebuah tempat terdengar suara adu peluruh dengan sangat gencar mempertahankan permintaan klien dari  kedua belah pihak.


Dor…… dorr…..


Dor…. Dorrr….


Suara tembakan itu semakin nyaring keduanya sedang menyerang dengan saling bersembunyi di sudut disana. “kita baru berhasil mengambil sebagian barangnya” ucap salah satu anak buah Arseab yang menginformasikan lewat earphone yang terpasang di telinga Arsean, Arsean berdecak kesal. Sedangkan sang lawan tengah menerima informasi yang mungkin akan menguntungkan untuknya “bagaimana apa disana aman ?” tanya sang kapten pada anak buahnya dengan alat berkomunikasi, “aman sir” balas di sebrang sana “jika begitu cepat lakukan!” ucap pria itu mengarahkan pistolnya pada sudut ruangan tepat sebelum peluruh orang itu bersarang di otaknya.


Vanilla panik ketika ia melihat di kamar hotelnya sudah dikuasai oleh orang-orang asing dengan badan yang besar dan berotot. Vanilla semakin terkejut ketika orang-orang menghampirinya sebelum Vanilla sempat melawan orang-orang itu terlebih dahulu membekap Vanilla dengan sapu tangan yang memiliki bau yang aneh.


Perlahan pandangan Vanilla semakin gelap dan akhirnya Vanilla tak berdaya.


__________________________________________


[Jumat, 07 Januari 2022]


Author : Safira Aulia Hamidah

__ADS_1


Wtpd : Safira Auliya Hamidah


Instagram : Safira19989


__ADS_2