I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 118


__ADS_3

Sedangkan laki-laki itu merasa terhina dengan ucapan Vanya pun langsung menyerang Vanya, dengan sekali tendangan laki-laki itu sudah tersungkur dan merasakan sesak di dadanya.


Lalu ia bangkit kembali dan mulai menyerang Vanya lagi, hingga perkelahian pun terjadi.


Bug....bug...plak...


Tidak lama laki-laki itu pun lemas karena Vanya berhasil menangkis semua serangannya, sedangkan Vanya masih tetap berdiri tanpa merasakan sakit walaupun beberapa kali terkena pukulan tetapi baginya itu hanya pukulan kecil saja.


"Dasar lemah. Kau baru melawan 1 iblis sudah kehabisan tenaga. Haha istirahat 1 menit lalu siapkan kembali tenagamu." Ucap Vanya datar lalu turun dari ring, dan membiarkan vinda yang naik ke atas ring.


Vinda menatap laki-laki itu dengan tersenyum sinis, dan vinda melihat ke arah jam tangannya.


"Istirahat selesai, berdirilah bodoh." Ucap vinda ketus. Seketika laki-laki itu kembali berdiri dan bersiap menyerang Vinda, sedangkan vinda masih berdiri dengan santai. Saat laki-laki itu memasang kuda-kudanya vinda mengerutkan dahinya.


"Kuda-kudamu saja sudah salah, pantas kau kalah." Ucap vinda santai. Lalu laki-laki itu berdiri semula. Vinda mengarahkan jarinya agar laki-laki itu mendekat, saat laki-laki itu sudah dekat vinda langsung menyerangnya dan laki-laki itu tidak ada kesiapan melawan sehingga ia tersungkur dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Lain kali kau juga harus bersiap siaga untuk menangkis serangan. Payah." Ucap vinda ketus.


"Sebenarnya kalian ingin membunuhku atau mengajari beladiri padaku." Ucap laki-laki itu sambil mengusap sudut bibirnya.


"Dua-duanya, tetapi ini untuk bekal bila kau dineraka harus bertarung dengan preman agar tidak kalah." Ucap vinda asal. Laki-laki itu kembali menyerang Vinda dan berhasil vinda kalahkan.


"Istirahat 50 detik." Ucap vinda santai lalu turun dan berdiri disamping Vanya.


Ganti viola yang naik keatas ring dan tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Istirahat selesai." Ucap viola ketus. Tetapi laki-laki itu tidak berdiri ia malah bersimpuh didepan viola dengan tangan mengatup ke depan.


"Kumohon nona lepaskan saya, saya sudah tidak sanggup bertarung lagi." Ucap laki-laki itu.


Mendengar ucapan laki-laki itu Vanessa ikut menuju ke atas ring dan berdiri dibelakang laki-laki itu. Vanessa membangkitkan paksa laki-laki itu.


"Lawan kami berdua, bila kau menang maka kau bebas jika kau kalah bersiaplah menuju ke neraka." Ucap Vanessa tegas. Laki-laki itu mengumpulkan tenaganya dan bersiap menyerang viola dan vanessa.


Viola dan Vanessa berjalan memutari laki-laki itu, lalu Vanessa mengayunkan pukulan pertamanya dan tepat di pipi laki-laki itu. Vanessa menyeringai saat pukulannya mengenai tepat sasaran yang ia incar. Kemudian disusul viola yang menendang bagian punggungnya hingga laki-laki itu tersungkur, sedangkan viola dan Vanessa tertawa mengejek melihat keadaan laki-laki itu.


Vanessa yang sudah tidak dapat menahan amarahnya pun menjadi geram dan langsung memutar tangannya hingga patah, banyak anggota BLS yang ketakutan karena jika Vanessa sudah murka dan sisi altar egonya muncul maka kematian pun tidak bisa dihindarkan.


Krekk...


Aaaaaaaaaaakkkkkhhhh


"Am..ampun nona.." teriak laki-laki itu.


"Dihadapan kalian semua kami akan mengirim laki-laki ini ke neraka." Ucap Vanessa dengan nada tegas. Anggota BLS yang ada diruang latihan pun menelan ludahnya kasar.


Vanessa mengambil pisau pemotong daging yang ada di ruang latihan itu, dan memotong pergelangan laki-laki itu.


Crashh..krekk....


Aaaakkkk kakiku....

__ADS_1


"Kau menyerang orang yang salah." Ucap Vanessa datar. Lalu memotong 4 jari tangan hingga telapak tangannya.


Krekkk...crashh...


Aakkkkkhhhhh ammppuunnnn nona...


"Baiklah aku akan mengampuni mu." Ucap Vanessa santai lalu mengeluarkan pistolnya


"Tapi terima permen pemberian saya ya." Ucap Vanessa santai lalu membuka permennya.


"Biar saya suapi, kan tangan anda kepotong." Ucap Vanessa disertai senyuman.


Laki-laki itu menurut saja dan membuka mulutnya, saat mulai mendekati permen yang ada di tangan Vanessa dengan cepat Vanessa menukarnya dengan pistol. Seketika mata laki-laki itu terbelalak yang ada di dalam mulutnya bukan permen melainkan pistol.


"Good bye." Ucap Vanessa tersenyum miring. Lalu menarik pelatuknya.


Dor..


Laki-laki itupun sudah tida bernyawa lagi, sedangkan Vanessa yang jubahnya mulai banyak darah langsung melepaskan jubahnya dan melempar ke sembarang arah. Anggota BLS pun yang arahnya sama saat Vanessa melempar jubahnya dengan cepat menangkap jubah itu.


"Bos apa boleh saya mencucinya, karena istri saya sedang hamil dan sanga ingin menyentuh jubah kebesaran milik anda bos." Ucap salah satu anggota BLS. Semua mata pun tertuju ke arahnya. Terutama Vanessa langsung menatap dirinya.


"Tentu. Tidak perlu kau kembalikan, bila anakmu sudah besar berikan saja padanya." Ucap Vanessa santai.


"Dan satu lagi bila istrimu melahirkan beritahu aku. Ada yang akan aku berikan padanya." Sambung Vanessa lalu turun dari ring.

__ADS_1


"Terima kasih bos." Ucap salah satu anggota BLS. Vanessa hanya menganggukkan kepala saja. Lalu meninggalkan ruang latihan dan menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.


"Bereskan mayat itu." Ucap viola datar lalu melenggang pergi, disusul dengan Vanya dan vinda menuju ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan tidur.


__ADS_2