I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 167


__ADS_3

-Ditempat lain-


Vanya harus mengerjakan banyak tugas, karena perusahaan milik keluarganya disibukkan dengan para investor dari luar negeri.  Vanya terus berkutat dengan laptopnya di ruang Presdir, ia benar-benar fokus. Sehingga tidak mendengar pintu ruangannya terbuka dan seorang laki-laki memasuki ruangan Vanya.


"Kamu terlalu fokus sehingga tidak menyadari kedatanganku." Ucap laki-laki itu.


"Apa yang kau inginkan?" Ucap Vanya datar


"Bulan depan aku ingin kita berdua pergi bersama. Hanya berdua." Ucap laki-laki itu


"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu." Ucap Vanya ketus


"Tapi kamu harus setuju untuk pergi bulan depan bersamaku." Ucap laki-laki itu


"Jangan harap." Ucap Vanya ketus


Saat laki-laki itu akan memegang tangan vanya dengan cepat Vanya menyingkirkan tangannya sehingga laki-laki itu tidak dapat memegang tangan Vanya.


"Pergilah atau keamanan akan menyeretmu secara paksa." Ucap Vanya datar


"Apa yang terjadi padamu Vanya." Ucap laki-laki itu


"Cih, apa kau lupa dengan perkataanmu waktu itu." Ucap Vanya ketus


"Hari itu aku memang sulit menerimanya,tapi sekarang aku sudah menerima semua tentang kamu." Ucap laki-laki itu


"Pergilah Arjuna." Ucap Vanya datar


"Vanya, maaf aku waktu itu menyakiti hatimu. Waktu itu aku tidak menyangka dengan kebenaran yang terungkap. Tetapi setelah aku melihat ketulusan kakakku yang merawat Vanessa hingga menentang ucapan mama, aku semakin percaya walau kamu ketua mafia tetapi kamu tidak akan melukai orang yang tidak bersalah." Ucap laki-laki itu adalah Arjuna.


"Aku tidak lupa dengan ucapanmu. Kau mengatakan tidak akan pernah berhubungan dengan ketua mafia." Ucap Vanya datar


"Aku diselimuti emosi Vanya, sekarang aku menerima semua tentang kamu. Mungkin waktu itu mulutku mengatakan itu tetapi tidak dengan hatiku. Aku sayang kamu Vanya." Ucap Arjuna yang berdiri mendekati kursi kebesaran Vanya.


Arjuna memeluk Vanya, sedangkan Vanya tidak membalas pelukan Arjuna karena ia pernah kecewa dengan ucapan Arjuna. Tetapi hati Vanya menolak untuk membenci Arjuna karena Vanya juga mulai memiliki rasa sayang pada Arjuna.


"Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu Vanya. Bahkan aku mengikuti kakakku untuk menentang ucapan mama, karena aku benar-benar mencintaimu Vanya. Apapun kulakukan asalkan aku tetap bisa bersamamu." Ucap Arjuna tulus

__ADS_1


"Kau pernah membuatku kecewa Arjuna." Ucap Vanya yang mulai memberontak untuk melepaskan pelukan. Tetapi Arjuna semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepasin." Ucap Vanya ketus


"Enggak." Ucap Arjuna yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Arjuna Putra Vebranza lepasin." Ucap Vanya ketus


"Vanya Saputri Bagaskara aku sayang kamu." Ucap Arjuna diiringi senyuman karena ia baru pertama kali mendengarkan Vanya memanggil nama lengkapnya.


"Aku gak akan lepasin pelukan ini sebelum kamu memaafkan aku." Ucap Arjuna


"Lebay. Lepasin." Ucap Vanya ketus


"Tidak akan sayang." Ucap Arjuna. Seketika wajah Vanya memerah karena panggilan Arjuna.


"Namaku Vanya bukan sayang." Ucap Vanya datar untuk menyembunyikan perasaannya yang seakan ingin meledak.


"Panggilan orang lain adalah Vanya tetapi panggilanku ke kamu adalah sayang. Karena kamu masa depanku." Ucap Arjuna yang melepaskan pelukan dan berganti menatap wajah Vanya.Vanya memalingkan wajahnya agar Arjuna tidak melihat wajahnya yang merah.


"Hari ini aku memakai pemerah pipi." Ucap Vanya datar tanpa menatap Arjuna.


"Benarkah?" Ucap Arjuna. Vanya hanya mengangguk.


"Biar aku lihat." Ucap Arjuna yang memegang kedua pipi Vanya dan mengusapkan jarinya. Bahkan Arjuna mengusapkan tissu kering ke pipi Vanya untuk melihat apakah perkataan Vanya benar.


"Sakit." Ucap Vanya ketus lalu melepaskan tangan Arjuna karena pipinya sedikit panas.


"Kamu bukan wanita yang suka memakai make up Vanya, kemanapun kamu pergi pasti kamu hanya memakai bedak dan pelembab bibir yang memiliki warna itupun tidak merah seperti kebanyakan perempuan yang rela mengantri padaku." Ucap Arjuna


"Dasar Playboy brengs*k." Ucap Vanya ketus. Arjuna pun langsung melum*t bibir Vanya.


Vanya memukul dada Arjuna karena Vanya benar-benar terkejut dengan perlakuan Arjuna padanya. Vanya terus memukul dada Arjuna, tetapi hal itu tidak membuat Arjuna melepaskan cium*nnya. Akhirnya Vanya berhenti memukul dada Arjuna, karena tangannya sendiri mulai panas kemungkinan dada Arjuna juga merah karena pukulan Vanya.


Setelah tidak mendapat perlawanan dari Vanya, Arjuna melepaskan cium*nnya. Ia melihat mata Vanya yang masih terkejut, Arjuna mengusap bibir Vanya dengan ibu jarinya.


"Jika aku mendengar kamu berbicara seperti tadi maka kamu akan menerima hukuman lagi." Ucap Arjuna sambil tersenyum puas. Vanya hanya mengangguk saja, karena ia memang tidak pernah bercium*n.

__ADS_1


"Ehmm.. sekarang pergilah pekerjaanku banyak." Ucap Vanya datar setelah menormalkan keadaannya.


"Hei kamu mengusirku." Ucap Arjuna


"Lebih tepatnya iya." Ucap Vanya ketus lalu kembali duduk di kursinya.


"Oh tidak, hari ini aku akan membantumu menyelesaikan semua pekerjaanmu." Ucap Arjuna yang mengambil beberapa berkas dari meja Vanya.


"Tidak perlu, aku sudah dibantu kak Rani. Lagipula kau sudah kaya jadi aku tidak akan mampu menggajimu." Ucap Vanya datar yang merebut kembali berkas dari tangan Arjuna.


"Rani sudah kuperintahkan untuk membantu pekerjaan Irene di BL COMPANY." Ucap Arjuna santai


"Apa-apaan kau ini." Ucap Vanya datar


"Hari ini aku ingin membantu semua pekerjaanmu, dan kamu tidak perlu menggajiku karena aku melakukan ini juga untuk wanita masa depanku. Dan untuk pekerjaanku masih ada sekretaris yang kubayar mahal untuk mengerjakan semuanya selama beberapa hari." Ucap Arjuna santai


"Dasar gila." Ucap Vanya datar


"Aku gila karenamu sayang." Ucap Arjuna yang menggoda Vanya


"Arjuna." Ucap Vanya tegas.


"Ada apa cinta." Ucap Arjuna santai


"Hais terserahmu." Ucap Vanya yang pasrah dengan permintaan Arjuna.


"Bulan depan kamu harus mau ikut liburan berdua denganku. Jika kamu menolak maka aku akan terus men...


Belum sempat Arjuna meneruskan ucapannya sudah dipotong Vanya.


"Iya." Ucap Vanya ketus. Arjuna tersenyum penuh kemenangan.


"Nah gitu dong sayang, baiklah kita kerjakan ini semua." Ucap Arjuna yang mengambil alih laptop Vanya lalu mengerjakan semua pekerjaan Vanya.


Jika kau bersikap seperti ini setiap hari bagaimana aku bisa menolak kehadiranmu ini. Batin Vanya


Vanya ikut menyelesaikan pekerjaannya, walau harus diiringi dengan canda tawa dari Arjuna.

__ADS_1


__ADS_2