I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 187


__ADS_3

2 hari Vanya dirawat dirumah sakit, karna kondisinya yang masih lemah akibat racun dari minuman. Teman-teman Vanya masih mencari tau siapa yang sudah melakukan itu terhadap Vanya. Mereka mengintrogasi semua OB/OG yang ada di kantor. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang keluar dari ruangan Vanya.


Setelah seluruh OB/OG menjawab pertanyaan yang dilontarkan Viola,Vinda dan Irene. Akhirnya mereka disuruh kembali melakukan pekerjaan, dengan satu syarat jika salah satu diantara mereka ketahuan berbohong maka siap-siap untuk berada di alam lain.


"Oke kali ini kita harus benar-benar mengawasi mereka semua." Ucap Viola diangguk i vinda dan Irene.


"Gue kembali dulu ya, kerjaan numpuk. Kasian kak Tania." Ucap Irene yang langsung meninggalkan viola dan vinda.


Viola dan vinda pun keluar dari aula, mereka menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Vanya. Di loby mereka melihat salah satu karyawannya yang benar-benar misterius. Akhirnya Vinda memberi pesan kepada Irene untuk mengawasi salah satu karyawan yang ada ditugas resepsionis.


"Lo ngerasa aneh gak sih vin?" Ucap Viola


"Iya, gue udah nyuruh Irene untuk memantau mereka." Ucap Vinda


"Mereka ngeliat kita tadi kek was-was gitu, antara takut,tertekan dan kek habis ngelakuin sesuatu gitu." Ucap Viola


"Bagaimanapun juga, kita harus tetap waspada sama mereka." Ucap Vinda


"Coba kalau ada Nessa udah pasti ketahuan pelakunya." Ucap Viola


"Sebenarnya gampang kita nemuin, masalahnya cctv di seluruh ruangan yang dilalui pelaku gaada. Gimana cara ngeceknya." Ucap Vinda


"Niat banget gila ih, gamampu beli cctv apa gimana sih?" Ucap Viola kesal


"Kalo ga niat ya gabakal ngeracunin Vanya pe'a." Ucap Vinda sambil menoyor kepala Viola


"Biasa aja anjir, gausah main kepala yang lo jadiin sasaran. Huh." Ucap Viola


"Udahlah kita ke RS sekarang, Vanya nungguin nih." Ucap vinda


Mereka pun melesat menuju ke RS untuk menemui Vanya.


-Di Rumah Sakit


Vanya bangun lebih dulu karena ia ingin ke toilet, sedangkan Arjuna masih tidur di sofa. Sebenarnya mama Vanya sudah menyuruh Arjuna untuk pulang biarkan mama Vanya yang menggantikan, tetapi Arjuna menolak karna ia takut jika terjadi sesuatu lagi pada Vanya.


5menit kemudian Vanya keluar dari kamar mandi, ia melihat Arjuna mondar mandir di dekat pintu kamarnya.


"Ngapain sih lo mondar mandir gajelas." Ucap Vanya, Arjuna menoleh ke arah Vanya, ia berlari dan langsung memeluk Vanya.

__ADS_1


"Aku kira kamu kabur, aku khawatir Van. Untunglah kamu gapapa." Ucap Arjuna. Vanya melepas pelukan Arjuna.


"Gue dari kamar mandi, gadenger apa gimana sih lo?" Ucap Vanya


"Kamar mandi itu kedap suara sayang." Ucap Arjuna sambil mencubit pipi Vanya. Vanya menepis tangan Arjuna.


"Lo bisa liat pintu tertutup kan?" Ucap Vanya


"Dari kemarin malam pintu kamar mandi juga tertutup Vanya." Ucap Arjuna


"Serah." Ucap Vanya ketus


Vanya berjalan menuju ranjangnya, ditangannya masih tertancap jarum infus, dan jika Vanya harus berjalan, ia harus kerepotan dengan membawa tiang infus.


"Infus sial*n, capek gue gini mulu." Gumam Vanya


"Jangan cabut jarum itu Vanya." Ucap Arjuna


"Lo ga capek lihat tangan gue tertancap jarum ini hah." Ucap Vanya yang mulai kesal


"Itu untuk kesehatan kamu sayang." Ucap Arjuna sambil mengelus puncak kepala Vanya.


"Baiklah sayangku mau makan apa?" Ucap Arjuna lembut


"Apa aja yang penting pedes." Ucap Vanya sambil mengotak Atik ponselnya untuk menghubungi Vinda, sebenarnya ia ingin vinda membawakan makanan tetapi ia tau pasti Arjuna akan memaksa untuk membatalkan pesanan yang Vanya inginkan.


"No." Ucap Arjuna, sedangkan Vanya menaikkan satu alisnya mendengar jawaban Arjuna.


"Kamu baru sembuh, gaboleh makan pedas." Ucap Arjuna


"Tadi lo nawarin, sekarang gue minta malah ditolak." Ucap Vanya ketus


"Selain itu sayang." Ucap Arjuna lembut


"Gue maunya itu." Ucap Vanya


"No." Ucap Arjuna


"Gue maunya itu." Ucap Vanya

__ADS_1


"No." Ucap Arjuna


"Males gue ngomong sama lo, lebih baik gue nitip vinda aja." Ucap Vanya, tetapi sebelum Vanya membuka ponselnya, Arjuna lebih dulu mengambil ponsel Vanya.


"Balikin." Ucap Vanya


"Vanya, kamu itu baru sembuh bisa gak sih nurut gitu." Ucap Arjuna sedikit kesal


"Ya gue pengen yang pedas-pedas, lagian gue bukan habis lahiran ngapain dilarang makan pedas." Ucap Vanya


"Habis lahiran atau engga, perut kamu baru bisa menerima makanan, gainget kemarin makan apapun beberapa jam kemudian muntah lagi." Ucap Arjuna. Benar saja kemarin Vanya setelah makan apapun selang 3/5jam selalu muntah dan itu membuat dia bolak balik kamar mandi. Itupun digendong Arjuna.


"Bubur ayam aja ya." Ucap Arjuna lembut


"Aish bubur mulu, gue bukan bayi." Ucap Vanya ketus


"Vanya, ini juga untuk kesembuhan kamu." Ucap Arjuna. Sedangkan Vanya diam saja tidak menanggapi ucapan Arjuna.


"Janji deh kalau kamu udah sembuh total, makan pedas sepuas kamu aku turuti." Ucap Arjuna, mata Vanya pun berbinar, ia langsung menoleh ke arah Arjuna.


"Serius?" Ucap Vanya. Arjuna pun mengangguk.


"Oke deh, awas kalau lo ingkar, gue potong leher lo." Ucap Vanya.


"Gitu dong, gaakan aku ingkar janji. Kalau bisa ladang cabe aku tanam buat kamu van." Ucap Arjuna


"Gila lo." Ucap Vanya diiringi kekehan kecil.


"Yaudah aku suruh anak buah kamu dulu buat beliin bubur ayam." Ucap Arjuna


"Kenapa gak lo sendiri aja?" Ucap Vanya


"Aku gaakan ninggalin kamu sendirian sayang." Ucap Arjuna


Lama-lama runtuh pertahanan gue kalau gini ceritanya. Rasanya mulai sulit buat gue ngejauh dari lo Arjuna Vebranza. Batin Vanya


"Iya aku tau, aku ganteng sayang." Ucap Arjuna dengan mendekatkan mukanya didepan muka Vanya. Sontak Vanya pun terkejut.


"Iiihhh jijik." Ucap Vanya sambil menjauhkan muka Arjuna dari hadapan mukanya.

__ADS_1


__ADS_2