I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 161


__ADS_3

Sedangkan Rino terus bersedih di samping ranjang vanessa dengan terus menggenggam tangan Vanessa. Hatinya sangat terluka saat melihat Vanessa terbaring lemah diranjang ruang medis milik BLS. Ia tidak bisa berkata apa-apa selain meneteskan air mata.


"Princess ayo bangun. Kamu bilang kalau kakak datang kesini kamu yang menyambutnya, mana buktinya. Kamu lebih memilih berbaring disini daripada harus menyambut kakak." Ucap Rino


Tidak lama satria datang dan langsung masuk ke ruang medis, satria meminta Rino untuk memberinya waktu bersama Vanessa, Rino pun mengangguk dan berganti melihat keadaan Adisya.


"Vanessa, apa mimpimu terlalu baik sehingga kamu enggan untuk membuka mata." Ucap satria lembut.


Kali ini satria benar-benar kehilangan ketegarannya, ia sangat lemah melihat Vanessa terbaring di ranjang dengan alat bantu pernafasan yang menempel pada hidungnya.


"Harus berapa lama aku tidak akan mendapat perhatian dari kamu hemm." Ucap satria sambil menggenggam tangan Vanessa.


"Aku tau kamu mendengar ucapan ku Vanessa, kamu pasti tertawa kan karena melihatku menjadi banyak berbicara begini." Ucap satria


"Bangunlah Vanessa, hanya kamu wanita yang bisa membuatku lemah begini. Jika aku diberi pilihan dengan beberapa wanita dan kamu yang masih terbaring lemah disini pun aku tetap memilih kamu, maaf ya aku memukul Dean. Karena aku merasakan sakit yang kau rasakan saat Dean mengusirmu." Ucap satria lembut


Tiba-tiba ponsel satria berbunyi dan terdapat nama Steve yang menghubunginya.


"Sebentar ya, aku angkat telepon dari Steve." Ucap satria pada Vanessa.


Satria mengangkat panggilan dari Steve, Steve mengingatkan satria jika setengah jam lagi akan ada meeting dengan pemegang saham.


"Vanessa, aku tinggal meeting ya. Ini meeting paling penting, nanti selesai meeting aku akan segera kembali kesini ya." Ucap satria lembut.


Cup


Satria mencium lembut dahi Vanessa, tanpa satria sadari Vanessa meneteskan air mata.

__ADS_1


"Cepat bangun sayang." Ucap satria lembut.


Satria keluar dari tempat Vanessa, dan berkata pada Rino jika ia harus pergi meeting dan kembali setelah selesai. Rino pun mengangguk dan kembali ke tempat Vanessa.


"Kamu tau kan princess? Kak satria saja lebih memilih bersamamu dan meninggalkan mamanya, kamu beruntung mendapatkan laki-laki seperti kak satria princess. Cepat bangun princess, sebelum kak satria menjadi milik orang lain." Ucap Rino


Sedangkan ketiga teman Vanessa, Tania dan dinda sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Irene harus ke V'LI CORPORATION karena ada meeting bersama client mewakili Vanessa dan Tania.


1jam kemudian pintu ruang medis terbuka semua mata tertuju pada pintu, dan melihat rudin bersama 2 paruh baya dan anak kecil. Mereka adalah ayah,bunda dan daniar.


"Tuan dan nyonya samudra ingin bertemu Vanessa." Ucap rudin


"Baiklah,kau boleh kembali ke aktifitas mu." Ucap viola. Rudin pun mengangguk dan meninggalkan ruang medis.


Vanya,viola,vinda,Tania dan dinda menyalami kedua orang tua angkat Vanessa.


"Bukankah Rino ada disini?" Ucap ayah


"Sebentar ya, kami ingin melihat Vanessa." Ucap bunda lembut


"Baik bunda." Ucap Vanya,viola dan vinda.


Ayah dan bunda masuk untuk melihat  Vanessa, daniar yang melihat Vanessa terbaring lemah pun langsung berlari dan naik ke ranjang Vanessa.


"Kakak, Dani rindu pada kakak." Ucap daniar tetapi Vanessa tetap tidak membuka mata.


"Kakak, Dani tidak marah jika kakak adalah mafia, karena kakak orang yang baik.dani sayang pada kakak." Ucap daniar sambil memeluk tubuh Vanessa dengan erat, daniar tidak tau jika perut Vanessa terluka.

__ADS_1


"Dani, perut kakak sedang terluka." Ucap Rino lembut


"Huaaaa kenapa kakak bisa begini, huaaaaa..." Ucap daniar yang tiba-tiba menangis histeris setelah melihat perban yang melingkar pada perut Vanessa.


"Sayang, jangan berisik. Biar kak Nessa istirahat." Ucap bunda lembut


"Tapi kakak hiks.. terluka bunda hiks huaaaa.." Ucap daniar yang menangis dengan kencang. Vanya pun menghampiri daniar.


"Dani, kak Nessa kan kuat. Apa Dani gak mau seperti kak Nessa." Ucap Vanya lembut


"Hiks.. bagaimana caranya kak?" Ucap daniar yang mulai tenang setelah mendengar ucapan Vanya.


"Tapi Dani harus janji, bagaimanapun keadaannya Dani gak boleh menangis. Dani kan laki-laki masak cengeng kayak Felisha." Ucap Vanya lembut. Seketika daniar berhenti menangis.


"Dani laki-laki dan Dani tidak mau seperti Felisha." Ucap daniar


"Gitu dong, nanti kalau Felisha tau Dani menangis maka Felisha akan mentertawakan Dani loh." Ucap Vanya lembut


"Enggak, Dani enggak akan menangis." Ucap daniar tegas


Ayah,bunda dan Rino yang melihat perubahan daniar pun menggelengkan kepala. Karena daniar tiba-tiba berubah hanya agar tidak disamakan dengan Felisha. Vanya pun tersenyum melihat daniar.


"Princess, putri ayah. Bangun nak, ayah dan bunda tidak marah tentang kebenaran yang kamu sembunyikan. Kami tau kamu melakukan itu agar tidak membuat kami khawatir kan. Kamu tetap bagian keluarga samudra sayang." Ucap ayah lembut. Bunda memegang tangan Vanessa dengan lembut.


"Anak bunda yang cantik, apa kamu tidak mau membuka mata hemm. Bunda menerima semua keadaan kamu sayang, yang paling penting kamu jangan lupa menjaga keselamatan kamu juga. Maafkan ucapan kakak kamu ya sayang, mereka hanya terbawa emosi saja." Ucap bunda lembut


Vanya membawa daniar menuju ruang latihan, tidak lupa Vanya menyuruh anggota BLS untuk tidak masuk ruang latihan selama 2 jam kedepan. Viola dan vinda ikut bersama Vanya.

__ADS_1


Mereka mengajarkan daniar cara beladiri, hanya kecil-kecilan saja. Mereka tidak akan mengajarkan daniar menggunakan senjata api, walau daniar terus memaksa untuk menggunakan salah satu pistol. Tetapi Vanya,vinda dan Viola tetap tidak memberikannya dengan alasan jika Vanessa mengetahuinya maka akan berakibat buruk pada mereka. Hal itu membuat daniar menurut saja.


Sedangkan di ruang medis. Ayah,bunda dan Rino terus di samping Vanessa. Sesekali bunda melihat Adisya yang sudah 1 bulan terbaring dengan beberapa alat untuk membantunya tetap hidup.


__ADS_2