I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
Episode 45


__ADS_3

Sejak Vanilla membuka matanya saat itu juga vanilla mengalami cemas dan takut, bahkan tatapan matanya kosong dia terus memeluk anaknya bahkan tak ingin memberikan bayinya pada suster saat mereka akan menggantikan popok bayi itu.


Arsean menatap vanilla bersama dengan dokter psikiater dan dokter kesehatan gizi, dari balik jendela ruangan vanilla mereka terus menatap vanilla yang menggendong bayinya sambil terus menatap wajahnya.


"Apa vanilla tidak apa-apa jika terus seperti itu ?" arsean tak tau harus melakukan apa lagi, "tak apa biarkan dirinya menerima apa yang terjadi, mungkin ini akan berat sekali padanya" Febry menatap arsean "padahal ini bukan pertama kalinya terjadi padanya" seharusnya vanilla bisa membiasakan diri, dia tidak harus seterguncang itu, arsean menjelaskan apa yang terjadi pada vanilla waktu itu.


"Dia baru saja melahirkan, dan terjadi hal seperti ini itu sangat sulit untuk di terima" Febry menarik nafasnya.


"Terlebih ini juga bukan kali pertamanya dia mengalami hal semengerikan itu, maka hal itu akan membuat dirinya semakin jatuh dengan traumanya" Arsean terdiam "manusia itu mungkin bisa menampilkan dia tidak merasa takut dan biasa-biasa saja namun, di waktu yang lain mereka yang memiliki trauma akan sangat terguncang saat mengingat apa yang terjadi di masa lalu pada mereka....."

__ADS_1


"Begini, mungkin vanilla pernah melihat keluarganya di bantai habis-habisan, lalu mengalami penculikan waktu dia bersama dengan mu dan sekarang terjadi lagi padanya, mungkin vanilla mahir dalam bela diri dan baku tembak tapi apa kau yakin dia tidak memiliki trauma? Trauma itu bukan sesuatu hal yang harus di sepelekan karena bisa saja itu membuat orang mati" Febry tersenyum kecut ketika dirinya memberikan sebuah edukasih pada orang lain tapi dirinya sulit memberikan edukasih pada dirinya sendiri.


Febry merupakan dokter psikiater yah bisa di sebut sebagai teman arsean juga, tapi tak sedekat seperti Samuel. Arsean berjalan menuju pintu, tepat ketika arsean membuka pintu vanilla langsung menatap takut "tenang ini aku " Arsean mendekat dia menatap bayi di pangkuan vanilla "kemari biar aku pindahkan" awalnya vanilla menolak untuk memberikan bayinya, tapi karena arsean memintanya dia memberikan bayinya itu.


"Apa kau sudah makan?" Tanya arsean, vanilla menggelengkan kepalanya "Jika begitu makan dulu, aku suapi" Arsean menyuruh suster untuk mengambilkan makanan vanilla. Arsean bukan tipe orang yang akan menghibur orang lain karena dari dulu sampai sekarang belum bisa menghibur dirinya di kala sedih.


"apakah aku masih bisa di sebut sebagai ketua mafia jika aku lemah?" Tiba-tiba saja vanilla memikirkan itu dia teringat apa yang pernah Samuel katakan waktu dia di culik waktu dia mengalami guncangan yang sama, untuk menjadi kuat dan di segani itu jangan pernah menunjukan kelemahannya karena itu akan menghancurkan semuanya. Semakin kau terlihat lemah oleh orang lain semakin banyak yang akan melakukan penindasan padanya.


Vanilla terdiam dia tidak bisa memberi tahu arsean "lemah bukanlah sesuatu hal yang salah, hanya saja kadang kita harus berhati-hati saat menunjukan sisi lemah kita" Arsean masih ingat kata-kata itu dari neneknya, tapi sampai saat ini arsean terlalu sungkan pada dunia memperlihatkan dirinya lemah. "Tak apa kau masih bisa jadi diri mu sendiri entah itu kau kuat atau lemah !" Arsean hanya terpikir kata-kata itu saja tapi berbeda dengan apa yang vanilla tangkap.

__ADS_1


_________________________________________


[Rabu, 17 Agustus 2022]


Author : Safira Aulia Hamidah


Ig : Sfiranjk341


lanjut besok yah :) udah capek banget soalnya otaknya jadi susah mikir

__ADS_1


Terima Kasih telah mampir :)


__ADS_2