
Keesokannya Vanessa berada di BL Company bersama yang lainnya. Vanessa sudah datang lebih dulu karena banyak berkas yang memerlukan tanda tangan keempat Presdir.
"Morning nes." Ucap Vanya, Viola dan Vinda
"Morning guys." Ucap Vanessa
"Nes kemarin keluarga lo jadi ke markas?" Ucap Viola
"Jadi." Ucap Vanessa
"Lo ga ngasih tau yang aneh-aneh kan ke mereka?" Ucap Viola
"Aneh-aneh gimana?" Ucap Vanessa
"Contohnya lo bunuh orang depan mereka gitu." Ucap Vinda
"Oh, gue tunjukkin kok." Ucap Vanessa santai
"What? Eksekusi siapa lo?" Ucap Vinda dan Viola
"Penghianat kantor ayah." Ucap vanessa
"Santai bener lo ngomongnya." Ucap Viola
"Ya gimana, mereka yang maksa buat nonton gue eksekusi orang." Ucap Vanessa
"Terus gimana tuh kemarin?" Ucap Vanya
"Jadi gini...
Flashback-
Vanessa memerintahkan black dan Coco berada di depan kedua penghianat tersebut. Vanessa duduk ditengah antara black dan coco.
"Baiklah harus ku apakan kalian ini?" Ucap Vanessa yang kedua tangannya sibuk mengusap bulu kucing besarnya.
"Kami mohon nona lepaskan kami." Ucap mereka
"Keuntungannya apa gue ngelepasin kalian?" Ucap Vanessa
"Kami tidak akan melakukan itu lagi nona, kami janji." Ucap mereka
"Ayah, apakah aku harus mengampuni mereka?" Vanessa berteriak agar ayahnya mendengar ucapannya.
"Tidak ada ampunan untuk penghianat princess." Ucap Ayah
"Kalian dengarkan, ayahku saja tidak mengampuni kalian, apalagi gue." Ucap Vanessa
"kami mohon nona ampuni kami." Ucap mereka
"DIAM." Bentak Vanessa
Vanessa memerintahkan pada anggota BLS agar merobek baju mereka berdua.
"Ampuni kami ampuni kami, kalian berani berkhianat pada keluargaku dan berharap dengan mudahnya aku ampuni. JANGAN HARAP."
Vanessa berjalan dibelakang mereka, ia mengarahkan sabuk kulit keras yang ia miliki pada punggung mereka.
Aaakkkhhhhhhh
"Baru permulaan udah keliatan sadisnya ni princess." Ucap Reno
"Ini belum seberapa tuan." Ucap Rizki
Teriakan kedua laki-laki itu tetap Vanessa abaikan, dari atas Daniar sedikit terkejut karena kakak perempuannya lebih brutal dari perkiraannya.
"Ikat dia di tiang kematian."
"Baik bos."
Vanessa memerintahkan anak buahnya untuk mengikat salah satu laki-laki itu ditiang penyiksaan para penghianat atau mulai disebut tiang kematian.
__ADS_1
"Kau bukan dalang dari semua ini, tapi kau yang membantu semua ini agar lancar bukan." Ucap Vanessa
"S-saya dipaksa nona."
"Sudah kukatakan dari awal bukan, jangan main-main dengan keluargaku. Sekali saja kau mengusik mereka, bisa kupastikan hari ini terakhir kalian bernafas dibumi." Ucap Vanessa
"K-kami tidak t-tau nona, jika anda adalah k-ketua mafia BLS."
"Lalu jika gue bukan ketua mafia lo bisa seenaknya berkhianat ke keluarga gue gitu."
Orang itu pun tidak dapat menjawab pertanyaan Vanessa.
"JAWAB"
"B-bukan begitu n-nona tap-
Tanpa mengatakan apapun Vanessa menyayat pundak orang itu.
Aakkhhhhhhh
"Kau salah jika harus mencari masalah dengan keluarga SAMUDRA."
Vanessa terus menyayat pundak orang tersebut, teriakan orang itu didengar keluarganya, tetapi Vanessa dengan santainya melakukan itu.
Vanessa mengambil pisau lipatnya dan menyayat punggung orang itu.
Aakkkhhhhhhhhhhhhh lepasiiinnnnnnnnnnn
Vanessa mengukir tulisan 'penghianat', ia memotret hasil karyanya dan dikirim ke grup keluarga.
"Kenang-kenangan yang lucu."
"Lucu dari mana princess, lebih ke ngeri sih." Ucap Reno
"Karyaku bagus kan kak." Balas Vanessa
"100 buat kamu." Ucap Dean
"Baiklah karyaku dipunggung mu ini bagus sekali bukan." Vanessa menunjukkan foto punggung orang itu.
"Kau psikopat, kau gadis gila."
"Hahahahahaha, gue gadis gila?"
"Ya, kau gadis gila."
"Baru tau kau? Kemana aja?" Vanessa menjawab perkataan itu dengan santai.
"Tak kusangka orang paling berpengaruh di negara ini memiliki seorang iblis di keluarganya."
"Devil? you say i'm a devil? yes I am the devil."
Jawaban Vanessa membuat orang didepannya itu terpancing emosi karena Vanessa santai menghadapi ucapannya.
"I'm the devil in the mafia world and I'm the leader of the BLS." Ucap Vanessa dengan tegas.
"Penghianat sepertimu tidak akan pernah ku maafkan."
Vanessa mengambil pisau es dan mulai mendekat ke arah laki-laki yang masih dijaga Coco.
"Baiklah aku harus memulai dari mana ini." Ucap Vanessa
"Princess kakinya aja duluan." Dean berteriak dari lantai 2.
"Baiklah sesuai request kakak gue." Ucap Vanessa
Vanessa meletakkan pisau es di sebelah Coco dan memakai pisau lipat miliknya. Vanessa menyayat kedua kaki orang tersebut.
Aakkkhhhhhhhhhh
"Sakittttttttt......"
__ADS_1
Jleebbbb
Vanessa menusukkan pisau lipatnya ke paha orang tersebut dan semakin menekan ke dalam.
Aaakkkkhhhhhhh
"T-tolongggg ss-sakiiitt..."
Orang itu berteriak karena pahanya sangat sakit, pisau lipat milik Vanessa sudah menyentuh tulang pahanya. Vanessa membiarkan pisau lipat itu ada di paha orang tersebut. Vanessa mengambil pisau lipat yang sudah berkarat, dan menancapkan ke paha sebelahnya.
Dengan cara yang sama Vanessa menekan pisau itu lebih dalam, bahkan ia menarik dan menusukkan pisau itu berulang kali diluka yang sama.
Aakkkhhhhhhhhh
Vanessa mengambil pisau es dan mulai memotong kaki orang itu, dengan santainya Vanessa membawa potongan kaki itu ke hadapan temannya yang digantung ditiang.
"Kau mau kaki kawanmu ini?" Ucap Vanessa
Laki-laki itu hanya diam karena ia merinding meilaht temannya yang kesakitan karena kakinya dipotong oleh Vanessa. Dari atas pun merinding karena mereka sadar jika Vanessa lebih berbahaya daripada binatang buasnya.
"Bunda, apakah itu putri keluarga kita?" Ucap Reno
"Princess lebih menyeramkan dari pada Coco." Ucap Dean
"Awal kami tau cara bos van melakukan tugasnya, kami juga takut padanya, tetapi itu hanya berlaku untuk para musuh dan penghianat dikehidupan bos Van." Ucap Rizki
Vanessa dengan santai menaruh kaki itu ke pundak laki-laki lain. Vanessa pun tersenyum melihat wajah laki-laki yang ada didepannya itu pucat bahkan detak jantungnya berdebar semakin kencang tapi bukan jatuh cinta.
"Gue lanjut ke temen lo dulu ya sayang."
Vanessa menepuk pipi orang itu diiringi senyuman dari Vanessa. (Lebih tepatnya senyuman mematikan.)
"Hahah pasti tu orang merinding banget." Ucap Daniar
Mereka pun saling pandang karena Daniar sangat senang melihat Vanessa yang mengeksekusi lawannya.
"Kakak keren banget." Daniar berteriak, Vanessa yang mendengar itu pun tersenyum.
"Ss-saya mohon ampuni saya...nona."
"Kaki tinggal sebelah minta diampuni maksut lo apaan coba?" Ucap Vanessa
"Saya mohon nona ampuni saya.."
"Brisik, bisa diem ga lo?"
"Jika itu.. bisa membuat nona memaafkan saya, saya akan terus berbicara..."
Orang itu terus mengucapkan maaf dan minta ampunan pada Vanessa, Vanessa yang membenci permohonan orang itu pun semakin marah.
"DIAM!"
"Ampuni saya nona.."
"Ampuni saya nona.."
"Ampu-
Crashhh
Vanessa menebas kepala orang itu menggunakan katana, semua yang menyaksikan itu pun terkejut karena kepala orang itu sudah terlepas dari badannya.
Vanessa menyiramkan bensin ke tubuh mayat itu lalu membakarnya. Karena kepalanya yang menggelinding Vanessa pun menendang kepala itu agar terbakar dengan tubuhnya.
"Berisik banget, gini kan tenang telinga gue." Ucap Vanessa dengan nada santai
"Oke gue merinding melihat princess." Ucap Reno
"Sama." Ucap Dean
"Semoga bunda sama ayah setelah ini masih bisa makan dengan tenang." Ucap Rino
__ADS_1
"Ntahlah Rino, bunda tidak yakin." Ucap Bunda