
Vanessa dan Vanya segera bersiap untuk pulang, teman-temannya tetap berada di mansion. Vanya pulang untuk membawa anak kecil yang ia selamatkan dari green snake, walau anak itu tidak bisa berbicara tetapi Vanya sangat menyayanginya. Dengan tekad Vanya ingin membuat anak itu bisa bicara dan tidak lupa untuk memberikan nama pada anak itu.
"Gue balik dulu, mungkin 2 hari lagi gue kesini kalau gak ada masalah dirumah.." Ucap Vanessa sambil memakaikan jam tangannya.
"Gue gak tau bisa balik kapan, gue mau fokus penyembuhan gadis kecil ini." Ucap Vanya sambil mengelus rambut anak kecil yang ada di sampingnya.
Anak itu sedari tadi menunduk, saat rambutnya di elus vanya, ia terkejut dan mendongakkan kepalanya menatap ke arah Vanya dengan mata berkaca-kaca. Vanya yang melihat mata anak itu sudah berkaca-kaca pun langsung mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh anak itu.
"Kamu jangan sedih lagi ya, kakak akan selalu di samping kamu." Ucap Vanya lembut. Seketika anak itu menangis dan langsung memeluk Vanya.
Sebenarnya anak itu sangat ingin mengucapkan terimakasih kepada Vanya, tetapi apa boleh buat ia tidak bisa bicara. Jadi ia hanya bisa menangis saja di pelukan Vanya, tidak lama nak itu pun tertidur di pelukan Vanya.
"Oh astaga ceroboh sekali anak ini." Ucap Vanya dengan nada datar.
"Dia selalu tertidur di pelukan lo Van." Ucap vinda. Vanya hanya menganggukkan kepala saja.
"Gue duluan ya." Ucap Vanya lalu menggendong anak itu menuju ke mobilnya. Sampai di mobil Vanya mendudukkan anak itu di sebelah kursi kemudinya dengan pelan-pelan. Dan kursinya sedikit di atur kebelakang agar anak itu bisa tidur dengan tenang dan memasangkan sabuk pengaman.
Kamu akan sembuh sayang. Kakak janji akan membuat kamu bisa bicara kembali. Batin Vanya lalu mengecup kening anak itu.
Vanya menyalakan mobilnya lalu melesat ke mansion miliknya, dengan kecepatan sedang ia melakukan mobilnya karena tidak ingin mengganggu si kecil yang ada disebelahnya.
Masih di mansion.
Vanessa memakai jaket bomber hitam dan jeans dark blue yang sobek di bagian lututnya dan sneakers putih andalannya. Tidak lupa memakai maskernya karena ia masih belum ingin membuka identitasnya di hadapan para anggota BLS.
"Gue balik dulu, kalau ada apa-apa kabarin gue." Ucap vanessa datar lalu menyambar kunci motor miliknya.
__ADS_1
"oke nes." Ucap teman-teman Vanessa.
Vanessa menuju ke motornya dan segera menyalakan motornya.
Brumm..brumm
Vanessa langsung melesat menuju ke mansion ya, sayangnya dijalanan ia harus bersabar karena sedikit macet. Ada kecelakaan truk dan pengendara motor, Vanessa hanya bisa membuang nafas kasar.
Setelah jalanan sedikit lenggang Vanessa melajukan motornya dengan kecepatan penuh, ia tidak peduli teguran orang lain.
Sampai dimansion Vanessa nyelonong masuk ke dalam, karena ia sangat lelah. Sehingga tidak melihat bahwa diruang tamu sedang ada Dean,Reno,satria,Mike.
"Eh princess kamu tumben pulang." Ucap Dean santai
"Kirain lupa jalan pulang." Ucap Reno sambil memainkan ponselnya.
"Bukan begitu princess..." belum selesai Dean bicara, Vanessa sudah menyela.
"Hua kakaknya aku." Ucap Vanessa lalu berhambur kepelukan dean. Sedangkan satria dan Mike sedikit terkejut karena biasanya Vanessa sangat irit bicara.
"Princess kok kamu alay sih, gak malu sama satria dan Mike." Ucap Dean yang heran melihat sikap adiknya.
"Bodo amat." Ucap Vanessa lalu melepaskan pelukannya dan menuju ke kamarnya.
"Princess.. setelah itu cepat turun, ada yang mau kak reno tanyakan ke kamu." Ucap Reno sedikit teriak karena Vanessa sudah ada di tangga.
"Hemm." Vanessa hanya menjawabnya dengan deheman saja.
__ADS_1
Setelah di kamar, Vanessa mengganti pakaiannya dengan pakaian santai dan menuju ke ruang tamu. Dengan memakai celana jeans putih selutut dan kaos polos berwarna hitam, serta sandal yang biasa ia pakai bila dirumah dan rambut dicepol ke atas. Satria dan Mike yang melihat itu pun melihat tanpa berkedip karena walaupun dengan pakaian santai kecantikan Vanessa tidak berkurang.
"Ehm mau ngomong apa kak." Ucap Vanessa yang sudah duduk di samping Reno.
"Mumpung ada kak Dean juga, kakak mau tanya sebenarnya selama ini kamu sibuk apa?." Ucap Reno dengan penuh selidik.
Oke ini jawaban dari firasat ku tadi. Batin Vanessa
"Bantuin Vanya sama viola ngelola perusahaan kak." Ucap Vanessa berbohong. Karena ia masih belum memberitahukan keluarganya bila ia memegang perusahaan milik mendiang mamanya. Sedangkan satria yang mendengar jawaban Vanessa tersenyum miring. Vanessa pun melihat ke arah satria yang tersenyum miring, Vanessa hanya menatap tajam pada satria.
"Lalu bagaimana saat kita diserang pembunuh bayaran dan kamu sudah siap sedia pisau lipat dan pistol." Ucap Reno.
"Ayah sama bunda kemana ya kak." Ucap Vanessa mengalihkan pembicaraan.
"Princess.. jangan mengalihkan pembicaraan." Ucap Reno dan Dean serempak.
Lah gue mau jawab apaan. Haisssh disaat genting gini otak gue kenapa gak bekerja sih. Batin Vanessa
"Emm..itu..anu..emm.."
"Am em om. Jawab princess jangan berbelit-belit." Ucap Reno yang sudah kesal karena Vanessa tidak kunjung menjawabnya.
"Sebenarnya itu.." belum sempat Vanessa menjawab tiba-tiba perut Vanessa pun berbunyi.
Krruukkkk
"Nanti aja ya kak. Nessa lapar. Dadah." Ucap Vanessa setengah berteriak karena setelah perutnya berbunyi ia langsung lari ke meja makan.
__ADS_1
"Princess.. gak sopan." Teriak Reno. Tetapi Vanessa terus berjalan ke arah meja makan dan segera mengambil makanan yang masih tersedia disana, untungnya makanan itu masih hangat.