
Malam yang gelap gulita menjadi background dipart ini, hawa dinginnya tak melumpuhkan rasa yang membara didalam diri Vanilla.
Dengan sesekali ia memekik dan memaki seseorang, yang terus meninju samsak dengan sekuat tenaga.
"Dasar bajingan tidak tau diri" tak bisa dipungkiri berapa banyak tenaga arin keluarkan untuk menyempurnakan tojokan itu pada sebuah foto di samsaknya.
Vanilla masih merasa kesal dengan Arsean saat bertemu beberapa waktu lalu, "ck sialan" umpatnya Vanilla memilik untuk berhenti dari latihan fisiknya, dengan nafas yang terpenggal-penggal arin berjalan menuju dapur.
Vanilla mengambil satu botol Vanilla mineral setelah membuka segel air itu Vanilla meminumnya dengan rakus.
Vanilla mengelap kasar sisa-sisa air di sekitar bibirnya. "Tunggu sebentar" Vanilla setengah berteriak, tentu merasa merasa risih sejak tadi bell arpatemennya terus berbunyi.
Dengan langkah cepat Vanilla sudah sampai di pintu apartemen, dengan kasar Vanilla membuka pintu itu.
Vanilla mematung dan kesal sekaligus ia mendapati Arsean tengah berdiri di hadapannya dengan angkuh. Apa maksunya, sial batin Vanilla mengutuk Arsean.
"Apa yang kau lakukan disini ?" Perduli setan dengan sopan santun, Vanilla mengidik menatap tajam Arsean dan pria itu tersenyum yang membuat Vanilla mengidig ngerti melihatnya.
Tampa permisi Arsean melangkah satu langkah kedepan yang membuat tubuh Arsean dan Vanilla hanya memiliki jarak kurang lebih 5 senti.
"Yah apa yang kau lakukan" Vanilla memekik mundur satu langkah dari hadapan Arsean, tampak berpaling dari Vanilla Arsean menggapai tangan Arsean yang berada di gagang pintu dan menutupkan pintu dengan kasar.
Mendorong tubuh ramping kecil milik Vanilla ke belakang menuju sopa. "Saya hanya takut kamu keluar dan menunjukan tubuh molek mu ini" ucap Arsean santai dan mengalungkan tangannya tubuh di pinggang milik Vanilla.
Tentu saja Vanilla tak memudahkan Arsean untuk memeluk tubuhnya ia memberontak mendorong-dorong dada bidang milik Arsean, tetap saja hal itu tidak berguna karena tenaganya kalah saing dengan tenaga Arsean terlebih tadi ia menggunakan tenaganya untuk menonjoki foto Arsean di samsaknya.
__ADS_1
"Lepas brengsek" makian yang keluar dari mulut Vanilla sejak tadi. Arsean tidak tersinggung sama sekali ia tertawa dengan keras karena makian dari arin.
Setelah Arsean melepaskan pelukan ditubuh Vanilla ia mendudukan dirinya disopa. "Duduk lah" ucap Arsean pada Vanilla yang menatap dirinya sedari tadi dengan tatapan membunuh dihadapannya.
"Ck" decih arin dengan kesal ia mendudukan dirinya di sebrang Arsean sengaja ia menjauhkan dirinya dari Arsean.
Arsean yang melihat itu hanya tersenyum yang lagi-lagi membuat bulu kunduk Vanilla berdiri karena merasa ngeri. "Apa kau tidak menawari aku minum ?" Tanya Arsean yang masih dengan ekspres yang sama, Vanilla menatap tajam pria itu.
Apa pria itu kesini hanya ingin meminta minum, menyebalkan sekali. Vanilla menghembuskan nafasnya kasar mencoba menahan emosi yang sejak tadi siang ia tahan. "Oh okey sir, what you want drink ?" Tanya Vanilla dengan bahasa inggris.
"I feel, milk almond ma'am" jawab Arsean mengimbangi Vanilla dengan tatapan sombong dan mengejek wanita dihadapanya. "Aku tidak memilikinya" jawab Vanilla ketus, sebenarnya pria dihadapannya ini sedang apa kesini membuat mood arin semakin buruk saja.
"Jika begitu milik mu saja, aku tidak keberatan untuk meminum langsung dari asalnya" Arsean menunjuk kearah dada Vanilla yang hanya mengenakan tanktop saja. Oh **** Vanilla lupa jika ia hanya mengenakan tanktop sebagai atasan dan celana pendek sana.
"Saya ingin jus jeruk saja" ucap Arsean setelah puas tertawa dan merasakan tenggorokannya sangat kering. Wanita itu berdiri dengan perasaan jengkel dan berjalan kearah dapur sambil menghentak-hentakan kakinya sebagai perlampiasan semua rasa kesalnya pada lantai yang ia pijak.
"Vanilla, saya lupa jangan tambahkan racun di minuman saya" Vanilla ingin sekali menambahkan racun
Apartement Vanilla memang tak terlalu luas, hanya ada 5 ruangan kecil saja. Dari ruang tamu, ruang keluarga, dapur, kamar yang di tempati oleh Vanilla dan kamar mandi yang berada di antara kamar dan dapurnya.
Namun, Vanilla mensyukuri ia memiliki tempat untuk berteduh dari panas dan hujan terhalang dari dinginnya angin saat hujan dan malam. Sesampainya didapur yang memiliki jarak sekitar 20 langkah itu Vanilla mengambil gelas dengan kasar dan mengambil jus jeruk didalam kulkas setelahnya ia tuangkan kedalam gelas.
"Jadi kau melampiaskannya pada foto yang kau pasang disamsak ini" ucap Arsean yang melihat foto dirinya yang di tempel disamsak itu.
Vanilla mengubah ruang keluarga menjadi tempatnya berlatih fisik, yah agar memudahkan ia untuk berlatih setelah pulang dari kantor arin sendiri baru menekuni hal ini sejak 1 minggu yang lalu.
__ADS_1
"Saya jadi kasihan" lagi-lagi Arsean bersuara dengan mendudukan dirinya di patry dan meminum jus yang telah di siapkan oleh Vanilla. Vanilla hanya diam tak merespon, Vanilla membalik tubuhnya berjalan dua langkah menuju kulkas.
Vanilla merendahkan tubuh bagian atasnya yang membuatnya menjadi menungging, ia baru menyadari jika perutnya sangat kelaparan jadi ia mencari makanan yang mungkin siap saji didalamnya.
Sedangkan Arsean yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum evil, di otaknya muncul ide untuk menjaili wanita itu. Vanilla kaget ketika merasakan ada yang menyentuh bokongnya, saat ingin mengangkat tubuh atasnya bahunya di pegang seraya menahan gerakan wanita itu.
Vanilla merasa Deja vù dengan hal ini, yah dia mengingat sewaktu menjadi sekertaris pribadi pria itu. Vanilla panik dan saat Arsean meletakan tangan besarnya di bahunya. Tentu saja itu semakin membuat panik wanita itu, jika tangan Arsean ada dibahunya lalu benda apa yang terasa dibelang wanita itu.
"Kau merasakannya Vanilla, saya merindukan mu" Arsean membungkuk menyamai posisi wanita di hadapannya dan berbisikan kalimat yang membuat sejuta umat merinding. Vanilla semakin memberontak dan dengan sekuat tenaga ia menaikan tubuhnya membuat Arsean mundur satu langkah, tak ingin membuat peluang gadis itu semakin banyak Arsean pun segera memeluk gadis itu dari belakang mengunci pergerakan wanita itu.
Menutup pintu kulkas dihadapan itu dengan kakinya, dan mendorong tubuh Vanilla kekulkas, setelah memastikan jika Vanilla tidak bisa melawannya ia membalik tubuh ramping itu dan mengangkat tangan wanita itu membuatnya berada di atas kepala gadis itu. Arsean tersenyum miring ketika menatap mata Vanilla yang menatapnya dengan amat ingin membunuhnya.
"Lepaskan bodoh" teriak arin dihadapan Arsean, rasa marah yang selama ini ia pendampun meledak. Arsean tak terganggu dengan itu ia segera mendekatkan wajahnya ke wajah Vanilla.
Vanilla yang mengerti maksud Arsean itu langsung memalingkan wajahnya membuat bibir Arsean mendarat di pipi kanan Vanilla, Arsean pun yang mengerti arin didepannya sangat berbeda dengan Vanilla yang ia bawa saat pertama kali. Arsean menjauhkan wajahnya "apa kau tidak merindukan sentuhan saya Vanilla?" Tanya soobin yang berbisik ditelinga Vanilla dan meniup telinga Vanilla dengan seksual Vanilla tak menjawab apapun, tapi dengan segera ia menonjok perut Arsean membuat pria itu tersungkur di lantai.
__________________________________________
[Jumat, 07 Januari 2022]
Author : Safira Aulia Hamidah
Wtpd : Safira Auliya Hamidah
Instagram : Safira19989
__ADS_1