I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
Episode 28


__ADS_3

Ini sudah memasuki 2 bulan 1 minggu kehamilan Vanilla, tapi dimasih menyembunyikan kehamilannya dari siapapun bahkan sama teman-teman setimnya mereka tidak menyadari semua perubahan yang kadang terjadi pada arin. Vanilla baru saja keluar dari ruang pemeriksaan kandungannya dokter dan beberapa suster sempat memandangnya aneh karena memeriksanya sendirian tidak didampi oleh siapapun tapi apa perduli Vanilla dia hanya ingin melihat saja dan memahami apa yang sering dia rasakan.


Vanilla sempat berpikir untuk menghilangkannya jika dia menyulitkan Vanilla dihari kemudia, tapi jika dia menjadi anak baik dan tidak melakukan hal aneh sama seperti dia sedang melakukan misi ini dia hanya merasakan mual sesekali tak pernah berlebihan seperti ibu hamil lainnya. Vanilla cukup bersyukur.


Vanilla memasuki rumah itu disana sudah ada leona dan beberapa orang lainnya kecuali Tomlinson. "Bagaimana leona apa semuanya sudah selesai ?" Tanya Vanilla "sudah, saya sudah mengambil semua dokumen yang terpenting nya dan beberapa informasi yang akan memudahkan kita menemukan titik pusat mereka" Vanilla mengangguk mengerti "kerja bagus leona" puji Vanilla dan leona hanya tersenyum ramah. "Bagaimana dengan kerjaan kau jonn" jonn langsung mengangguk menatap Vanilla beberapa detik sebelum ia mengeluarkan suaranya. "Semuanya sudah siap hanya menunggu perintah darimu maka tempat itu akan meledak" Vanilla semakin melebarkan senyumnya mendapatkan orang-orang yang mudah diatur dan baik itu sungguh membuat arin merasa senang.


"Dinangkara dan alan bagaimana dengan tugas kalian" Vanilla menatap dua orang itu, mereka mengangguk dan menyerahkan dua gulungan yang berisikan beberapa dokumen dan profil orang-orang yang berada dipusat yang mungkin saja bisa diajak kerja sama oleh mereka. "Kerja bagus dinangkara, alan kalian memiliki skill yang bagus" puji Vanilla pada dua orang itu. Dinangkara dan alan merupakan orang Indonesia yang sedang menempuh stadi di negara ini namun, sebelum mereka lulus dari universitas mereka terkena ditipu dan dimasukan penjara atas kewarganegaraan yang tidak jelas lebih singkatnya mereka dianggap menyeludup ke negara ini belum lagi mereka universitas dan dari negara asal tidak ada respon.


Beruntung saat mereka berada di penjara ada anak buah Arsean yang merasa iba dengan anak muda itu dan akhirnya dibuatkan identitas palsu untuk bertahan disana, dan terakhir kali mereka juga diselamatkan oleh geng mafia Arsean pada akhirnya keduanya memilih untuk bergabung dibanding terlungang lantung dinegara asing.


"Jika begitu dalam 2 hari ini kita hancurkan mereka, apa kalian siap ?" Tanya Vanilla lagi semuanya menegakan tubuh mereka "kami siap" jawab mereka serentak Vanilla mengangguk. Setelahnya mereka di bubarkan Vanilla tersenyum sejak tadi senyumnya tak pudar-pudar. Dia mengusap perutnya yang masih rata, dia juga bingung kenapa dia ingin sekali melakukan itu dia rasa ini bukan dirinya dia mungkin akan geli sendiri untuk mengusap perut itu. Vanilla berpikir ingin cepat-cepat pergi dari sini dan kembali ke mansion Arsean dan bertemu dengan pria itu, dia ingin tidur dipelukan Arsean sekarang.


Vanilla tersandar dari lamunannya dia berpikir untuk apa dia tidur dipelukan Arsean aneh sekali, Vanilla menggeleng kepalanya dan berjalan mengambil baju piama dan memilih untuk tidur saja.


******


Waktu berlalu begitu saja sekarang waktu eksekusi semuanya sudah siap, bahkan mereka juga sudah kembali membenahi barang mereka jika sudah selesai mengeksekusi mereka bisa langsung pergi dari tempat ini .


"Bagaimana jonn semuanya sudah siapkan" Vanilla kembali menanyakan hanya untuk memastikan. "Yah semuanya sudah siap" mereka semua mengenakan pakaian hitam dan keluar dari rumah itu bersamaan tentu saja dengan peralatan lengkap untuk berjaga-jaga.


Vanilla berhenti tepat di teras merasakan perutnya kram dia memegang perutnya "tahan sebentar, aku harus menyelesaikan ini secepatnya jadi kau diam yah" guman arin pelan. "Vanilla ada apa ?" Tanya leona yang nyatanya membalikan tubuhnya menatap arin begitupun dengan Tomlinson.


"Tidak" Vanilla menegang kan tubuhnya dan berjalan kembali kearah mereka. Sesampainya digerbang menuju markas Vanilla menembakan sensor masuk, keamanan mereka begitu rendah ejek arin dalam hatinya.

__ADS_1


Sebenarnya saat mereka masuk di gedung yang dijadikan markas itu sudah berdiri beberapa orang yang mengenakan pakaian yang sama serba hitam tak dilupakan pistol sudah berada ditangan mereka. Vanilla cukup kaget bagaimana ini bisa terjadi, tak selang beberapa lama terjadi baku tembak diantara keduanya.


"Sial bagaimana mereka bisa mengetahuinya" arin menatap leona dan jonn bergantian dan keduanya serentak mengangkat kedua bahu nya. "Berpencar" tak ada jalan lain mereka kalau telak jika terus berlawanan bersamaan jadi cara lainnya adalah berpencar. Vanilla memencet tombol di earphone yang akan tersambung langsung dengan mereka.


"Jonn, saya dengan yang lainnya akan mengulur waktu bisakan kau langsung meledakan tempat ini secepatnya" Vanilla yang tengah berlari itu menyempatkan untuk memberi arahan, Vanilla bersembunyi dibelakang tembok diparkiran mobil guna menghindari tembakan peluru. "Siap" balas jonn yang terdengar nafasnya. "Leona... kau mendengarku ?" Vanilla sekali melempar semua pandangannya ke berbagai arah. "Iyaa..." setelah menunggu beberapa lama akhirnya ada jawaban dari leona "lakukan panggilan pada Arsean mintalah bantuan pada dia" tak selang beberapa semuanya sunyi tak ada suara. Vanilla mengintip untuk melihat keadaan dibelakangnya.


Dua orang yang Vanilla tidak kenali masih berdiri dibelakang tembok tepatnya beberapa meter tapi mereka terlihat sedang mengobrol. Saat Vanilla sedang mengamati dua orang itu terdengar suara ledakan dari bagian utara. Dan Vanilla mendengar teriakan dari earphone nya. "Jonn.... apa yang terjadi" yah yang pertama Vanilla pastikan pria itu karena dia yakin itu teriakan pria berdarah afrika itu. "Leona, apa yang terjadi" tak mendapat respon dari jonn ia menanyai leona lama tak ada juga respon dari sana arin melihat sekelilingnya dimana lagi dia bisa menyembunyikan dirinya ketemu, Vanilla kembali menatap ke belakang lagi dia mengitung jarak dan kecepatan yang harus dia lakukang untuk sampai tempat yang dia tuju.


Vanilla menghitung dalam hitungan ketiga dia berlari sekencang yang dia bisa, "Tomlinson, apa kau dapat mendengar saya ? Tolong jawab saya" Vanilla sudah sangat frustasi dengan semua ini belum lagi perutnya merasakan kram kembali. "Iya aku dapat mendengar, kau dimana ?" Setidaknya arin bisa bernafas lega mendengar jawaban dari Tomlinson. "Saya berada di bagian barat kau dimana ?" "Bagaimana dengan alan dan dinangkara? Apa kalian aman ?" Tanya Vanilla juga dia tidak bisa menganggap ini enteng sekarang karena kekacauan ini terjadi.


"Kami baik-baik saja" jawab kedua sejoli itu dengan bersamaan "bagus, kalian dimana ? Bagaimana dengan leona dan jonn kenapa keduanya tidak ada respon ?" Secara tiba-tiba suara di earphone terdengar tidak jelas Vanilla berdecak kesal. "Sialan" Vanilla membalik menatap kebelakang dia menyiapkan senapannya jika begini tidak ada cara lain dia harus memastikannya sendiri. Vanilla berdiri entah bagaimana bisa kramnya semakin menjadi-jadi dia menyentuh perutnya. "Aku mohon sekali untuk kau bisa diajak kerja sama untuk kali ini saja aku mohon" Vanilla sudah ingin menangis sebenarnya tapi dia mencoba untuk tidak menangis didepan orang lain.


Karena hal itu arin menjadi ketahuan dan dia sudah dikepung oleh beberapa orang. "Sialan" teriak Vanilla. Vanilla mengangkat senapannya begitupun mereka yang serentak mengangkat nya menodongkan langsung pada kepala Vanilla. Vanilla tidak bisa mengambil resiko kembali dia terdiam pasrah ? Tentu tidak. Perlahan Vanilla menutup matanya dia mencoba menetraisirkan napasnya yang tak beraturan berserta kram yang pada perutnya.


"Nona apa anda sudah menyerah ?" Suara barinton itu terdengar mengejek, namun sayangnya tak ada respon dari Vanilla.


Suara tembakan Vanilla mendengar suara letupan senapan dia perlahan membuka matanya dan melihat satu orang didepannya telah timbang dan diikuti beberapa orang begitupun dengan teriakan pistol yang mengeluarkan limbah panas berbentuk peluruh itu. Vanilla melihat orang yang menembak itu dan itu adalah Arsean, dia tak menyangka dia akan datang langsung kesini.


Karena Vanilla malah berdiri diam disana Arsean menghampiri Vanilla dan menariknya menuju mobil yang tak jauh dari sana. "Diam dan masuk lah" suara Arsean terdengar sangat beda dingin dan penuh amarah. Vanilla tidak mengerti apa yang terjadi dengan Arsean, dia tidak ingin mengikuti perintahnya karena dia masih memiliki tanggung jawab yaitu memastikan bahwa teman timnya aman. "Tidak mau" ucap Vanilla hendak berjalan namun dengan segera Arsean mencengkal tangannya. "Dengarkan saya cepat masuk dengan baik-baik sebelum saya berlaku kasar pada kau" Arsean sedikit membentak dia benci dibantah apa lagi Vanilla yang selalu membantahnya.


"Tidak aku ingin melihat mereka terlebih dahulu, aku ingin memastikan mereka terlebih dahulu" Arsean yang sejak tadi menatap dengan dingin dan amarah. Lama dia menatap Vanilla sampai akhirnya membuka suaranya "apa yang ingin kau lihat hah ? Luka jonn ? Atau mayat mereka ?" Seakan senyap dunia ini seakan membeku dan suara bising tak lagi didengar di telinga Vanilla yang hanya teringa-ingang di dalam kepalanya ucapan Arsean, seketika otaknya sulit mengartikan semua itu. "Apa maksud mu ?" Vanilla menatap Arsean penuh tanya matanya kembali berair.


"Masuk kedalam mobil sekarang" Arsean sebisa mungkin memendam semua rasa amarahnya pada Vanilla "tidak, dimana mereka" Vanilla berteriak dihadapan Arsean dia terlihat kacau. Tak ingin menunggu lama lagi dia memaksa Vanilla untuk masuk kedalam mobil. Arsean memegangi tangan Vanilla agar tidak terus memberontak. "Jalan" pada akhirnya Vanilla menyerah dia menyandarkan tubuhnya pada jok mobil, sedih jelas tapi dia bisa apa ? Dia mengikuti apa perintah Arsean dia terdiam, arin tersentak dia menarik nafasnya dan mengeluarkan perlahan yah rasa kramnya semakin menyakitkan, Vanilla memejamkan matanya dan menarik kembali nafasnya.

__ADS_1


******


Setelah perjalan yang cukup jauh mereka sampai di sebuah rumah sakit, Vanilla menatap Arsean yang memberi isyarat untuk keluar, belum sempat dia bertanya tapi Arsean sudah keluar terlabih dahulu. Dia mengikuti Arsean dari belakang dia tidak bertanya dia memilih untuk mengikutinya saja. Sampai di pintu UGD. Disana sudah ada dinangkara, alan, dan  Tomlinson Vanilla melebarkan matanya dia merasa lututnya mulai lemas tapi sejak tadipun lutunya sudah lemas dan badannya sudah gemetaran otaknya sudah dipenuhi oleh skenario yang buruk dia merasa lega melihat mereka. Dinangkara menatapnya lama seperti sedang mencerna semua.


Tak lama dinangkara langsung berlari padanya dan memeluk tubuhnya "saya pikir..... saya juga akan kehilangan anda" tangis dinangkara pecah, ini tangis nya setelah beberapa tahun lamanya saat dia diperlakukan tidak adil dan memilih untuk masuk kedunia gelap ini dia bisa menangis karena hal seperti ini. Vanilla dengan tangan yang gemetaran membalas pelukan itu dan menepuk-nepuk punggung gadis Indonesia itu.


"Tenanglah" bagaimana bisa Vanilla menyuruh dinangkara untuk tenang sedangkan dia sendiri sedang resah. "Dimana leona dan jonn ?" Vanilla bertanya begitu karena karena hanya dua orang lainnya yang tak ada disana bukannya tenang dinangkara semakin menangis begitupun dengan dua rekan laki-lakinya yang menunduk tak berani mengkatkan kepalanya Vanilla semakin bingung dengan semua ini. Tak ada respon dia menarik tubuh dinangkara agar sedikit menjauh "jawab aku dimana mereka berdua ?" Vanilla sedikit berteriak pada dinangkara baru saja dia merasakan kelegaan jika rekannya selamat tapi dia dibuat dalam dilema lagi karena kedua rekannya yang tak ada.


Dinangkara menangis semakin menjadi-jadi disaat mentalnya down seperti ini, dia tidak tau harus bagaimana. Arsean menarik tangan Vanilla memisahkan Dinangkara, alanpun tak tinggal diam dia membawa Dinangkara menjauh memeluknya menenangkan wanita itu.


"Kau menanyakan leona dan jonn bukan ?" Kali ini Arsean yang bersuara dia, amarah yang tadi dia coba pendam kini membakaranya. "Bukankah kau menanyakan mereka ?" Teriak Arsean, semua orang disana baik suster maupun dokter tidak berani menegur mereka karena Arsean merupakan investor terbesar dirumah sakit ini jadi mereka pura-pura tuli saja ketika melihat hal itu. "Jonn pria itu ada didalam sana sedangkan leona saya tidak tau dia dimana" lagi-lagi jantung arin dibuat maraton berdetak cukup kencang dan ada rasa sesak seakan jantungnya sedang diremas.


"Leona ditahan oleh mereka" Arsean tampak frustasi tapi tetep mencoba menyembunyikan hal itu dengan datar dan amarahnya. "Dan jonn sekarang sekarat, itu semua gara-gara tingkah bodohmu yang arogan tak ingin memberi tahu saya apa rencana kau yang sialan" tubuh Vanilla merosot dia sudah tidak bisa lagi menompang tubuhnya yang lemas entah itu karena ucapan pedas Arsean, tuduhan atau dia melihat khawatir yang besar didalam mata Arsean akan leona. Bahkan Arsean dia tidak menanyainya apa dia baik-baik saja tau terluka. Arsean yang sedan marah itu menatap sebentar dan setelahnya berjalan meninggalkan arin.


"Kau baik-baik saja Vanilla" Vanilla menaikan pandangannya perlahan dia mendapati Tomlinson yang memegang kedua bahunya, Vanilla seakan mayat dia hanya menatap Tomlinson sebentar dan dia mencoba berdiri , dia hendak dibantu Tomlinson namun Vanilla menaikan tangannya memberi isyarat jika dia tidak ingin dibantu. Tomlinson melepasnya melihat dari sini Vanilla yang kesulitan jalan itu pergi meninggalkannya entah kemana.


____________________________________________


[Rabu, 31 Maret 2021]


Author : Safira Aulia Hamidah


Follow Ig : Safira19989

__ADS_1


Follow Wtpd : Safira Auliya Hamidah


Hallo I'm leaders, apa kabar ? saya ingin menyampaikan maaf atas typo yang masih bertebaran dan belum bisa jadi penulis yang handal dan memberikan suasana didalan cerita ini, saya sebenarnya kesulitan dengan cerita seperti ini yah karena menciptakan sebuah konflik tak segampang bikin kopi good day. belum lagi klimasnya. Intinya jangan bosan dulu yah... Terima kasih sudah mampir.


__ADS_2