
Lagi-lagi Arsean kembali diliputi perasaan yang tidak jelas karena Vanilla. Dia datang hanya untuk itu saja ? Arsean akui jika dia salah karena waktu itu bernah berkata jika leona lebih penting dari pada Vanilla.
Tapi saat itu dia sedang dalam tidak stabil. Saat itu juga Arsean tidak menyadari jika ucapannya akan sangat melukai vanilla, Arsean tidak meminta anak buahnya untuk mengikuti Vanilla karena dirinya sendiri lah yang mengejar.
Vanilla yang baru saja keluar dari markas Arsean merasakan pusing dikepalanya dan matanya berkunang-kunang belum lagi merasakan sakit di perutnya, Vanilla menunduk menyentuh perutnya 'kau pasti lapar, maafkan aku kita akan segera pergi makan tolong tahan sebentar' Vanilla berbicara dengan janin yang berada di perutnya. Saat Vanilla mengangkatkan pandanganya yang seketika menjadi buram dan ia merasa semakin pusing di kepalanya membuat jalannya sempoyongan.
"Vanilla" teriak Arsean ketika melihat Vanilla hampir terjatuh untungnya dia bisa dengan cepat menggapai tubuh lemas Vanilla, wanita itu sudah tidak sadarkan diri. Sedangan tergesa-gesa Arsean memanggil anak buahnya untuk segera membawa mobil kehadapannya dan segera membawa Vanilla ke rumah sakit. Belum sempat Arsean dengan terkejutannya tiba-tiba ia melihat darah yang keluar dari kaki Vanilla.
"Cepatkan laju mobilnya" Arsean membentak anak buahnya yang membawa mobil itu, tanpa bisa menentang sang anak buah langsung melajukan mobilnya di atas rata-rata.
*****
__ADS_1
Vanilla cukup terkejut ketika ia membuka mata dia berada di ruangan yang dia yakini ini rumah sakit, entah Vanilla sadar atau tidak ia memeriksa perutnya terlebih dahulu dan menatap lega ketika ia merasa perutnya masih sedikit besar seperti sebelumnya. Perlahan Vanilla mendudukan dirinya dia merasakan sakit tapi tidak begitu berlebihan.
Vanilla terkejut ketika melihat sosok yang sempat dia temui di pengujung hari ini. Pria itu bangun dari duduknya berjalan mendekati Vanilla sedangkan Vanilla masih membeku di tempatnya ia takut jika pria itu akan mengetahui kehamilannya atau bisa jadi pria itu sudah mengetahui jika ia sedang mengandung.
"Kenapa kau tidak pernah bilang jika kau sedang mengandung anak ku ?" Ucap Arsean yang menahan amarahnya, yah dia Arsean suami Vanilla yang kini sedang menahan amarahnya pada wanita yang terduduk di bangkar rumah sakit. Vanilla tersadar dari lamunan nya dia menarik nafasnya samar-samar dan menghembuskan perlahan dia menaikkan dagunya seraya terlihat angkuh menyembunyikan rasa takutnya. "Bukan urusan mu" ucap Vanilla dingin dia memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Arsean. "Tentu saja itu urusan saya, anak yang berada dalam kandungan mu itu anak saya dan saya harap kau juga tidak lupa jika status mu sebagai istri saya" Arsean seakan gila ia menaikkan suaranya saat berbicara dengan Vanilla.
Vanilla tersenyum sinis dan miris yang menjadi satu "dan aku juga berharap jika Mr. De Lucania tidak lupa jika aku hanya pengantin pengganti dan kau juga hanya menganggap aku sebagai mainan mu yang tidak penting" Arsean yang mendengar ucapan Vanilla yang sarkas itu membuat dirinya terdiam beberapa saat "bahkan aku ini tidak lebih penting dari seorang wanita yang merupakan anak buahnya, aku hanya pengacau yang membuat beberapa anak buah mu menjadi korban beberapa kali....." Vanilla sedikit merasakan sakit diperutnya sedikit dia membenarkan duduknya dan mengambil nafas panjang dan mengehembuskannya perlahan "bahkan kau tidak tahu jika anak buah mu itu tidak se setia seperti yang kau pikirkan" sambung Vanilla.
"Tidak !" Vanilla menaikan suaranya dan membuang muka menatap lurus kembali entah apa yang dia tatap "ini demi anak itu" suara Arsean kembali terdengar setelah hening "aku tidak perduli, jika dia menyusahkan ku aku siap mehilangkannya, kau sendiri juga tidak ingin memiliki anak bukan ? jadi apa ada alasan untuk mempertahankan dia ?" Arsean tidak habis pikir lagi, perubahan Vanilla terlalu jauh dan menyeramkan apa perkataanya itu membuat wanita itu mendingin ?. "Asal kau tau saja, tadi kau hampir kehilangan dia. Jangan keras kepala Vanilla menurutlah" Arsean benar-benar di uji kesabarannya oleh Vanilla. "oh yah" Vanilla hanya membalasnya dengan cemooh dan senyuman penuh mengejek tanpa rasa bersalah sama sekali itu semakin membuat kesabaran Arsean habis. "Apa kau sudah gila" Arsean memegang kedua bahu Vanilla dia memaksa Vanilla untuk menatap matanya, yah Arsean memang brengsek dan bajingan tapi berapa menjijikannya dia tidam mungkin menghilangkan darah dagingnya.
"Yah aku rasa aku sudah gila" vanilla membalas dengan tersenyum miring mengejek Arsean, lama pandangan keduanya saling bertumbuk Arsean menatap dalam mata Vanilla yang berisikan kebencian dan amarah. Arsean melepaskan kedua cengkeraman dikedua bahu wanita itu dan membalikkan tubuhnya dia berteriak frustasi sambil mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"kau keterlaluan Vanilla" rasanya berhadapan dengan Vanilla yang berada didepannya ini akan membuatnya mati perlahan karena ucapannya, "tidak lebih keterlaluan darimu" Vanilla benar-benar mendingin dja tidak ingin mudah luluh pada mereka. Rasanya untuk percaya lagi pada Arsean Vanilla cukup takut jika dia akan terluka kembali.
"Kau egois" Arsean berjalan menuju pintu dia harus menenangkan dirinya jika tidak akan terjadi hal-hal yang tidak inginkan jika terus meladeni Vanilla "of course, Aku juga bisa bertingkah seperti dirimu Mr. De Lucania" Vanilla meneriakinya saat Arsean hendak keluar dari pintu itu.
__________________________________________
[Jumat, 07 Januari 2022]
Author : Safira Aulia Hamidah
Ig : Sfiranjk341
__ADS_1
karena ini cerita versi baru dan belum selesai jadi, ini cerita on going.