I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
Episode 14


__ADS_3

Pukul menunjukan jam 5 pagi kini Vanilla tengah sibuk berkutik di ruangan yang akan di gunakan oleh soya sebagai tampat make up dan persiapan lainnya dan wanita itu belum juga datang kemari padahal seharusnya ia datang sejak 30 menit yang lalu.


Setelah memastikan semuanya telah siap, Vanilla mendudukan dirinya di sopa dan menarik nafasnya dan menghembuskan dengan perlahan. Vanilla mengambil ponselnya yang terbaring di meja dan membuka layar ponsel itu. Notifikasi dari sebuah aplikasi chat dengan segera Vanilla membuka chat tersebut.


Vanilla menghembuskan nafasnya kasar dan segera bangun dari duduknya dan segera berjalan langkah besar menuju kamar soya, yah pesan tersebut dari soya yang memintanya untuk pergi ke kamar wanita tersebut.


***


Setibanya di dalam kamar yang di tempati soya, Vanilla tak menemukan seseorang pun. "Soya kau dimana" Vanilla aga berteriak memanggil wanita itu dan berjalan menuju kamar mandi berharap ia menemukan wanita itu. Tetapi, nihil tak ada seorang pun didalam sana sebelum Vanilla membalikan tubuhnya kantung kain hitam sudah membungkus kepalanya. Tentu saja seketika penglihatan arin gelap ia tak bisa melihat apapun selain warna kain hitam yang membungkusnya.


Vanilla tak tinggal diam wanita itu terus memberontak tak hayalnya jika ia membiarkan orang yang berada dibelakangnya dengan mudah menangkapnya. "Lepaskan, siapa kau ? Sialan" Vanilla terus memberontak dan sesekali mengmaki orang yang melakukan hal itu padanya. Dalam hitungan beberapa menit tubuh Vanilla melemas, "sial, ini obat tidur dasar brengsek" unpat Vanilla sebelum akhirnya ia tertidur karena obat yang terdapat di dalam kain yang membuatnya menghirup obat itu.


****


Arsean, pria itu menatap semua orang yang tengah sibuk di bawah sana dari atas sini. Tamu-tamu undangan mulai berdatangan pria itu mengangkat tanganya guna algoji nya yang telah menunjukan pukul 07:30 PM. Padahal acaranya akan di mulai 30 menit lagi, di wajah tampan Arsean tak ada sedikitpun rasa gugup yang terlihat hanya wajah datar seperti tembok.


Arsean telah usai dengan persiapannya maka dari itu ia memilih melihat-lihat dan kini pria itu melangkahkan kakinya menuju ruang yang digunakan soya sebagai tempat bersiap wanita itu. Arsean menatap datar pantulan dirinya dan seorang wanita di cermin sana, ada kilat marah di matanya.


"Dimana soya ?" Penata rias serta beberapa staff yang bertugas mendandani soya sontak mematung di tempat. "Saya tanya dimana soya" suara Arsean meninggi, rahangnya mengeras seketika menatap tajam seakan siap menusuk semua orang yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Maaf tuan, kami tidak tahu hanya saja nona soya meminta kami mengrias wanita itu ia bilang jika ia pengantin baru yang akan di nikahkan dengan tuan"  seorang staff wanita yang masih memegang blass dan alat make up lainnya mengeluarkam suaranya dengan begetar.


"Apa kalian bodoh, cepat panggil keamanan kemari" Arsean mengambil ponselnya memanggil beberapa anggota keluarga dan temannya. "Ada apa ?" Setelah mendapatkan telepon dari Arsean Samuel langsung meruncur ke ruangan itu.


Arsean hanya menunjuk kearah wanita yang masih terduduk didepan cermin dengan mata yang terpejam menggunakan dagunya, Samuel sempat terkejut dengan yang ia lihat sebelum kembali kedatangan anggota  keluarga De Lucania yang lainnya.


***


Vanilla membuka matanya dengan perlahan, ia merasa keadaan disekitar begitu bising tepat ia menengok kearah sebelah kiri ia mendapati sesosok Samuel yang tengah berdiri tepat di sampingnya.


"Dasar bodoh ! Bagaimana bisa kalian  bisa di kelabuhi oleh gadis itu" suara yang tak asing di gendang telinga Vanilla membuat wanita itu membalikan tubuhnya betapah terkejutnya ia mendapati ruangan itu yang sudah di penuhi oleh sekelompok pria bertubuh kekar berpakaian serba hitam.


"Kau bisa jelaskan ini ?" Arsean membalik kasar kursi yang di duduki oleh Vanilla seketika Vanilla menatap wajahnya sendiri. Vanilla tau ia tidak bisa kabur lagi, walau ia masih memahami situasi namun instingnya sudah mengerti pertanyaan Arsean kearah mana. Vanilla menceritakan yang ia ketahui dan kini Arsean terlihat sangat frustasi dengan ini.


"Jika begitu kau menjadi penggantinya ! saya tidak ingin di bantah segeralah bersiap" Vanilla membulatkan matanya ia sangat terkejut kenapa pria itu sangat senang melibatkan ia dalam urusan itu.


Belum sempat arin melemparkan protesnya ruangan itu telah kosong diganti oleh orang-orang yang tadi pagi bekerja bersamanya sebagai staff acara. Salah satu dari mereka membawa gaun yang sempat Vanilla coba di butik waktu itu. Vanilla merasa dirinya sedang dijebak, dia tak bisa melakukan hal lain lagi kecuali meruntuki nasibnya.


****

__ADS_1


Tamu-tamu undangan itu langsung berdiri ketika mempelai wanita beserta pria yang menjadi besan keluarga De Lucania itu berjalan di karpet merah menuju pelaminan yang sudah ada pria berdiri dengan tegas. Vanilla menatap resah kearah depan, wajahnya yang tertutup oleh tudung putih. Pengucapan janji itu berjalan dengan lancar tak ada kendala. Tamu-tamu kembali berdiri dan memberi tepuk tangan ketika pasangan yang tengah dipelaminan menyatukan bibir mereka.


Arsean memepelkan bibirnya dengan kasar sama halnya membentur dengan keras bibir Vanilla tak memperdulikan jika bisa saja bibir Vanilla terluka. Tamu-tamu itu merasa ada hal yang aneh atau lebih tepat di suguhi dengan beberapa keanehan mereka mencoba menikmati acara ini. Setelah acara resepsi itu keluarga De Lucania dan Kim meminta kedua pasangan itu keruangan yang kini menjadi latar tempat cerita ini.


"Kami sangat kecewa pada putri kalian keluarga Kim, padahal kami telah berbaik hati untuk membantu perusahaan kalian yang hampir hancur itu" nenek De Lucania senatap dengan tatapan tajam kearah beberapa orang yang berada di sebrang sana.


"Maafkan kami, kamipun tidak tau jika anak sialan itu akan kabur" Kim Do-bae yang merupakan ayah dari soya berlutut di depan keluarga De Lucania. Tak di pungkiri jika pria itu takut jika mereka akan mengakhiri kontrak perusahan dan berhenti menyuntik dana kepada ke perusahaan milik pria itu.


"Saya pikir urusan kita hanya sampai disini saja ! Saya merasa harga diri kami di rendahkan oleh putri mu" kini Rianata De Lucania ibu dari Arsean yang angkat suara tampa menunggu banyak omong dari keluarga Kim han-jii telah menunjukan pintu keluar yang mengkode jika ia sudah mengakhiri percakapan ini. Setelah kepergian keluarga Kim kini Vanilla kembali menjadi pusat perhatian keluarga De Lucania.


"Kami beruntung bertemu dengan mu, kau telah menyelamatkan nama kelaurga besar kami" Rianata membelai pipi Vanilla dengan lembut dan sang empu hanya tersenyum canggung.


Acara pernikahan itu dilanjut kembali. sesekali, bukan sesekali tapi Vanilla terkadang bingung harus jawab apa ketika bertemu dengan beberapa kelaen yang bertanya tentangnya untung saja Arsean berada di sekitarnya jadi ia bisa bersembunyi di belakang Arsean.


__________________________________________


[Jumat, 07 Januari 2022]


Author : Safira Aulia Hamidah

__ADS_1


Ig : Sfiranjk341


__ADS_2