I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
Episode 25


__ADS_3

Vanilla benar-benar akan dikirim sebagai mata-mata pada sebuah kelompok mafia, selama di pelatihan dia berusaha keras untuk tidak menunjukan hal yang aneh terkadang Vanilla harus menahan sick morning saat ada soobin di mansion ini. Vanilla juga menolak untuk melakukan itu dengan Arsean dengan alasan dia tidak memiliki mood untuk hal itu.


Vanilla bimbang, dia harus memilih mana dia harus mempertahankan anak ini secara otomatis dia harus merelakan balas dendamnya atau menghilangkan anak ini agar tidak menghalangi keinginannya, apa tak terlalu jahat jika dia melakukan itu ? Vanilla frustasi memikirkan itu. Dia memegang perutnya didalam sana ada nyawa yang sudah bersemawam selama 1 bulan ini menemani Vanilla dalam berbagai aktivitas.


"Apa yang harus aku lakukan" gumannya sambil memainkan air putih yang berada digelas yang dia genggam dengan satu tangan dan tangan lainnya berada diperutnya. "Apa yang harus kau lakukan ?" Beo seseorang yang berada dibelakang Vanilla, dengan cepat dia berbalik badannya disana ada Arsean yang entah sejak kapan ada disana.


"Ada yang salah dengan perut mu ?" Tanya Arsean ikut bergabung di patry, Vanilla menegang "oh--oh aku--aku ingin makan-- asam yah itu yang aku bayangkan hanya saja aku takut lambungku sakit" aga aneh memang tapi tak apa selagi dia bisa mengelak akan hal itu. Tak ada respon dari Arsean pria itu sibuk dengan ponselnya.


"Apa kau siap untuk melakukan misi mu" oh yah Arsean menyebut itu sebuah misi untuk Vanilla awal untuk pembalasan dendamnya. "Yah aku sudah sangat siap, aku juga sudah sembuh jadi kapan kita akan memulainya ?" Tanya Vanilla dengan antusiasnya "lusa, kau harus sudah siap dan yah kau tidak akan sendirian kau akan dibantu oleh teman satu tim mu" Vanilla mengangkat halisnya teman setim ? Sejak kapan ada tim ? Arsean tidak pernah memberi tahunya akan hal ini pas awal.


Vanilla hanya mengangguk saja mengiyakan ucapan Arsean, bagus juga ini menguntungkan Vanilla. Ponsel Vanilla berdering menandakan sebuah telepon masuk, Vanilla menglihat siapa yang menelepon ternyata itu Tomlinson dengan cepat ia mengakat telepon itu.


"Iya, ada apa ?" Tanya Vanilla saat telepon sudah tersambung, Arsean mendengarkan Vanilla yang tengah mengangkat telepon itu. "Yah aku akan segera kesana" Vanilla bangun dari duduknya dia meninggalkan patry sambil berbicara di telepon, sontak Arsean mengikutinya sampai di kamar yang Vanilla tempati untuk menaruh semua barangnya dan pakaiannya.


"Kenapa ?" Vanilla meloncat kaget ketika mendengar suara soobin, dia tidak tau jika Arsean ternyata mengikutinya. "Apanya yang kenapa ?" Vanilla menghembuskan nafas kasar dia mencoba menetraisirkan degup jantungnya yang berdetak kencang. "Dia menyuruhmu kesana ada hal yang terjadi" Arsean menjelaskan pertanyaannya, Arsean tau yang menelepon itu adalah Tomlinson ketika Vanilla menyebut nama pria itu.


"Ada sedikit kendala, ini masalah pribadi tenang saja" Vanilla mengambil salah satu pakaiannya dia akan berganti baju, tidak epik juga jika dia keluar dengan pakaian yang berantakan. "Hmm" Arsean hanya berguman saja menanggapi Vanilla dia berbalik duduk disisi ranjang Vanilla mempersilahkan Vanilla untuk mengganti pakaiannya.


Tak selang lama arin keluar dari ruang ganti, dengan coat coklat dan sepatu boat selutut, Vanilla mendudukan dirinya di meja riat tak menghiraukan Arsean disana yang sibuk memainkan ipatnya. Riasan Vanilla tidak terlalu tebal juga cocok dengan dirinya,  dia melihat ponselnya 45 menit dia baru menyelesaikan riasannya lama juga itu pikirnya dengan segera dia bangun dari duduknya siap untuk berangkat dan disisi lain juga Arsean bangun dari duduknya dan berjalan disamping arin.


Vanilla sempat menengok sebentar sebelum fokus berjalan keluar dia pikir Arsean hanya akan keluar bukan mengikutinya sampai dimobil, "mau kemana ?" Barulah Vanilla menanyai kenapa Arsean mengikutinya saat sudah didepan mobil yang akan dia gunakan. "Mengantar mu" Arsean menatap kedepan ke pintu mobil yang sudah terbuka. "Tidak perlu" Vanilla menolaknya dia hanya akan ke beskem hueningkai membicarakan beberapa yang memang berurusan dengan hal pribadi menurutnya.

__ADS_1


"Saya juga ada yang harus dibicarakan dengannya" Vanilla menarik nafasnya dia bingung harus menjawab apa jika sudah seperti itu jadi tanpa banyak tanya lagi dia masuk kedalam mobil itu. Arsean pun ikut duduk di bangku penumpang, kali ini mereka menggunakan supir seperti biasanya dan orang yang tentunya dipercaya oleh Arsean.


Mobil telah meninggalkan perkarangan mansion Vanilla sendiri sejak tadi membuang muka dari Arsean dia menatap kearah kaca menatap jalanan dia sedikit kesal dengan Arsean. "Sepertinya kamutidak suka saya ikut dengan kamu" Vanilla tak berkutik sama sekali dia masih terdiam beberapa detik sampai Vanilla bersuara "tidak juga" dengan suara yang malas, yah Vanilla sering mengalami naik dan turun mood kadang jika melakukan sesuatu yang sedikit salah hal itu akan mempengaruhi suasana hatinya.


"Kenapa sekarang ini kau sensitif sekali" protes Arsean yang memang terkadang pula jadi sasaran kekesalan wanita itu. Vanilla tak menjawab dia membanting tubuhnya untuk bersandar pada kuris mobil dan memejamkan matanya.


****


Mereka sudah sampai di tempat Tomlinson Vanilla dengan cepat dia masuk kedalam yang ternyata Tomlinson sedang sibuk membetulkan keybord nya yang tidak menyadari kedatangan Vanilla yang disusul kehadiran Arsean.


Vanilla melemparkan tas kecilnya pada meja yang ada disana yang membuat suara, barulah Tomlinson menyadari ada kehadiran mereka. "Oh kau sudah sampai" Tomlinson meninggalkan kegiatannya berjalan menuju Vanilla yang tengah duduk disopa "oh kau sudah sampai" nyinyir Vanilla dengan wajah yang kesal, Vanilla dia ingin marah-marah sebenarnya entah untuk hal apa rasanya semua yang ada didunia ini membuatnya kesal saja sampai dia ingin mengamuk.


"Sebenarnya ini bukan hal penting juga sampai kau ikut kemari Mr. De Lucania kesini Vanilla" Tomlinson sungkan untuk membicarakan hal ini jika ada Arsean disana bersama mereka. "Aku juga tidak mengajaknya, dia bilang ada urusan juga dengan mu" Vanilla menjawab dengan nada ketus. Sementara Arsean menatap mereka santai, "saya kesini juga ada yang ingin saya bicarakan dengan anda" Tomlinson menggaruk tengkuknya dia jadi ikutan canggung karena mereka berdua.


"Jika begitu apa saya harus berbicara dengan anda terlebih dahulu tuan ?" Tanya Tomlinson setelah beberapa menit yang begitu mengerikan karena tak ada yang berbicara "ide bagus sebaiknya anda terlebih dahulu tuan sibuk" saut Vanilla yang masih kesal. Arsean menatap Vanilla lama sekali ada tatapan kesal juga namun dia tak memperlihatkannya "tidak usah kalian duluan saja, karena saya membutuhkan waktu banyak untuk berbicara dengan anda tuan Tomlinson" Vanilla yang masih ditatap begitu intens oleh Arsean menatap kembali dengan tatapan kesal. "Tidak papah tuan yang terhomat anda saja, saya membutuhkan hueningkai lebih lama dari anda" Arsean memiringkan tubuhnya agar sepenuhnya menatap tubuh arin yang masih menyandarkan tubuhnya pada sopa yang menatap kearah Arsean.


"Tapi saya lebih baik mengalah padamu nyonya yang terhormat" keduanya tidak mau mengalah saling melemparkan pendapatnya, Tomlinson yang mendengar mereka dua pusing. Saat hendak bangun meninggalkan mereka berdua ternyata atensinya masih dihiraukan oleh mereka. "Mau kemana ?" Tanya Vanilla yang langsung menegakan tubuhnya. "Aku lebih baik keluar saja, biar kalian selesaikan rundingan kalian siapa duluan yang ingin berbicara dengan ku baru beri tahu aku" ucap Tomlinson dengan tersenyum.


Tak lama mereka saling melempar tatapan "itu semua salah kamu jadi dia kelaur" Vanilla kembali menatap tajam Arsean dan Arsean yang kembali disalahkan menatapnya dingin. "Itu semua salah kau" balas Arsean dengan namun sebelum Vanilla mengeluarkan suaranya lagi langsung disela oleh Arsean. "Begini saja karena tadi kau sudah masuk duluan kesini jadi kau saja yang berbicara dengan Mr. kamal dan saya mendengarkan begitupun kau yang akan mendengarkan pembicaraan saya agar kita imbas" Vanilla mengangguk dia pasrah dengan itu, entah dia merasakan begitu cepat lelah.


******

__ADS_1


Arsean memanggil Tomlinson kembali kedalam dan pembicaraan itu santai awalnya sampai akhirnya. "Vanilla, bukan kah boemgyu itu mantan pacarmu yang menjualmu hari itu ?" Tanya Tomlinson membuat Vanilla menegakan tubuhnya dia juga tegang mendengar nama itu disebut setelah beberapa lama. Mendengar nama pria sialan itu rasanya Vanilla ingin meninju wajah tampannya sampai menjadi jelek.


"Vanilla kau ingatkan" tanya Tomlinson lagi, arin malah melamun yang membuat Tomlinson heran apa dia salah orang. "Iya, kenapa dengan pria itu" Vanilla mengangguk dan menjawab santai dia harus terlihat santai tidak boleh berapi-api apa lagi ada Arsean disini bisa-bisa dia disebut masih mencintai pria brengsek itu. "Dia termasuk komplotan yang akan kamu tanganin" ucap Tomlinson dengan santai, sementara arin dia melotot bukan... bukan kaget tapi ada sesuatu yang lebih penting dia merasa mual sebelum Arsean menambah komentar atau Tomlinson melanjutkan ucapannya dia menaikan telapak tangannya meminta mereka diam, tangan satunya Vanilla digunakan untuk menutup mulutnya yang sudah menahan mualnya.


Vanilla langsung berdiri dan berlari menuju wastafel yang berada diluar toilet, Arsean menyusul Vanilla membantu memijit tengkuk belakang Vanilla. Vanilla berkumur-kumur dan mengakat kepalanya Arsean masih setia di sisinya memberikan tisu pada Vanilla untuk mengelap bibirnya. "Kau baik-baik saja ?" Vanilla mengangguk dan mengangkat tangannya membentuk ok memberi tahu jika dia baik-baik saja.


"Kau beneran tak apa ? Apa perlu kita kedokter ?" Vanilla langsung menggelengkan kepalanya, dia tidak mau pergi kesana dia takut jika Arsean mengetahui dirinya tengah hamil. "Jika begitu kita pulang saja, membicarakan mantan mu itu bukan hal yang penting" Arsean langsung menompang tubuh Vanilla membantu wanita itu untuk kembali. "Tapi aku ingin mengetahui apa yang dilakukan pria itu sekarang" ucap Vanilla dengan suara pelan. Arsean mempererat pegangannya pada bahu Vanilla dia tak suka jika Vanilla ingin mengetahui tentang pria itu.


Saat akan menuju kearah sopa Arsean malah membelokan tubuh arin membawanya menuju pintu keluar, "maafkan kami Mr. Kamal sepertinya pembicaraan ini sampai disini saja dulu. Istri saya harus istirahat dia terlalu banyak berbicara" Tomlinson mengangguk dan mengantarkan mereka keluar.


"Mereka itu aneh" guman Tomlinson setelah kepergian mereka berdua.


_____________________________________


[Minggu, 23 Januari 2022]


Author : Safira Aulia Hamidah


Follow Ig : Safira19989


Follow Wtpd : Safira Auliya Hamidah

__ADS_1


__ADS_2