
Arsean menatap nanar kearah kolam renang dari atas sana, ditanganya terdapat rokok ia hisap dan menghembuskan sebuah asap berbahan nikotin itu.
Arsean cukup kalut, pemikirannya cukup rumut saat ini, sampai hisapan terakhir rokok itu Arsean menaruhnya. Arsean cukup merasa tidak beruntung karena semuanya tidak berjalan dengan baik-baik saja saat ini.
Geng mafianya sedang di teror habis-habisan belum lagi beberapa keliennya meninggat pada geng mafia Arga. sialan umpat Arsean dia mematikan rokoknya bahkan selera untuk merokok saja dia merasa tidak berselera.
****
Arsean menuruni anak tangga dia berniat mengambil jus di kulkas, kebetulan sekali disana sedang ada Vanilla yang tengah berkutik dengan perlalatan makan. "Sedang apa kau ?" Arsean mendudukan dirinya di patry dan menatap Vanilla yang tengah masak, dia hanya sekedar basa basi saja.
"Apa matamu sudah tidak berfungsi atau akalmu sudah hilang ?" Jawab Vanilla dengan ketus, Arsean tidak tersinggung dia tersenyum tipis. "Kau tau tidak baik seorang istri berbicara seperti itu pada suaminya" ujar Arsean dengan senyuman mengejek, Vanilla memutar matanya malas sekali.
"Saya tidak yakin kau bisa masak" Arsean meminum jusnya dan mengambil ponsel disakunya. "Liat saja nanti" ucap Vanilla dengan suara pelan.
Tiba-tiba saat Vanilla sedang fokus dengan masakannya Arsean berdiri di belakang tubuh Vanilla dengan menyodorkan pisau pada leher Vanilla dengan tiba-tiba, tentu saja Vanilla kaget dengan apa yang dilakukan Arsean.
"Yah..... apa yang kau lakukan, apa kau sudah gila" teriak Vanilla merapatkan diri pada Arsean, "Bukan kah kau sudah bilang kalau kau akan latih insting mu dengan temanmu, kau payah tak ada kemajuan" Arsean menarik kembali tangannya dan mundur kembali duduk di patry menatap Vanilla yang masih mematung di tempatnya.
"Kenapa terdiam masih kaget ? Jika begitu bagaimana kau akan balas dendam orang tua mu, sudah saya beri tahu jika pertarungan seperti itu bukan hanya tembak-menembak atau bertarung tapi insting mu juga di butuhkan untuk mengetahui dimana saja bahaya yang akan mengancam kamu" Vanilla menatap kosong kearah Arsean. Arsean menarik nafasnya untuk apa dia berbicara panjang lebar jika orang didepannya malah melamun dan dia lupa orang yang coba Arsean berikan arahan itu arin yang keras kepala.
"Dari mana kau tau ?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Vanilla. "Apa ?" Bukan jawaban yang dibalas oleh Arsean melainkan sebuah pertanyaan balik, "dari mana kamu mengetahui jika aku akan balas dendam ?" Kali ini kesadaran Vanilla sudah terkumpul dia menatap tajam kearah Arsean, entah dia tidak bisa mengendalikan dirinya ketika Arsean bicara seperti itu.
"Apa yang tidak saya ketahui tentang kamu ?" Dengan bangganya Arsean berbicara seperti itu. Vanilla menunduk sebentar dan kembali menatap kearah Arsean, "Mr. DeLucania, anda melanggar persyaratan kita" Vanilla marah jelas, dia merasa jika Arsean mencoba ikut campur dalam urusannya bahkan dia saja tidak pernah ikut campur dalam urusan Arsean.
Saat Vanilla kembali terbawa kedalam pikirannya, Arsean berdiri di belakang Vanilla kembali dia menggapai tangan wanita itu yang berdarah karena luka teriris pisau. Tanpa banyak bicara Arsean membawa tangan itu ke wastafel dan mencucinya Vanilla yang kaget meringis dan menatap Arsean dari sini.
__ADS_1
"Kau bahkan tidak menyadari tangan kau terluka" Arsean menatap darah yang tidak kunjung berhenti membawa tangan itu mendekat pada mulutnya dan mengisap jari itu. Vanilla kaget ketika Arsean melakukan hal itu padanya, "kau tidak harus melakukan hal itu" Vanilla menarik jarinya yang sudah di keluarkan dari mulut Arsean, dan pria itu hanya menatap biasa saja datar tak menghiraukan apa ucapan Vanilla.
"Tolong ambilkan kotak P3K" Arsean menyuruh seorang maid yang kebetulan lewat disana. "Aku akan mengambilnya sendiri" tepat saat Vanilla akan beranjak Arsean menahan bahu wanita itu dan menyuruhnya untuk duduk, awalnya Vanilla menolak bersih keras untuk mengambil kotak P3K itu sendiri beruntung maid itu cepat kembali dan memberikan kotak itu pada Arsean.
"Dengarkan saya, saya tidak sedang ikut campur dengan urusan mu, hanya saya ingin menawarkan kerja sama dengan kamu" setelah memberi sedikit alkohol arsean membalut dengan kain kasa.
Kini tatapan keduanya begitu serius, "Jelaskan" Vanilla menginginkan sebuah penjelasan secara terperinci karena dia tidak terlalu mengerti kenapa tiba-tiba Arsean mengajaknya kerja sama.
****
Setelah Arsean menjelaskan menjelaskan tujuannya Vanilla mau untuk di latih oleh Arsean tentu saja Arsean tidak keberatan.
"Ingat Mr. De Lucania kau harus profesional" arin memperingati Arsean yang tengah berada di hadapannya, Arsean hanya mengangguk. "Saya akan profesional, tapi jika saya kelewatan anggap saja sebagai bonus" Vanilla berdecih mendengar ucapan Arsean.
"Hah saya pikir tidak seperti itu, saya ingin mengganti pormasi latihannya. Kamu boleh berdiri dengarkan setiap langkah, kamu harus tau dimana musuh kamu berdiri jangan terkecoh" Vanilla berdiri mendengarkan instruksi dari Arsean, Arsean berjalan mengelilingi arin awalnya Vanilla bisa mendengar dentuman sepatu yang bertabrakan dengan marmer lama kelamaan suara sepatu itu semakin banyak.
Vanilla membutuhkan waktu setidaknya 5 menit untuk mengingat-ingat suara ketukan kaki Arsean, setelah yakin dia mulai berjalan dan memegang tangan seseorang yang ia pikir itu Vanilla dan membuka penutup matanya dan itu bukan Arsean. "Ups maaf" setelah itu mereka memulai lagi percobaan kedua,ketiga dan sampai keenam Vanilla salah.
"Kau harus menghafalnya" kali ini Arsean kehabisan kesabaran menurutnya ini hal bisa, "kenapa harus seperti ini ?, ini seperti main pentak umpet saja" jujur saja Vanilla lelah jadi dia mendudukan diri di bangku sedangkan Arsean berdiri di hadapan Vanilla.
"Aku lelah" keluh Vanilla merebarkan kakinya dan meletakan dua sikunya di pahanya, dia memijit pangkal hidungnya.
"Jika begitu istirahat lah" Arsean membalikan tubuhnya menyuruh seorang maid membawakan air minum untuk Vanilla. "Kenapa mesti seperti itu latihannya ?" Vanilla memijit tengkuknya dia merasakan sakit karena harus terus menengok kiri dan kanan. Vanilla menekuk habis air yang di berikan oleh Arsean.
Sekitar 10 menitan Arsean mengobrol dengan anak buahnya, dia kembali menatap Vanilla "sudah selesai, mari lanjutkan saya ingin segera kamu cepat belajar" Vanilla membuang nafasnya saat dia akan memprotes Arsean segera menarik tangan Vanilla agar wanita itu bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Jangan membatah terus, kita hanya ada waktu 5 hari lagi" mau tak mau Vanilla hadus mengikuti apa yang Arsean katakan. Vanilla menarik nafasnya sebelum ia memulai kembali, dalam hitungan ketiga permainan atau latihan yang sama di lakukan.
Kali ini arin mencoba benar-benar mencari, saat dia sudah mulai yakin dia berjalan kearah kanan dan mengekori orang yang ada di hadapannya. Dia memenggang tangan itu dan membuka matanya, kali ini benar itu Arsean tanpa peringatan Arsean menyerang Vanilla. Untung saja Vanilla langsung melawannya terjadi baku hantam diantara mereka berdua.
Sampai akhirnya Arsean memeluk Vanilla dari belakang agar wanita itu berhenti memberikan serangan balasan. "Sudah cukup, kali ini kau sudah sangat bagus" nafas Vanilla acak-acakan dengan kasar ia melepas pelukan Arsean di hadapan anak buah Arsean yang menatap mereka.
"Kau benar-benar keterlaluan, bahkan kau tak membicarakan apa yang akan kau lakukan" setelahnya Vanilla langsung meninggalkan tempat itu pergi kekamarnya mengambil handuk mandinya dan meredamkan diri.
Vanilla merasakan tubuhnya sakit-sakit seakan tulang-tulangnya ingin melepas dari daging. 30 menit berlalu dia keluar dengan keadaan yang sudah lebih bersih dan wangi disana Arsean duduk di ujung ranjang. Melihat Vanilla telah keluar dia masuk kedalam kamar mandi tanpa mengeluarkan suara atau sekedar menanyakan keadaan Vanilla.
Vanilla telah berganti pakaian dengan kemeja putih kebesaran dan celana pendeknya, Vanilla nyaman dengan baju seperti itu dia mendudukan dirinya di ujung ranjang yang membelakangi kamar mandi. Lagi-lagi Vanilla memijit tengkuk belakangnya, Vanilla tidak bohong jika ini sangat menyakitkan.
Tiba-tiba ranjang itu bergoyang menandakan seseorang menaikinya, Vanilla tak terlalu memikirnya saat dia sedang memijat dirinya sendiri, sebuah tangan besar singgah di bahunya dan memijat-mijat bahu Vanilla. Vanilla menikmati pijatan itu dan memejamkan matanya. "Bagaimana enak ?" Vanilla hanya mengangguk menjawab yang apa Arsean tanyakan.
"Ini tidak gratis, suatu hari nanti kau harus membalas ini" tanpa pikir lagi Vanilla mengangguk dengan apa yang Arsean bicarakan.
__________________________________________
[Jumat, 07 Januari 2022]
Author : Safira Aulia Hamidah
Wtpd : Safira Auliya Hamidah
Instagram : Safira19989
__ADS_1