I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 159


__ADS_3

"Tidak mungkin Sharon melakukan itu,pasti kamu duluan yang membuat ulah padanya." Ucap papa Vanya


"Jika papa tidak percaya, tidak masalah tetapi Vanya memiliki buktinya dan semua bukti nyata ada disini." Ucap Vanya lalu memberikan Flashdisk yang berisi tentang kejahatan yang dilakukan Sharon pada Vanya.


"Selama Sharon disini, apa papa pernah peduliin Vanya, enggak pa. Papa selalu perhatiin Sharon, sekalipun papa tidak pernah bertanya pada Vanya, sekedar bertanya kabar saja tidak pernah. Saat Vanya sakit hanya mama yang peduli pada vanya sedangkan papa hanya peduli pada Sharon, Sharon dan Sharon. Saat Vanya terluka karena ulah Sharon apa papa marah pada Sharon, enggak pa yang ada Vanya yang salah. " Ucap Vanya setelah mengatakan itu badan Vanya ambruk ke lantai.


Mama Vanya langsung menghampiri Vanya, dan pembantu yang mendengar teriakan mama Vanya langsung menghampiri keluarga majikannya, mereka langsung menghubungi dokter pribadi keluarga Bagaskara.


Vanya pun digendong ala brydal style oleh penjaga mansion yang termasuk anggota BLS, hanya saja anggota itu tidak tau jika Vanya adalah ketuanya. Sedangkan papa Vanya tidak bisa berbuat apapun, ia menuju ke ruang kerjanya dan melihat isi flashdisk yang diberikan oleh Vanya.


Setelah melihat kebenaran yang ia sadari, ia meneteskan air matanya, karena putri kandungnya di siksa oleh gadis lebih muda setahun dari Vanya. Selama ini papanya selalu membentak bahkan memukul Vanya hanya karena Sharon berpura-pura kesakitan saat bersama Vanya. Papa Vanya terus di dalam ruang kerja, ia sangat menyesal selama ini membela orang yang salah, ia malu menemui putrinya.


Dan sekarang putrinya sedang terluka karena menyelamatkan nyawanya, papa Vanya merasa Gagal untuk menjadi orang tua. Ia terus meratapi kebodohannya, hingga malam tiba papa Vanya menetap di ruang kerja.


"Mas, mari makan. Vanya sudah sadar dan menunggu di ruang makan bersama Felisha." Ucap mama Vanya lembut


"Baiklah. Aku akan membersihkan badanku terlebih dahulu." Ucap papa Vanya


Tidak lama papa Vanya pun turun, dan menuju ruang makan. Ia melihat lengan Vanya yang penuh perban dan plester karena Vanya memakai kaos polos tanpa lengan dan celana panjang. Mereka pun makan tanpa ada yang bersuara, tatapan Vanya hanya lurus kedepan.


Setelah makan papa Vanya pun berbicara.


"Maafkan papa nak." Ucap papa Vanya, seketika Vanya menoleh ke arah papanya dan menaikkan alisnya sebelah.


"Selama ini papa tidak pernah percaya pada kamu yang selama ini jujur pada papa, bahkan papa seolah tertutup oleh sikap Sharon sehingga melupakan kamu nak. Maafkan papa, papa menyesal." Ucap papa Vanya


"Sudahlah pa, lagian Vanya sudah melupakan semua itu." Ucap Vanya datar


"Bahkan kamu masih berbaik hati pada papa, merawat papa dan memberikan papa tempat tinggal baru. Karena tempat tinggal lama sudah diambil alih oleh Sharon dan mamanya." Ucap papa Vanya


"Walau bagaimanapun, papa tetap papa Vanya." Ucap Vanya datar


"Mas 1 Minggu ini aku ke mansion lama untuk menemui Dian dan Sharon, tetapi tidak ada orang. Bahkan penjaga mansion saja tidak ada." Ucap mama Vanya

__ADS_1


"Mama cari sampai kapanpun tidak akan menemukan mereka." Ucap Vanya


"Kamu tau keberadaan mereka?" Ucap mama Vanya


"Mereka mati keracunan. Karena... Vanya menyuntikkan racun mematikan milik BLS pada mereka." Ucap Vanya santai


"Kenapa kamu melakukan itu van?" Ucap papa Vanya


"Karena mereka yang membuat keluarga kita semakin hancur, bahkan papa sakit mereka bukan mengurus tapi semakin dibuat sakit. Jangan papa kira selama ini Vanya tidak memantau keadaan papa. Itu sebabnya mereka tewas di tangan Vanya, masih mending tewas karena racun bukan karena Vanya tebas kepalanya." Ucap Vanya santai


"Apa kamu tidak bisa meninggalkan mafia itu nak?" Ucap mama Vanya


"Tidak bisa ma, karena kami sudah membuat sumpah akan terus mendirikan BLS sampai kami semua mati dan memperkuat BLS menjadi mafia no.1" Ucap Vanya datar


"Baiklah terserah kamu saja nak, walaupun kamu mafia. Tapi jangan buat semena-mena ketangguhan yang kamu miliki Van, karena itu akan membuat kamu lemah." Ucap papa Vanya lembut


"Papa tenang saja, Vanya akan terus memastikan kalian semua baik-baik saja mau disini atau di luar." Ucap Vanya


"Ka..kakak." Ucap Felisha terbata-bata dan lirih.


"Kakak." Ucap Felisha. Seketika Vanya menoleh ke arah Felisha. Dan Felisha mengucapkan hal yang sama.


Vanya pun memeluk Felisha, kedua orang tua Vanya terkejut karena Felisha sudah mau berbicara. Sebenarnya Felisha sudah bisa berbicara dari seminggu yang lalu hanya saja ia malu untuk berbicara.


-Flashback Off-


"Syukur deh kalau keluarga lo Nerima posisi lo sebagai ketua mafia terkejam." Ucap viola


"Lah lo sendiri bagaimana Vi?" Ucap vinda


"Kakak gue sih terima-terima aja, karena ia dulu ingin jadiin gue wanita yang kuat. Karena gue dulu selalu nangis jika terjatuh dan melihat yang menakutkan. Dengan begini kakak gue gak takut jika harus ninggalin gue." Ucap viola santai


"Nasib kalian baik, tidak seperti Vanessa." Ucap vinda

__ADS_1


"Ada apa dengan Vanessa?" Ucap Vanya datar


"Keluarganya Nerima dia kan." Ucap viola


"Ayah,bunda dan kak Rino memang menerimanya. Tetapi Dean dan Reno tidak sama sekali sehingga mereka mengusir Vanessa dan menghapus marga samudra pada nama Vanessa." Ucap vinda


"Keterlaluan apa kak dean tidak ingat jika Vanessa terluka begini karena dia." Ucap viola yang geram


"Sudahlah biarkan saja, mungkin mereka butuh waktu untuk menerima Vanessa." Ucap Dinda


Beberapa menit kemudian, Viko dan Rizki masuk ruang medis. Mereka membawa Rino dan satria.


"Ada apa ini?" Ucap Vanya datar


"Mereka ingin menemui bos Vanessa, bos." Ucap Viko


"Jangan terlalu formal." Ucap vinda ketus


"Biasa aja dong, eh udah bangun aja si bawel." Ucap Rizki


"Udah pernah disuntik racun belum?" Ucap vinda ketus


"Oh tidak akan mau dan tidak akan pernah." Ucap Rizki


"Berhenti menggoda mereka, biarkan saja kakak nya vanessa menjenguk Vanessa." Ucap Tania santai


"Kalau begitu kami permisi." Ucap Viko. Viko dan Rizki pun keluar dari ruang medis.


"Dimana vanessa?" Ucap Rino


Tanpa berkata, Vanya membukakan tirai yang menutupi ranjang Vanessa. Rino dan satria terkejut karena perut Vanessa terdapat perban yang melingkar pada perutnya dan oksigen yang berada di antara hidung dan mulut Vanessa.


"Apa princess istirahat." Ucap Rino

__ADS_1


"Dia...koma." Ucap Vanya lirih


__ADS_2