I'M Leader Mafia

I'M Leader Mafia
CHAPTER 140


__ADS_3

4V dan Sinta pun memakan-makanannya karena sudah datang, dan makanan Vanessa dipesankan oleh Vanya. Sesekali Sinta melirik ke arah Vanessa dan teman-temannya, sedangkan itu memang sudah menjadi kebiasaan Vanessa dan teman-temannya jika makan tidak ada yang berbicara.


Setelah makan, Vanessa segera memanggil pelayan untuk membayar. Setelah mengetahui harganya, Vanessa pun mengeluarkan black card nya, Sinta yang melihat black card Vanessa pun semakin dibuat terkejut.


Black card, Vanessa Lo sekaya apa sih? Bahkan kekayaan papa saja kau kalahkan. Batin Sinta


Matanya mulai berbinar pas lihat black card Vanessa. Batin viola


Dasar wanita penggila harta dan tahta. Batin Vanya


Setelah itu mereka segera keluar dari mall, karena 4V bukan tipe wanita yang suka belanja. Mereka lebih suka membeli peralatan untuk bertempur bersama mafia lainnya. Sedangkan Sinta tidak ikut 4V pulang, ia masih betah di mall. Saat di parkiran ternyata ada beberapa orang berpakaian hitam dan bertubuh kekar yang berdiri di depan mobil 4V.


Tetapi 4V masih berjalan dengan sangat santai dan mendekat ke arah mobilnya, mereka menghadap ke arah laki-laki itu. Mereka benar-benar sangat santai, bukan khawatir atau takut pada kumpulan laki-laki itu.


"Mana yang bernama Vanessa." Ucap salah satu laki-laki.


"Ngapain lo nyari gue." Ucap Vanessa ketus.


"Bisa anda ikut bersama kami nona." Ucap salah satu laki-laki.


"Dih ogah, emang lo siapa gue." Ucap Vanessa datar.


"Ini perintah nona." Ucap salah satu laki-laki.

__ADS_1


"Siapa yang perintahkan kalian haa." Ucap vanessa datar.


"Itu rahasia nona." Ucap laki-laki itu.


"Emang ada ya orang yang namanya rahasia." Ucap vinda


"Ada, yang perintahkan mereka itu namanya rahasia." Ucap viola


"Widihh namanya lucu deh. Orangnya tampan gak? Kalau jelek Vanessa gak mau ikut." Ucap vinda


"Ahh kayaknya burik deh orangnya. Jangan nes mendingan ketiga kakak lo itu deh." Ucap viola


"Diam." Ucap Vanya datar.


Sedangkan kedua laki-laki itu sudah mengepalkan tangannya. Vanessa masih dengan keadaan yang santai dan tersenyum miring.


"Menyingkir dari mobil kami." Ucap Vanya datar.


"Sebelum nona Vanessa ikut bersama kami, kami tidak akan beranjak dari sini nona." Ucap salah satu laki-laki.


"Terserah, mau Lo ambil itu mobil juga gue gak peduli." Ucap Vanessa datar.


"Hubungi Fano untuk menjemput kita." Ucap Vanya datar. Vinda pun mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Fano.

__ADS_1


"Terserah kalau kalian akan berdiri di mobil itu seterusnya, kita sudah tidak membutuhkannya." Ucap Vanya datar. Lalu mereka berbalik meninggalkan dua laki-laki itu yang masih tidak percaya, jika gadis yang dihadapan mereka sangat santai.


"Tunggu nona, baiklah anda boleh pergi. Silahkan bawa mobil anda." Ucap laki-laki itu.


"Vin,kunci." Ucap Vanessa lalu melemparkan kunci mobil itu ke vinda.


"Kita temui tuanmu." Ucap Vanessa datar. Teman-temannya pun membelalakkan matanya.


"Nes, lo apa-apaan." Ucap viola.


"Udahlah, kalian balik aja duluan. Nanti gue suruh Ilham buat jemput." Ucap Vanessa datar.


"Huh baiklah, jaga diri lo baik-baik." Ucap Vanya datar. Vanessa hanya menganggukkan kepala saja.


Vanessa mengikuti 2orang laki-laki ini, menuju ke mobil mereka. Tidak lupa Vanessa sudah memiliki persiapan membawa pistol dan pisau lipatnya.


Sedangkan ketiga temannya fikirannya sudah berkecamuk, mereka juga penasaran siapa yang menyuruh orang untuk membawa Vanessa. Sampai di mobil 2 orang yang akan membawa Vanessa pergi, Vanessa akan ditutup matanya tetapi ia menolak dengan mengatakan akan menghabisi mereka jika berani menutup mata vanessa.


"Maaf nona mata anda harus ditutup." Ucap salah satu laki-laki dengan membawa penutup mata.


"Berani lo tutup mata gue, dalam 2 menit peluru akan bersarang di kepala kalian." Ucap Vanessa datar. 2 laki-laki itu menelan salivanya, akhirnya mereka pun tidak memaksa Vanessa untuk ditutup matanya.


Vanessa duduk di kursi belakang dengan santai, ia melihat ada pistol yang berada di saku belakang salah satu laki-laki itu. Vanessa pun mengambilnya dengan cepat tetapi tidak menimbulkan kecurigaan. Vanessa mengalihkan pandangannya dengan bermain ponselnya, karena ia tau sedari tadi kedua laki-laki itu menatap dirinya melalui kaca mobil.

__ADS_1


"Ngapain kalian natap gue, mau gue congkel matanya." Ucap Vanessa dingin tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.


Seketika kedua laki-laki itu pun tidak berani menatap Vanessa lagi, mereka menatap lurus kedepan. Entah kenapa saat Vanessa mengucapkan hal yang mengancam mereka akan patuh dan tidak mengulanginya lagi.


__ADS_2