
"Terima kasih informasinya, aku akan ketempatmu sebentar lagi" Vanilla dengan segera mengakhiri panggilan tersebut, arin mengoleskan lipstik merah dengan segera ia bangun dan mengambil tasnya.
Ini sudah satu minggu ia dengan Arsean berada satu atap yang saya. Hari itu Arsean mensetujui syarat-syarat yang telah ia ajukan. Vanilla keluar dari rumah megah itu, di depan sana mobil beserta supirnya sudah menunggunya. Arsean menyiapkan semua fasilitas untuk kehidupan Vanilla selama ia menjadi istrinya tentu saja Vanilla tak sungkan lagi toh ia juga di rugikan untuk itu jadi tidak ada salahnya untuk menikmati fasilitas itu.
"Saya sudah mengirim alamatnya pada GPS" tampa basa basi lagi mobil segera melaju menuju mengikuti GPS yang telah arin arahkan pada sang supir. Mobil itu berhenti di sebuah mall, supir itu terun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Vanilla tampa sungkan ia keluar dan mengenakan kaca mata hitamnya menatap gedung yang berada di hadapannya.
Dulu, Vanilla ke mall ini sebagai pegawai di salah satu caffe di dalam sekarang ia kembali sebagai dirinya yang dulu. Bukan, bukan sebagai pegawai namun dirinya yang dulu yang masih menjadi anak gadis yang suka berpoya-poya bersama temannya menggunakan uang yang telah ayahnya berikan.
Vanilla La Bella anak perempuan keluarga La Bella yang tersisa dari pembantaian keluarganya terjadi, tuhan terlalu sungkan untuk melenyapkannya dari dunia ini. "Kau tunggu disini, atau kau boleh kembali saya akan mengirim pesan jika saya ingin kembali" ucap Vanilla memberi perintah pada supir itu, Vanilla cukup mengerti jika ia akan berlama-lama disini dari pada membuat supir itu menunggu.
"Saya akan menunggu" Vanilla mengangkat kedua bahunya, dan berjalan memasuki gedung itu sebenarnya sebelum Vanilla meninggalkan supir itu ia telah memberikan beberapa lembar uang untuk pria itu membeli kopi atau apapun yang ia inginkan agar tidak bosan menunggu.
Bagaimanapun Vanilla pernah dalam posisi yang menyedihkan, jika Vanilla berlaku tidak tau diri setelah ia kembali merasakan ke mewahan.
****
Vanilla menatap kesegala penjuru caffe itu ia mencari seseorang yang tadi ia hubungi. Sampai ia melihat lambayan tangan dari seorang pria dengan segera ia menghampiri meja pria itu. "Lama tidak jumpah Vanilla" basa-basi pria itu dengan senyuman menggoda, Vanilla memutarkan bola matanya malas.
__ADS_1
"Lama tidak jumpah juga Kamal Tomlinson" balas Vanilla dan tersenyum lebar. Ia terlalu merindukan pria yang bernama Kamal Tomlinson, pria breasteran timur tengah dengan barat memiliki wajah yang begitu tampan bak pemain drama-drama yang sedang hits.
"Kau tega sekali Vanilla, kau menikah tanpa mengundangku" adu pertama pria itu sangat tidak bermutu bagi Vanilla. "Bahkan aku tidak tau aku akan menikah" Vanilla berbicara apa adanya tentu saja responnya itu di reapon dengan gelak tawa dari Tomlin.
"Rumit sekali hidupmu" Vanilla memaki dalam hati, jika saja Tomlin bukan temannya sudah Vanilla banting saja. "Bagaimana kita langsung ke intinya saja" setelah ia memesan beberapa cemilan untuk berbincang-bincang dengan Tomlin Vanilla memilih langsung ke dalam inti pertemuan mereka.
"Kau terlalu terburu-buru hingga langsung kedalam intinya Vanilla sayang haha" Tomlin tetap lah Tomlin tak perduli usianya semakin bertambah namun, pria masih suka bermain-main dan menggoda Vanilla. "Apa yang kau ketahui tentang pembantaian beberapa tahun lalu ?" Poin pertama yang di tanyakan arin pada pria itu.
"Keluarga kau menjadi sebuah target, aku tidak tau pasti namun yang aku tau ini berurusan langsung dengan pemerintah entah itu lembaga penelitian atau yang lain. Aku sempat beberapa kali menghubungi teman-teman yang bertugaskan sebagai peneliti cip yang mereka temu kan di salah satu ruang yang ada di rumahmu" Vanilla mengerutkan keningnya tak mengerti dengan penjelasan yang rumit dari tomlin tentu saja Tomlin menyadari diri sendiri mengerti jika penjelasnya sangat berbelit-belit.
"Khemm,... seperti---bentar, seperti" Tomlin sedang mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya agar Vanilla mudah memahami apa yang ia maksud.
Saat itu Vanilla di sembunyikan oleh keluarga Tomlinson, dengan alasan ayah nya pernah menitipkan Vanilla pada keluarga itu agar menjaganya. Vanilla juga di minta untuk selalu jaga rahasianya sebagai anak dari keluarga La Bella sejak berusia 10 tahun tentu saja memiliki alasan dan salah satunya 'demi keselamatannya'.
"Yah, aku ingat itu bagaimana aku bisa melupakannya ? Itu adalah hal yang paling menyakitkan" ucap Vanilla dengan nada tegas tak seperti dulu yang mungkin akan menangis saat mendengar hal itu. Tomlin tersenyum bangga dalam hati jika gadis yang berbeda beberapa bulan dengan dirinya kini sudah menjadi lebih kuat dan ia konsisten dalam ucapannya jadi balas dendam yang ia bilang selama ini bukan candaan.
"Ternyata, saat tindak otopsi, forensik menemukan keganjalan di sebuah ruangan di rumah mu itu dan bukan hanya itu tapi di tubuh ayah mu pun sama ada hal yang tidak benar" Tomlin menjeda sebentar ucapannya ia mengambil jus jeruk miliknya dan meminumnya, mungkin dia haus berbicara panjang lebar.
__ADS_1
"Saat itu kebetulan temanku, bahiyya forensik yang membantu otosi ayahmu dan ia yang melaporan beberapa cip yang di temukan di tubuh dan di ruangan yang berada di sana. Bahiyya bilang ini ada urusan antara pemerintah dan ******* yang akan menyerang negara ini...." Vanilla rasanya ingin muntah saja ketika mendengarkan semua penjelasan yang Tomlin katakan karena jujur saja cerita ini rumit sekali.
Hampir 2 jam keduanya membicarakan kronologinya berlanjut pada rencana balas dendam Vanilla, Tomlin mendukung rencana sahabat sedari kecilnya ini dia juga suka hal gila jadi ia akan membantu sahabat perumpuannya ini.
Tomlin mungkin bukan dari kelompok mafia manapun bahkan ia tidak ikut campur dengan geng mafia ayahnya, ia hanya ingin hidup normal seperti pada manusia pada umumnya bukan orang yang memiliki dua ekspresi dalam satu wajah.
Tomlin berkerja sebagai peneliti, ia mahir dalam hack atau IT baginya merantas sebuah jejaring itu mudah apalagi hanya untuk sebuah informasi. Bahkan jika ayahnya sedang membutuhkan bantuan untuk merantas tak tanggung-tanggung jika ayahnya meminta bantuan Tomlin dan mendapatkan sebuah imbalan yang sulit heuningkai dapatkan.
"Jika begitu mohon kerja samanya tuan Tomlin, tolong carikan aku lenih banyak informasi" ucap Vanilla yang akan mengakhiri pembincangan hari ini.
"Tentu saja nona Vanilla La Bella oh bukan, tapi Nyonya muda De Lucania" ledek Tomlinson. Keduanya berjamba tangan sebagai mengakhiri dan pekerja samaan ini. "Jika begitu aku pamit terlebih dahulu, orang-orang sebagai bawahan ku di lab sudah menungguku" pamit pria breasted itu dan meninggalkan Vanilla setelah Vanilla menggangguk mengiyahkan pamitan pria itu. Vanilla yang masih berada disana menatap algojinya setelahnya wanita itu berdiri meninggalkan tempat itu juga.
__________________________________________
[Jumat, 07 Januari 2022]
Author : Safira Aulia Hamidah
__ADS_1
Wtpd : Safira Auliya Hamidah
Instagram : Safira19989