
Setelah pulang dari Mall dan juga mengantarkan Dela pulang, Ella pun langsung saja melajukan mobilnya menuju kearah kantor Wardana Group. Tadi sebelum dia pulang dari Mall, Ray menyuruhnya untuk datang ke kantor karna dirinya sedang berada disana, dia sedang melakukan meeting untuk menggantikan sang Ayah.
"Maaf Mbak, ruangan pak Rayen dimana ya?"tanya Ella pada seorang resepsionis yang bernama tag Dinda.
Ray memang mempunyai ruangan sendiri di kantor itu, dia tidak menggunakan ruangan sang Ayah kala dirinya sedang ada meeting atau urusan kantor lainnya.
"Kamu siapa? ada urusan apa sama pak Ray?"Dinda menatap Ella dengan sinis.
"Aku istrinya kak Ray, tadi dia nyuruh aku datang kesini."ujar Ella.
"Cih, ngaku-ngaku istri pak Ray. Asal kamu tau ya, dia itu belum menikah. Dia juga tidak mungkin mempunyai istri seperti mu."cibir Dinda.
"Memangnya aku kenapa Mbak? perasaan aku cantik kok."Ella mengibaskan rambutnya.
"Cantik sih, tapi sayang masih bocil."Dinda menatap Ella dengan tatapam mengejek.
Wajah Ella memang sangat imut, dia terlihat seperti anak smp. Tapi jangan salah, dia sangat cantik dan juga body nya beuh, membuat para kaum adam klepek-klepek.
"Mendingan aku masih bocil, daripada Mbak, udah tua kek nenek-nenek."Ella berucap dengan nada yang kesal.
"Stop, jangan bicara lagi. Akunya gak jadi deh nanya sama Mbak songong kayak dugong, mending aku cari sendiri aja."ucap Ella kala melihat Dinda hendak bicara, dia pun langsung saja memotongnya kemudian melangkah pergi darisana.
"Hey, bocil. Mau kemana kamu? jangan masuk hey."Dinda meneriaki Ella, tapi Ella terlihat bodo amat, dia acuh saja sembari terus berjalan.
Banyak pasang mata karyawan yang menatap kearah Ella, mereka saling berbisik. Mereka bertanya-tanya siapakah gadis cantik nan imut yang sedang berjalan di hadapan mereka.
Para kaum adam memandang Ella kagum, mereka begitu kagum dengan body Ella yang sangat berisi di bagian tertentu. Apalagi wajah Ella yang cantik nan imut, semakin bertambah saja kekaguman mereka pada mantan gadis yang nampak clingak-clinguk itu.
"Om, ruangannya bapak Rayen dimana ya?"tanya Ella pada salah seorang karyawan pria yang kira-kira seumuran dengan Rayen.
"Kamu tinggal lurus saja, nanti di depan ada pintu berwarna Gold. Nah itu ruangan pak Ray. Tapi sekarang beliau sedang ada meeting."jawab pria itu.
"Ok, makasih Om."Ella tersenyum ramah kemudian dia melangkah pergi darisana.
Ella berjalan lurus, lalu dia mencari pintu yang berwarna Gold. Ternyata pintu itu tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Ella hendak masuk, tapi pria tadi bilang Ray sedang ada meeting, jadi Ella memutuskan untuk menunggu saja. Dia bersandar di tembok sembari bermain ponsel.
"Hais, lama banget si."gerutu Ella kesal.
Dia melirik kearah pintu itu, tapi tidak ada tanda-tanda orang hendak keluar.
"Apa aku masuk aja ya?"gumam Ella.
Setelah berpikir, Ella pun memutuskan untuk masuk saja. Dia sudah bosan menunggu.
Ceklek,
Pintu ruangan Ray terbuka, Ella menyembulkan kepalanya dari balik pintu itu untuk melihat kondisi di dalam.
__ADS_1
"Sayang, ayok sini masuk."ucap Ray yang menatap kearah sang istri.
Ella pun masuk kedalam dengan berjalan pelan, kemudian dia menghampiri Ray yang tengah berbincang dengan pria paruh baya yang sepantaran dengan Papah mertuanya.
"Sini duduk."Ray menunjuk sebelahnya karna sopa yang ia duduki lumayan besar.
"Iya,"Ella mendudukan dirinya disamping Ray.
"Asawa mo ba siya?"tanya klien Ray yang berada di hadapannya.
(Apakah dia istrimu?)
"Oo, asawa ko siya."Jawab Ray sembari tersenyum tipis.
(Iya dia adalah istriku.)
"Napaka ganda, may anak ka na ba?"pria paruh baya itu menatap Ray dan juga Ella secara bergantian.
(Cantik sekali, apakah kalian sudah mempunyai buah hati?)
"Gusto lang namin pagbigyan, buntis ang asawa ko ngayon."Ray mengelus perut sang istri yang sedikit menonjol itu.
(Kami baru mau di kasih, istri ku sedang mengandung saat ini.)
"Kung ngayon. Congratulations, sana ay malusog at ligtas ang sanggol hanggang sa panganganak."ucap pria paruh baya itu dengan tersenyum tulus.
"Salamat Sir."Ray sedikit membungkuk,
(Terimakasih tuan.)
Merekapun kembali melanjutkan meeting yang sempat tertunda, banyak sekali yang mereka bahas. Karna rencananya Samsul akan membuat proyek baru, tapi Ray yang akan menanganinya. Kali ini Samsul bekerja sama dengan Tuan Basti yang berasal dari filipina. Dia sangat terkenal akan tahta dan juga kekayaannya yang melimpah di negara itu, tapi Tuan Basti juga terkenal akan ke dermawanan dan jug dia tidak sombong meskipun hidup bergelimang harta.
Beberapa saat kemudian meeting pun selesai, Tuan Basti pamit undur diri karna tidak ada lagi yang akan dibahas. Setelah Tuan Basti keluar, Ray pun langsung saja menarik Ella kedalam pangkuannya,
"Sudah makan belum?"tanya Ray yang tengah mencium aroma tubuh sang istri yang menurutnya begitu menyegarkan.
"Udah kok, tapi sekarang lapar lagi."cengenges Ella.
"Ya sudah, kita pergi cari makan. Kamu mau makan apa dan dimana?"Ray menatap lekat netra indah sang istri.
"Makan dirumah aja, aku kangen masakan Mama Wina."ucap Ella.
"Ok, kita pulang ke rumah ya."Ray menurunkan Ella, kemudian dia mengandeng mesra lengan Ella lalu mereka melangkah pergi keluar.
Saat sudah berada di luar, Mereka berpapasan dengan resepsionis yang bernama Dinda tadi, dia menatap Ella dengan begitu sinis, kali ini Ella pun membalas tatapan itu dengan seringai mengerikannya sehingga membuat Dinda bergidig.
"Mau langsung pulang?"Ray melirik kearah sang istri saat mereka sudah berada di mobil Ella, mereka memang menggunakan mobil Ella dan mobil Ray disimpan di kantor.
__ADS_1
"Iya, aku udah rindu sama masakan Mama."Jawab Ella.
"Ok, kalo gitu kita pulang sekarang ya."Ray menyalakan mesin mobilnya.
"Iyalah, masa taon depan. Keburu akaran dong ngejogrog di mari."cebik Ella.
Ray pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kearah rumahnya,
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kediaman keluarga Wardana, Ella pun langsung saja turun dan masuk kedalam rumah terlebih dahulu tanpa menunggu Ray.
"Mamah!"sapanya kepada sang mertua.
"Eh, mantu Mamah udah pulang."Wina langsung menyimpan majalah yang di pegangnya.
"Udah dong, kalo belom gak mungkin dong akunya nongol di mari."Ella mendudukan dirinya di samping Wina.
"Udah makan belum?"Wina mengelus lembut perut Ella.
"Udah agak keliatan ya sekarang, sudah semakin membuncit."sambungnya.
"Iya Mam, perut akunya jadi kek perut badut. Melendung."cengenges Ella.
"Mam, aku belum makan, laper ih. Tapi aku maunya makan masakan Mama."ucap Ella memelas.
"Ya ampun, kesianan bener mantu Mama yang cantik paripurna ini kelaperan. Mau Mama masakin apa hm?"Wina menatap lekat sang menantu.
"Aku mau di masakin ayam goreng liper Mam."Jawab Ella riang.
"Hah, apaan dah tu ayam goreng liper? entu ayam goreng apa penyakit?"bingung Wina.
Jejak ya guys😘
Mon maaf ye, otor udah dua hari kagak up, di karnakan badan otor lagi drop😊
And mampir sini ya ke novelnya temen otor seru abis dah pikonya😍
Judul : Ibu Izinkan Aku Bahagia
Napen : Sutihat Basti Wibowo
Ditinggalkan oleh sang Ayah dengan dalih mencari pekerjaan di usianya yang baru 2 tahun, membuat Ananda Shaka yang kini telah berusia 6 tahun memendam kerinduan yang mendalam pada sang Ayah. Setiap hari dalam angan Shaka adalah serba Ayahnya. Keinginan Shaka untuk bertemu sang Ayah menorehkan pilu dalam dada sang Ibu.
Di tengah deruan rasa rindunya pada sang Ayah, tanpa sepengetahannya ternyata sang Ayah telah menceraikan Ibunya lewat sepucuk surat yang dikirimkan melalui sahabat Ayahnya. Kenyataan pahit itu membuat sang Ibu tak berdaya. Di sisi lain sang Ayah berpesan agar Shaka tidak mencari dan menemuinya lagi.
Akankah kerinduan Shaka pada sang Ayah berakhir dengan sebuah pertemuan atau mungkin tidak ???
__ADS_1