Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Gara-gara micin.


__ADS_3

"Taburin aja ketubuh Ray, biar makin gurih."Jawab Wina ngasal, lalu dia melangkah pergi kedapur untuk mengambil minum.


"Mama gimana sih? tadi aku ngasih ini ke kak Ray malah dicegah. Sekarang nyuruh di taburin, kan akunya jadi bingung." ternyata ucapan Wina dianggap serius oleh Ella, padahal Wina cuma asal bicara saja.


Ella pun berjalan menaiki tangga, karna dia sudah tau kamar Ray berada diatas. Tapi dia tidak tau yang mana, karna disana ada tiga kamar. Ray cuma bilang kalau kamarnya ada dilantai dua saja.


"Kamarnya yang mana ya? buka aja deh satu-satu."gumam Ella, diapun membuka pintu kamar yang ada disana satu-persatu, tapi dua pintu yang dia coba buka, ternyata terkunci. Tinggal satu pintu lagi kemungkinan itu adalah kamar Ray.


"Yang ini gak dikunci, berati ini kamarnya kak Ray."Ella pun masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Saat dia masuk, ternyata Ray baru saja selesai mandi. Dia hanya mengenakan handuk yang melingkar dipinggangnya.


"Kok, kak Ray mandi lagi? bukannya tadi dirumah aku udah mandi ya."ternyata reaksi Ella tak sesuai dengan ekspetasi Ray, dia pikir Ella akan berteriak atau menutup mata saat dirinya hanya mengenakan handuk saja seperti yang ada di dalam Drakor yang sering Ella tonton. Tapi ternyata tidak, Ella malah biasa saja.


"Gerah."Jawab Ray singkat.


"Oh."ucap Ella lalu dia mendekati Ray hingga dia berada di hadapan Ray.


"Kamu mau ngapain?"Ray malah panik sendiri saat Ella mendekatinya. Ray pun langsung memegang erat handuknya, kenapa jadi kebalik? eh kok malah dia yang ketakutan bukannya Ella, dasar Ray.


"Kak Ray kenapa sih? kaya orang ketakutan gitu. Takut sama aku ya?"tanya Ella sambil memegang lengan berotot Ray.


"Siapa yang takut."ucap Ray dia langsung menepis tangan Ella, perasaannya sudah tak karuan. Seperti gadis yang hendak diperk*sa saja.


"Kak Ray mau kemana sih?"Ella menarik handuk Ray, saat Ray ingin melangkah. Alhasil handuk Ray pun jadi melorot kebawah.


"Itu apa? kok kayak belalai gajah, tapi lucu, ih."ucap Ella saat melihat sesuatu yang menggantung ditubuh Ray.


"Kamu ini apa-apan sih? kenapa narik handuk kakak coba."Ray langsung mengambil handunknya, lalu melilitkannya kembali dipinggannya.


"Kan gak sengaja kak Ray, lagian akunya belum selesai bicara kak Ray maen pergi aja."ujar Ella cemberut.


"Kamu mau bicara apa?"tanya Ray dengan perasaan yang campur aduk, kesal malu deg degan. Semuanya bercampur menjadi satu. Lagian istrinya ini aneh, dimana-mana anak gadis kalau melihat pria telanjang mereka akan langsung teriak minimal menutup mata lah. Nah ini boro-boro menutup mata, yang ada malah ditatap, bahkan tadi dia hendak memegang sesuatu yang dia bilang belalai gajah itu. Untung saja Ray buru-buru mengambil handuknya kembali.


"Aku bukan mau bicara sih, tapi."dia cengengesan lalu.


"Kamu apa-apan sih? kenapa saya di bumbuin seperti ini? kamu pikir saya ikan apa?"bentak Ray saat Ella menaburkan sesuatu yang gurih ketubuhnya, bahkan dia kembali kepanggilan awalnya saking kesalnya.


"Kenapa kak Ray marah ? kan akunya cuma disuruh Mama."ucap Ella berkaca-kaca karna Ray membentaknya.


"Gimana saya gak marah coba, saya ini baru selesai mandi. Terus kamu taburin micin ke tubuh saya, berati saya harus mandi lagi dong? udah kaya minum obat aja belum juga sehari udah mau mandi tiga kali."ucap Ray kesal.


"Ya maaf, kan akunya cuma nurutin kata Mama aja."ucap Ella sambil menangis.


"Kenapa Mama nyuruh kamu menaburkan micin kebadan saya?"tanya Ray yang nada suaranya kini sudah tak semarah tadi.

__ADS_1


"Katanya biar gurih."Jawabnya polos.


"Astaga, dia pikir gue ikan apa?"lirih Ray, lalu dia beranjak pergi kedalam kamar mandi.


Ray mandi untuk yang ketiga kalinya, udah samaan aja nih kaya minum obat. Setelah selesai mandi, Ray langsung menuju ruang ganti untuk berganti pakaian, dia memilih mengenakan kaos biru turkis pendek juga celana kolor hitam selutut.


"Udah, jangan nangis lagi."Ray menghampiri Ella yang sedang duduk diatas ranjang sambil menangis.


"Kak Ray jahat, kak Ray bentak aku. Huaaa."ucapnya sesegukan.


"Maafin kakak ya? kakak tadi kebawa emosi. Kakak janji tidak akan membentak kamu lagi, sekarang sudah ya jangan menangis lagi."Ray mengusap air mata Ella menggunakan ibu jarinya, lalu dia menatap lekat wajah gadis itu.


Cup, Ray mengecup mata Ella, lalu dia tersenyum tipis, saking tipisnya Ella pun tidak melihatnya.


"Kalo kamu nangis mulu, ntar matanya jadi jelek kaya panda."Ray mengelus rambut Ella sayang.


"Nanti gak cantik lagi akunya, ya kak Ray."ucap Ella dengan suara serak khas orang habis menangis.


"Iya, makanya kamu jangan nangis lagi."


"Tapi akunya jangan dibentak lagi."


"Iya, maafin kakak ya."sepertinya mulai sekarang Ray harus menjadi lebih sabar dan juga harus belajar menahan emosi, mengingat semua tingkah dan juga kelakuan Ella.


"Janji."Ella mengacungkan jari kelingkingnya.


"Jadi kakak dimaafin nih?"


"Iya."


Merekapun lanjut berbincang-bincang Ray menanyakan apa saja kesukaan Ella gimana kuliahnya, juga masa kecil Ella tak luput Ray tanyakan. Hingga waktu makan malam tiba mereka pun segera turun kebawah, karna pelayan sudah memanggil.


"Malam Pah, Mam."sapa Ella.


"Malam cantik."jawab Samsul.


"Malam juga sayang, sini duduk kita makan malam."ucap Wina.


"Iya Mam."Ella pun duduk dan diikuti Ray yang juga duduk disebelah Ella.


"Kamu kenapa sih Ray? tu muka ditekuk aja."tanya Wina yang melihat anaknya diam saja sedari tadi.


"Mama tu yang kenapa?"dia malah nanya balik.


"Kenapa jadi Mama? emang Mama kenapa?"tanya Wina bingung.

__ADS_1


"Kenapa Mama nyuruh Ella naburin micin ke badan aku?."ucap Ray kesal.


"Hah, naburin micin apaan?"cengo Wina bingung.


"Tadi, Mama yang nyuruh Ella kan, buat naburin micin ke badan aku. Mana baru selesai mandi lagi, jadi mandi lagi deh."


"Mamah gak nyuruh Ella buat naburin micin dibadan kamu kok Ray."


"Terus, kenapa Ella bilang Mama yang nyuruh."


"Emang, Mama nyuruh kamu tadi Ell?"tanya Wina pada Ella.


"Iya, Mam."


"Kapan? bukannya tadi Mama udah bilang. Kalau yang dimaksud Mama itu bukan micin, kan Mama udah jelasin ke kamu."yang di maksud Wina yang Ella mengira bucin itu micin.


"Tadi, pas Mama mau kedapur, kan akunya tanya, terus ini micinnya gimana? kata Mama, taburin aja ketubuh Ray biar gurih. Gitu kata Mama."jelas Ella panjang lebar.


"Astaga Ell, itu Mama cuma bercanda. kenapa kamu malah lakuin beneran."lagi-lagi Wina menepuk jidatnya sendiri sambil menghela nafas panjang.


"Lagian Mama juga bocah begini diajak bercanda, dia mah semuanya juga dianggap beneran."ucap Ray.


"Mama kan, gak tau."


"Udah-udah ayok makan, nanti lagi bahas micinnya."lerai Samsul.


"Iya, ayok kita makan. Kamu makan yang banyak ya sayang."ucap Wina melirik sang menantu.


"Iya, Mam."lalu dia mengambil nasi tapi tidak untuk dirinya melainkan untuk Ray. Wina senang ternyata menantunya sedikit-sedikit mengerti tugasnya walau dia masih labil.


"Kak Ray mau makan sama apa?"tanya Ella.


"Cumi aja."Jawab Ray.


"Cumi yang mana sih."ucap Ella, karna memang dia tak pernah makan cumi karna dikeluarganya tidak ada yang menyukai cumi. Rata-rata mereka menyukai kepiting.


"Itu, yang di depan Mama."tunjuk Ray



"Yang ini kak Ray?"Ella mengambil cumi itu.


"Iya,"ucap Ray Ella mengamati cumi itu lama, dia kok jadi teringat sesuatu


"Ini kok mirip........

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya ya, biar author semangat nulisnya😊


__ADS_2