Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Ray merajuk


__ADS_3

Ella menghentakan kakinya ke lantai karena kesal, weekend hanya berdiam diri saja di rumah oh no! Besok kan dirinya harus bekerja kembali dan menjalani rutinitas biasa. Ada atau tanpa adanya Ray dia harus tetap pergi.


"Pokonya aku mau healing cari yang bening-bening, suntuk di rumah mulu kek tahanan." Ella melangkah masuk ke dalam kamar.


Di lihatnya di sana Ray sedang meringkuk di atas ranjang dengan hanya mengenakan kolor ijo, rupanya semua atribut yang tadi di pakaiannya sudah di lepas semua hanya tersisa kolor ijo yang menempel.


"Apa dia merajuk? Aneh deh, kenapa kak Ray jadi kayak anak kecil? Atau jangan-jangan dia kerasukan setan bocil," gumam Ella sembari mengambil kunci motor yang ia letakan di atas nakas.


"Mau kemana?" Suara Ray terdengar mengintimidasi.


"Healing lah, bosen tau di rumah mulu." Cebik Ella yang masih kesal pada Ray.


"Terus, kamu mau ninggalin aku gitu?" ketus Ray dengan nada merajuk.


"Kan kak Ray nggak mau ikut," ujar Ella.


"Ikut." Ray segera beranjak dari ranjang kemudian berjalan menuju ruang ganti.


"Dia kenapa sih?" heran Ella.


Tak lama kemudian Ray keluar dari ruang ganti, kali ini dia mengenakan celana jeans selutut berwarna navy dengan atasan kaos putih polos yang di lapisi dengan kemeja kotak-kotak corak biru hitam. Sepatu tetap yang tadi warna putih corak hitam. Ella tidak mengomentari penampilan Ray takut pria itu akan merajuk kembali.


"Aku aja yang bawa." Ray mengambil kunci motor dari tangan Ella.


"Ok." Ella kian merasa heran, apa tadi katanya? Aku, biasanya juga dia memanggil dirinya kakak.


Ray melakukan motornya membelah jalanan kota yang begitu ramai lalu lalang kendaraan. Ella tidak memeluk pinggang Ray seperti biasanya, saat ini perasaannya masih kesal dan semakin kesal kala melihat sikap Ray yang kembali dingin dan juga irit bicara.


"Kemana?" tanya Ray singkat, sungguh Ella begitu kesal saat ini.


"Kemana aja," jawab Ella ketus.

__ADS_1


Karena tidak mendapat jawaban pasti dari dang istri, Ray pun memutuskan untuk membawa Ella ke sebuah pantai yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Karena ini weekend, jadi pengunjung pantai sangatlah ramai, banyak juga para bule yang tengah berjemur dengan mengenakan bikini.


"Mode kulkas, on," gumam Ella karena sedari merka sampai di pantai Ray terus diam tak banyak bicara.


Karena jengah, Ella pun meninggalkan Ray yang sedang duduk di kursi yang berada bawah pohon kelapa sembari menikmati kelapa muda seorang diri. Ella beranjak pergi dengan menggeruru, kesal, ingin marah. Atensi Ella menatap sekeliling, melihat para bule yang tengah berjemur. Terlintas sebuah ide dalam benaknya supaya mode kulkas suaminya of kembali.


"Ok, Kak Ray. Apa setelah ini kamu akan terus diam." Ella tersenyum menyeringai.


Dia berjalan menjauh dari pantai menuju toko pakaian yang berada di sana. Ella membeli satu bikini yang begitu seksi dan akan di pastikan jika Ella memakai ini lekuk tubuhnya akan terekspos sempurna dengan tubuh mulusnya yang tak kalah menggoda dari para bule itu. Tak lupa juga Ella membeli blazer untuk melapisi tubuhnya yang sudah memakai bikini nanti.


"Uhh! Seksoy abis gue." Ella mematut dirinya di cermin, saat ini dia sedang berada di kamar mandi guna mengganti bajunya.


"Gue yakin, Kak Ray pasti akan kembali nyerocos." Ella memakai blazer guna menutupi tubuh seksinya itu.


Ella berjalan kembali ke tempat dimana Ray berada dengan menenteng sebuah paper bag berisi bajunya yang tadi sebelum di ganti dengan bikini. Di lihatnya Ray sedang asik bermain ponsel dengan ekspresi wajah datar.


"Nggak ada orang kan ya?" Ella mulai membuka blazer yang di kenakannya.


"Risih juga ya pake beginian. Tapi kenapa para bule terlihat biasa aja?" Ella menyimpan blazernya ke dalam paper bag.


"Ponsel mulu yang di liatin, akunya enggak. Ih sebel," ucap Ella yang kini sudah berdiri di hadapan Ray namu pria itu tidak menyahut maupun meliriknya.


"Ya udah deh, karena akunya di kacangin mulu. Mending berjemur sembari mencari bule tampan, bening yang pastinya nggak kayak kulkas berjalan," ucapnya lagi karena Ray tidak meresponnya.


Ray hanya diam tanpa melihat ke arah sang istri, entah apa yang membuat dirinya seperti ini. Apakah mod nya sedang tidak baik atau ada hal yang membuatnya kesal? Entahlah, hanya Ray yang tau. Di kuasai dengan amarah dan kekesalan yang memuncak, Ella pun membanting paper bag yang ia bawa ke hadapan Ray dengan begitu keras sehingga membuat Ray terlonjak kaget.


"Kamu bisa tidak-----" Ray seketika membeku saat melihat penampakan sangat istri. Amarah menyerangnya dengan tiba-tiba, tangannya terkepal dengan wajah yang memerah menahan amarah.


"Apa? Mau marah? Aku nggak peduli. Dah lah aku mau berjemur sama bule-bule." Ella melangkahkan kakinya.


"Stop!" teriak Ray namun Ella hanya acuh tidak peduli.

__ADS_1


.


"Stela Anandira berhenti!" teriaknya lagi.


"Ogah! Siapa suruh ngacangin aku. Kelabakan sendiri kan ngeliat aku kayak gini. Rasain, emang enak," gumam Ella sembari berjalan ke tepi pantai.


Dengan tergesa-gesa Ray menyusul istrinya. Dia juga membuka kemeja yang sedang di pakainya. Jadilah saat ini dia hanya mengenakan kaos putih tipis. Begitu sampai di dekat sang istri, Ray langsung membungkus tubuh istrinya dengan kemeja yang ia tenteng.


"Beraninya kamu mengekspos miliku ke halayak ramai." Ray menatap tajam wajah sang istri yang terlihat acuh.


"Bodo! Siapa suruh ngacangin aku?" ketus Ella.


"Aku begitu karena kamu nggak peka," ujar Ray.


"Nggak peka? Maksudnya?" Ella menatap Ray dengan bingung.


"Pikir aja sendiri." Ray menarik Ella kedalam pelukannya.


"Aku nggak tau, karena aku bukan cenayang." Ella mengesekan hidungnya di dada bidang Ray.


"Kamu nggak menghargai usahaku, padahal aku berusaha untuk menjadi apa yang kamu mau dan yang kamu suka," ucap Ray dengan tangan yang memainkan pucuk kepala Ella.


"Bisa di jelaskan? Sumpah aku nggak ngerti kemana arah pembicaraan kamu ini. Aku juga nggak tau hal apa yang membuat kamu jadi seperti ini. Kamu bilang sama aku biar aku ngerti tentang semua ini, aku bukan cenayang yang bisa menebak isi otak kamu," ucap Ella.


"Kamu suka pria yang keren bukan? Gaul, muda dan juga mempesona." ujar Ray.


"Hah?" Otak Ella berusaha mencerna maksud dari ucapan Ray.


Jejak😘


Otor punya rekomendasi lagi nih, ceritanya tak kalah keren dari rekomendasi sebelumnya. Cuss lah kepoin😍👇

__ADS_1




__ADS_2