Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Satu tahun berlalu


__ADS_3

Tak terasa waktu bergulir dengan begitu cepat, begitu juga dengan tumbuh kembang twins. Saat ini mereka sudah memasuki usia satu tahun kurang 2 minggu. (Wah, berarti dua minggu lagi twins ulang tahun nih☺) Ella masih tetap aktip berkuliah meski harus membagi waktu dengan mengurus ke dua anaknya yang super aktip. Untuk hubungan Dela dan Galang, mereka nampaknya baik-baik saja jika di lihat dari sikap Dela yang seperti tidak mempunyai masalah apapun.


"Pa-pa-pa." Zam berceloteh sembari mengacak mainan yang ada di hadapannya.


"Apa, Zam?" Ella menoel pipi gembul Zam.


"Pa-pa-pa." Lagi-lagi Zam berceloteh.


"Pipop, ya? Pipop belum pulang, Sayang. Mungkin bentar lagi." Ella mengaduk bubur yang sedang ia pegang di dalam mangkok berukuran sedang.


"Pi-pi-pi." Zura yang sedang bermain dengan Wina menghampiri Zam.


"Zura juga kangen sama, Pipop, ya." Ella menatap kedua anaknya yang kini bermain bersama.


"Ray kok belum pulang jam segini, Ell?" Wina menghampiri Ella lalu duduk di sampingnya.


"Kak Ray ada tugas dadakan, Mam," jawab Ella.


"Tugas dadakan?"


"Iya, dia di tugasin gantiin meeting sama bebebnya, Mamah," ujar Ella.


"Loh, emangnya si Papah kemana? Kok meetingnya pake di gantiin sama, Ray segala?"


"Entah, mungkin...." Ella tak melanjutkan ucapannya.


"Mungkin apa, Ell? Jangan nakut-nakutin deh."


"Ih, orang aku belum selesai ngomong. Maksudku, mungkin aja Papah ada urusan lain."


"Tapi kenapa nggak bilang sama, Mamah?"


"Lupa kali."


"Zam. Aaa dulu sini." Ella mengarahkan sendok kecil ke mulut Zam.


"Auu-uu." Zam menepis sendok itu.


"Sayang... Kok malah di tepis, makan dulu. Aaaa." Ella kembali menyedok bubur dan mengarahkannya kepada Zam.


"Huhh, ya udah Zura dulu deh. Zam, susah ih makannya." Ella beralih menyuapi Zura.


"Pi-pi-pi."


"Iya, Sayang. Pipop bentar lagi pulang, sekarang makan dulu, ya. Aaa." Ella mendudukan Zura dalam pangkuannya.


"Huaaa, pi-pi-pi." Zura malah menangis.


"Sini biar, Mamah aja yang suapi mereka, Ell." Wina mengambil alih mangkok yang berada di tangan Ella.


Kini gantian Wina yang menyuapi twins, namun tetap saja mereka mmenggeleng tidak mau. Akhirnya Wina pun menyerah, dia menghela napas panjang kemudian dia merebahkan tubuhnya di karpet bulu tepatnya di samping twins yang tengah bermain.


Beberapa saat kemudian, Ray telah pulang bersamaan dengan Samsul. Mereka berjalan berdampingan memasuki rumah.


"Astaga! Mereka tidur," ucap Ray yang baru saja memasuki ruang keluarga.


Yang di maksud Ray mereka bukan twins, melainkan Wina dan Ella. Sepertinya mereka lelah, jadi tertidur saat menjaga twins.


"Pa-pa-pa." Zam langsung menoleh ke arah Ray begitu mendengar suara sang ayah.


"Pi-pi-pi." Zura merangkak menghampiri Ray diikuti dengan Zam.

__ADS_1


"Uhh, kesayangannya, Pipop. Kangen ya, sama Pipop." Ray duduk bersila di atas karpet kemudian membawa Zam dan Zura ke dalam pangkuannya. Zam di sisi kiri, Zura di sisi kanan.


"Ma-ma-mam." Mereka berceloteh bersamaan.


"Sayang-sayangnya, Pipop mau mam?" Ray menciumi pipi gembul kedua anaknya.


"Ma-ma-mam." Mereka mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ututu, sayangnya, Pipop laper. Pipop suapin ya."


"Bi Sum!" panggil Ray pada asisten rumah tangga baru mereka yang bernama Sumi.


"Iya, Pak." Sumi datang dengan tergopoh.


"Ambilin bubur twins, ya," pinta Ray.


"Baik, Pak." Sumi segera melangkah.


Tak lama Sumi kembali dengan membawa bubur tim untuk twins. Ray pun segera mengambilnya dan menyuapi twins.


"Lahap banget makannya, laper ya?" Ray menatap kedua anaknya.


"Kak Ray udah pulang?" Ella yang baru saja membuka mata menggeliat.


"Iya, Sayang. Kamu capek banget ya? Sampe ketiduran gitu." Ray menatap wajah bantal istrinya.


"Nggak kok, cuma ngantuk aja kurang tidur," jawab Ella kemudian duduk dengan punggung menyandar ke sofa.


"Giliran sama, Pipop mau makan. Sama, Mimom malah di tepis," gerutu Ella.


"Emang twins nggak mau makan, Sayang?" tanya Ray yang tanganya masih sibuk menyuapi twins.


"Nggak mau... Udah sama aku, sama, Mamah, tetep aja nggak mau." Ella mencebik.


"Kenapa tu mulut, Mimom jadi kayak pantat ayam," goda Ray.


"Kak Ray!"


"Kenapa, hm? Takut nggak bisa manjaan lagi sama kakak ya. Kamu tenang aja, Sayang. Kamu masih bisa manjaan kok sama kakak, tapi malem." Ray mengedipkan sebelah matanya.


"Ray! Ada anak kecil," ucap Samsul yang sedang bersandar di sofa.


"Mereka nggak akan ngerti, Pih. Palingan yang ngerti cuma anak bandot," ujar Ray.


"Siapa anak bandot?" tanya Samsul.


"Papah lah, siapa lagi."


"Anak semprul!"


****************"


Di tempat lain.


"Kita nyoba gaya baru yuk, Beb?" ajak Satria kepada Dalina yang kini berada dalam kungkungannya.


"Gaya apa lagi?" tanya Dalina sedikit terengah dengan napas tersendat-sendat, sekarang Dalina gampang sekali lelah semenjak dia mengandung.


Yup, Dalina saat ini sedang mengandung, dan usia kandungannya kini sudah memasuki usia ke sembilan. Hpl nya juga tinggal beberapa hari lagi menurut hitungan Dokter kandungan Dalina.


Selama mengandung banyak sekali permintaan aneh Dalina, bahkan lebih aneh dari permintaan Ella pas ngidam dulu. Yang lebih parah, Dalina akan selalu meminta Satria tidur dengan mengenakan baju tidur perempuan plus segitiganya, kalau tidak Dalina akan ngambek, jadilah Satria menurutinya meskipun dia harus tidur dengan menggunakan lingerie super tipis.

__ADS_1


"Kodok kejengkang aja, Beb," ujar Satria.


"Gaya apa itu? Aneh banget."


"Ah." Dalina meringis saat dia hendak bangkit.


"Kamu kenapa, Beb?" Satria mendadak panik.


"Perut aku sakit, Yang, ah." Dalina memegangi perut polosnya.


"Sa-kit? Mau ke kamar mandi?" Satria menatap intens manik mata Dalina.


Dalina menggeleng. "Kayaknya a-ku mau ngelahirin. Aw."


"Ngelahirin? Mak-sud kamu ngelahirin bayi?" Seperti biasa, jika panik Satria akan menjadi bleng.


"Ngelahirin monyet! Uhhh!" Dalina semakin meringis.


"Kenapa jadi monyet? Kan aku yang bikin, Beb. Bukan monyet," protes Satria.


"Kamu bisa diem nggak, sih. Perut aku sakit!" teriak Dalina.


"Terus aku harus gimana, Beb?" Satria semakin panik.


"Panggil, Mamih. Bilang aku mau ngelahirin, aw. Huhh," ujar Dalina.


"Mamih ya? Ok mamih. Tapi mamih siapa, Beb?"


"Mamih kamu, dong. Masa mamih monyet. Kenapa kamu jadi bego sih, bangsat. Ah! Cepet ini sakit, euhh!"


"Ok, ok. Tunggu bentar, Beb. Kamu tahan, sabar, Beb." Satria hendak melangkah pergi ke luar.


"Sat!" teriak Dalina begitu menggelegar.


"Kenapa, beb? Sakit ya? Bentar ya, aku panggil mamih dulu," ucap Satria.


"Pake baju dulu, masa kamu mau keluar begitu?" Dalina menunjuk tubuh toples Satria.


"Astaga gue lupa, untung gue belum keluar. Mana burung gue jelek banget lagi pas ciut, kek tahu bulat kedinginan keriput," gumam Satria.


Kemudian dia melangkah menuju ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya dan juga pakaian Dalina karena Dalina juga masih toples. Setelah memakaikan baju pada Dalina dan dia juga sudah berpakaian, Satria pun melangkah pergi keluar untuk menemui sang ibu.


Ah!


Euhh!


Saat Satria sampai di depan pintu kamar orang tuanya, dia malah mendengar suara laknat yang saling bersahutan.


"Mih! Pih! Buka!"


Brak! Brak! Brak! Satria menggebrak pintu kamar.


"Pending dulu kuda-kudaannya, ini darurat, Mih cepetan buka!" teriak Satria.


"Kenapa, Sat? Ah!" terdengar sahutan dari dalam.


"Buka cepetan! Kalau nggak aku dobrak nih!" teriak Satria lagi.


"Iya tunggu bentar!"


Ceklek! Pintu kamar terbuka dan menampilkan pasutri yang kini tengah menatap Satria horor.

__ADS_1


"Kenapa kalian jadi telur gulung?"


__ADS_2