
Ratusan anggota Langit menyerang Ray, dengan memberi kode para anggota AOD pun muncul dari anggota inti hingga anggota bayangan. Mereka muncul bersamaan angota musuh mulai menyerang. Jadilah para anggota musuh melawan para angota AOD, Ray tidak ikut serta dalam pertarungan itu. Dia lebih memilih menghampiri langit yang sedang mematung, nampaknya pria itu kaget karena Ray juga membawa anggota, dia pikir Ray pergi seorang diri karena dia sudah memastikan tidak ada yang mengikuti Ray namu dari mana datangnya orang-orang ini? Pikir Langit heran.
"Ada kalanya otak harus bermain, karena ngadepin orang licik kayak lo. Bukan hanya otor yang di perlukan tapi ke pintaran." Ray kini sudah berada di hadapan Langit.
"Kali ini gue boleh terkecoh, tapi liat aja. Lo nggak akan bisa lepas dari cengkraman gue." Langit menatap tajam Ray.
"Buktikan kalau bisa," tantang Ray.
"Gue pastiin ini hari terakhir lo ngeliat indahnya dunia ini lagi," ucap Langit yakin.
"Jangan cuma bisa bacot! Buktiin." Ray menatap Langit dengan tatapan mengejek.
Karena sudah tersulut emosi, Langit langsung menyerang Ray tanpa ampun dengan amarah yang menggebu. Ray terlihat santai saat Langit menyerang nya dengan membabi buta. Persis seperti gaya bertarung Ella, Ray hanya akan menangkis tanpa melawan sampai musuh ke habisan tenaga.
"Hanya segitu saja kemampuanmu?" Cibir Ray yang mana membuat Langit semakin tersulut emosi.
__ADS_1
Langit menatap Ray penuh kebencian sebelum akhirnya dia mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku jaketnya. Langit memutarkan pistol itu sembari mundur beberapa langkah kemudian dia arahkan pistol itu tepat ke arah jantung Ray.
Dorr!
Suara tembakan menggema sehingga membuat Ragil dan David yang tengah bertarung menoleh ke arah Ray. Nampak pria itu sedang tersenyum mengejek sembari memperlihatkan sebuah pluru yang telah berhasil ia tangkap. Ragil dan David bernapas lega, ternyata Ray baik-baik saja.
"Sepertinya pistolmu palsu," celetuk Ray sembari melempar peluru itu ke wajah Langit.
"Ah! Sialaaann!" teriak Langit kesal karena dia gagal membunuh Ray.
Langit membanting pistolnya karena dia pikir pistolnya memang palsu. Tidak mungkin Ray tidak terluka saat menangkap peluru itu jika memang pistolnya asli.
Langit mengeram kesal, kemudian dia mengambil belati yang sangat tajam dari balik saku jaket. Langit kembali menyerang Ray namun kali ini tidak dengan tangan kosong. Langit menyerang Ray berutal dengan belati di tangannya. Ray nampak santai meski dia tidak memegang senjata apapun.
"Satu, dua, satu, dua," ucap Ray menirikun gaya bicara seorang pelatih senam dengan badan yang dia miringkan ke kiri dan ke kanan sesekali berjongkok dan melompat kala menghindari belati Langit yang hendak menusuknya.
__ADS_1
Langit mulai ke lelehan karena terus menyerang tanpa perlawanan dari Ray. Pria yang sebentar lagi akan mempunyai tiga anak itu tersenyum menyeringai. Tanpa Langit ketahui, Diam-diam Ray mengambil pistol yang ia masukan ke dalam saku tadi. Setelah itu Ray menekannya dan...
"Akhhh! Sakitt! Sialan lo! Anj**g!" teriak Langit ketika peluru pistol itu mengenainya.
Langit terjerembab ke tanah sembari memegangi senjatanya yang kini sudah mengeluarkan darah segar, rasa sakit begitu mendera tak dapat ia tahan lagi. Merintis dan berteriak kesakitan berharap anak buahnya segera menghampiri namun sayang. Semua anak buahnya telah berbeda alam karena ulah anggota Ray.
"Eh, kok pistol nembak pistol?" Ray pura-pura kaget.
"Eh sorry, gue tepat sasaran. Eh engak deh, salah sasaran, tadinya gue mau nembak telornya. Eh malah kena burungnya." Ray terkekeh, dia tidak lagi bersikap pormal.
Langit tidak memperdulikan ocehan Ray, burungnya terasa begitu sakit saat ini. Tanpa sadar, dia membuka celananya sampai burungnya tampak sempurna. Burung mengkerut yang sudah di banjiri darah segar.
"Pantes aja burung lo kena tembak, nggak pake sangkar rupanya," celetuk Ray.
Rekomendasi cerita bagus nih buat kalian, kepoin ya sembari nunggu otor up. Cerita yang otor promosiin di jamin seru deh. Coba aja👇
__ADS_1