Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Pernikahan Satria&Dalina.


__ADS_3

Singkat waktu, kini tibalah hari di mana Satria dpan juga Dalina akan mengucap janji suci. Semua anggota keluarga maupun para sahabat begitu antusias menyambut acara ini. Apa lagi Ella, dia sangat amat menanti momen ini, di mana abang tercinta nya akan bersatu dengan Kadal kesayangan nya.


Seluruh rangkaian acara akan di adakan di gedung Wirawan, dari mulai akad, hingga acara lainnya. Semua para tamu undangan sudah berdatangan sebagian, karena mereka ingin menyaksikan proses pengucapan janji suci. Terutama para keluarga dan juga para sahabat.


"Kadal kenapa murung?" Saat ini Ella sedang mendampingi Dalina yang baru saja selesai di rias.


"Aku sedih aja Ell, di hari bahagiaku. Gak ada satu pun keluarga yang mendampingi." Dalina menunduk sedih.


"Kakak jangan sedih, kami semua di sini sekarang adalah keluarga kakak," ucap Ella.


"Ella benar, kamu jangan sedih, Sayang. Kami di sini ada untuk kamu. Sekarang kami adalah keluargamu," ucap Rina yang baru saja datang menghampiri mereka.


"Mamih." Dalina mendongkak.


"Meskipun orang tuamu sudah tiada, tapi Mamih yakin, mereka pasti menyaksikan pernikahan kamu dari kejauhan sana. Tersenyumlah, mereka pasti sedih saat melihat kamu murung begini." Wina menggenggam tangan Dalina seolah memberi kekuatan.


"Makasih, Mih. Aku sayang Mamih." Dalina yang terharu langsung memeluk Rina.


"Mamih juga, Sayang kamu." Rina membalas pelukan Dalina dengan penuh kasih sayang.


"Huaaa, jadi pengen di peluk..." Melas Ella dengan wajah mendramatis.


"Kamu juga pengen di peluk? Sini Mamih peluk." Wina melepas pelukannya pada Dalina lalu merentangkan tangannya kepada Ella.


"Siapa juga yang pengen di peluk Mamih? Ih geer," delik Ella.


"Eh, Markonah! Tadi katanya pengen di peluk?" Rina heran mengapa anaknya yang satu ini selalu membuatnya emosi.


"Orang aku gak bilang pengen di peluk Mamih, aku kan pengennya di peluk mertua kayak Kadal," ujar Ela.


"Hahh... Ya udah sana pergi cari mertua kesayangan kamu," ketus Rina.


"Ciee ngambek," Ledek Ella.


Sahhh!


Belum sempat Rina menyahut, suara riuh di luar sana menyadarkan nya, bahwa tujuan dia kesini untuk menjemput Dalina.


"Ayok cepet kita ke luar!" Wina langsung menggandeng lengan kanan Dalina dan Ella lengan kirinya.


Mereka berjalan dengan begitu pelan ke arah ke rumunan. Disana terlihat Satria yang menatap ke arah mereka, tepatnya ke arah Dalina. Dia sampai tidak berkedip seakan terhipnotis oleh kecantikan Dalina.


"Tenang Bro, dia udah jadi milik lo." Ray yang berada di samping Satria menepuk bahu Satria yang masih mematung.


.


"Khem." Satria berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang tak karuan.


Karena terlalu lama mematung, Satria tidak sadar jika Dalina kini sudah berada di sampingnya. Petugas KUA pun segera menyerahkan berkas-berkas yang harus di tanda tangani oleh Dalina.


"Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri."


Dalina pun menyalimi tangan Satria, di susul dengan Satria yang mencium keningnya lembut. Setelah prosesi akad selesai, kini tibalah prosesi lainya, seperti sungkem pelemparan bunga dll.



"Selamat ya, Abang, Kakak. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan," ucap Ella yang sudah berada di hadapan pengantin baru.


"Makasih dek." Satria memeluk sang adik dengan begitu erat.


"Jangan lama-lama meluknya, itu punya gue. Noh punya lo di sebelah." Ray si suami posesif langsung menarik tubuh sang istri.


"Ck, ini adek gue," delik Satria.


"Ini istri gue." Ray tidak mau kalah.


"Udah jangan berantem, kayak anak kecil aja. Lagian aku bukan mainan yang bisa kalian rebutin," lerai Ella.


"Kakak, selamat." Ella memeluk Dalina.

__ADS_1


"Makasih, Ell." Dalina membalas pelukan Ella.


"Lo gak mau ngucapin selamat gitu sama gue?" Satria menatap tajam Ray.


"Hm, selamat melepas masa jomblo," ucap Ray singkat.


"Bener-bener gak ada sopan-sopannya lo jadi adek ipar," Satria menjebik.


Setelah pasutri muda itu memberikan selamat dan juga kado istimewa yang entah apa isinya, merekapun berlalu menghampiri twins yang ikut serta bersama mertuanya. Satria dan juga Dalina pun berganti kostum sebelum ada yang menghampiri mereka kembali.


"Hay Bro, selamat ya." Galang yang datang bersama sang istri dan juga buah hati mereka menghampiri Satria.


"Thanks," balas Satria.


"Selamat, ya. Lin." Beralih menyalami Dalina.


"Thanks, Lang." Dalina menyambut uluran tangan Galang.


"Selamat ya, Kak Satria." Dela mengucapkan selamat sembari mengulurkan tangan.


"Thanks, Udel." Satria hendak menyambut uluran tangan Dela, tetapi Galang sudah terlebih dahulu menarik tangan Dela dan menggantikannya dengan tangannya sendiri.



Galang&Dela.


"Ck, dasar para suami posesif," cibir Satria.


"Kak Lin, selamat menempuh hidup baru." Dela memeluk Dalina.


"Makasih, Del." Membalas pelukan Dela.


"Ini kado dari gue." Galang memberikan dua kotak kado, satu berukuran kecil, satu lagi lumayan besar.


"Apa ini?" Satria menjadi was-was karena mengingat dulu dia memberikan kado yang aneh-aneh kepada Galang pas dia nikah.


"Sesuatu yang pasti lo sukai." Galang terlihat menyeringai.


"Apasih, suudzon aja lu." Delik Galang.


"Bawa lagi aja nih, isinya pasti kagak bener," ucap Satria.


"Gak baik nolak pemberian orang." Dalina menyahut.


"Tapi, Beb. Ini isinya pasti yang aneh-aneh," ujar Satria.


"Kamu kan belum buka, kenapa yakin banget isinya yang aneh-aneh? Pasti kamu dulu ngasih kado ke Galang yang aneh-aneh ya? Makannya kamu takut dia balas dendam." Skak Dalina.


"Eng-gak kok, Beb. Ya udah sini aku Terima."


Setelah Galang dan juga Dela pergi, kini giliran Rendi bersama Kiana yang menghampiri mereka. Rendi dan Kiana memang sedang dekat saat ini, sejak kejadian dia mengantar pulang Kiana, Rendi menjadi terus terbayang akan Kiana. Ya, meskipun saat itu dia di buat dongkol. Dia memang tidak jadi meminta nomor pada Kiana langsung, tetapi memintanya pada Ella supaya tidak belibet.


"Kapan kalian nyusul?" tanya Satria setelah dua orang di hadapannya mengucapkan selamat.


"Nyusul kemana?" tanya balik Kiana dengan polosnya.


"Ke pelaminan," jawab Satria.


"Loh, bukannya ini udah di pelaminan ya?" Ujar Kiana.


"Kalian berdua maksudnya kapan naik pelaminan?" tanya ulang Satria.


"Oh, aku sama kak Rendi?"


"Iya."


"Kita berdua kan udah naik pelaminan. Tuh, kita di sini gak di bawah." Kiana menunjuk kakinya yang menapak di atas pelaminan.


"Serah lu dah, Maemunah. Gue pikir cuma adek gue aja yang oon nya kagak ketulungan, ternyata ada yang lebih parah," Dumel Satria.

__ADS_1


"Sat, gak boleh gitu." Pelotot Dalina.


"Kak Ren, Kak Sat kenapa? Bukannya tadi dia yang nanya? Kok dia juga yang marah-marah." Kiana menatap Rendi.


"Dia punya darah tinggi, makannya marah-marah mulu," jawab Reni.


"Cewek lo noh yang bikin gue darah tinggi," cebik Satria.


"Yuk ah, kita cari makanan lezat." Tanpa membalas ucapan Satria, Rendi pun berlalu pergi dengan menggandeng tangan Kiana. Karena dia melihat ada klien Satria yang akan menghampiri pengantin.


Setelah di rasa tidak ada lagi yang menghampiri mereka, Satria pun izin ke toilet sebentar kepada Dalina.



"Kak Ray, lihat deh. Itu naik ke panggung mau apa ya?" Ella yang sedang berdiri di samping Ray menunjuk kearah panggung.


"Mau joget kali," jawab Ray asal.


"Ih, masa joget," ucap Ella cemberut. Dia kesal pada sang suami, karena sedari tadi nampak mendiamkannya. Padahal dia merasa tidak punya salah apa-apa.


"Mungkin mau nyanyi, Ella," sahut sang ibu mertua.


"Memangnya Abang bisa nyanyi, Mam?" Ella melirik sang ibu mertua.


"Bisa mungkin."


Tak lama terdengar musik yang mengalun merdu di telinga mereka, di ikuti dengan suara Satria yang bernyanyi dengan sangat merdu dan juga indah. Ternyata suara Satria sangatlah bagus, tapi mengapa dia suka bernyanyi dengan pales. Ketika bersama mereka.


"Dia nyanyi?" Dalina terbelak tak percaya, pasalnya dia tidak tau jika suara Satria sebagus ini.



Satria menyanyikan lagu yang berjudul "Bukti" By virgoun. Dia menyanyikannya dengan penuh penghayatan.


"Lagu ini, spesial untuk wanita yang kini telah menjadi istriku," ucap Satria di sela nyanyian nya, kemudian dia turun untuk membawa Dalina turut serta naik ke atas panggung.



"Beruntungnya aku.... Dimiliki kamu." Satria menatap Dalina dengan penuh cinta.


"Kamu adalah bukti.... Dari cantiknya paras dan hati.... Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi...


Tentang terang dan gelapnya hidup ini..." Menggenggam lembut tangan Dalina.


"Kaulah bentuk terindah... Dari baiknya Tuhan padaku.... Waktu tak mengusaikan cantikmu. Kau wanita terhebat bagiku... Tolong kamu camkan itu.." Saling memandang dengan tatapan penuh damba dan cinta.


"Mereka romantis banget.." Seru Ella.


"Kita juga romantis." Ray memeluk Ella dari samping.


"Tapi kak Ray gak pernah nyanyiin aku." Ella mengerucutkan bibirnya.


"Kamu mau di nyanyiin juga?"


"Mau dong!"


"Ok, nanti kakak nyanyiin."


"Emang bisa?"


"Bisa dong," jawab Ray cepat.


"Lagu apa, emang," tanya Ella penasaran.


"Cicak-cicak di dinding... Diam-diam terguling... Da.."


"Kak Ray!" Belum sempat Ray melanjutkan nyanyian nya, Ella sudah berteriak melengking.


Lupa, babang Rayen belum ada pict nya. Ini nih bonusin bang Ray๐Ÿ˜

__ADS_1



Jangan lupa tinggalkan jejak. Love you all๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2