Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Dalina melahirkan


__ADS_3

"Ada apaan, Sat? Ganggu orang aja," hardik Andi dengan menatap sengit Satria.


"Ini gaswat, Pih. Gawat banget," ujar Satria.


"Gawat kenapa?" Kini Rina yang bertanya.


"Dalina, Mih. Dia mau ngelahirin," ucap Satria yang seketika membuat Rina panik.


"Apa? Dalina mau ngelahirin? Bilang dong dari tadi, Bangsat!" Rina hendak melangkah pergi.


"Mih!" Pekik Andi.


"Apa sih, Papih. Menantu kita mau ngelahirin, ayok cepet kita ke rumah sakit keburu brojol nanti bayinya!" sarkas Rina.


"Iya, Papih tau. Ta..."


"Kalau, Papih tau kenapa, Papih nyegah, Mamih?!" bentak Rina.


"Mamih masih jadi telur gulung." Satria yang menjawab sembari menatap tubuh kedua orang tuanya yang terbungkus selimut tebal.


"Astaga! Kenapa, Papih nggak bilang sih!" Rina segera menarik Andi ke dalam kamar.


Brak!


Rina menutup pintu dengan begitu keras.


"Jantung, lo masih akan kan?" Satria mengelus dadanya sendiri.


"Astaga bini gue!" Peliknya kemudian sembari berlari menuju kamarnya.


"Kamu darimana aja sih? Lama banget tau nggak perut aku sakit banget, huhh." Dalina langsung menatap Satria sengit ketika Satria baru saja memasuki kamar.


"Pending dulu, Beb ngomelnya. Kita pergi ke rumah sakit sekarang." Satria mengambil tas perlengkapan yang sudah di siapkan oleh Rina seminggu yang lalu.


"Ayoo cepet, Beb. Bayinya keburu brojol." Satria hendak berjalan keluar dengan menenteng dua tas.


"Sat! Istri kamu tu mau ngelahirin, bukannya mau shoping. Kenapa malah di tinggal?!" Marah Dalina.


"Ah, iya. Lupa, Beb." Satria kembali menghampiri Dalina.


"Ayok, Beb. Aku gendong." Satria berjongkok di hadapan sang istri.


"Kamu niat nolongin nggak sih?" geram Dalina.


"Kamu kenapa marah-marah mulu, Beb? Aku salah apa?" Satria yang panik menjadi bleng.


"Salah kamu itu kenapa otak di tinggal di kloset?! Masa orang mau ngelahirin di gendong belakang? Aku ini bukan kodok, Sat!"


"Aduh, kenapa kejadian si Ella terulang lagi. Ya ampun, kenapa gue jadi bodoh gini?" gerutu Satria.


"Ngegerutunya pending dulu, aku udah nggak kuat. Ahh!" Dalina meringis.


Dengan sigap satria pun segera menggendong Dalina ala bridal style.


"Pih, cepetan!" teriak Satria.

__ADS_1


"Iya, bentar." Andi dengan tergesa-gesa.


"Bukain pintu mobil!" teriak Satria lagi.


Andi pun membukakan pintu bagian belakang, setelah Dalina dan Satria masuk, Andi pun segera memanggil sang istri yang tengah mengambil perlengkapan Dalina.


"Ayok cepet, Pih." Rina langsung masuk kedalam mobil di susul dengan Andi.


Di perjalanan Dalina terus meringis dengan kedua tangan yang mencengkram erat rambut Satria, setiap kali rasa sakit menyerangnya. Dia akan menjambak rambut Satria dengan brutal.


"Akhhhh!"


"Huhh, nggak bini nggak adek. Sama aja bikin rambut gue botak, aw," ucap Satria meringis karena Dalina menjambak kuat rambutnya.


"Aw, sakit, Beb." Satria mengelus lembut perut buncit Dalina.


"Lebih sakitan aku, ini sakit banget! Kamu nggak ngerasain sih gimana sakitnya. Kamu mah cuma mau enaknya aja!" racau Dalina di sela ringisannya.


"Sabar ya, Beb. Jangan marah-marah, nanti tenaganya abis." Satria mengecupi wajah Dalina.


"Tinggal isi ulang aja apa susahnya sih, kamu tu bawel ngomong mulu." Marah Dalina.


"Emangnya galon bisa di isi ulang. Tapi emang sih badan kamu agak mirip galon tengahnya berisi," ucap Satria.


"Apa kamu bilang, aw. Kamu ngatain aku galon? Dasar suami semprul. Aku begini juga gara-gara di pompa mulu sama kamu! Udah kembung malah di katain lagi, dasar suami luknut!" Dalina menjambak rambut Satria dengan begitu keras.


"Aww! Sakit, Beb. Bisa botak kepala aku kalo bgini. Udah pala bawah botak, masa pala atas mau di botakin juga," ucap Satria dengan meringis.


"Emang kamu punya dua kepala, Sat?" sahut Rina yang duduk di depan bersama Andi


"Aww! Sakit banget, Sat!" teriak Dalina.


"Bentar lagi kita nyampe, sabar ya, Sayang." Kini Satria menggenggam lembut kedua tangan Dalina.


"Aku nggak mau di panggil, Siang!" Masih sempat-sempatnya Dalina protes masalah panggilan.


"Sayang... Bukan Siang, Yang," koreksi Satria.


"Pokonya nggak mau di panggil itu, apa lagi Yang, Yang bersa jadi kuyang." Protes Dalina.


"Iya, Beb. Tapi kamu jangan marah-marah lagi ya, supaya energi kamu nggak terkuras." Satria menyeka keringat yang mengalir di kening Dalina dengan mengenakan tangannya.


"Aku bukan, Bebek. Jangan di panggil gitu." Dalina protes kembali.


"Iya, kamu bukan Bebek tapi, Kadal," ucap Satria jengah. Di saat genting begini istrinya masih saja sempat protes prihal panggilan.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di sebuah rumah sakit ternama di kota itu. Satria segera turun dari mobil kemudian menggendong Dalina masuk kedalam rumah sakit. Dia berlarian di Koridor dengan berteriak memanggil dokter dan juga suster.


"Cepet, Dok. Istri saya mau melahirkan," ucap Satria kepada dokter Vivi yang kebetulan lewat di sana.


"Ya sudah ayok bawa ke ruang bersalin."


Setelah sampai di ruang bersalin, Dalina langsung di baringkan di atas berangkar. Setelah itu dokter Vivi segera memeriksa Dalina. Untuk Rina dan Andi, mereka sedang menungu di luar ruang bersalin dengan harap-harap cemas.


Setelah di periksa, ternyata pembukaan Dalina belum lengkap. Jadi Dalina harus menungu lagi sampai pembukaannya sempurna.

__ADS_1


"Sakit banget, Dok." Dalina meringis sembari memegangi perutnya.


"Sabar ya, Bu. Pembukaannya belum sempurna," ujar Dokter Vivi.


"Nggak bisa di percepat, Dok pembukaannya? Kasian istri saya udah kesakitan." Satria semakin panik kala melihat sang istri menangis.


"Tidak bisa pak, karena ini bukan pembukaan pentas yang bisa di percepat, Pak," jawab Dokter Vivi.


"Terus ini gimana, Dok? Kasian istri saya kesakitan," bingung Satria.


"Ibunya tarik napas dulu, ya. Lalu keluarkan perlahan supaya bisa mengurangi rasa sakit ibu," ujar Dokter Vivi.


"Bapaknya jangan ikut tarik napas ya, biar ibunya saja." Dokter Vivi menatap Satria yang hendak mengikuti Dalina menarik napas.


Bukan apa-apa Dokter Vivi hanya takut kejadian setahun yang lalu terulang kembali, di mana ruangan bersalin itu di penuhi dengan bau menyengat yang keluar akibat suami pasiennya ikutan menarik napas dan juga ngeden. Tentunya masih ingat kan siapa itu?


Selang beberapa waktu, dokter Vivi kembali mengecek apakah pembukaan Dalina sudah sempurna atau belum?


"Pembukaannya sudah sempurna, baby sudah siap bertemu dengan, Mama Papanya. Sekarang kita ambil posisi ya." Dokter Vivi mengatur posisi Dalina.


"Nanti ikuti intruksi dari saya, ok," ucap Dokter Vivi yang di balas anggukan oleh Dalina.


Dalina merasakan perutnya teramat sakit, sakitnya begitu luar biasa. Rasanya dia sudah tidak mampu menahan rasa sakit ini. Inikah yang di namakan berjuang antara hidup dan mati? Pikir Dalina yang sedang bersiap mengejan.


"Euggghhhhh!" Dalina mengejan dengan kuat.


"Ayo, Bu. Dedeknya sebentar lagi keluar."


"Eughhhhhh!"


"Sedikit lagi, Bu. Ayok terus."


"Aku nggak kuat dokter..." lirih Dalina.


"Kamu pasti bisa, Sayang. Ayok, demi anak kita. Aku mencintaimu, kamu pasti bisa, Sayang." Satria mengecupi kening Dalina yang di penuhi peluh yang bercucuran.


"Aku nggak kuat, Sat..." lirih Dalina.


"Kamu pasti bisa, kamu wanita kuat, hebat. Ayok, Sayang, aku disini mendampingimu." Satria berusaha memberi kekuatan pada Dalina.


"Ayok, Bu. Ulangi lagi."


Dalina pun menarik napas panjang, kemudiah dia mendorongnya dengan sekuat tenaga.


"Euaaaghhhhhhhhh!"


"Oek! Oek! Oek!"


"Alhamdulillah," ucap Satria dengan air mata yang menetes haru.


"Sayang, anak kita udah lahir." Satria menatap wajah pucat sang istri.


"Terimakasih, Sayang." Satria mengecupi seluruh wajah Dalina.


"Sayang, hey. Sayang. Kamu kenapa? Sayang bangun! Sayang, buka mata kamu! Dokter istri saya kenapa? Dokter!" Satria panik saat melihat Dalina menutup matanya

__ADS_1


__ADS_2