
"Kak Ray awas!" teriak Ella.
Dengan secepat kilat Ella langsung berlari ke arah Ray, mendorong pria itu dengan begitu kuat sampai pria terjerembab ke pinggir jalan begitu juga dengan Ella. Wanita itu tersungkur dengan keras sampai membuat tubuhnya terhentak dan juga tangannya terluka kerena tergores aspal. Ray yang saat itu terkesiap dengan kejadian yang di alaminya langsung tersadar kalau mendengar rintihan sangat istri.
"Sayang ... Kamu nggak pa-pa? Mana yang sakit. Kenapa kaku ngelakuin ini? Kamu jadi terluka seperti ini." Ray memeluk tubuh Ella yang masih terduduk di aspal. Dia meneliti seluruh bagian tubuh Ella.
"Kalau aku nggak dorong kak Ray, kakak bakalan ke tabrak. Kalau mati gimana? Aku nggak mau jadi janda," jawab Ella dengan sedikit ringisan.
"Kak Ray nggak pa-pa kan? Nggak ada yang luka?" lanjutnya cemas.
"Kakak nggak pa-pa, Sayang. Tapi tangan kamu luka, kita ke rumah sakit sekarang." Ray mengangkat tubuh Ella.
"Nggak usah, cuma luka gores doang," ucap Ella sembari memejamkan matanya.
"Awhh!" Ella meringis sembari meremas perutnya yang semakin terasa sakit.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa perutnya sakit?" Ray panik saat melihat Ella meringis kesakitan.
"Pe-rut aku," lirih Ella dengan memejamkan mata.
"Da-rah." Ray tergugu saat melihat darah mengalir dari pangkal paha istrinya hingga darah itu mengenai tangan Ray yang sedang menggendong Ella.
Seketika Ray langsung berlari masuk kedalam halaman perusahaan sembari menggendong tubuh Ella. Dia berteriak panik, dengan wajah kalut takut istrinya kenapa-napa.
"Tolong! Siapapun tolong saya!" teriak Ray menggema di halaman kantor.
"Ragillll!" teriak Ray dengan sekuat tenaga mengeluarkan seluruh suaranya.
"Ada apa, Pak Ray?" para karyawan yang mendengar teriakan Ray langsung berhamburan keluar.
"Tolong istri saya... Di-a, berdarah. To-long," lirih Ray dengan berderai air mata. Sungguh Ray sangat terlihat kacau saat ini.
"Saya siapkan mobil pak, kita ke ruamah sakit," ucap salah satu karyawan yang juga ikut panik.
Belum sempat dirinya beranjak, Ragil sudah datang dengan tergesa-gesa saat mendengar kericuhan di depan perusahaan. Begitu melihat kondisi Ella yang sudah terkulai lemas dengan menahan sakit dan juga Ray yang begitu panik sampai menangis histeris. Ragil segera beranjak mengambil mobil, Ray langsung berlari masuk kedalam mobil bagian belakang dengan secepat kilat. Setelah Ray dan Ella masuk, Ragil pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ikut panik, cemas dan khawatir.
"Lebih cepat, Gil! Istri gue, Gil!" Ray semakin berderai air mata di kala melihat wajah sangat istri menjadi pucat pasi.
"Sayang .... Bertahanlah... Aku mohon.... Jangan tinggalkan aku," lirihnya sembari mengecupi kening sang istri tangannya menggenggam erat tangan sang istri yang mulai dingin.
__ADS_1
"A-ku ngg-ak pa-pa, Ka-k," ucap Ella terbatas di sela rintihannya.
Rasa sakit kian menjadi, keringat dingin membanjiri wajah cantiknya namun dia berusaha untuk tersenyum. Dia tidak mau membuat Ray semakin khawatir. Jujur dia tidak kuat menahan rasa sakit ini, ini lebih sakit di bandingkan saat melahirkan si kembar. Ella menangis dalam diam, mengingat semua dosa-dosa yang telah dia lakukan. Sungguh ini sangat sakit, apakah ini adalah hari terakhir hidupnya? Apakah dia akan segera di panggil oleh yang maha kuasa. Ella menangis pilu dalam hati. Dia belum siap untuk meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil. Dia juga belum punya cukup bekal untuk di bawa menghadap kepada sang ilahi.
"Sa-yang ... Aku mohon, buka mata kamu." Ray panik saat Ella menutup matanya.
"Sa-kit," lirih Ella dengan mata tertupup dan juga tangan yang masih memegangi perutnya.
"Ya Tuhan, aku mohon... Jangan biarkan suatu hal buruk menimpa istriku, hilangkan lah rasa sakitnya. Aku nggak kuat melihatnya seperti ini."
Baru kali ini Ragil melihat Ray menangis, dia ikut meneteskan air mata dan berdoa dalam hati semoga Ella baik-baik saja. Begitu sampai di rumah sakit, Ray langsung turun dari mobil dengan secepat kilat. Kemeja putih yang dia gunakan kini telah di penuhi oleh darah yang mengalir dari pangkal paha Ella. Ray berlari sembari berteriak memanggil dokter dan juga suster. Teriakannya yang menggema membuat seluruh atensi umat yang berada di sana teralihkan padanya.
"Baringkan ibunya di sini, Pak," ucap seorang suster yang menghampirinya sembari membawa brangkar.
Namun Ray tidak mau, dia ingin menggendong Ella. Suster hanya perlu menunjukan arah ke ruangan di mana istrinya akan di tangani. Suster itu segera menunjukannya, Ray berlari kencang dengan air mata yang masih mengalir di wajah tampannya.
"Tunggu di luar ya, Pak. Biar kami menangani istri, Bapak," ucap sang dokter.
Ray mengangguk pelan, setelah dokter menutup pintu UGD. Tubuh Ray seketika ambruk di lantai, dia menyandarkan tubuh lemas itu di tembok. Menjambak rambutnya kuat, kenapa harus istrinya? Lebih baik dia tertabrak dan terluka parah daripada harus melihat istrinya kesakitan seperti ini. Hatinya sakit, rasanya seperti di hantam ribuan benda tajam.
"Ray." Ragil menepuk pelan tubuh bos sekaligus sahabatnya itu.
Ray hanya diam membeku dengan tatapan kosong, hatinya hancur kala melihat belahan jiwanya seperti ini. Jika bisa, biar dirinya yang ada dalam posisi itu, jangan istrinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Ragil penasaran.
Mendengar pertanyaan Ragil, seketika emosi Ray langsung meluap. Matanya menyalang membelalak dengan tangan terkepal kuat sampai buku-buku tangannya memutih.
"Cari mobil itu, Gil!" ucap Ray dengan penuh amarah.
"Mobil?"
"Mobil yang sepertinya sengaja mau nabrak gue," jawab Ray.
"Ada yang mengincar nyawa gue, tapi gagal karena Ella mendorong gue dengan kuat sampai kami berdua terjerembab ke pinggir jalan dan Ella mengalami pendarahan," Imbuhnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan hal yang mau gue sampein," ucap Ragil.
"Maksud lo?"
__ADS_1
"Mungkin Ella sempet cerita, kalau gue mau nyampein sesuatu."
"Ya, dia sempat cerita tadi. Apa yang mau lo sampein?" tanya Ray.
"Jadi o--"
Ucapan Ragil terpotong kala pintu ruangan UGD terbuka. Ray segera beranjak menghampiri sang dokter.
"Bagaimana ke adaan istri saya, Dok?" tanya Ray cepat.
"Alhamdulillah, istri bapak baik-baik saja setelah melakukan beberapa tindakan. Dan juga Tuhan memperlihatkan keajaibannya, pendarahan istri anda yang begitu deras tidak membuat janin dalam kandungan istri bapak keluar. Janin itu masih utuh, bahkan baik-baik saja. Sungguh ini ke ajaiban yang begitu luar biasa," ucap dokter itu dengan tersenyum ramah.
"Ja-nin?" Ray membeku saat mendengar kata janin.
"Apa bapak tidak mengetahui jika saat ini istri bapak sedang hamil?"
"Istri saya hamil, Dok?" ucap Ray tak percaya.
"Benar, Pak. Saat ini kandungan istri bapak sudah memasuki minggu ke lima," ucap dokter itu.
"Alhamdulillah, terimakasih Tuhan." Ray meneteskan air mata haru.
"Namun, kondisi kandungan istri bapak sangat lemah akibat kejadian ini. Jadi saya sarankan, istri bapak untuk istirahat total. Jangan melakukan hal berat apapun terlebih dahulu, kondisi kandungannya sangat renta dan rawan pendarahan," jelas dokter.
"Baik, dok. Boleh saya menemui istri saya sekarang?" tanya Ray.
"Kami akan memindahkan istri bapak ke ruang perawatan terlebih dahulu. Setelah itu baru bapak bisa menemuinya."
**************
"Apa?! Kalian gagal!" teriak seorang pria tampan dengan penuh amarah.
"Maaf, Bos. Tiba-tiba saja ada seorang wanita menyelamatkan dia, Bos," ujar pria bertato.
"Ahhh! Sialann!" murka Pria itu.
"Kali ini lo bisa lolos, Ray! Tapi liat aja, gue nggak akan menyerah. Lo harus mati mengenaskan seperti adik gue! Nyawa di bayar nyawa!" Pria itu mengepalkan tangannya kuat kemudian meninju dinding dengan keras.
Yuhuu! otor kembali dengan membawa rekomendasi cerita yang sangat bagus nih. kUyyy lah kepoin tunggu apa lagi 👇
__ADS_1