
Sinar matahari telah tenggelam tergantikan dengan gelapnya malam, Dela, Gala, Satria dan yang lainnya masih berada di rumah Ella. Mereka akan menginap di sana karena Galang dan Ray akan lembur dan di perkirakan pulangnya malam begitupun juga dengan Ragil yang kini menjadi aspri Ray. Ini memang wekend namun ketiga pria itu tidak berlibur seperti yang lain di karenakan ada masalah di perusahaan yang harus segera di atasi.
"Ada masalah apa sih, Dek di kantor? Sampe si Alang-alang ikut turun tangan segala," tanya Satria yang baru saja kembali dari kamar seusai menidurkan Sasa.
"Katanya masalah yang cukup besar, tapi nggak tau apa? Gue belum nanya sama Kak Ray," jawab Ella yang tengah asik memakan camilan.
"Apa gue susulin mereka aja ya? Takutnya masalah besar," ucap Satria.
"Nggak usah, Bang. Gue udah suruh si Dave buat bantuin mereka. Abang di sini aja temenin kita," ujar Ella.
"Bener tuh, Yang. Kata Ella, kamu di sini aja. Masa di sini nggak ada cowoknya sih," tambah Dalina.
Di sana memang hanya ada mereka dan dua asisten wanita, karena Wina dan Samsul sedang pergi ke luar kota.
"Iya dah," putus Satria.
"Gagal, iat deh belbie Zua, bagus kan? Cantik kaya Zua," ucap Zura sembari memperlihatkan sebuah barbie mungil berambut pink.
"Iya cantik, tapi nggak bawel kayak kamu," sahut Gala yang tengah bermain game di ponsel Dela.
"Zua nggak bawel kok, Gagal. Benelan," ujar Zura.
"Ya ya ya."
"Gagal, main balbie sama Zua yuk. Gagal jadi pangelan, Zua jadi putlinya," ajak Zura.
"Nggak ah, males," respon Gala.
"Ayolah, Gagal. Kamu kan baik, manis lagi sepelti gula," rayu Zura.
"Gala gulanya, kamu semutnya yang selalu nempel." Cibir sang mimom namun Zura hanya acuh
"Baru aja tadi bilang nggak mau jadi ulat, eh sekarang nempel lagi. Centil amat anak lo, Dek," tambah Satria.
"Om sesat diem deh," pelotot Zura.
"Kenapa jadi manggil, Om sesat?" Satria menatap Zura dengan kening yang mengerenyit.
"Kalela ucapan yang kelual dali mulut, Om itu sesat semua," jawab Zura ketus.
"Kalo itu, Mimom setuju," sahut Ella.
"Tante juga setuju," tambah Dalina.
"Emangnya gue ini setan apa? Enak aja ucapan gue sesat. Asal kalian tau ya, yang gue omongin itu pakta, tau nggak pakta?" sewot Satria.
"Tau kok, Om. Minuman yang belsoda itu kan." Zura yang menjawab.
"Serah." Satria melengos pergi ke dapur.
Setelah Satria pergi, Zura kembali mendekati Gala namun seperti biasa Gala hanya acuh saja. Bosan di acuhkan, Zura pun beranjak mendekati Zam yang sedang memainkan laptop, entah apa yang sedang dia lakukan yang jelas jari jemarinya sedang menari di atas keyboard laptop tersebut.
"Abang main yuk, Zua bete tau," rengek Zua.
__ADS_1
"Main apa?" tanya Zam tanpa mengalihkan atensinya dari layar laptop yang menyala.
"Main balbie, Abang jadi pangelan nya. Soalnya Gagal nggak mau." Zura nampak cemberut .
"Iya, tunggu bentar," jawab Zam.
"Abang lagi ngapain sih?" tanya Zura penasaran.
"Ngerjain sesuatu," jawab Zam.
"Iya apa?"
"Anak kecil nggak bakal ngerti."
"Bukannya, Abang juga anak kecil? Kita kan kembal, jadi umul kita sama, Bang," ucap Zura.
"Umur yang sama, tapi otak beda. Ayok main." Zam menutup laptopnya kemudian menuntun Zura untuk kembali duduk di karpet yang banyak mainan Zura.
Zam dan Zura memang berbeda, jika Zura cenderung bawel dan juga suka mengoleksi banyak mainan seperti anak yang lain bahkan jumlah mainnya hampir memenuhi satu ruangan yang hanya di isi dengan mainan Zura. Berbeda dengan Zam, dia tidak suka mainan, dia lebih suka memancing dan juga bermain laptop. Dia mengenal laptop sejak saat dia tak sengaja melihat laptop Pipopnya yang terbuka kemudian memainkannya. Darisanalah Zam meminta di belikan laptop pada sang pipop.
"Lucu kali ya, kalo kita besanan, Ell," ucap Dela sembari memperhatikan Zura yang tengah bermain barbie ala kerajaan Bersama dengan Zam.
"Lucu sih, tapi kayaknya anak lo nggak tertarik sama anak gue," sahut Ella.
"Itukan sekarang, nggak tau kedepannya. Bisa aja Gala naksir sama Zura. Secara Zura kan cantik," ujar Dela.
"Iyalah cantik, secara emaknya primadonat kampus," bangga Ella.
"Kenyataan, Bu!"
Waktu sudah hampir tengah malam, Zura, Gala dan Zam sudah tertidur di kamar. Sementara para orang tua masih asik mengobrol di ruang keluarga. Kiana sedari tadi nampak asik bermain ponsel, sepertinya sedang chatan dengan Ragil.
"Bentar lagi kalian lulus nih." Dalina memandangi ketiga wanita yang sama-sama sedang bermain ponsel.
"Iya, Kadal. Waktu terasa cepet banget. Rasanya baru kemaren aku masuk kuliah, terus di jodohin. Nikah sama dosen sendiri sampai akhirnya tau enak-enak," sahut Ella.
"Wehh! Dasar omes! Enak-enak mulu yang ada di otak lo!" Cibir Satria.
"Situ yang omes, emangnya enak-enak tu cuma nganu doang. Banyak kali," sewot Ella.
"Ngeles ae lu, Maemunah!"
"Gue nggak nge les ya, ngapain les. Gue udah pinter ini. Elu tu, Bang yang kudu les, biar somplak lu ilang," sungut Ella.
"Wah, bener-bener ni, Bocah! Kudu gue kasih pelajaran biar nyaho!" sengit Satria.
"Nggak usah, Bang. Gue udah kenyang sama pelajaran. Dari SD SMP, SMA. Sampe kuliah di kasih pelajaran mulu, bosen gue, Bang," sahut Ella.
"Gue juga bosen debat mulu ama elu, kapan kita akur nya si, Dek?" melas Satria.
"Itumah elu, Bang yang pengen debat mulu. Gue mah enggak, cukup pemilihan presiden aja yang selalu debat, kita jangan," ujar Ella.
"Punya adek gini amat si," dumel Satria.
__ADS_1
"Sabar, Yang. Ini ujian." Dalina menepuk bahu sang suami.
"Dari SD ujian mulu, tapi nggak pernah dapet nilai tinggi. Selalu aja rendah, bahkan lebih rendah dari badan kamu, Say," jawab Satria.
"Apa? Jadi maksudnya kamu ngatain aku pendek gitu, hah?" marah Dalina.
"Eh, bukan gitu, Yang. Aku kan cuma-----"
"Cuma ngomong kenyataan kan, Bang," potong Ella dengan tersenyum mengejek.
"Bangsat!" teriak Dalina murka.
"Ampun, Yang. Bukan aku yang ngomong, tapi si adek luknut noh." Satria berlari saat menyadari Dalina mulai emosi.
"GO, Kadal! Ayo kejar Bangsat! Kejar! Kejar! Kejar" seru Ella heboh.
"Adeuh, kalian ini. Selalu aja ribut." Kiana menggelengkan kepalanya.
"Kayak lo nggak pernah ribut aja sama si, Lirik," sahut Ella.
"Aku sama, Bang Riki jarang ribut kok," ujar Ella.
"Masa sih? Apa cuma gue doang yang selalu ribut sama abang sendiri?"
"Mungkin."
"Dek, tanggung jawab lo! Kak----"
"Gue nggak ngebuntingin lo, Bang. Ngapain tanggung jawab." Lagi-lagi Ella memotong ucapan Satria.
"Suee! Lu! Maksud gue lu kudu tanggung jawab karena gara-gara elu, bini gue nggak mau bobo bareng gue," sungut Satria.
"Oh, alhamdulillah kalo begitu. Jadi malam ini Kadal bisa bebas dari, Bangsat sesat kayak elo!"
"Adek luknut, sini lo!" Satria menarik tubuh Ella kemudian menggelitikinya seperti biasa.
"Aduh geli, Bang! Ampun!" teriak Ella.
"Makanya jangan macem-macem." Satria tertawa puas.
"Nggak macem-macem kok, Bang. Cuma satu macem doang," ucap Ella dengan terengah.
"Rasain ini," seru Ella kala dia berhasil mendorong Satria sampai terlentang di karpet kemudian dia langsung menduduki perut Satria da menggelitiki ketiaknya.
"Kalian lagi ngapain?" Intonasi bariton Ray membuat tangan Ella yang sedang menggelitiki abangnya terhenti dengan atensi yang menoleh ke asal suara.
Jejak dong guys 😘 like gitu biar mangat ini😳
Otor punya rekomendasi cerita bagus lagi nih, jan lupa kepoin sembari nunggu si Ella up. Di jamin suka sama ceritanya karena cerita yang otor rekomendasiin pada seru semua😍
__ADS_1