Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Ternak kodok


__ADS_3

"Ciee... Ada yang senyum-senyum sendiri. Ekhem," goda Ella pada Kiana.


"Eh, apasih, Ell..." Kiana tersipu malu karena ketahuan tersenyum sendiri entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Kamu mikirin apa sih, Ki?" Kali ini Dela yang bertanya.


Mereka sedang berada di ruangan pakultas manajemen. Belum ada Ray masuk, jadi mereka asik mengobrol.


"Eng-gak mikirin apa-apa kok." Kiana terlihat gugup.


"Boong banget, kamu pasti lagi mikirin Rendi kan?" tebak Ella.


"Enggak, sotoy kamu," Kilah Kiana.


"Jujur aja sih, Ki. Kita malah seneng kok, kalo kamu deket sama Kak Rendi," timpal Dela.


"Selamat pagi." Obrolan mereka terhenti kala sebuah suara bariton ber-intonasi di hadapan mereka.


"Pagi, Pak!" jawab mereka serempak.


"Seperti yang saya bahas kemarin, hari ini kalian akan mempelajari Desain inovatif. Atau lebih tepatnya berpikir Desain inovatif. Apa itu Desain inovatif? Jawabannya kalian harus membuat Desain apa saja sesuai kemampuan dan pola pikir kalian. Di sini kalian bebas mengkreasikan kemampuan kalian dalam bidang Desain, mau dalam pola atau bentuk apapun," jelas Ray dengan wajah datar, dingin namun sangat tegas.


"Jika ada yang tidak kalian pahami, boleh di tanyakan," lanjutnya.


"Bikin desainnya lewat komputer atau kertas, bapak dosen?" tanya Ella.


"Untuk saat ini gunakan kertas dahulu untuk mengolah kemampuan awal kalian." jawab Ray.


"Pake pensil?" tanya Ella lagi.


"Pakai arang, tentu saja pakai pensil."


"Ih, ketus banget sih bapak dosen. Aku kan cuma nanya, takutnya pakai spidol atau pulpen gitu." Cebik Ella.


"Apa dengan menggunakan spidol atau pulpen bisa di hapus kalau salah?" tanya balik Ray.


"Bisa, lah....," jawab Ella yakin.


"Ok, terserah kamu. Mau menggunakan apapun bebas, mau menggunakan arang sekalipun silahkan," ucap Ray dingin.


"Dasar nyebelin, awas aja ya," gerutu Ella kesal. Bisa-bisanya Ray bersikap dingin seperti itu, padahal emang Ray selalu dingin jika di kampus, Ella saja yang baperan.


Mereka pun mengerjakan apa yang di perintahkan Ray, mereka menggambar Desain dalam selembar kertas putih yang Ray bagikan.


"Aku gambar apa ya?" gumam Ella.


"Tadi, kak Ray kan nyuruh gambar desain sesuai kemampuan. Berati apa yang ada di otak aku? Ok, deh. Aku gambar apa yang sedang aku pikirin aja," tukas Ella.


Selang beberapa menit, sepertinya mereka sudah selesai membuat Desain. Terlihat mereka menghela napas lega, ada juga yang merentangkan tangan.


Ray mendongkak, dia mengalihkan atensinya dari laptop yang sedang dia tatap. Melihat sekeliling nampaknya para siswa/siswi sudah selesai mengerjakan tugas. Dia pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri satu-persatu dari mereka secara bergantian.


"Apa yang kamu buat?" tanya Ray saat dia berada di hadapan Alvin.


"Mobil, Pak. Karena saya suka membuat desain mobil yang unik yang belum pernah ada," ujar Alvin.


Ray pun melihat mobil seperti apa yang di gambar oleh Alvin. "Bagus. Kamu sangat berbakat." Puji Ray.


"Terima Kasih, Pak. Saya memang suka menggambar seperti ini dan semoga saja suatu saat nanti, saya bisa membuat mobil sungguhannya." Alvin menyunggingkan sedikit senyuman.


"Kamu anak yang hebat, kamu pasti bisa menggapai cita-citamu." Ray berjalan kembali untuk menghampiri yang lainnya.


Dia menghampiri Diego, Dela, Kiana, Jesika dsb. Ella mendapat giliran terakhir sehingga membuatnya cemberut, karena dia berpikir Ray mengabaikan nya.


"Kamu gambar apa?" Ray yang berdiri di depan Ella menatap lamat wajah istrinya.


"Liat aja sendiri, situ punya mata kan?" ketus Ella.


Ray tersenyum tipis, bahkan nyaris tidak terlihat. Dia tau istrinya sedang merajuk saat ini. "Ini gambar apa?" Ray menunjuk gambar yang di buat oleh Ella.


"Keliatannya itu apa?" Dia malah balik bertanya.


"Kodok."


"Itu tau, kenapa pake nanya?" Masih dengan nada yang ketus.


"Maksud saya, kenapa kamu gambar kodok? Apa ini termasuk suatu benda yang bisa di pasarkan?" tanya Ray.


"Bisa," jawab Ella cepat.


"Inikan bapak kodok." Menunjukkan satu kodok berukuran besar. "Ini Mama kodok." Menunjukkan kodok berukuran sedang. "Dan ini anak kodok." Menunjukkan yang kecil.


"Lalu, di mana hubungannya dengan bisnis? Bisakah kodok-kodok ini menjadi uang? Tidak mungkin kan kalau di jadikan kripik kodok atau sate kodok." Sungguh Ray begitu pusing menghadapi siswi yang satu ini.


"Bisa, nanti tiga kodok ini bakalan berkembang biak jadi banyak. Terus di jual deh pada para peternak buat di jadiin pakan ternaknya," tutur Ella.

__ADS_1


"Jadi kamu pengen membuat usaha ternak kodok?" Ray menatap jengah sang istri.


"Ya, benar sekali. Nanti kalo ada kodok yang gede, aku mau coba masak, enak enggak di jadiin makanan. Aku mau nyuruh suami aku kelak, buat nyicipin," ucapnya tanpa dosa.


"Enak enggak, mati iya. Kamu tidak tau kalau kodok itu beracun?"


"Engga, aku taunya kodok cuma bikin meriang."


"Huhhhh!" Ray menghela napas kasar sembari mengambil gambar istrinya dan kembali ke depan. Dia tidak tau istrinya sedang pura-pura polos atau memang polos beneran.


"Hari ini ada dua matkul, jadi jangan langsung pulang setelah makan siang mata kuliah akan di lanjut kembali," ucap Ray lalu dia melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


"Kantin yuk? Laper nih," ajak Dela.


"Kuy lah, aku juga laper," sahut Ella.


"Yuk, Ki." Ella melirik Kiana yang nampak terbengong.


Merekapun berjalan ke kantin dengan beriringan, sesampainya di sana, seperti biasa Dela akan memesan makanan untuk mereka bertiga.


"Guys, pulang ngampus kumpul di rumah gue yuk?" ajak Ella.


"Ngapain?" tanya Kiana.


"Ya, ngumpul aja. Udah lama kan, kita nggak ngumpul-ngumpul," ujar Ella.


"Aku sih hayuk aja," sahut Dela.


"Gimana, Ki?" Ella melirik Kiana.


"Ada Rendi juga loh," lanjutnya menggoda.


"Em.. Ok."


"Cie.. Giliran ada Rendi aja langsung ok." Ledek Ella.


"Ngambek nih, di ledekin mulu." Cemberut Kiana.


"Iya, deh nggak di ledekin."


"Kita boleh gabung?" tanya Diego yang di belakangnya di intili oleh Jesika. Sementara Alvin, dia langsung duduk di sebelah Ella tanpa di suruh.


"Duduk aja," ujar Ella.


Diego pun duduk di hadapan Ella dengan diikuti oleh Jesika. "Pawangnya ngintil mulu, ya?" Cibir Kiana.


"Biasa aja kali gak usah ngegas, di sini gak ada tanjakan." Kiana mendelik.


"Stop deh gak usah debat. Mending kita makan sebelum kalian yang gue makan." Kesal Ella.


"Nimbrung aja lo, gadis tolol," sengit Jesika.


"Ngapa sih lo, gue udah diem masih aja kena semprot. Ada masalah apa si lo sama gue? Sensi amat perasaan," geram Ella.


"Lo sengaja kan? Caper sama Pak Ray?" tuduh Jesika.


"Siapa juga yang caper? Emang gue kurang perhatian apa? Pake acara caper segala," delik Ella.


"Gak usah dengerin dia, Ell. Dia itu emang gitu, suka cari masalah," timbrung Kiana.


"Kaum rakyat jelata saling membela," Cibir Jesika.


Tidak ada yang menanggapi ucapannya, mereka malah asik menyantap makanan pesanannya.


"Go... Aku laper..." Jesika merengek manja pada Diego.


"Makanlah kalo laper," ketus Diego.


"Anterin ke resto yuk? Cari makanan yang higenis," rengek Jesika.


"Makan aja makanan di kantin, toh sama-sama makanan." Diego berucap tanpa melirik Jesika sama sekali.


"Tapi di sini pasti makannya jorok, gak mau ah." Jesika bergelayut manja di lengan Diego.


"Hidup pas-pasan aja tingkahnya selangit." Sindir Kiana.


"Apa lo bilang? Heh, asal lo tau. Gue itu anak orang kaya, anak orang terpandang. Emangnya elo, anak haram!" Sengit Jesika tak terima.


"Aku bukan anak haram," Kiana berucap dengan santai seolah tidak sakit hati.


"Oh, ya? Bukan anak haram? Ok, kalo gitu. Anak pembawa sial, itu lebih cocok buat lo." Jesika menatap Kiana dengan tatapan mengejek.


"Bahkan, karena elo, keluarga lo hancur. Dan abang lo, eh. Abang tiri lo benci setengah mati sama, lo. Kasian banget sih. Udah lahir jadi anak haram, anak pembawa sial, terus sekarang jadi penghancur keluarga sendiri. Ck, ck, ck. Bener-bener ya." Lanjut nya.


Brakk!

__ADS_1


Bukan Kiana yang menggebrak meja, melainkan Ella yang sudah geram mendengar perkataan Jesika yang begitu menyakitkan. Walaupun dia melihat Kiana yang nampak biasa saja, tetapi dia tau, jauh di dalam lubuk hatinya pasti dia merasakan sakit yang begitu mendalam.


"Jaga omong kosong lo itu!" Bentak Ella.


"What! Omong kosong? Hey, lo denger ya. Dan kalian semua juga denger. Kiana itu adalah anak haram sekaligus anak pembawa sial. Karena dia, bokapnya mendekam di penjara." Jesika berucap dengan nada penuh kemenangan.


Terlihat banyak sekali siswa/siswi yang sedang makan di kantin berbisik membicarakan Kiana sembari menatap sinis ke arahnya. Mereka seolah jijik dan benci pada Kiana.


"Jess! Lo bisa diem gak? Mulut lo jangan bicara seenaknya dong. Lo tau gak? Omongan lo itu nyakitin orang lain." Diego bangkit dari duduknya hendak menarik Jesika pergi


"Tunggu Go!" Cegat Ella.


Byurrrr!


Ella menyiramkan sekegelas besar penuh teh manis dingin ke kepala dan juga wajah Jesika.


"Lo!" Marah Jesika dengan tangan yang hendak memukul Ella.


"Biar otak lo dingin, dan setan yang bersarang di otak lo pergi. Karena setan suka tempat yang panas seperti otak dan hati lo." Ella menangkis tangan Jesika dengan kasar.


"Bawa dia pergi sebelum kesabaran gue habis sehingga membuat kepalanya terlepas!" Ella menatap tajam Diego dengan penuh ancaman.


"Sekali lagi gue denger lo menghina temen gue, lihat aja apa yang bakal gue lakuin," lanjutnya dengan atensi yang menatap Jesika dengan penuh amarah.


Dengan buru-buru Diego langsung menarik tangan Jesika pergi, entah mengapa dia sangat takut dengan tatapan Ella yang menurutnya sangat menyeramkan sehingga membuat bulu kuduk nya merinding. Hawa yang tadinya panas pun seketika berubah dingin mencekam.


"Makasih, Ell. Karena udah ngebelain aku. Sekarang kalian udah tau kan, aku siapa. Jadi, kalo kalian mau benci aku dan gak mau temenan lagi sama aku. Gak pa-pa kok, aku ngerti," lirih Kiana sembari menatap Ella dan juga Dela secara bergantian.


"Lo ngomong apa sih, Ki. Gue itu gak pernah mandang orang dari status maupun latar belakangnya. Jadi, mau seperti apapun elo, siapapun elo. Gue gak peduli, yang gue tau, elo itu adalah sahabat gue. Sahabat terbaik gue," ucap Ella tulus.


"Bener, Ki. Ella itu baik tanpa pamrih. Kamu tau? Aku ini hanyalah seorang anak yatim piatu yang bernasib malang. Kalau gak ada Ella, aku gak tau gimana nasib hidup aku sekarang. Jadi mulai sekarang jangan merasa sungkan lagi sama kita, karena kita adalah sahabat sejati." Dela juga ikut menimpali.


"Makasih banget... Aku bersukur bisa ketemu sama orang-orang sebaik kalian. Aku sayang kalian." Kiana memeluk Ella dan juga Dela secara bersamaan. Kini mereka bertiga berpelukan.


"Teletabis," gumam Alvin yang terdengar oleh mereka bertiga.


"Dasar kulkas, orang ribut ini malah diem bae kek patung pancuran," Cibir Ella.


"Hm."


"Haiss, terbuat dari apasih ni orang. Kayaknya meskipun ada kebakaran dan orang-orang berlarian, dia akan diem aja sampe gosong ke panggang," ucap Dela jengah.


"Gitu tuh kalo orang super hemat, suara aja menghemat. Makannya jangan ada yang mau jadi cewek dia, bisa-bisa mati kelaparan." Kiana ikut me nimbrung.


Tanpa sepatah kata pun, Alvin melengos pergi melewati mereka begitu saja. "Kenapa si tu anak kok dingin banget gitu?" Heran Dela.


"Mungkin dia punya alasan," ujar Ella karena dia tau Alvin tidak sedingin itu saat bersamanya dan juga Ray, apalagi Satria, dia begitu akrab dengan abangnya itu.


"Em, sorry Ki. Bukannya gue mau ikut campur, tapi gue heran aja, kenapa Jesika bisa tau tentang kehidupan lo?" tanya Ella segan.


"Jesika itu, tetangga aku. Bahkan rumah kita berdekatan," jawab Kiana.


"Oh, pantes. Dia itu anak orang kaya?" tanya Ella lagi.


"Bukan, dia itu cuma tinggal sama neneknya, karena orang tuanya udah meninggal. Neneknya juga cuma seorang pedagang pisang di pasar," ujar Kiana.


"Tapi gaya nya selangit ya. Kayak anak orang kaya, tampilannya juga wah banget," ucap Dela.


"Itu karena dia punya kerjaan sampingan."


"Oh, dia kerja apa?" Dela menjadi kepo.


"Entahlah, aku gak tau."


Ella sebenarnya juga ingin menanyakan tentang apa yang di ucapkan oleh Jesika, tetapi dia takut Kiana tersinggung dan sakit hati. Dia begitu penasaran akan kehidupan Kiana, namun, ya sudahlah. Dia akan menunggu Kiana bercerita dengan sendirinya.


"Kalo ada apa-apa ataupun butuh bantuan, lo bilang ke gue ya. Jangan sungkan," ucap Kiana pada Ella.


"Siap!" Kiana berhormat.


"Eh, ngomong-ngomong kok akhir-akhir ini kamu jadi ngomongnya lo gue sih, Ell? Biasanya kan aku kamu." Heran Dela.


"Tertular virus kampus ini, mereka pada gaul ngomongnya. Jadi aku juga ngikut. Gak pa-palah biar gaul sekali-kali," cengir Ella yang kembali ke aku.


"Hais, kamu ini. Yuk ah kita kembali ke kelas keburu pak Ray dateng. Entar kita gak di bolehin masuk lagi," ajak Dela.


"Tenang aja, kan istrinya di sini. Mana mungkin gak di ijinin masuk," ujar Kiana.


"Dia itu gak mandang istri kalo lagi di kampus, aku tu sama aja kayak siswi lainnya. Gak di spesialin." Ella melangkah pergi mendahului mereka.


"Tunggu, Ell." Mereka berdua menyusul.


Ella berjalan sembari bermain ponsel, dia membalas chat yang entah dengan siapa. Saking seriusnya dia tidak menanggapi ocehan kedua temannya.


Brukkk!

__ADS_1


Ella bertabrakan dengan seseorang...


Jangan lupa tinggalkan jejak. Like, comennya ya. Dan Vote. Hari senin loh ini😘😘😘


__ADS_2