Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Vino ice cup


__ADS_3

Hari ini Ella sudah kembali sehat seperti sedia kala, dia sudah ceria kembali dan juga sudah pulang ke kediaman keluarga Wardana. Pagi-pagi sekali Ella sudah di sibukan dengan aktipitas seperti biasa, yaitu memandikan si kembar yang super aktip. Setelah bersih dan juga wangi, barulah Ella berangkat ke kampus. Untuk memberi makan dan sebagainya, itu adalah urusan Wina.


Ella saat ini sedang mengendarai motornya menuju ke arah kampus, dia memang tidak berangkat bersama Ray, di karenakan Ray berangkat sangat pagi sekali. Di pertengahan jalan, Ella melihat dua orang pria berbaju hitam tengah memukuli seorang pria paruh baya namun dari tampila pria paruh baya itu. Sepertinya dia adalah orang kaya.


"Hentikan!" teriak Ella setelah dia menghentikan laju motornya.


"Siapa kau? Tidak usah ikut campur urusan kami." Bentak salah satu pria itu.


"Tentu saja aku harus ikut campur, karena aku tidak suka penindasan." Ella berjalan mendekati mereka.


"Kamu belum tau siapa kami, Nona. Lebih baik kamu pergi sebelum kamu menyesal," ucap Pria yang satunya lagi.


"Aku tidak akan pergi sebelum kalian melepaskan, Bapak itu." Ella menunjuk Pria paruh baya yang terbaring lemah dengan wajah penuh lebam.


"Kami tidak akan melepaskan pria tua itu, karena kami sedang menjalankan tugas." Pria itu nampak mendelik kesal.


"Tugas?"


Ella memperhatikan kedua pria itu secara lebih seksama, hingga sedetik kemudian Ella terlihat menyeringai.


'Anggota Black Rose,' gumam Ella dalam hati.


"Pergi darisini, Nona. Atau kami akan membuatmu pergi menuju ke alam bakal," marah Pria itu.


"Silahkan saja kalau bisa," tantang Ella santai.


"Kita bereskan dia." Melirik satu sama lain.


"Ck, mengganggu saja. Kita bunuh saja dia langsung, supaya kita cepat menyelesaikan tugas ini."


Terlihat salah satu pria mengeluarkan sebuah pistol yang berlambang mawar hitam walau sangat kecil namun Ella dapat melihatnya.


"Selamat jalan, Nona. Jangan salahkan kami jika kamu mati dengan sia-sia, karena kamu yang menantang kami." Pria itu mengarahkan pistolnya tepat pada kepala Ella.


Ella hanya terlihat santai, dia tidak takut maupun gentar. Hingga jemari pria itu menarik peletuk pistol dan..


Dorrr!


Satu tembakan meluncur, kali ini Ella tidak menangkap pelurunya. Karena Ella sedang tidak mengenakan sarung tangan transparan anti peluru. Maka dari itu dia hanya menghindar dengan melompat saat peluru itu sudah mengarah padanya. Dan di saat pria itu lengah, Ella buru-buru merebut pistolnya, kemudian Ella menyerang kedua pria itu dengan tangan kosong.


Bughh!


Butuh!


Dugghh!


Dakhh!


Perkelahian tak dapat ter-elakan lagi, kedua pria itu melawan serangan Ella secara membabi buta dan juga tanpa jeda. Lain halnya dengan Ella yang nampak santai bahkan dia masih sempat bercanda kala kedua pria itu terus memojokannya.


"Ternyata cuma segini kemampuan anggota Balck Rose," ucapan Ella sontak saja membuat kedua pria itu berhenti dan menatap ke arah Ella tajam.


"Siapa kau? Mengapa kau mengetahui identitas kami," tanya Pria itu kaget sekaligus penasaran.


"Yakin, mau tau siapa aku?" Ella menyeringai tipis.


"Jangan banyak bacot, katakan saja siapa kau? Atau jangan-jangan kamu adalah mata-mata dari musuh kami?" tebak Pria itu.


"Aku manusia, bukan mata-mata apalagi mata sapi." Ella bersidekap dada.


"Bunuh saja dia! Sepertinya dia memang mata-mata," ucap Pria yang satunya.


"Hiyaaa! Mati kau!"


Mereka kembali menyerang Ella dan seperti biasa Ella terlihat santai. Dia hanya melawan sedikit, selebihnya dia hanya menangkis serangan musuh. Setelah di lihat musuh mulai ke lelahan. Barulah Ella beraksi dan sejurus kemudian kedua pria itu sudah terkapar di aspal karena tinjuan maut Ella.


"Bisa di lihat, bukan aku yang akan mati. Tapi kalian." Ella menginjak dada dari salah satu pria itu.


"Hekk, siapa kamu sebenernya?" Pria itu terlihat merasa sesak dengan tubuh lemas.


"Mau tau siapa aku?"


Dughh


Ella menendang pria itu dengan cukup keras sehingga membuatnya memekik kesakitan. Setelah pria itu tak berdaya. Ella beralih ke pria yang satunya lagi dan dia melakukan hal yang sama.


"Am-puni kami," ucap pria itu lemah.


"Ja-ngan bu-nuh ka-mi," timpal yang satunya lagi.


Mereka pun bersingut dan memengang kaki Ella, mereka memohon untuk tidak di bunuh. Karena mereka mempunyai istri dan juga anak yang masih kecil, apalagi salah satu dari pria itu mengaku. Jika istrinya sedang hamil besar saat ini dan memerlukan banyak biaya. Maka dari itu mereka mengambil pekerjaan keji ini untuk menghidupi istri dan juga anak mereka.


"Apa tidak ada kerjaan lain, selain bergabung dengan Black Rose? Aku baru tau jika Black Rose adalah gangster pembunuh bayaran." Ella berbicara dengan bersidekap dada.


"Kami terpaksa, karena sangat sulit mencari pekerjaan di kota besar ini untuk orang tak berpendidikan seperti kami," jawab salah satu dari mereka.


"Kalau begitu, keluar dari Black Rose. Dan carilah pekerjaan yang lebih baik," titah Ella.


"Kami tidak berani, karena jika kami keluar. Keluarga kami jadi taruhannya."


"Hm, kalau begitu. Bekerja samalah denganku. Aku tidak akan menjadikan kalian pembunuh bayaran," tawar Ella.

__ADS_1


"Bekerja sama?"


"Ya, dan aku jamin kalian ataupun keluarga kalian akan aman dalam pengawasanku."


"Tapi kamu belum tau, Nona. Ketua Black Rose itu sangat kejam dan juga licik."


"Aku tau, dan itu tidak ada apa-apa nya buatku. Black Rose hanyalah gangster baru, bukan tandingan ku," ucap Ella.


"Siapa sebenarnya, Nona ini?"


"Kalian akan tau siapa aku nanti. Sekarang kalian ikutlah dengan anak buahku. Guys!" Ella memanggil para anggota AOD bayangan.


"Siap Quin!" Tempat yang tadinya sepi kini menjadi ramai dengan para anggota yang berdatangan dan membuat kedua pria itu menganga penuh tanya. Siapa sebenarnya wanita yang ada di hadapan mereka?


"Bawa kedua pria ini ke markas. Dan juga obati pria itu di klinik markas." Ella menunjuk kedua pria yang sedang terduduk dan juga pria paruh baya yang kini sudah tak sadarkan diri.


"Baik Quin!" Jawab mereka serempak.


"Ok, cepat laksanakan. Pulang kuliah aku akan menyusul ke markas." Ella berlalu pergi menaiki motornya.


Ella kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kampus. Beberapa saat kemudian dia telah sampai di gedung tinggi menjulang itu, dia pun segera masuk. Tetapi sayang, sepertinya dia telat dan pembelajaran sudah berlangsung. Ella pun tidak jadi masuk, melainkan dia terus berjalan menuju ke arah ruangan Ray.


"Nanti ajalah ikut matkul kedua, matkul pertama udah telat banget." Ella merebahkan tubuhnya di sofa.


Namun vibrasi ponselnya mau tak mau membuat Ella harus mendudukan tubuhnya kembali.


"Paan?" tanya Ella pada si penelpon.


"Ck, iya-iya gue kesana." Ella bangkit kemudian dia berjalan keluar dari ruangan Ray.


"Enak banget hidup lo, dateng telat. Nggak ikut pelajaran. Sekarang udah mau pergi aja. Gini amat istri dosen, mencemarkan nama baik kampus!" tegur Misya saat Ella hendak berjalan ke parkiran.


Ella hanya melirik Misya sekilas, lalu dia melanjutkan langkahnya kembali tanpa memperdulikan ocehan Misya.


"Woy! Gue ngomong sama lo!" teriak Misya.


"Oh, gue kira lo ngomong sama tembok!" Ella melirik ke arah Misya sekilas kemudian dia berlalu pergi.


*********""


"Kenapa?" tanya Ella saat dia sudah sampai di markas.


"Lo tau nggak? Siapa pria yang lo bawa tadi?" tanya David balik.


"Yang mana? Anggota Black Rose?"


"Bukan, yang korbannya itu loh."


"Dia itu ayahnya pemimpin gangster Bulan sabit," ujar David.


"Jadi dia itu ayahnya si Vino?" kaget Ella.


"Iya, lo emang nggak tau siapa ayahnya si Vino?"


"Gue nggak tau."


"Lo masih temenan sama dia 'kan?"


"Nggak sedeket dulu sih, karena sekarang kita beda semester. Kalo untuk ketemu, sempet beberapa kali. Tapi kita masih berteman baik kok."


"Ya udah, lo balik lagi ke kampus. Terus kasih tau dia kalo ayahnya lagi di rawat di mari," titah David.


"Eh dodol, dia kan nggak tau kalo gue peminpin AOD. Terus kalo dia nanya kenapa gue bisa tau kalo bokapnya lagi di rawat di markas AOD, gue mesti jawab apa coba?"


"Eh, iya, ya."


"Terus sekarang gimana?"


"Pindahin aja bokapnya si Vino ke rumah sakit. Ntar gue bilang sama si Vino, kalo bokapnya di larikan ke rumah sakit karena di kroyok orang."


"Emangnya lo mau jawab apa nanti, kalo dia tanya kok lo bisa tau kalo itu bokapnya dia?"


"Ck, tinggal bilang aja gue tau dari ponsel bokapnya. Kan di sana pasti ada poto-pito si Vino."


"Yakin banget lo."


"Coba aja cek."


David pun mengambil ponsel ayahnya Vino dan membuka galeri poto dan benar saja, disana terdapat banyak sekali poto Vino dan juga istrinya.


Sebelum Ella kembali ke kampus, dia menemui kedua pria anggota Black Rose tadi. Dia menunjukkan poto seseorang kepada mereka berdua untuk memastikan sesuatu. Dan benar saja, tepat seperti dugaannya. Setelah praduganya benar, Ella pun tersenyum miring kemudian dia melangkahkan kakinya keluar dari markas. Dia menunggangi motornya kembali dan melajukannya menuju ke arah kampus.


Sesampainya di sana, Ella langsung mencari Vino. Jam segini biasanya pria itu sedang berada di taman kampus.


"Kalian saling kenal?" Ella menegur Adit yang tengah duduk berdua di kursi taman dengan Siska. Masih ingat Siska? Teman Ella sebelum dia cuti melahirkan dan Vino juga.


"Eh, Kak Ella. Kok kak Ella kayak jelangkung ya, ada di mana-mana?" Adit mendongkak.


"Yang ada di mana-mana itu bukan jelangkung, tapi malaikat," jawab Ella.


"Ngapain lo di sini, Didit markidit?" tanya Ella.

__ADS_1


"A-nu, Kak. Aku lagi nanya sesuatu sama, Kak Siska," jawab Adit gugup.


"Iya, Ell. Dia lagi nanya pelajaran yang nggak dia ngerti sama gue," timpal Siska.


"Oh iya, tumben kamu di sini? Lagi ngapain?" lanjutnya.


"Lagi nyari si Vino ice cup. Dia di mana ya?"


"Tadi gue liat, dia pergi ke perpus, Ell. Emang ada apa lo nyariin dia, tumben," heran Siska.


"Ada sesuatu."


"Jangan macem-macem, Ell. Ingat udah punya laki," peringat Siska.


"Siapa juga yang mau macem-macem. Tenang aja, lo nggak usah cembukur," ujar Ella.


"Ih, siapa juga yang cemburu. Ngapain juga cemburu sama si Vino. Lo tau kan, dari dulu kita itu cuma temenan," tutur Siska.


"Iya deh, yodah kalo gitu. Gue nyari si Vino dulu ya," ucap Ella.


"Ok, dan oh ya. Kapan-kapan kita main bareng lagi dong, Ell. Lo mah selalu sibuk sama temen baru lo. Gue sama Vino di lupain," cemberut Siska.


"Ok, bisa di atur. Gue nggak pernah lupain kalian kok, tenang aja. Karena gue nggak anemia, buktinya gue masih inget sama lo." Ella berlalu pergi.


"Ella masih tetap sama, lucu," gumam Siska yang masih terdengar oleh Adit.


"Kalo aku, lucu nggak, Kak?" tanya Adit.


"Ck." Siska mendelik.


Ella berjalan sambil celingukan mencari keberadaan Vino, dia bahkan sampai mengangkat buku-buku yang berjejer di perpus.


"Nyari apa, Ell? Kenapa bukunya di angkatin gitu?" tanya Vino menghampiri Ella.


"Nyari si Vino ice cup, siapa tau nyempil di sini," jawab Ella tanpa mengalihkan atensinya dari buku-buku yang berjejer.


"Ck, lo pikir gue kecoa apa?" Cebik Vino.


"Ah! Ternyata elo Vin. Gue pikir demit tadi yang ngomong." Cengir Ella.


"Ada apa lo nyariin gue?" tanya Vino.


"Mau jadiin lo simpanan," jawab Ella ngasal.


"Astaga nyebut, Ell. Lo udah punya lakik," ucap Vino.


"Maksud gue, mau jadiin lo simpanan di kulkas. Vino ice cup, sehat, segar ceria," seru Ella dengan menirukan jargon sebuah iklan.


"Ck, ternyata elo nggak berubah. Tetep lucu kayak dulu," ujar Vino.


"Nggak mungkin berubahlah, kan gue bukan power rangers."


"Oh iya, gue nyariin lo. Karena gue mau ngabarin kalo bokap lo masuk rumah sakit," sambungnya.


"Apa?! Bokap gue masuk rumah sakit? Kok bisa? Emangnya bokap gue kenapa, Ell?" Pekik Vino.


"Bokap lo di keroyok orang, Vin," jawab Ella.


"Di keroyok orang? Siapa? Berani-beraninya mereka ngeroyok bokap gue." Raut wajah Vino berubah seketika menjadi raut penuh kemarahan.


"Gue nggak tau, gue cuma liat dua orang lagi ngeroyokin seorang pria paruh baya. Karena gue kasian, yodah gue tolongin. Gue teriak sekenceng to minta tolong biar dua orang itu pergi. Setelah mereka pergi, gue bawa bapak itu ke rumah sakit. Pas gue cek ponselnya untuk nyari tau siapa keluarganya, eh gue nemuin poto lo dan langsung ngira itu bokap lo. Maka dari itu gue langsung buru-buru kesini," jelas Ella berbohong.


"Thanks, karena lo udah nyelamatin bokap gue. Kalo gitu gue pergi ke rumah sakit dulu sekaligus ngabarin nyokap," ucap Vino.


"Ok. Hati-hati di jalan, Vin."


"Ok, tapi gue belum tau di mana bokap gue di rawat."


"Ah iya, gue belum ngasih tau elo ya." Ella menepuk jidatnya sendiri.


Dia pun memberi tahu Vino di mana ayahnya di rawat, setelah itu Vino pun pergi begitu juga dengan Ella. Saat hendak mengikuti matkul kedua, ternyata dia telat lagi. Alhasil dia pun pergi ke parkiran, dia memutuskan untuk pulang saja. Saat berada di parkiran, dia melihat Kiana berjalan dengan terburu-buru.


"Lo mau kemana, Ki? Kok nggak ngikut matkul kedua?" tegur Ella.


"Eh, kamu, Ell. Iya nih aku lagi buru-buru. Aku udah izin kok sama, Pak Ray. Soalnya Ibu aku masuk rumah sakit dan kak Riki lagi ada di luar kota," tutur Kiana.


"Ya ampun, ayok gue anterin aja biar cepet," tawar Ella.


"Nggak usah, Ell. Aku udah di jemput kok." Kiana menunjuk ke arah mobil hitam yang sudah stay di depan gerbang kampus.


"Siapa, Ki?" tanya Ella kepo.


"Em, te-men, Ell. Iya temen. Kalo gitu aku pergi dulu ya, Bay." Kiana berlalu pergi.


Karena penasaran, dengan tergesa-gesa Ella segera melajukan motornya untuk melihat siapa yang di sebut Kiana teman. Namun sayang, mobilnya keburu pergi, akan tetapi Ella sekilas melihat pengemudi mobil hitam itu walau samar dan Ella yakin itu adalah seorang pria.


"Kayaknya gue kenal? Tapi siapa?" gumam Ella kemudian dia melajukan kembali motornya.


Jejak😘😘


Like, comen, fav and Vote okšŸ‘ jan pelit jempol karena otor ngetik juga pake jempol🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2