
Ray mengerejap kan matanya saat dirinya mendengar seseorang yang sepertinya sedang muntah jika terdengar dari suaranya. Dia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku dan juga pegal karna semalaman dirinya tidur disopa di karenakan sang istri tidak mengijinkan nya tidur di ranjang.
Hueek,
Suara itu terdengar kembali di telinga Ray, dia pun buru-buru menghampiri asal suara itu dan ternyata suara itu berasal dari kamar mandi.
"Sayang, kamu muntah lagi."Ray langsung membuka pintu kamar mandi karna memang Ella tidak menguncinya.
"Iya, sepertinya benar kata kak Ray. Aku keracunan makanan deh, perut aku gak enak banget serasa bergejolak gitu."jelas Ella.
"Kita ke dokter ya sekarang, kakak takut kamu kenapa-napa."Ray langsung membopong tubuh lemas Ella keluar dari kamar mandi.
"Bentar ya kakak siap-siap dulu."ucap Ray sembari membaringkan Ella di ranjang.
Selesai dirinya bersiap, kini Ray sedang membantu Ella untuk bersiap juga, setelah itu mereka pun pergi keluar untuk menuju rumah sakit karna waktu telah menunjukan pukul delapan pagi, Ray juga sudah memberitahu Kevin jika hari ini dirinya tidak akan mengajar, begitu juga dengan Ella dia tidak akan masuk kuliah.
Saat di perjalanan menuju rumah sakit Ella pun kembali mual, terpaksa Ray pun menghentikan laju mobilnya di tepi jalan.
"Minum dulu, sayang."Ray memberikan sebotol air mineral pada Ella yang terlihat begitu lemas seusai memuntahkan cairan bening.
Setelah dirasa Ella tidak lagi mual, Ray pun kembali melajukan mobilnya, sesekali dia juga melirik kearah sang istri dengan perasaan hawatir.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka di sebuah rumah sakit ternama du kota itu. Ray langsung saja membawa Ella kepada dokter Ryan dokter langganannya.
"Kenapa Ray, lu sakit?"tanya Dokter Ryan yang memang sangat akrab dengan Ray.
"Bukan gue, tapi bini gue Yan."Jawab Ray.
"Dia sakit apa?"
"Kagak tau, makannya gue mau priksa. Takutnya dia keracunan soalnya dari kemarin dia mual-mual mulu."Jelas Ray.
"Mual-mual?"
"Iya Dok."Ella yang menjawab.
"Apakah bulan ini kamu sudah mensturasi?"tanya Dokter Ryan.
Ella terlihat berpikir,
"Kayaknya belum deh, Dok."
"Kayaknya ini bagian Dokter Vani deh, periksanya."ujar Dokter Ryan.
"Emang lu kagak bisa, Yan?"tanya Ray.
"Gue bukan ahlinya di bidang entu, lu temuin Dokter Vani aja. Yok gue anterin."ucap Dokter Ryan.
Mereka pun keluar dari ruangan Dokter Ryan menuju ke ruangan Dokter Vani,
"Kak Ray, apa aku sakitnya parah ya? sampe harus ke dokter khusus begini."lirih Ella.
"Kamu tenang ya, apa pun itu kita akan berjuang bersama."ujar Ray sembari menggenggam tangan Ella.
__ADS_1
"Yuk masuk."ajak Dokter Ryan.
"Iya Dok."
"Selamat pagi, Dokter Vani nya babang Ryan."sapa dokter Ryan kepada dokter Vani.
"Pagi Dokter Ryan, ada apa?"tanya Dokter Vani.
"ini Dok, saya membawa istri teman saya yang mau periksa. Katanya dia udah telat."ujar dokter Ryan.
"Hallo cantik, silahkan duduk."sapa dokter Vani pada Ella yang masih betah bergelayut manja di tangan Ray.
"Baik, dokter."Ella pun duduk dengan diikuti oleh Ray yang juga duduk di sebelahnya.
"Untuk Dokter Ryan, anda silahkan keluar."ucap Dokter Vani judes.
"Ah, baiklah."Ryan pun segera pergi dari ruangan itu.
"Baiklah, bisa di jelaskan apa saja keluhan nya?"ucap Dokter Vani.
"Begini Dok, dari kemarin aku mual-mual terus perut juga rasanya gak enak banget seperti sedang di aduk-aduk begitu. Kira-kira saya sakit apa ya, Dok?"jelas Ella.
"Kita periksa dulu ya, supaya hasilnya lebih jelas."ucap dokter Vani, Ella pun mengangguk.
Setelah melakukan beberapa rangkaian peneriksaan, Ella pun di persilahkan duduk kembali.
"Jadi bagaimana Dok? istri saya sakit apa?"tanya Ray tidak sabaran.
"Huaaa, kak Ray aku positif gimana dong? mana kemarin aku habis ketempat yang berkerumun. Jadi akunya positif Mikrofon dong huaa, gimana ini? entar akunya di isolasi terus gak bisa ketemu kak Ray dan gak bisa main belalai lagi, huaa aku gak mau."cerocos Ella histeris tanpa mendengarkan kelanjutan ucapan dokter Vani.
"Apa positif Mikrofon? mikrofon apa popcron? itu nama covid parian baru itu kan?"kaget Ray.
"Maaf pak. Omicron, bukan mikrofon, apalagi popcron."sela Dokter Vani.
"Jadi istri saya positif itu Dok? lalu bagaimana apa yang harus saya lakukan?"panik Ray.
"Bapak tenang dulu, pak. Jangan panik."ucap Dokter Vani.
"Bagaimana saya tidak panik, istri saya sakit. Apa saya harus biasa aja begitu."marah Ray.
"Bapak dengarkan dulu penjelasan saya baik-baik, jangan di potong terlebih dahulu. Jadi istri bapak bukan positif covid omicron, tapi istri bapak positif hamil."jelas Dokter Vani yang berusaha sabar.
"Oh, hamil. Kirain positif omicron. Kamu gak positif omicron sayang, tapi positif hamil."ucap Ray yang belum engeh sementara Ella hanya manggut-manggut.
"Eh, apa tadi Dok? hamil? istri saya hamil Dok?"kaget Ray yang baru konek.
"Iya, istri bapak sedang mengandung. Dan usia kandungan nya diperkirakan baru berusia delapan minggu."Jelas dokter Vani.
"Aku hamil?"Ella juga baru konek.
"Iya cantik, kamu hamil."ucap dokter Vani sembari menatap wajah Ella yang masih terlihat sangat imut itu.
"Kok bisa?"kaget Ella.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? apa ibu meminum pil penunda kehamilan?"tanya dokter Vani.
"Enggak, Dokter."jawab Ella.
"Lantas kenapa?"
"Karna aku gak merencanakan untuk hamil, kok bisa hamil?"tanya Ella seperti orang bingung.
"Astaga."Dokter Vani menepuk jidatnya sendiri.
"Ternyata istri gue tetep aja polos."lirih Ray.
"Ibu, Kalau memang tidak menggunakan apa pun untuk mencegah kehamilan. Ya pasti hamil, karna kan ibu sudah menikah."ujar dokter Vani.
"Oh, gitu. Apa kehamilan ini bisa di tunda Dokter, sampe aku lulus kuliah?"lagi-lagi Ella membuat orang-orang yang berada disana menepuk jidat termasuk suster yang mendampingi dokter Vani.
"Sayang, hamil itu bukan gali sumur yang bisa di tunda dulu."ucap Ray sembari melirik Ella.
"Maaf ya Dok, istri saya memang polos nya kagak ketulungan."ucap Ray yang merasa tidak enak.
"Tidak papa, pak. Istri anda sangat lucu."Dokter Vani tersenyum tipis.
"Saking lucunya, pengen lelepin dia ke lubang semut kan, Dok."kelakar Ray.
"Bapak bisa saja, oh ya. Ini adalah resef vitamin yang harus bapak tebus."ucap Dokter Vani sembari memberikan secarik kertas pada Ray.
"Baik dok, terimakasih. kalau begitu kami permisi dulu."ucap Ray sopan dokter Vani pun mengagguk pelan.
"Dijaga baik-baik ya bu kandungan nya, dan jangan lupa untuk periksa lagi kesini."ucap dokter Vani.
"Baik, Dok."
Mereka pun berjalan kuar dari ruangan Dokter kandungan itu, tak lupa juga Ray menebus vitamin Ella du apotik, setelah itu mereka pun pergi meninghalkan halaman rumah sakit.
"Kak Ray, kuliahku gimana?"lirih Ella.
"Kamu masih bisa kuliah, sayang. Asal kamu lebih hati-hati sekarang, ya."
"Nanti kalau mereka tau aku hamil gimana?"
"Tidak papa, kenapa memangnya?"
"Kan gak ada yang tau kita udah nikah, kak Ray ih."
"Kita umum kan saja."
"Iya deh, tapi jangan sekarang. Nanti aja kalau perutnya mulai melendung."ucap Ella.
"Kakak ikut kamu aja."
"Huaa kak Ray, perut aku bakal melendung. Nanti jelek dong kayak badut ancol?"
Jejak😘😘😘😘
__ADS_1