
"Hehe." Ray malah tersenyum lebar.
"Ih, malah senyum pepsoden lagi." Delik Ella.
"Dia kedinginan, Sayang. Makannya ikut bangun," bisik Ray.
"Aneh, perasaan tinggalnya di tempat tersembunyi. Kok bisa kedinginan."
"Suruh bobo burungnya, ih. Aku nggak nyaman duduknya ganjel," keluh Ella.
"Ini bukan bayi yang di pok-pok langsung tidur, Sayang. Kudu di tuntasin dulu, baru dia tidur."
"Bisik-bisik tetangga... Kini mulai terdengar ganggu..." Suara lengkingan Satria membuat pasutri itu berhenti berbisik.
"Apasih, Abang. Ganggu aja!" ketus Ella.
"Ayang..." Dalina yang tengah Bergelayut manja di leher Satria memanggilnya dengan sedikit berbisik.
"Apaan, Beb?" Satria menunduk untuk melihat wajah sang istri.
"Aku mau martabak," pinta Dalina.
"Ok, aku beli dulu, ya," ujar Satria.
"Tapi aku nggak mau beli," rengek Dalina.
"Kok, perasaan aku nggak enak ya, Sayang," ucap Ray karena dia melihat mata Dalina yang selalu melirik kearahnya dan juga Andi.
"Papih juga," sahut Andi yang duduknya tidak jauh dari mereka.
"Terus kamu maunya gimana, hm?" Satria mengelus lembut surai sang istri.
"Aku mau martabak bikinan kalian bertiga." Dalina menatap Satria kemudian dia beralih menatap Ray dan juga Andi.
"Tuh kan... Pantes perasaan nggak enak," lirih Ray.
"Udah si, tinggal turutin aja. Sapa tau Kadal ngidam," ucap Ella.
"Masalahnya kakak nggak bisa bikin martabak, Sayang," keluh Ray.
"Nonton aja tutorialnya di youtube. Jangan cuma ngadon aja bisanya." Cibir Ella.
"Mau ya, pliss." Mohon Dalina.
"Ok, tapi kalo nggak enak jangan ngambek ya?" ucap Satria.
"Siap, Bos," seru Dalina.
Satria pun bangkit setelah menurunkan Dalina dari pangkuannya. "Yok, Pih. Ray," ajak Satria.
"Kemana?" tanya Andi.
"Ke Mekah, ya ke dapur lah," delik Satria.
"Yang bener kak Ray bikinnya," ucap Ella setelah Ray bangkit.
Tiga pria itu pun melangkah pergi ke dapur untuk membuat martabak pesanan Dalina. Sampai di sana, Satria langsung mengeluarkan bahan-bahannya. Dari mulai tepung terigu, gula, telor, ragi instan dll.
"Pertama ngapain dulu, Ray?" tanya Andi pada Ray yang tengah menonton video tutorial cara membuat martabak simpel.
"Seduh dulu ragi instan nya pake air anget, Pih," jawab Ray.
Andi pun melakukan apa yang di bilang oleh Ray, kemudian dia menyiapkan sebuah wadah sedang. Dia isi wadah itu dengan tepung terigu, telor, margarin dll. Lalu dia aduk sampai sedikit mengembang dan semua bahan tercampur rata.
"Kasih garem dikit, Pih," ujar Ray.
"Lalu?"
"Tuangin ragi tadi, sedikit aja, Pih."
"Udah, sekarang apa lagi?"
__ADS_1
"Tutup pake kain bersih, biarin sampe ngembang."
"Ngembang kayak bini lo," sahut Satria.
"Kegedean."
"Sekarang lo tanya gih sama bini lo, martabaknya mau di kasih toping apa?" titah Ray.
"Ok." Satria berjalan ke depan untuk menemui santai istri.
"Coba buka, Pih," pinta Ray.
"Tuh, udah ngembang ya, Ray." Andi membuka kain penutup itu setelah beberapa saat di biarkan.
"Iya, tinggal di bikin aja. Giliran si bangsat," ucap Ray.
"Tapi, Papih udah nuangin gulanya kan?" sambung Ray.
"Udah, kok."
"Hm, baguslah. Takutnya lupa, jadi nggak manis."
"Bukannya kalo martabak pas di panggang di kasih gula lagi, Ray?"
"Iya, sih. Tapi di video tutor tadi, di adonannya juga pake gula."
Beberapa saat kemudian Satria telah kembali,
"Tinggal panggang, Sat," ucap Ray.
"Ok." Satria mengambil teplon untuk memanggang martabak itu, kerena di sana tidak ada alat panggangan martabak.
Satria meletakan teplon itu di atas tungku kompor, lalu dia olesi dengan margarin. Setelah itu dia menyalakan apinya dan di lanjut menuangkan adonan.
"Bak, lo tau nggak. Belakangan ini sikap istri gue tu aneh. Masa, dia nyuruh gue sikat gigi pake odol kodomo. Pan kayak bocah, mana yang rasa strawberry lagi," keluh Satria sembari menatap adonan martabak yang mulai mengental menuju matang.
"Terus niya, masa gue di suruh pake cd warna pink mana gambar hello kitty lagi. Mau di taruh di mana muka gue kalo orang-orang tau gue pake cd hello kitty? Masa di taroh di pantatt wajan? Bisa hancur, Bak reputasi gue kalo mereka tau senjata pamungkas gue pake kostum hello kitty," lanjutnya dengan wajah memelas.
"Taburin gula, Sat," titah Ray pada Satria yang masih bercengkrama dengan martabak yang masih berada di teplon.
Satria pun mengambil gula yang ada di toples, kemudian dia taburkan di atas martabak yang sudah setengah matang itu.
"Ada yang lebih parah lagi, Bak." Lagi-lagi Satria berceloteh.
"Masa gue di pakein minyak telon pas abis mandi, mana banyak banget lagi ke seluruh tubuh. Untung ni burung gue tutupin, kalo nggak? Dia bisa kejer ke panasan. Mending kalo pas diem di rumah, nah ini. Pas gue mau berangkat ke kantor, lo bayangin aja. Gue berangkat ke kantor dengan kondisi badan menyengat bau minyak telon. Orang-orang pada berbisik, katanya kok ada wangi bayi, siapa yang bawa bayi ke kantor? Di mana bayinya? Masa iya gue kudu ngaku kalo gue bayinya." Masih dengan tampang memelasnya Satria berceloteh.
"Kenapa nggak sekalian aja lu di pakein bedak bayi? Sampe cemong sekalian biar kayak bayi beneran," sahut Ray yang sedari tadi memperhatikan Satria.
"Apaan sih lo? Nyaut aja," ketus Satria.
"Biar lo nggak ngomong sama teplon, di sini masih ada manusia, Bangsat. Kenapa lo malah curhat sama teplon?" ucap Ray mendelik.
"Iya, Sat. Aneh-aneh aja kamu. Masa teplon di ajak ngomong?" timpal Andi.
"Gue itu nggak ngajak ngomong teplon! Tapi gue ngajak ngomong martabak!" Koreksi Satria.
"Lah, ngapa martabak lo ajak ngomong, Dodol? Lo nggak waras ya?" heran Ray.
"Karena tadi bini gue bilang, martabaknya jangan di kacangin. Yodah gue ajak ngobrol aja," jawab Satria santai.
"Bangsatt! Maksudnya jangan di taburin kacang topingnya, Dodol!" geram Ray.
Beberapa saat kemudian martabaknya sudah matang, Satria pun segera memberi toping pada martabak itu selagi panas. Dia menaburkan susu kental manis dan juga keju sesuai dengan permintaan Dalina, yaitu keju susu.
"Akhirnya beres juga," ucap Satria lega.
"Potongin, Dodol. Masa bini lo mau makan segede gaban gitu? Ntar keselek yang ada," titah Ray.
"Ah iya, gue lupa." Cengir Satria.
"Dasar pikun!"
__ADS_1
"Biasa Ray, ni anak yang di ingetnya cuma enak-enak doang," sahut Andi.
"Diem deh kalian, nyinyirin gue mulu dari tadi. Ngenes banget gue kek anak tiri yang teraniaya," kesal Satria.
"Lebay lo, fokus aja motong martabak. Ti ati tu jari ke potong!"
"Berisik!"
Setelah martabaknya di potong menjadi beberapa bagian, Satria pun membawanya ke depan untuk di persembahkan kepada sang istri.
"Bebep ku tersayang yang paling cantik seantero pasar senen.... Martabak datang yuhuu!" teriak Satria.
"Berisik!" plotot Ella.
"Iri bilang, Dek! Lu pengen juga kan? Sono minta di buatin sama lakik lo," ledek Satria.
"Ogah!"
"Ni, Beb." Satria meletakan martabak itu di hadapan Dalina.
Dalina tidak merespon, dia hanya terdiam dengan raut wajah muram..
"Kamu kenapa, Beb?" tanya Satria lembut.
"Hiks, hiks, hiks." Hanya suara isakan yang terdengar.
"Kamu kenapa, hm? Kamu nggak suka martabaknya? Apa martabaknya jelek?" Satria menatap lekat wajah sang istri.
"Lebih jelek kamu, hiks," jawab Dalina.
"Ada yang nyakitin kamu?" Dalina menggeleng.
"Lalu kamu kenapa nangis?"
"Mungkin Kadal sedih, karena punya suami jelek kayak, Bangsat," sahut Ella.
"Diem lu, Dek! Mau gue lelepin ke sumur tetangga." Satria menatap sengit sang adik.
"Uhhh, nggak takutt..."
"Beb...."
"Aku sedih..." lirih Dalina.
"Sedih kenapa, hm?"
"Aku pengen di masakin sama kalian berempat."
"Kan ini udah bertiga sama, Papih. Satu lagi siapa?"
"Bukan sama, Papih."
"Lalu?"
"Aku pengen di masakin sama kamu, Ray, Galang dan... Rendi..." lirih Dalina.
Deg!
Jantung Satria seakan berhenti, rasanya sesak ketika mendengar nama sahabatnya. Rasanya masih belum percaya sahabat terkocaknya telah pergi. Jujur, Satria juga sangat merindukan sosok Rendi. Dulu mereka pernah masak bersama sampai dapur hancur, ya, meski masakannya tidak berbentuk. Namun kenangannya sampai saat ini masih tersimpan jelas dalam relum hatinya.
"Mungkin Dalina ngidam, Sat," ucap Rina yang baru saja datang.
"Nggak mungkin, Mih. Orang dia lagi ke datangan tamu," Jawab Satria lirih karena suasana hatinya masih sedih.
"Udah berhenti kok," ujar Dalina.
"Hah! Secepat itu? kok aneh?" kaget Satria sekaligus heran.
"Enggak tau, aku juga bingung cuma bentaran doang tapi banyak, habis itu nggak ada lagi," Lirih Dalina.
Jangan lupa tinggalkan jejak😘😘
__ADS_1