
Suara dentuman musik begitu menggema terdengar di telinga, pesta ulang tahun Zela terlihat sangat ramai dengan ratusan tamu undangan yang datang. Para tamu rata-rata adalah para siswa/siswi, mereka datang dengan balutan gaun mewah dan juga seksi, untuk para siswa, mereka juga tak kalah tampan dengan balutan jas yang membuat mereka berkharisma.
"Wau, lihat si Citel rombeng. Gaunnya begitu seksi dan juga terbuka. Dia pasti sengaja biar kamu tergoda." Ella menunjuk Zela yang sedang berjalan kearah mereka.
"Menjijikan," ucap Ray kala melihat belahan gunung Zela terpampang dengan sempurna.
"Dalam mulut menjijikan, dalam hati menggiurkan. Pria memang pandai mengelak," delik Ella dengan bibir mengerucut.
"Tiada gunung yang paling menggiurkan selain gunung yang halal untuk ku sentuh." Ray meraih tangan Ella dan menggenggamnya erat.
"Hai, thanks ya, udah mau dateng." Zela tersenyum dengan begitu manis ketika sudah berada di hadapan mereka.
"Happy birthday, Zel. Semoga kamu panjang umur ya," ucap Ella sembari mengulurkan tangannya.
"Thanks." Zela menyambut uluran tangan Ella dengan wajah yang sinis.
"Pak Ray gak mau ngucapin selamat buat aku?" Zela menatap Ray dengan penuh damba.
"Selamat," ketus Ray.
"Hai, Zela. Selamat ulang taun ya, semoga gak panjang umur ya," ucap Dela yang datang menghampiri mereka.
"Eh, maksudnya semoga panjang umur." Ralat Dela cengengesan.
"Thanks," Zela menatap Dela dengan tatapan tidak suka.
Sementara Galang dan Alvin, mereka malas untuk mengucapkan selamat, mereka memilih diam saja seolah tak kenal. Untuk Galang, dia memang tidak mengenal Zela, dia hanya ikut menemani sang istri dan juga membantu melancarkan rencana Ella.
"Silahkan nikmati pestanya, banyak hidangan yang tersedia," ucap Zela sembari tersenyum manis, tapi hanya pada Ray.
"Aku permisi ke belakang sebentar," lanjutnya sembari melangkah pergi.
"Sepertinya dia akan mengambil minuman untuk kita," tebak Ella.
"Sotoy kamu," cebik Dela.
"Lihat saja nanti."
Beberapa saat kemudian, Zela datang kembali, benar dugaan Ella, dia datang dengan membawa nampan berisi minuman.
"Bener kan? kata aku. Ingat kak Ray, lima belas menit kemudian kak Ray pura-pura kepanasan ya. Dan kalian bertiga tertidur,begitu juga aku. Kita ikuti permainan dia," ucap Ella dengan berbisik karena Zela sudah semakin dekat, walaupun tidak akan terdengar meski keras karena dentuman musik.
"Ok, tapi apa kita akan meminum, minuman yang dia bawa?" tanya Alvin.
"Tentu saja, bukankan rencana satu sudah berhasil?" Ella menatap Alvin.
__ADS_1
"Ya, menukar serbuk obat perangsang dan juga obat tidur dengan gula halus," ujar Alvin.
"Nah, itu tau. Berati minuman yang dia bawa aman, hanya saja menjadi lebih manis," lirih Ella.
"Kalo diabetes gimana, Ell?" bisik Dela.
"Gak pa-pa lah, asal jangan mati."
"Aku bawain minuman sepesial buat kalian, ini aku sendiri yang buat. Khusus untuk kalian," ucap Zela yang sudah berada di hadapan mereka.
"Harusnya kamu gak usah repot-repot Zel, kan kamu yang punya pesta. Masa malah jadi pelayan sih, kita bisa ngambil minum sendiri kalo haus." Ella berlagak ramah.
"Gak pa-pa, aku seneng kok. Kan kalian sahabat terbaik aku." Zela tersenyum dengan begitu manis.
"Apa katanya? Sahabat baik, pengen muntah gue dengernya. Mana ada sahabat baik yang mau merebut suami sahabatnya!" batin Ella.
"Ini untuk Pak Ray, ini untuk Stela." Zela menyerahkan satu gelas minuman pada Ray dan satu pada Ella.
"Dan ini untuk kalian bertiga." Menyerahkan nampan berisi tiga gelas minuman pada Dela.
"Ayok di minum," titah Zela dengan wajah penuh kemenangan.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi miliku Ray, dan istri tercintamu akan hancur." batin Zela.
Ella tersenyum tipis, kemudian dia menegak minuman itu hingga tandas. Begitu juga dengan Ray dan yang lainnya. Setelah minuman mereka habis tak tersisa, Zela mengajak mereka pergi ke sebuah ruangan dengan alasan di sana terlalu berisik.
"Tentu saja, inikan hari sepesial ku."
"Ngomong-ngomong, tiup lilin nya kapan?" tanya Ella karena sedari tadi tidak ada prosesi tiup lilin dan juga potong kue seperti pesta ulang tahun pada umumnya.
"Sebentar lagi, aku masih menunggu seseorang," jawab Zela.
"Ini lebih terlihat seperti sebuah klub, di bandingkan pesta ulang tahun." Ella mengamati para tamu sekaligus para pelayan yang di antaranya dia yakini adalah anggota Black Wolf.
"Yah, aku ingin membuat pesta ulang tahun yang tidak biasa." Zela seperti memberi kode pada salah satu pelayan.
Ella yang melihatnya pun langsung siaga, dia menghubungi para anggota AOD, lewat sebuah alat untuk bersiaga. "Sepertinya wanita sialann itu akan menghabisi seluruh tamu undangan yang hadir. Aku harus segera menyuruh anggota AOD untuk mengamankan mereka." Ella mencium gelagat aneh dari sebagian tamu dan pelayan.
Ella segera mengirimkan sinyal tanda bahaya dan menyuruh mereka untuk segera bertindak. "GO." Ella mengkode lewat tatapan matanya.
"Kenapa aku ngantuk sekali." Dela menguap kala mereka sudah sampai di sebuah ruangan.
"Aku juga." Galang menyandar di sebuah sofa kemudian tertidur di ikuti oleh Alvin yang tertidur menyender di tembok.
"Harus cari tempat tidur yang nyaman, masa iya di balik pintu? gak elit banget," gumam Ella dalam hati sembari mencari tempat yang cocok untuk nya pura-pura tertidur.
__ADS_1
"Kenapa kepalaku sakit." Ella naik keatas sofa yang di senderi Galang dan juga Dela, kemudian dia tertidur.
"Kenapa dengan mereka," ucap Ray dengan tubuh di buat gelisah.
"Mereka hanya tertidur." Zela mulai mendekati Ray.
"Kamu apakan mereka?" Ray membuka satu kancing kemejanya seolah dia sedang kepanasan.
"Aku hanya memberi mereka obat tidur, supaya mereka tidak mengganggu kita." Zela menyentuh pipi Ray dengan sensual.
"Bedebah! Jangan sentuh saya! Dasar wanita licik!" Ray menepis kasar tangan Zela.
"Percuma kamu melawan, sebentar lagi kamu akan menjadi miliku Ray." Zela melepas gaun yang dia kenakan sehingga membuat dia hampir toples karena tinggalah kacamata dan juga segitiga yang tersisa.
"Tutup mata kamu, Kak Ray!" teriak Ella dalam hati.
"Cih, wanita murahan!" cibir Ray.
"Bener tuh kak Ray, bahkan dia lebih murah dari pada gorengan!" sahut Ella dalam hati.
Zela tidak menggubris, tetapi dia terlihat menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, datanglah seorang pria berbadan kekar hendak mengangkat tubuh Ella.
"Jangan sentuh istriku!" teriak Ray sembari berjalan mendekati pria itu.
Bughh!
Ray memukul perut pria itu dengan sangat keras. "Ray, lepasin dia. Biarkan dia membawa istri sialan mu pergi, disini ada aku. Kita akan bermain." Zela menarik Ray yang sedang menghajar pria itu.
"Urus saja wanitamu, aku sudah tidak sabar ingin menikmati tubuh gadis manis ini." Pria itu mentap Ella dengan lapar.
"Tidak akan ku biarkan kamu menyentuh istriku," murka Ray kemudian dia mendorong tubuh pria itu ke tembok.
Brukk!
Bugh!
Pria itu bangkit kemudian melawan Ray, merekapun bertarung dengan begitu sengit. "Aduh, Kak Ray. Kenapa bisa kepancing si, padahal pria itu gak bawa joran. Bisa galtot ini, gimana ya?" batin Ella bingung karena Ray sudah terpancing emosi.
Ella pun membuka mata, dia melihat sekitar dan ternyata Zela sedang lengah dia tidak fokus padanya karena sedang berusaha menarik Ray. Ella langsung saja mengambil ponsel dan mengirimkan Ray pesan. Setelah itu dia menelpon Ray agar Ray membuka ponselnya.
Benar saja, Ray langsung menendang pria itu, lalu dia mengambil ponsel dan membuka pesan dari Ella. Ray melirik Ella yang sudah tidur kembali kemudian dia mengacak rambut dan juga menggelengkan kepala dengan mata memerah dan juga bercucur keringat.
Zela yang melihatnya pun tersenyum bahagia, karena dia berpikir obat itu sudah bereaksi. Padahal yang dia masukan dalam toples kecil itu adalah gula halus. Obat yang asli sudah berada di tangan Ella yang nantinya akan membuat Zela lemas karena obat itu, tapi bukan karena Ray sesuai kemauan Zela.
Jejak lupa jangan๐๐๐
__ADS_1
Rekomendasi novel bagus lagi nih, seru dan gak kalah asik dari novel sebelumnya yg otor rekomendasiin cus buruan baca sembari nunggu Ella up๐