Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Cucu berudu


__ADS_3

Kini Ray dan juga Ella sudah sampai di kediaman keluarga Wardana.


"Sayang jalannya pelan-pelan, kan sekarang di perut kamu ada dede bayi."ucap Ray saat melihat Ella berjalan dengan terburu-buru.


"Akunya lupa kak Ray."Ella cengengesan sembari memperpelan langkahnya.


"Yuhuuuu, Ella gemoy come back."teriak Ella saat mereka berada di ambang pintu.


"Gak usah triak-triak ini bukan hutan."ucap Ray.


"Tua, yang bilang ini hutan siapa,"delik Ella.


"Kalian darimana aja? pagi-pagi udah ngilang."tanya Wina sembari menghampiri mereka.


"Kita dari rumah sakit Mah. Lagian kita gak mungkin ngilang kita kan bukan jin."Jawab Ella.


"Siapa yang sakit? kenapa gak bilang sama Mamah."ujar Wina.


"Gak ada yang sakit Mah, emang kalo sakit terus bilang sama Mamah, bakal sembuh ya?"tanya Ella.


"Gak lah, kan Mamah bukan dokter. Terus kalian ngapain ke rumah sakit? kalau gak ada yang sakit."


"Periksa aku."Jawab Ella.


"Emangnya kamu kenapa?"


"Perut aku bakal mengembang Mam."Jawab Ella dengan tersenyum manis.


"Ngembang? ngembang gimana, bakal ada kembangnya atau berkembang biak?"bingung Wina.


"Berkembang biak Mih."ujar Ella.


"Memangnya perut kamu di ternakan ya? kok bisa berkembang biak."heran Wina.


"Astaga, punya ibu sama istri sama-sama gendeng. Mau kalian ngobrol sampe cicak beranak juga kagak bakal kelar-kelar ini mah."gerutu Ray.


"Wah kurang garem ni anak, masa ibu sendiri di katain gendeng. Mau Mamah potong lagi tu si Bonar, hah."Wina mempelototi Ray.


"Potong aja Mam, masa akunya juga di katain. Siap-siap aja kak Ray mulai malam ini tidur di luar dan gak ada jatah sama sekali sampai berudu ini lahir."Ella menatap sengit Ray.


"Jangan dong, Yang. Masak si Bonar puasa mulu, kasian dia udah kesakitan dari semalem, dia kembung tapi gak bisa muntah, kasian dia jadi keleyengan."ucap Ray memelas.


"Satu lagi, dia itu bukan berudu, tapi RJ ya, RJ."sambung Ray penuh penekanan.

__ADS_1


"Kalian bahas apa sih? Berudu apa? RJ apa, Rumah sakit Jiwa?"tanya Wina tidak mengerti arah pembicaraan mereka.


"Ini tabungan kak Ray Mam, dan sekarang udah ada yang menetas, dan dia udah jadi berudu."Jawab Ella.


"Tabungan Ray, netas jadi berudu? Apa Ray nabung telur kodok?"pekik Wina.


"Astaga Ray, kalo nabung itu yo nabung uang bukannya nabung telur kodok, buat apa coba? kamu itu gak ada kerjaan. Sekarang dimana para telur kodok itu biar Mamah buang, sekalian sama berudu yang sudah menetas itu."sambung Wina geleng-geleng kepala.


"Yaalah Mam, Mamah kejem bener. Masa mau buang cucu sendiri, sungguh terlalu."ucap Ella dengan bersidekap dada.


"Perasaan Mamah gak ngelahirin anak kodok, kenapa punya cucu berudu?"bingung Wina sementara Ray hanya menyimak saja.


"Ngelahirin Mam, dan entu kodoknya."Ella menunjuk Ray yang sedang bersandar di sopa.


"Ray kodok, berudu berati."Wina menatap Ella intens dari atas sampai bawah hingga perhatiannya tertuju pada perut rata Ella.


"Ella hamil Mam."ucap Ray sambil menatap sang ibu.


"Apa? Ella hamil, Kamu serius Ray? ini sungguhan kan? bukan prenk?"ucap Wina .


"Hm."


"Jadi bener kamu hamil?"tanya Wina pada Ella.


"RJ, bukan berudu."sahut Ray.


"AAAAAA, Papah sebentar lagi Mamah jadi Nenek, huu senangnya. Nenek gak sabar ingin bertemu dengan mu sayang."teriak Wina girang sembari mengelus perut rata Ella.


"Jadi Nenek yang baik ya, jangan ngajarin cucunya yang kagak bener. Mudah-mudahan anaku gak gesrek kayak Mamah deh."ucap Ray kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Ella.


"Kita ke kamar yuk sayang, bobo siang."sambungnya sembari merangkul Ella.


"Dasar anak kurang asem, Ella jangan mau ya di deketin Ray, dia harus puasa sampai kamu lahiran."teriak Wina pada Ella yang mulai menjauh.


"Sip, Mam. Aku juga gak bakal kasih jatah sama kak Ray."balas Ella dengan mengacungkan jempolnya.


Setelah sampai di kamar, Ella pun langsung bersih-bersih, setelah itu dia membaringkan tubuhnya diranjang sambil bermain ponsel.


"Sayang, kakak pengen. Boleh ya?"ucap Ray yang duduk di tepi ranjang.


"Gak, kak Ray harus puasa sampai akunya lahiran."tolak Ella,


"Sakit tau, Yang. Masa dari semalem di tahan mulu."ucap Ray dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Kasihan nanti bayi nya, dia pasti pusing karna serasa ada gempa."


"Kakak janji, kakak bakal pelan-pelan. Mau ya? dedek bayi nya juga gak bakal kenapa-napa."bujuk Ray.


"Pokonya aku enggak mau."kekeuh Ella.


Ray pun menghela nafas panjang sembari mengelus pelan sesuatu yang mulai mendesak dibawah sana. Ray kembali berpikir bagaimana caranya supaya Ella mau di ajak berpiknik.


Setelah cukup lama berpikir, Ray kemudian bangkit dari duduknya Dan pergi kekamar mandi.


Ceklek,


Pintu kamar mandi terbuka, dan munculah Ray keluar dengan polos tanpa sehelai benang pun, sebelumnya dia berusaha menidurkan si bonar yang mulai bangun dengan cukup lama sampai akhirnya si bonar telah menjadi belalai kembali.


Ray berjalan mondar-mandir di hadapan Ella dengan tubuh polosnya, sesekali dia menggoyangkan pinggulnya guna menarik perhatian Ella. Dan benar saja Ella mulai melirik kearahnya dan terus memperhatikan belalainya dengan seksama.


"Kak Ray, aku mau main belalai."lirih Ella.


Yess, sorak Ray di dalam hatinya.


"Nih, kamu mainkan aja sampai puas."Ray berjalan kearah Ella dengan senyum penuh kemenangan.


Ella pun menyambutnya dengan antusias, dia langsung meraih belalai Ray, kemudian di memainkan nya seperti biasa. Perlahan-lahan Ella mulai memainkan jari lentiknya secara sensual, dia membuat pola abstrak di beberapa titik belalai yang paling sensitip,


"Eughhh, ohhhh, Ahhhh."de.sa.h Ray ketika jari Ella bermain dibagian bawah belalainya, birahi Ray semakin memuncak dan tubuhnya semakin bergairah.


Mendengar suara Ray yang begitu menggai..rah kan membuat Ella semakin antusias untuk membuat Ray melantunkan suara itu kembali. Ella sekarang tidak hanya bermain pada belalai Ray yang kini sudah menjadi tongkat bisbol, tapi dia juga menggerakan tangannya untuk menyentuh dada Ray dia memainkan tombol kecil yang berada disana, mengelus, memutar, memilin tombol itu secara lembut, sedangkan tangan yang satunya masih bermain di area tongkat bisbol.


"Ahhh, ohhhh. Terus sayang. Ahhhh ahhhh."suara itu terdengar begitu menggairahkan ditelinga Ella, entah mengapa dia sangat suka mendengar suara itu.


Ella menggerakan tangannya untuk di usapkan lembut pada paha Ray, dia membuat gerakan lurus dari paha bawah Ray hingga naik ke atas belalai, tak berhenti disitu Ella juga mengelus lembut perut sispak Ray kemudian dia naik keatas untuk mengelus tombol kecil yang ada di dada Ray, dia membuat gerakan memutar dengan lembut pada tombol kecil itu. Puas bermain dengan menggunakan tangan, kini Ella mencoba bermain dengan mulutnya, dia mengulurkan lidahnya untuk me.lu.mat lembut tombol kecil itu.


"Eugh, kakak gak kuat, ohh, ohh. Ahkkk."ucap Ray disela kenikmatannya.


"Kak Ray kebelet ya? yaudah ke kamar mandi sana. Akunya juga mau bobo ngantuk."Ella menghentikan aktipitasnya lalu dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Sayang, jangan bobo dulu. Kan belum selesai."ucap Ray cengo, karna lagi nikmat-nikmatnya Ella berhenti begitu saja.


"Kan kak Ray tadi kebelet gak tahan, yaudah sana ke kamar mandi. Akunya mau bobo ngantuk."Ella langsung menyelusupkan wajahnya di balik guling kemudian dia terkikik kecil.


"Terus ini gimana?"Ray menatap tongkat bisbolnya yang siap berperang.


Jejak😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2