
"Lo,"tunjuk mahasiswi barnama Tara itu, dia adalah sahabat Sinta.
"Apa?"tantang Ella sambil menepis telunjuk yang berada di hadapan wajahnya.
"Lo sadar gak sih? kalau elo itu, udah bikin Sinta di keluarin dari kampus ini."ucap Tara penuh penekanan..
"Aku sadar kok, sadar banget. Aku kan gak lagi mabok, lagian dia di keluarin bukan karna aku. Tapi karna ulahnya sendiri."ujar Ella santai.
"Itu semua karna, lo. Elo yang bikin Sinta keluar dari kampus ini. Dia hanya mewakili kita semua yang gak suka sama elo, kita semua pengen elo di keluarin dari kampus ini, kita gak mau ada orang oon kayak elo di kampus ini. Elo cuma bikin malu kampus ini doang, sadar lo."Tara mengeluarkan unek-uneknya.
"Apa hak kalian semua, ingin mengeluarkan aku dari sini? Semua orang berhak berkuliah di kampus ini, mau kaya miskin, pinter, oon. Lagian apa salahnya orang oon kuliah disini? bukan kah tujuan berkuliah itu supaya pintar. Lantas mengapa kalian begitu tidak menginginkan orang sepertiku?"ucap Ella santai tapi penuh penekanan.
"Karna kita malu, satu kampus dengan orang seperti lo."Jawab Tara sinis.
"Apa kehadiran ku, merugikan kalian?"tanya Ella.
"Diem kan."sambung Ella saat melihat Tara tidak menjawab.
"Aku diam, karna selama ini aku menghargai kalian. Tapi, jika kalian tidak bisa menghargaiku, akupun tidak akan tinggal diam. Dan jika kalian masih saja mengusiku, jangan salahkan aku, jika aku akan melakukan hal yang diluar ekspetasi kalian."ucap Ella dengan seringai di bibirnya, lalu dia pun melangkah pergi darisana.
Ella berjalan melewati orang-orang yang menatapnya dengan sinis, dia tidak lagi peduli dan tidak akan ambil hati atas perlakuan mereka padanya. Biarlah selama masih dibatas kewajaran, tapi jika mereka bertindak lebih, Ella pun tidak akan tinggal diam.
"Kak, Ray masih lama pulangnya?"tanya Ella yang nyelonong masuk kedalam ruangan Ray tanpa mengetok pintu.
"Sebentar lagi, kenapa? mau pulang, hm."Ray menghampiri Ella yang tengah duduk di sopa.
"Iya, aku bosen disini. Mana hari ini akunya gak belajar lagi, jadi gak tau kan materi apa yang dibahas hari ini. Jadinya ketinggalan deh."ucap Ella lesu.
"Kamu lupa, ya. Kan suami kamu ini dosen yang mengajar pakultas kamu. Nanti kakak ajarin di rumah ya, supaya gak ketinggalan materi."ujar Ray.
"Tapikan, yang ngajar materi tadi bukan kakak, tapi pak Kevin."
"Yang ngajar emang Kevin, tapi yang ngerangkum materinya kan kakak. Kevin tinggal nerangin aja."
"Oh, gitu ya?"
"Iya, yasudah kalau gitu kita pulang sekarang ya. Jangan cemberut lagi dong."Ray menjawil hidung Ella.
"Hm."
Mereka pun keluar dari ruangan Ray, sambil berjalan ber iringan. Ella tidak peduli lagi, jika orang-orang kampus tau tentang hubungan mereka. Dia juga tidak takut di keluarkan dari kampus karna mempunyai hubungan dengan Ray, Dia tidak bodoh dia tau kalau kampus itu adalah milik keluarga Wardana. Hanya saja Ray tidak menunjukan identitasnya di kampus itu, mereka memang tau keluarga Wardana mempunyai pewaris tunggal, tapi mereka tidak tau dan tidak mengenali siapa sosok pewaris tunggal Wardana.
"Tumben, kamu mau berjalan ber iringan bersama kakak?"tanya Ray heran, biasanya Ella paling tidak mau berjalan bersama dirinya saat di area kampus karna takut ketauan.
"Lagi pengen aja."Jawab Ella sambil masuk kedalam mobil.
"Atau, kamu sudah siap? jika hubungan kita di ketahui oleh publik?"Ray menatap Ella sambil memasangkan seat bellnya.
__ADS_1
"Kayaknya aku udah siap deh, kak Ray. Jika mereka tau hubungan kita."ujar Ella.
"Kamu serius, sayang?"
"Iya."
"Gimana, kalau kita umumkan pernikahan kita?"
"Gak usah, kak Ray. Biarlah mereka tau dengan sendirinya, tapi mulai sekarang kita gak perlu kucing-kucingan lagi."ujar Ella.
"Ya sudah deh kalau begitu. Berati sekarang kakak bebas dong nemuin kamu di kampus."ucap Ray senang.
"Hm, tapi jangan pas jam pelajaran. Soalnya dosen akutu galak kak Ray, udah gitu judes, dingin, ih pokonya serem deh."Ella berkata dengan sangat serius.
"Seperti itu, ya. Tapi dosen kamu itu, ganteng tidak?"tanya Ray.
"Ganteng sih, tapi sayang wajahnya datar tanpa eksfresi. Gak pernah senyum lagi kalau lagi ngajar."Jawab Ella.
"Mungkin dia begitu, karna senyuman dia hanya untuk seseorang yang spesial aja."ujar Ray.
"Bapak dosen, punya orang yang sepesial?"Ella menatap Ray tajam.
"Tentu."
"Siapa?"
"Kamu! kamu adalah orang yang paling sepesial dalam hidup kakak. Jadi senyuman kakak hanya untuk kamu seorang."Ray menatap Ella dengan penuh cinta.
"Kamu bisa aja."ucap Ray lalu dia melajukan mobilnya keluar dari area kampus.
Saat di perjalan pulang Ray merasa aneh mengapa istrinya itu tidak mengoceh seperti biasanya.
"Ternyata tidur, pantes diem."ucap Ray sambil melirik Ella sekilas lalu terfokus kembali ke jalanan.
Saat sudah sampai dirumah, Ray tidak tega membangunkan Ella. Diapun menggendong istrinya itu ala bridal style.
"Ella kenapa Ray?"tanya Wina saat berpapasan dengan Ray yang tengah menggendong Ella.
"Tidur Mam."Jawab Ray tanpa menghentikan langkahnya.
Sesampainya dikamar Ray langsung membaringkan Ella secara perlahan. Setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Kini Ray sudah rapih, dia mengenakan kaos putih yang di balut dengan jaket hitam, celana jeans abu-abu dan juga sepatu hitam bercorak putih.
"Mau kemana Ray?"tanya Rina yang melihat Ray sudah rapih.
"Aku ada urusan betar, Mih. Titip Ella ya,"Jawab Ray.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, kamu tenang aja. Mama pasti jagain Ella."ujar Wina.
"Iya, Mam. Aku pergi dulu, Asalamualaikum."Ray mencium tangan ibunya.
"Waalaikum salam."
Ray pun berlalu pergi darisana, dia melangkahkan kakinya menuju mobil. Setelah itu dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sampailah dia di tempat yang cukup jauh dari hingar bingar perkotaan. Dia berada di sebuah hutan yang cukup terpencil, bahkan jauh dari jangkauan orang-orang. Di hutan itu berdiri sebuah bangunan yang cukup luas, dan cukup menyeramkan jika di pandang dari luar.
"Selamat sore bos!"sapa Rafly saat Ray memasuki bangunan itu.
"Dimana wanita itu?"tanya Ray to the point.
"Seperti yang kau minta, wanita itu sedang di terapi."Ragil yang menjawab.
"Terapi yang membuat otak gila."timpal Rafly.
"Bagus."ucap Ray sambil melangkahkan kakinya menuju ke sebuah ruangan.
Saat dia sudah berada disana, dia melihat seorang wanita yang nampak sangat ketakutan. karna dia tengah berada di dalam sangkar yang di luarnya dikelilingi oleh puluhan hewan buas. Seperti Harimau, Srigala putih, dsb. Bahkan buaya pun turut serta berada disana, dia tengah membuka mulutnya seperti sedang kelaparan dengan taring runcing yang siap mencabik.
"Pak Ray, tolong aku pak. Keluarkan aku dari tempat ini, aku mohon."ucap Sesil cepat saat melihat Ray masuk kedalam ruangan itu.
"Tidak semudah itu, kamu telah membuat istriku hampir kehilangan nyawanya. Bahkan hukuman ini tidak setimpal dengan apa yang telah kamu lakukan."Ray mendekat kearah Sesil yang berada di dalam sangkar yang lumayan besar.
Sangkar itu terbuat dari besi yang cukup kuat sehingga semua binatang itu tidak akan menyakiti Sesil. Ray hanya membuat mental Sesil terganggu saja karna ketakutan.
"Wanita itu memang seharusnya mati. Dia tidak pantas berada di muka bumi ini, dia hanya akan membuat bumi tercemar karna otak bodohnya."ucap Sesil dengan kilatan amarah.
"Bukan istriku yang tidak pantas berada di muka bumi ini, tapi iblis sepertimu lah yang seharusnya musnah."Ray mencengkram kuat dagu Sesil hingga si empunya meringis.
"Ahh, sakit. Lepaskan."Sesil berusaha menepis tangan Ray, tapi sayang tenaga Ray cukup kuat.
"Sakit? inilah yang di rasakan istriku saat kamu menyakitinya."Ray menghempaskan dagu Sesil dengan kasar.
"Fly, berikan ramuan itu pada wanita iblis ini, sekarang juga. Ternyata dikurung disini tidak membuatnya jera, dan mengakui kesalahannya."ucap Ray yang sedang berdiri di antara hewan-hewan buas itu.
Tapi anehnya hewan itu tidak menyakiti Ray, mereka seakan tau bahwa Ray adalah majikan mereka, hingga saat Ray berjalan pun hewan-hewan itu akan menyingkir untuk memberi jalan.
"Siap laksanakan, komandan."ucap Rafly semangat.
Rafly berjalan mendekati Sesil dengan membawa sebuah suntikan yang cukup besar.
"MAU APA KAMU?"teriak Sesil.
"Aku ingin bermain-main denganmu, Nona."
__ADS_1
Like dong, like dongπ
Comen juga ya, biar author semangat dan bisa dobel upπππ