
"Bagaimana ke adaan istri saya, Dok?" tanya Ray kepada Dokter yang baru saja selesai memeriksa Ella.
"Istri anda hanya kurang istirahat, dan sepertinya pola makan istri anda selama ini tidak teratur. Dia terlalu banyak mengkonsumsi makanan pedas juga mengandung micin," jelas Dokter.
"Jadi tidak ada hal serius yang menimpa istri saya 'kan, Dok?" tanya Ray lagi untuk memastikan.
"Tidak ada, anda tidak perlu khawatir. Hanya saja istri anda harus menjaga pola makan dan juga istirahat yang cukup," ujar Dokter.
"Baik, Dok. Terimakasih," ucap Ray.
"Apa saya boleh menemui istri saya, Dok?" lanjutnya.
"Tentu saja, silahkan."
Ray pun segera masuk untuk menemui Ella di perawatan, di susul oleh Dela dan juga Kiana dari belakang.
"Sayang ...." Ray langsung memeluk tubuh sang istri yang sudah membuka mata dan tersenyum padanya.
"Kamu nggak pa-pa, 'kan? Mana yang sakit?" Ray menatap lekat wajah cantik Ella yang nampak pucat.
"Aku nggak pa-pa, Kak Ray," jawab Ella pelan dengan tersenyum tipis.
"Kamu membuat kakak khawatir." Ray mengecupi kening Ella kemudian dia menatap kembali wajah cantik istrinya.
"Mulai sekarang jangan kecapean lagi, ya. Kamu harus istirahat yang cukup. Dan satu lagi, kamu nggak boleh jajan sembarangan di luar lagi," peringat Ray.
"Iya."
"Janji?"
"Hm"
"Ell, maafin kita, ya. Harusnya kita nggak ninggalin kamu sendiri tadi," ucap Dela menyesal.
"Ini bukan salah kalian, dari pagi kepala aku emang udah pusing, kok. Cuma aku biarin aja, aku kira pusingnya bakal ilang. Eh, taunya malah makin parah," ujar Ella sembari menatap Kiana dan Dela secara bergantian.
"Kenapa kamu nggak bilang sama, kakak?" Ray menatap tajam Ella.
"Aku 'kan udah bilang, aku kira pusingnya bakalan ilang."
"Lain kali, mau sakit sedikitpun. Kamu harus bilang sama kakak," ucap Ray.
"Iya, Kak Ray."
"Syukurlah kalau kamu baik-baik aja, Ell. Aku tadi khawatir banget. Takutnya terjadi sesuatu yang tidak di inginkan sama kamu," ucap Kiana.
"Iya, makasih udah nganterin aku kesini." Ella tersenyum tulus.
"Iya, Ell. Kamu tau nggak. Tadi kita kesini kebut-kebutan sama palentini Rosi," ujar Kiana.
"Palentini Rosi?"
"Itu loh si Dela. Dia kan tadi yang bawa mobil, beuh, ngebut banget tau nggak, Ell," seru Kiana.
"Dela yang nyetir? Emangnya, Kak Ray kemana?"
"Pak Ray sedari kampus gendong kamu, Ell. Di mobil aja nggak di turunin. Tetep bae di gendong sampai ke ruangan ini, nggak pake berangkar," tutur Kiana.
"Bener begitu, Kak Ray." Ella menatap Ray dengan serius.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kakak nggak mau ngelepasin kamu, walau sedetikpun," ungkap Ray.
"Swit banget sih, Pak Ray," seru Kiana.
Karena ke adaan Ella sudah mulai membaik, Ella pun merengek ingin pulang. Awalnya Ray tidak mengijinkan, namun Ella tetap merengek dengan alasan dia tidak betah berlama-lama tinggal di rumah sakit. Dengan sangat terpaksa, Ray pun menuruti kemauan Ella, dengan syarat. Ella harus menuruti perkataannya dan Ella setuju.
Sesampainya di rumah, seluruh keluarga Ella langsung khawatir dengan ke adaan Ella setelah mereka mendengar Ella pingsan dan sempat di larikan ke rumah sakit. Apalagi Rina, baru saja semalam putrinya menginap di rumah namun Ella malah sakit. Rina begitu sedih saat melihat putrinya yang biasa ceria dan heboh kini hanya terbaring lemah di ranjang dengan wajah yang pucat.
"Mana yang sakit, hm?" Satria mengelus lembut kepala sang adik yang sedang berbaring.
"Aku udah nggak pa-pa kok, Bang." Ella tersenyum menatap Satria.
"Harusnya tadi, Abang nggak maksa kamu buat berangkat kuliah. Maafin, Abang ya." Satria mengecup lembut punggung tangan Ella.
"Kenapa, Abang harus minta maaf? Ini 'kan bukan salah, Abang. Ini salah aku karena suka jajan sembarangan," ucap Ella.
"Tapi tetep aja, ini salah Abang. Andai aja Abang nggak maksa kamu berangkat. Pasti kamu nggak akan sampe pingsan di kampus." Sesal Satria merasa bersalah.
"Udah takdir, Bang. Mau di rumah atau di kampus. Kalo takdirnya harus pingsan, ya tetep aja bakal pingsan," ujar Ella.
"Harusnya tadi pagi kamu bilang sama, Abang. Kalo kamu itu lagi sakit."
"Bener kata, Abang kamu. Kenapa kamu nggak ngomong sama kami, hm?" Rina datang dengan membawa nampan berisi bubur dan juga teh hangat.
"Aku kan udah nggak pa-pa, jadi nggak usah di bahas lagi ok," pinta Ella.
"Beneran kamu udah nggak pa-pa, Ell. Apa nggak mau di rawat aja, Sayang." Andi yang baru pulang dari kantor langsung duduk di samping Ella.
"Nggak usah, Pih. Aku nggak mau di rawat. Bau rumah sakit nggak enak," tolak Ella.
"Tapi kalau ada yang sakit lagi, kamu bilang sama, Papih ya." Andi mengelus kepala sang putri dan mencium keningnya.
Sementara itu, kini Ray tengah bermain bersama si kembar yang begitu aktip. Mereka merangkak dan sesekali berjalan dengan bantuan benda sekitar sebagai alat bantu untuk mereka berdiri.
"Jangan jauh-jauh mainnya, sini main rumah-rumahan aja sama, Pipop," ucap Ray yang sudah lelah mengikuti langkah kaki kedua anaknya.
"Miom," ucap mulut kecil Zura dengan tangan berpegangan pada tiang.
"Mimomnya lagi sakit, main sama Pipop aja, ya." Ray tau Zura menanyakan ibunya.
"Ti-tit." Mulut mungil itu kembali berucap.
"Iya, Mimomnya sakit." Ray menarik Zura ke dalam pangkuannya.
"Mimi, Miom."
"Mimi dodot aja, ya. Mimi, Miom lagi panas."
"Anas."
"Iya, Sayang. Kan Mimomnya demam, jadi miminya panas."
"Zam! Sini. Kamu mau kemana?" Ray melihat Zam yang mulai menjauh.
"Zura tunggu di sini, ya. Jangan ke mana-mana. Pipop mau ngejar abang kamu dulu." Ray mendudukan Zura di dekat boneka.
Kemudian dia segera berlari mengejar Zam yang mulai menjauh dari jangkaunnya. Dengan napas tersendat dan ngos-ngosan, akhirnya Ray berhasil menangkap tubuh mungil Zam.
"Dapet! Kamu mau kemana, hm?" Ray menggendong tubuh mungil yang mulai belajar berdiri dan berjalan dengan tertatih.
__ADS_1
"Popo eong." Zam menunjuk ke arah luar.
"Meong? Zam ngejar meong?"
"Eong uan." Zam meronta dari gendongan Ray.
"Nggak boleh, nanti meongnya gigit tangan kamu." Ray membawa Zam kembali ke tempat semula.
"Ya ampun! Zura kemana lagi?" Atensi Ray menayap ke seluruh penjuru ruangan yang di tempati Zura.
"Kamu tunggu di sini Zam, Pipop mau nyari adek kamu. Jangan kabur." Ray mendudukan Zam di tempat semula Zura duduk.
Kemudian dia melangkah pergi untuk mencari ke beradaan sang putri, Ray mencari ke seluruh penjuru rumah namun dia tidak menemukan sang putri.
"Zura!" teriak Ray memanggil putrinya.
"Kemana anak itu?" Ray celingukan.
"Yai ya, popo." Terdengar suara dari kolong meja ruang tamu yang memang terdapat ruang di bawahnya.
"Zura, itu kamu 'Nak?" Ray mendekat ke arah meja.
"Pipi, do ica wa." Oceh Zura dari dalam kolong meja.
"Ya ampun, Sayang! Kamu ngapain di sana, Nak?" Ray buru-buru meraih tubuh mungil berpipi caby itu.
"Ica wa."
"Ah! Zam sendiri. Ayok kita ke abang kamu, takutnya kabur lagi." Ray membawa Zura ke tempat di mana Zam berada.
**************"
"Udah bisa minum obat 'kan sekarang, Dek?" tanya Satria saat Ella sudah menyantap buburnya.
"Nggak bisa, Bang," lirih Ella sembari mengeleng.
"Terus selama ini, kamu minum obatnya gimana, Dek? Di masukin ke pisang? Atau ke roti?"
"Ke mulut."
"Nah itu bisa langsung."
"Ke mulut, Kak Ray maksudnya." Ella tampak menyengir kuda.
"Kenapa jadi ke mulut si samuray, pan elu yang minum obat?"
"Kan di transferin, Bang. Gaya minum obat paling romantis."
"Ada-ada aja, gue kira cuma duit doang yang bisa di transfer. Ternyata obat juga bisa." Satria menggeleng.
"Ya udah dah, gue pangil lakik lo kalo gitu. Sekalian mau ngecek si Sasa yang lagi sama Mamih," ucap Satria.
"Emang Kadal kemana?"
"Ke supermarket."
"Dah ah, gue mau liat Sasa dulu."
"Yodah sono cek si micin. Takutnya udah di jadiin penyedap rasa sama, si Mamih." Ella mulai ceria kembali.
__ADS_1
Jejak jan lupa😘