
Kiana terpaku menatap jasad yang terbujur kaku di hadapannya, pria yang selalu membuatnya tersenyum kini telah pergi untuk selamanya. Kiana berharap ini hanyalah mimpi, tapi sayang, ini semua nyata.
"Kenapa kamu pergi secepat ini, Kak? Kenapa? Hiks, katanya kamu gak bakalan ninggalin aku. Kamu bakalan jagain aku dan selalu ada untuk aku. Ternyata kamu bohong hiks." Kiana begitu terpukul dengan kenyataan ini.
"Sabar ya, Ki. Ikhlasin kak Rendi supaya dia tenang." Dela memeluk bahu Kiana.
"Kenapa harus kak Rendi, Del? Kenapa? Apa Tuhan nggak pengen aku bahagia? Baru saja aku bisa tersenyum kembali, sekarang dia malah membuat alasanku tersenyum pergi.... Tuhan gak adil, Del... Kenapa dia jahat banget sama aku.. Hiks." Kiana meraung dalam pelukan Dela.
"Kia, aku tau ini berat. Tapi aku mohon, ikhlasin kak Rendi. Supaya dia tenang, dia pasti sedih ngeliat kamu kayak gini. Aku yakin Tuhan mempunyai rencana lain untuk kamu," ucap Ella berusaha menenangkan Kiana.
"Bener kata Ella, kamu harus ikhlas. Rendi sangat mencintai kamu, bahkan di akhir napasnya dia masih mengingat namamu, dia bilang... Sampaikan pada Kiana, bilang bahwa dia sangat mencintai kamu." Galang menimpali.
"Aku akan mencoba ikhlas, mungkin ini yang terbaik untuk kak Rendi," ucap Kiana dengan menghela napas sepenuh dada.
Kemudian Kiana menatap kembali wajah teduh Rendi yang biasanya segar, kini pucat pasi dan juga dingin. Namun tetap saja Rendi terlihat tampan di mata Kiana.
"Selamat jalan kak, aku ikhlas melepas kakak. Semoga kakak bahagia di sana, aku sayang kakak." Kiana memeluk jasad Rendi dengan begitu erat, kemudian dia mengecup kening Rendi.
"Selamat jalan, Bro. Semoga Tuhan menenpatkanmu di tempat terbaiknya, di tempat yang paling indah." Satria menatap lekat wajah sang sahabat.
Kini tiba saatnya jenazah Rendi untuk di mandikan, karena pihak keluarga meminta Rendi untuk di mandikan di rumah saja. Setelah selesai di mandikan, Rendi pun di sholatkan. Kemudian jenazah Rendi di bawa ke pemakaman keluarga untuk segera di kebumikan.
"Rendi, anak Mamah. Sekarang kamu udah tenang di sana, Mamah bener-bener gak percaya kamu udah pergi ninggalin, Mamah 'Nak." Ibunya Rendi bersimpuh di atas gundukan tanah sang putra.
"Iklasin Rendi, Mah. Putra kita sudah tenang di sana." Papah Rendi memeluk sang istri.
"Semalam dia bilang akan pulang ke rumah, Pah. Tapi ternyata bukan ke rumah kita, dia pulang ke rumah Allah." Ibunya menangis tersedu.
"Di.." Ketika hendak berkata lagi, ibunya Rendi tak sadarkan diri. Papah Rendi pun membopong sang istri dan membawanya ke mobil.
__ADS_1
"Kak Rendi, maafin aku ya. Aku suka ngisengin kak Rendi. Nakut-nakutin kak Rendi sampe ngompol di celana. Maafin aku ya, kak." Ella menaburkan bunga di atas pusara Rendi.
"Selamat jalan, Ren. Semoga kamu tenang di sana. Kami pasti akan merindukan sosokmu yang selalu ceria bahkan kerap kali bertingkah konyol." Ray mengusap nisan Rendi.
"Meskipun kini raga kamu sudah pergi, tapi nama kamu akan selalu terukir dalam hati kami," lanjutnya dengan menitikan air mata.
"Gue janji, Ren. Gue bakal jagain orang yang lo sayang sesuai permintaan lo. Jadi lo tenang ya, di sana." Galang menghela napas sepenuh dada untuk mengusir rasa sesak yang menyeruak.
"Kak.... Sekarang gak akan ada lagi yang gangguin aku, nanyain kabar. Udah makan apa belum? Ngajak jalan, gombalin aku. Sekarang aku bakalan kehilangan semua itu, aku pasti bakal rindu kakak, rindu sosok kakak yang selalu memelukku di saat aku sedih, merangkulku di sat aku rapuh. Menjadi tempatku mengadu dan juga berkeluh kesah. Sekarang aku bener-bener sendiri, gak akan ada lagi yang dengerin ocehanku, hiks." Kiana memeluk nisan Rendi dengan begitu erat.
"Sruuttt! Sekarang, gue beneran nangis, Ren. Bukan gegara si bawang lagi, hikss... Sruttt!" Satria menangis tersedu sembari mengusap ingusnya dengan sebuah kain.
"Gue bakal kangen lo, Ren. Kangen jailin lo, kangen bikin dosa bareng lo. Gue bakal kangen semuanya, Ren. Hikkss... Srutt!" Satria makin sesegukan.
"Perasaan baru kemaren kita ketawa-tawa, makan bareng. Sekarang kita udah beda alam, Rend. Srutt!" Lagi-lagi Satria mengelap ingusnya.
"Eh, kok bau ikan asin," gumam Satria sembari mengendus kain hitam yang dia gunakan untuk mengelap air mata dan juga ingusnya.
"Ah, maaf, nek. Aku kira itu kain penutup tadi," ucap Satria sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Pantesan bau ikan asin, huek," gumam Satria, ternyata nenek itu adalah kerabat jauh Rendi yang turut serta menghadiri pemakaman.
Hari sudah menjelang sore, merekapun pulang dari pemakaman. Setelah sampai di mobil, hujan turun deras mengiringi kesedihan mereka. Kehilangan begitu terasa, karena sosok Rendi adalah sosok yang priang. Baik dan mudah bergaul, tidak akan ada lagi yang berbuat rusuh, ngajak ribut. Berkata absurd dan menghangatkan suasana. Kini sosok itu telah pergi, meninggalkan kesedihan yang begitu mendalam. Selamat jalan Rendi, semoga ekau tenang di keabadian.
******************
"Kak Ray... Aku masih gak nyangka, kak Rendi bener-bener udah pergi." Saat ini Ella tengah berada dalam dekapan Ray, di bawah selimut tebal yang menyelimuti tubuh mereka berdua.
"Kakak juga masih gak percaya, tapi umur siapa yang bisa menebak. Kita juga gak tau umur kita sampai kapan? Saat itu tiba, kita hanya bisa pasrah." Ray semakin memeluk erat sang istri.
__ADS_1
"Kasian Kian...," lirih Ella.
"Kita do'ain aja yang terbaik untuk dia."
Malam semakin larut, namun hujan masih turun membasahi bumi di sertai semilir angin yang begitu dingin menusuk permukaan kulit. Hujan malam ini cukup lebat, menemani kesedihan seorang gadis yang tengah meringkuk di atas ranjang dengan tatapan kosong dan juga berlinang air mata sembari memeluk sebuah pigura berisikan poto pria yang di cintainya.
"Aku kangen....," lirihnya.
"Biasanya jam segini kamu nelepon aku, gombalin aku.....," ucapnya sembari menatap poto pria yang tengah tersenyum dengan manisnya.
"Ki...," panggil seseorang yang membuka pintu kamar Kiana.
Kiana mendongkak dengan tatapan kosong, "Abang...," lirih Kiana, dalam hatinya dia bertanya? Ada angin apa sehingga abangnya itu masuk kedalam kamarnya. Biasa tidak pernah sama sekali.
"Kamu belum makan dulu, ya," ucap Riki lembut.
Kiana mengerejap, benarkah ini Riki Abangnya? Atau hanya tubuh Riki saja yang kemasukan jin baik? Pikir Kiana, tak lama kemudian dia menggeleng pelan.
"Abang tau kamu sedih, tapi kamu harus makan. Nanti kamu sakit." Lagi-lagi ucapan Riki membuat Kiana membeku. Abang? Dia memanggil dirinya Abang?
"Biarin aja aku sakit, biar aku nyusul Rendi." Air mata Kiana mengalir begitu saja.
"Kia, kamu nggak boleh ngomong gitu. Rendi pasti sedih liat kamu seperti ini. Kamu harus ikhlas, kamu harus kuat. Rendi juga gak ingin ninggalin kamu, tapi dia tidak bisa melawan takdir. Jadi jangan begini, ya." Riki mengusap air mata Kiana.
"Bukannya Abang seneng kalo aku mati? Jadi di rumah ini gak akan ada lagi benalu. Sekarang kenapa Abang baik sama aku?" Kiana menatap Rendi dengan penuh pertanyaan.
"Maafin, Abang. Abang belum bisa jadi Kakak yang baik buat kamu. Maaf, Abang tau kata-mata Abang selama ini sangat menyakiti kamu. Abang menyesal, maafin, Abang..." lirih Riki.
"Abang gak malu minta maaf sama anak haram kayak aku?"
__ADS_1
Jejak guys 😘😘😘😘