
"Ya ampun, A ... Ini indah banget!" Dela memandangi taman belakang rumah besar itu dengan berkaca-kaca.
"Iya, Neng. Aku khusus bikin ini spesial untuk kamu," ucap Galang yang tangannya setia menggenggam erat jari jemari Dela.
"GDG?" Dela menata hamparan bunga berbentuk tiga hurup yang ia sebutkan.
"Galang, Dela, Gala," ujar Galang di sertai senyuman manisnya.
"Kamu suka, nggak?" lanjutnya sembari menatap lekat wajah Dela.
"Suka banget!" Dela berhambur memeluk Galang.
"Maafin aku ya," lirih Dela.
"Kenapa minta maaf, hm?" Galang mengecup lembut kening Dela.
"Aku minta maaf, karena aku udah nuduh Aa yang enggak-enggak." Suara Dela terdengar parau.
"Nggak pa-pa, lagian Aa seneng, Neng Del cemburu. Berati itu tandanya, Neng cinta sama, Aa," ujar Galang.
"Tadinya, Aa sempat nggak setuju dengan ide duo curut itu. Tapi saat melihat kamu nggak cemburu sama sekali terhadap Ella, padahal kan, Ella adalah cinta pertama, Aa. Dari situ Aa mulai setuju dengan ide gila mereka," lanjutnya.
"Lagian masa iya, aku harus cemburu tanpa alasan sama Ella."
"Tapi kan, minimal jelous gitu liat Ella bercandain, Aa. Yang Aa liat, kamu lempeng aja."
"Iya juga ya." Cengir Dela.
"Maka dari itu Aa sempet ragu."
"Maksudnya?"
"Aa ragu, kamu tu cinta nggak sih sama Aa? Liat Aa di becandain cewek lain aja nggak bereaksi. Aa, juga pengen di cemburuin, Neng. Kan katanya cemburu itu tanda cinta."
"Ouh, aku tau. Aa ngelakuin ini buat ngebuktiin apakah aku cinta sama Aa atau enggak? Dengan cara membuat aku cemburu?"
"Iya, Neng." Galang mengangguk.
"Kalo gitu, jawabannya iya. Aku cemburu, sangat cemburu. Itu artinya aku sangat mencintai Aa," ujar Dela.
"Aa juga cinta sama, Neng. Cinta banget. Jangan pernah sekalipun mencoba berpaling dari, Aa ya." Galang mendekap erat tubuh Dela.
"Aa juga." Dela membalas pelukan Galang tak kalah eratnya.
"Akhirnya tugas aku selesai," celetuk Kiana yang sedang berdiri di antara para orang tua yang tengah menyaksikan kemesraan Dela dan Galang.
"Nggak berasa jadi pelakor lagi, ya," sindir Diego.
"Itu kan ide gila, kamu." Cebik Kiana.
"Itu satu-satunya cara biar, Bang Galang merasa di cemburui," ujar Diego.
"Tapi kenapa harus aku yang jadi pemancingnya," keluh Kiana.
"Lo mancing apa, Ki?" Ella tiba-tiba datang dari belakang mereka.
"Mancing ke begoan, lo." Alvin yang menjawab.
"Kuburan apa rumah sakit, Vin?" Ella menunjukan kedua tangannya yang sudah terkepal.
"Ranjang bergoyang," jawab Alvin ngasal.
"Sueee lo!"
Mereka pun bercengkrama sembari menikmati hidangan yang sudah tersedia. Rencananya hari ini juga Galang akan membawa Dela pindah ke rumah ini. Toh di rumah orang tuanya sudah ada Adit, jadi mereka tidak akan terlalu kesepian. Kalau rindu dengan Gala, mereka bisa main kesini sewaktu-waktu. Bi Romlah pengasuh Gala juga ikut serta pindah, karena dia yang akan menjaga Gala di saat Dela kuliah.
"Aduh, kenapa perut aku tiba-tiba mules." Kiana berlarian menuju kamar mandi.
Brukk!
"Akh! Siall!" Kiana terpeleset lalu terjatuh ke lantai yang begitu dingin.
"Kenapa pake jatuh segala, si," gerutu Kiana.
"Gimana nggak jatuh, orang Kakak berlarian pake hiils gitu," ucap Adit yang baru keluar dari kamar mandi di dekat dapur.
__ADS_1
"Daripada ngoceh, mending kamu bantuin aku deh." Kiana menatap ke arah Adit.
"Ok. Sini aku bantu." Adit mengulurkan tangannya.
Kiana pun langsung meraih tangan Adit yang ter-ulur. Dia yang tadinya terduduk di lantai kini sudah bangkit kembali.
"Kakak nggak pa-pa?" tanya Adit.
"Bokong aku sakit," lirih Kiana.
"Mau priksa ke dokter?" tawar Adit.
"Ogah, nggak lucu. Masa ke dokter mau priksa bokong." Delik Kiana.
"Kenapa emangnya? Toh, bokong juga anggota tubuh. Apa bokong itu seperti anak tiri yang tidak di anggap padahal dia berguna?" ujar Adit.
"Ngomong sama kamu kayak ngomong sama viko presetan tau nggak. Apa yang di omongin selalu jadi Pilosopi." Kiana melangkah pergi, tetapi bukan ke kamar mandi.
"Bukannya kakak berlarian karena mau pergi ke kamar mandi. Kenapa nggak jadi?" ucapan Adit sontak membuat langkah Kiana terhenti.
"Oh, iya. Tadi kan aku mules. Kenapa sekarang jadi ilang," gumam Kiana.
"Kak!"
"Nggak jadi." Kiana melangkah kembali.
"Hills kakak ketinggalan sebelah," teriak Adit.
"Oh, astaga! Kenapa aku nggak nyadar cuma pake hills sebelah!" Kiana menepuk keningnya sendiri.
Kemudian dia berbalik dan melangkah ke arah Adit dengan langkah pincang karena kakinya jadi panjang sebelah.
"Emang nggak berasa ya, Kak? Padahal kan jalan kakak jadi pincang," tanya Adit dengan sebelah tangan yang mengulurkan hills Kiana.
"Kamu sih ngoceh mulu, jadi bikin aku nggak fokus," ucap Kiana kesal.
"Nggak fokus karena ocehan aku? Apa karena ketampanan aku?" goda Adit.
"Dasar bocah tengil, kamu mau godain aku ya? Sorry nggak bakal mempan. Aku nggak tertarik sama bocah kayak kamu," oceh Kiana.
"Yakin, Kak? Aku ini tampan loh." Adit mendekati Kiana.
"Perasaan aku udah dewasa deh, tapi kenapa kakak sama kak Dela selalu manggil aku bocah." Adit nampak sedang berpikir.
"Karena kamu emang masih, Bocah!"
"Ekhem!" Suara deheman Ella membuat mereka berdua menoleh.
"Ell." Kiana langsung mendorong Adit yang berada di hadapannya.
"Aw, kenapa aku di dorong, Kak?" Adit terjerembab ke lantai.
"Wkwkwk, kamu salting, Ki?" Ella menatap ke arah Kiana yang nampak gugup.
"Salting sama bocah? Nggak lah, Ell." Kiana mendelik kemudian dia berlalu pergi.
"Hills nya nggak di pake, Kak?" ucap Adit yang masih terduduk di lantai.
"Nggak! Lagi tren pake hills sebelah!" teriak Kiana yang sudah menjauh dengan langkah pincang dan sebelah tangan menenteng hills.
"Lo nggak pa-pa?" Ella mengulurkan tangannya untuk membantu Adit.
"Nggak kok, Kak. Thank." Adit menerima uluran tangan Ella kemudian bangkit dan berdiri di hadapan Ella.
"Lo adeknya si Alang-Alang kan?" tanya Ella.
"Alang-Alang?" Adit menautkan sebelah alisnya.
"Galang kutu kupret maksudnya."
"Oh, iya, Kak. Aku adiknya Bang Galang," jawab Adit.
"Kakak pasti, Kak Ella 'kan?" tebak Adit.
"Kok lo tua?" Ella menatap netra Adit.
__ADS_1
"Karena Abang pernah bilang pas dia naksir seorang wanita untuk pertama kalinya. Dia bilang, wanita yang dia sukai itu unik, lucu, cantik. Walau suka ganti nama orang sembarangan," ujar Adit.
"Tapi itu dulu kok, Kak. Abang cerita itu jauh sebelum dia kenal kak Dela," sambung Adit.
"Oh, nggak pa-pa si. Lagian itu udah berlalu dan sekarang dia udah punya kehidupan baru dengan cinta yang baru pula. Tapi yang gue heran kenapa dia nyebut gue unik? Emangnya gue ini barang antik apa?" ujar Ella.
"Kakak emang unik, langka lagi." Adit terkekeh pelan.
"Dah ah, gue mau pergi. Euh, siapa sih nama lo?"
"Adit, Kak."
"Oh, yodah kalo gitu gue pergi ya, Didit. Bay!" Ella melangkah pergi meninggalkan Adit.
"Bener kata Bang Galang, Kak Ell itu lucu," gumam Adit.
"Tapi sayang istri orang," lanjutnya kemudian dia pun berlalu pergi pula.
Hari sudah beranjak sore, mereka semua pun memutuskan untuk pulang. Namun tidak dengan orang tua Galang dan Adit, mereka akan menginap di sana untuk membantu mereka beres-beres. Dan untuk barang-barang Dela, Gala dan Gala. Semuanya sudah Galang angkut ke rumah barunya, jadi tinggal di bereskan saja.
"Galang ternyata sosweet juga, ya," ucap Wina yang duduk di kursi belakang sambil memanggku Zam dan Samsul memanggu Zura. Mereka memang pulang dengan satu mobil.
"Iya, Mam. Lebih romantis dari, Kak Ray," sahut Ella yang duduk di samping Ray.
"Jadi, Kakak nggak romantis nih?" Ray melirik Ella sekilas.
"Kurang romantis kamu, Ray. Kalah sama Papah." Wina yang menjawab.
"Ck, kayak Papah romantis aja. Palingan dia bisanya cuma bikin, Mamah kesel." Cibir Ray.
"Jangan salah, Ray. Papah romantis kok, iya 'kan mah?" Samsul menatap sang istri.
Citttttt!
Ray tiba-tiba ngerem mendadak.
"Ray! Kamu apa-apaan sih? Mau bikin kita celaka ya?!" bentak Wina tanpa melihat ke depan.
"Kita di kepung, Mah." Samsul berbicara dengan atensi yang menatap ke arah luar, di mana segerombol orang bertopeng menghadang mobil mereka.
"Mereka siapa, Ray?" tanya Wina dengan nada cemas setelah melihat ke arah luar.
"Aku juga nggak tau, Mah," jawab Ray kemudian ia menatap ke samping di mana sang istri berada.
Brakk!
Brakk!
Brakk!
"Buka!" teriak salah satu dari mereka.
"Gimana ini, Ray?" Wina semakin panik.
"Kenapa mereka nyegat kita, Ray?" tanya Samsul yang tak kalah panik.
"Kalian jangan panik, semunya akan baik-baik aja," ucap Ella sembari menatap kedua mertuanya secara bergantian.
"Bagaimana mau tenang, Ell? Mereka serem-serem, banyak lagi. Mana jalanan sepi, gimana kalau terjadi apa-apa sama kita. Mamah takut, Ell."
"Mamah tenang aja, ada aku. Semuanya akan aman terkendali."
"Tenang-tenang, emangnya kamu ini wonder woman apa? Plis deh Ell, jangan bercanda ini serius. Ray, cepat cari bantuan. Telepon polisi."
"Buka woy! Atau mobil kalian akan kami bakar!" teriak mereka.
"Buka!"
"Ck!" Ella membuka seatbelt nya.
"Kamu tunggu di sini aja, Sayang. Biar Kakak yang hadapi." Ray menggenggam sebelah tangan Ella.
"Kita hadapi bersama." Ella tersenyum smirik.
"Ell! Kamu jangan gila! Mereka berbahaya, Ell!" bentak Wina.
__ADS_1
Namun Ella tidak mendengarkan ocehan Wina, dia tetap membuka pintu mobil dan melangkag keluar dengan di susul oleh Ray.
Jejak😘😘😗