Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Kesiangan


__ADS_3

Malam ini Satria dan juga Rendi menginap di rumah keluarga Wardana. Mereka tidur di kamar tempat Satria biasa menginap. Sedangkan Ella, dia tidak tidur dengan twins, karena itu adalah permintaan Wina. Dia ingin tidur bersama twins, begitu juga Samsul. Kadang Ella suka berpikir, twins itu anaknya apa adeknya? Karena Wina dan juga Samsul yang menguasai twins, mereka bilang, Ella fokus saja kuliah.


"Yang..." panggil Ray yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Apa?" Ella melirik sekilas.


"Besok kakak berangkatnya pagi, soalnya ada urusan kantor yang mesti kakak selesaikan. Setelah itu baru ke kampus," ujar Ray.


"Oh, ya udah gak pa-pa. Kak Ray berangkat duluan aja," ucap Ella.


"Kamu gak pa-pa berangkat sendiri?" tanya Ray.


"Gak pa-pa lah, emangnya aku anak kecil apa," delik Ella.


"Tapi di jalannya hati-hati, ya." Ray menatap Ella sembari tersenyum tipis.


"Hm."


Sepertinya Ella mulai mengantuk, Ray yang melihat istrinya menahan kantuk pun hanya bisa tersenyum. Apa lagi saat Ella berusaha membuka mata yang sudah teler dan alhasil dia pun tertidur. Sedangkan Ray, dia masih berkutat dengan laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya.


-----_---------------------+++++++++


Tok! tok! tok!


"Ell!" teriak Wina dari luar.


"Ella bangun! kamu kan kuliah. Ini udah siang!" lanjutnya masih dengan berteriak.


"Ya ampun! gue telat!" pekik Ella yang langsung melompat dari atas ranjang.


"Kamar mandi mana? aduh mana sih pintunya?" Ella yang masih setengah sadar berjalan dengan keleyengan.


"Ell!" terdengar Wina teriak kembali.


"Aku udah bangun kok, Mam!" balas Ella berteriak.


Setelah menemukan pintu kamar mandi, Ella pun langsung mencuci muka dan menggosok gigi tanpa mandi karena dia sudah telat. "Jam sembilan! Ya ampun gue telat banget ini." Ella yang hendak mengganti baju pun tidak jadi, dia malah langsung meraih sepatu dan juga tasnya.


Ella berjalan dengan tergesa, dia begitu ter buru-buru. Bahkan dia tidak sempat menyusui twins, untung saja persediaan asi masih ada, tinggal di hangatkan saja oleh Wina.


"Abang! Bangun!" Ella menarik Satria yang masih tertidur nyenyak.


"Apa si, Dek?" Satria mengerejap.


"Anterin aku ke kampus, cepetan! udah siang ini." Ella menarik Satria supaya bangun.


"Bentar, abang mandi dulu," ucap Satria.


"Gak usah mandi, aku udah kesiangan cepetan!" cegah Ella cepat.


"Astaga, Dek. Masa gue nganterin lu ke kampus kayak gini?" Satria menatap Ella dengan wajah bantalnya.



"Udah gak pa-pa, cakep kok. Ayok cepet!" Ella memaksa Satria untuk mengantarnya dengan kondisi kucel, bahkan tidak cuci muka.


Setelah mereka sampai di mobil. Satria pun segera meluncur untuk mengantarkan Ella. Sepanjang jalan Satria terus menggerutu karena mimpi indahnya telah terganggu oleh sang adik.

__ADS_1


"Kenapa lu kagak bawa mobil sendiri aja, si Dek?" tanya Satria heran.


"Males," jawab Ella singkat.


"Itu juga baju lu kenapa gitu?" Satria menunjuk baju yang Ella kenakan.


"Kenapa sama baju aku?" tanya balik Ella.


"Masa lu ngampus pake baju kayak gitu?"


Ella pun menilik kearah bajunya, "Astaga! gue lupa, kan tadi gue gak sempet ganti baju." Ella menepuk jidatnya sendiri.


"Mampus lu, auto kena marah si Ray dah," ucap Satria sedikit mengejek.


"Gimana dong, Bang? mampir ke mall gak bakalan sempet ini udah telat banget," bingung Ella.


"Ya, itu mah. DL. Siapa suruh pake baju kurang bahan," cibir Satria.


"Dasar abang luknut." Cebik Ella.


Saat ini Ella mengenakan atasan putih dengan tangan panjang yang ujung lengannya merah. Bahawannya hotpants merah setengah paha yang super seksi. Setelah itu biasa dia kenakan di saat tidur.


"Bang..." Ella melirik Satria yang tengah fokus menyetir.


"Apa?"


"Di pikir-pikir kita ini kayak kambing ya," ujar Ella.


"Ngapa lu samain kita sama kambing?"


"Kita pan gak mandi, tapi tetep gulawing, kinclong kek kacang polong," cengir Ella.


"Itu bukan remahan, Bang. Tapi kristal yang di hasilkan pada saat kita tidur," ucap Ella.


"Bilang aja Bebek, panjang bener istilah lu, kayak jalan cerita lu yang panjang tiada ahir," cebik Satria.


"Belek, kenapa jadi bebek? Hooh lah, kan kisah cinta aku sama Kak Ray masih panjang. Tapi gak sepanjang..."


"Stop, omongan lu mulai ngawur." Satria langsung memotong ucapan Ella.


"Apa si, orang aku mau bilang gak sepanjang kali, karena ada ujungnya. Kan cintaku gak ada ujungnya ble. Abangnya aja yang omes, tapi maklum sih, kan Abang kebelet kawin," ledek Ella.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di depan gerbang kampus. Ella pun langsung saja turun dari mobil. "Siap-siap pawang lu ngamuk," ucap Satria sembari melajukan mobilnya.


Ella tidak memperdulikan ucapan Satria, dia segera masuk kedalam kampus dengan santainya tanpa memperdulikan tatapan lapar dari para pria mata keranjang.


"Ell, lo lama banget si? kita udah mau berangkat kelapangan," ucap Diego yang datang menghampiri Ella bersama Kiana dan juga Alvin.


"Lapangan bola?" Ella mendadak telmi.


"Kok lapangan bola, ya lapangan maksudnya kita berangkat ke jalanan untuk mewawancarai pedagang kaki lima. Kan kemarin kita di tugasin itu, apa lo lupa," kesal Diego.


"Maaf Gogo, akunya lupa," cengir Ella.


"Ya udah kalo gitu ayok kita berangkat," ajak Ella.


"Bahan wawancaranya belum kita ambil, pak Ray nya baru dateng. Kita ambil dulu," ucap Kiana.

__ADS_1


"Oh, ok. Kalian aja sana yang ambil."


"Kamu gak ikut?" tanya Kiana.


"Enggak, akunya nunggu disini aja," jawab Ella.


"Nanti di gangguin sama cowok mata keranjang kalo elo nunggu disini sendiri, emangnya lo gak takut?" ucap Diego.


"Cowok mata keranjang? emangnya ada ya mata yang di keranjangin?" Ella terlihat seperti orang bingung.


"Itu istilah, Ell. Bukannya mata yang di masukin ke keranjang," geram Diego.


"Oh, aku kira matanya di keranjangin kayak strawberry yang baru panen," ucap Ella polos.


"Ck, lu pikir mata itu mainan apa yang bisa di copot sesuka hati, dah lah mending kita temuin pak Ray." Diego menarik tangan Ella.


"Jangan pegang! haram tau!" Ella langsung menepis tangan Diego kasar.


"Lo pikir gue Anjingg apa?"delik Diego.


"Gogo tau gak Narkobaa?" tanya Ella.


"Tau lah," ketus Diego.


"Nah, aku itu kayak narkobaa, haram untuk di sentuh. Sekalinya nyentuh bakal ketagihan dan menjadi candu yang mana akan membuatmu mendekam di jeruji besi atau di hukum mati," ucap Ella dengan serius.


"Ada-ada aja lo, emang siapa juga yang bakal menjarain gue kalo gue deketin lo? nyokap bokap lo? mana ada, ngawur lo." Diego melangkah terlebih dahulu dengan dli susul Alvin, sementara Ella berjalan di belakang bersama Kiana.


Saat berada di ambang pintu ruangan Ray, Ella terlihat begitu cemas. Dia sudah bisa menebak, pasti Ray akan marah saat melihat penampilannya yang seperti ini. Ella merutuki kebodohannya yang harus bangun kesiangan sampai dia tidak sempat mandi dan ganti baju, dia ke kampus mengenakan baju yang biasa ia pakai saat tidur. Untung saja semalam dia tidak mengenakan piyama keroppi nya, kalau tidak, sudah pasti dia ke kampus memakai piyama itu.


Tok! tok! tok!


Diego nampak mengetuk pintu, lalu terdengar sahutan masuk dari dalam. "Permisi, Pak. Kami mau mengambil bahan wawancara," ucap Diego sopan.


Ray terlihat menatap ke belakang, dia mencari ke beradaan sang istri yang dia ketahui bahwa Ella satu kelompok dengaan siswa di hadapannya. "Ini bahan wawancara kelompok kalian, catat dengan detail dan wawancara mereka dengan baik dan juga sopan," ujar Ray sembari memberikan sebuah map kepada Diego.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Diego membungkuk.


"Silahkan. Dan tolong kamu panggilkan Stela, suruh dia menghadap saya." perintah Ray.


"Baik, Pak." Diego melangkah keluar dari ruangan Ray.


"Ell, lo di panggil pak Ray tuh," ucap Diego saat dirinya sudah sampai di luar.


"Males, ah."


"Cepetan temuin dulu, siapa tau penting Ell," ujar Kiana.


"Iss, iya, iya." Ella melangkahkan kakinya dengan gontai.


Ceklek, Ella langsung membuka pintu tanpa mengetuk. Setelah itu dia masuk dengan wajah tersenyum manis sembari menatap ke arah Ray yang tengah menatapnya tajam dan menghunus, Ray tampak murka.



"Hay bapak dosen," sapa Ella yang tersenyum manis sembari mengangkat kedua tangannya.


Ray tidak menjawab, dia berjalan menghampiri Ella dengan wajah dinginnya kemudian.........

__ADS_1


Jejak😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2