
Hari sudah menjelang sore, akan tetapi kedua wanita yang konon katanya pergi shopping itu sampai saat ini belum pulang juga. Terlihat Ray begitu uring-uringan karena sang istri tidak mengangkat telepon darinya, pikirannya sudah berkelana membayangkan jika sang istri saat ini tengah bercengkrama dengan pria tampan. Dia benar-benat takut jika sang ibu benar-benar mengajak Ella untuk cuci mata mencari yang bening.
"Ray... Kamu bisa diem gak si?" geram Rina karena sedari tadi Ray terus melangkahkan kakinya kesana-kemari.
"Gimana aku bisa diem, Mih. Istri aku belum pulang jam segini," ungkap Ray gelisah.
Yap, waktu sudah menunjukan pukul lima sore, namun Ella dan juga Wina belum juga nampak batang hidungnya. Tentu saja itu membuat Ray resah karena khawatir terjadi sesuatu kepada mereka. Untuk Rina, dia memang tadi siang berkunjung ke kediaman Wardana bersama dengan sang suami yang kini sedang berbincang dengan Samsul.
"Aku mau susul mereka aja, Mih." Ray hendak melangkahkan kakinya keluar.
"Jangan!" Cegah Rina cepat.
"Kenapa, Mih? Aku mau nyari istriku, aku gak tenang, Mih hanya berdiam diri seperti ini." Wajah Ray sangat terlihat gelisah, dia benar-benar sangat khawatir saat ini.
"Mamih gak mau di tinggal sendiri, Papih sama Papah kamu kan mau pergi," ujar Rina.
"Pergi kemana? Apa mereka akan pergi sekarang juga?" tanya Ray.
"Entahlah, katanya ada urusan sebentar. Ya, mereka sebentar lagi berangkat," jawab Rina bertepatan dengan Samsul dan juga Andi yang berjalan ke arah mereka.
"Mau pergi sekarang, Pih?" Rina mendongkak menatap sang suami.
"Iya, Mih. Kami pergi dulu. Ray, titip Mamih kamu ya." Andi menepuk bahu Ray.
"Terus gimana sama Mamah dan istri aku? Mereka belum pulang. Aku khawatir," Keluh Ray.
"Sebentar lagi mereka pulang, jangan khawatir." Andi berjalan pergi dengan di ikuti oleh Samsul.
Setelah mereka pergi, Ray pun duduk di sofa dengan hati yang masih gelisah. Pikirannya sangat kalut, benar-benar kalut. Apa lagi nomor sang istri masih tidak bisa di hubungi, begitu juga ddengan ibunya.
Hari sudah mulai gelap, Matahari sudah terbenam dan kini terganti dengan gelapnya malam. Akan tetapi Ella dan Wina masih belum pulang juga, Ray tidak bisa berdiam diri lagi. Dia akan mencari mereka, presetan dengan Rina yang di tinggal di rumah bersama twins.
"Mau kemana Ray?" Baru saja kakinya hendak melangkah, Wina berjalan masuk ke dalam rumah.
Tapi tunggu, di mana keberadaan istrinya? Mengapa Wina hanya pulang seorang diri?
"Istri aku mana, Mah?" Ray langsung bertanya to the point.
"Loh, bukannya Ella udah pulang tadi?" bingung Wina.
"Maksud Mamah apa? Jelas-jelas tadi istri aku pergi bareng sama Mamah, dan sampai sekarang dia belum pulang." Ray terlihat emosi.
"Dia emang pergi bareng Mamah, tapi tadi dia pulang duluan karena Mamah ada acara," ujar Wina.
"Ah! Kenapa Mamah gak ngabarin aku coba? Kenapa juga nomor kalian gak aktip?" Ray semakin kalang kabut.
"Ponsel Mamah lowbet, entah kalau Ella," jawab Wina.
"Ah! Kemana Ella?" Ray menjambak rambutnya frustasi.
"Sabar Ray, mungkin Ella ada urusan," ucap Rina menenangkan.
"Istri aku belum pulang, Mih. Dan dengan mudahnya Mamih nyuruh aku tenang? Aku gak bisa, Mih." Ray meraih kunci mobil yang ada di atas meja, dia hendak pergi mencari Ella. Tetapi getaran ponsel menghentikan langkahnya.
Ray melihat siapa yang menelepon nya, dia berharap itu adalah sang istri, tapi ternyata bukan. Meskipun begitu, dia tetap mengangkatnya.
π Halo.
π Yang lagi bulan madu, ketus amat.
__ADS_1
π Bulan madu apaan, gue ada di rumah.
π jadi, lo di rumah. Terus, Laki-laki yang tadi di hotel sama adek gue siapa?
π Istri gue sama laki-laki di hotel? Yang bener lo, Sat? Di hotel mana?
π Di hotel *****
π Ok, gue kesana sekarang.
Ray langsung mematikan teleponnya, kemudian dia segera melangkah pergi dengan perasaan kalut. Perasaannya begitu kacau saat ini. Benarkah istrinya sedang bersama laki-laki lain? Siapa? Ada urusan apa? Berbagai spekulasi negatif tentang istrinya bermunculan dalam benaknya.
"Gak, gak mungkin Ella berbuat begitu." Ray menggelengkan kepalanya, kemudian dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke hotel yang di bilang oleh Satria.
Di sisi lain.
Ella saat ini sedang berada di dalam sebuah ruangan bersama dengan seorang laki-laki. Mereka nampak sedang berbincang, sesekali tertawa, entah apa yang mereka bahas? Yang pasti ruangan itu sudah di dekorasi dengan secantik mungkin. Lilin berjejer dengan indah, kelopak bunga bertaburan membentuk love. Suasananya begitu romantis dengan suara biola yang mengalun merdu.
"Kamu suka dengan dekorasinya?" tanya pria itu.
"Suka, suka banget malah. Ini sangat indah, makasih ya, aku seneng banget." Ella tersenyum dengan tulus.
"Syukurilah kalau kamu suka." Pria itu membalas senyuman Ella dengan begitu manisnya.
"Kamar?" Ella terlihat malu-malu menanyakan itu.
"Kamarnya udah siap dong, bahkan suasananya gak kalah romantis sama ini," jawab pria itu.
"Kamu udah gak sabar, ya?" lanjutnya menggoda Ella.
"Apa sih, siapa juga yang udah gak sabar." Ella tersipu malu.
"Halah, ngeles aja kamu." Pria itu menjawil hidung Ella.
"Kamu tetap sama kayak dulu, lucu." Pria itu kini mencubit kedua pipi Ella.
"Ishh, kok akunya di cubitin mulu, sih. Entar aku kurus lagi karena dagingnya abis," gerutu Ella.
"Kurus juga tetep cantik."
"Huekk, gombal ni ceritanya? Tapi sayang garing kayak muka kamu."
"Berani ya, ngeledekin aku."
"Semuanya udah siap, sekarang tinggal lo dan-dan yang cantik." Belum sempat Ella membalas ucapan pria itu, satu pria lainnya datang menghampiri.
"Oh, ok." Ella mengacungkan jempolnya.
"Aku siap-siap dulu, jangan rindu." Ella menatap pria tadi dengan meledek, kemudian dia melangkah pergi.
********************
Di luar hotel, Ray sudah sampai. Setelah dia memarkirkan mobilnya, dia langsung turun dengan tergesa-gesa.
"Ella di lantai mana? Di kamar berapa?" Ray seketika menghentikan langkahnya karena tidak tau di mana keberadaan istrinya.
Ray pun meraih ponsel dari dalam saku jaketnya, dia hendak menelepon Satria untuk menanyakan di lantai berapa dia melihat Ella.
"Ray." Belum sempat Ray menekan tombol hijau, Satria sudah menepuk pundaknya dari belakang.
__ADS_1
"Sat, lo kesini juga?" Ray langsung berbalik.
"Iya, gue khawatir. Takutnya lo nyiksa adek gue," ujar Satria.
"Lo pikir gue suami apaan main nyiksa istri sembarangan," ketus Ray.
"Ya, gue takut aja lo kalap. Secara kan, adek gue lagi sama cowok lain. Gue takut mereka berbuat yang enggak-enggak di hotel ini." Satria terlihat menghela napas panjang.
"Jadi bener? Ella di hotel ini sama laki-laki?" Emosi Ray memuncak kembali.
"I-iya, tadinya gue gak mau ngasih tau lo. Tapi gue juga gak mau adek gue berbuat yang gak bener," ucap Satria.
"Kurang ajar!" umpat Ray murka.
Dalam hatinya dia tidak yakin jika sang istri menghianati nya, tetapi melihat raut wajah Satria yang begitu serius, dia menjadi bimbang.
"Lo liat wajah laki-laki itu?" Ray menatap tajam Satria.
"Gue gak liat, karena tadi cuma keliatan punggungnya doang. Gue pikir itu elo, karena dia rangkul adek gue masuk kedalam kamar."
Bugh!
"Kenapa lo gak cegah bego!" Ray menonjok perut Satria.
"Ah! Kenapa lo nonjok gue. Kan udah gue bilang, gue pikir itu elo." Satria tampak meringis.
"Gak usah banyak bacott! Sekarang tunjukin di mana kamarnya?!" Ray menarik kerahasiaan baju Satria.
"Di mana ya? Gue lupa, ke sana? Apa ke situ?" Mata Satria bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Lo mau mempermainkan gue, hah?" Brukk! Ray mendorong Satria hingga dia terjengkang, lalu dia melangkah pergi.
"Tunggu Ray! Ella bukan di situ!" teriak Satria.
"Lalu di mana, Anji**ng?!" Ray berbalik menatap tajam penuh amarah ke arah Satria.
"Jangan teriak-teriak Ray, malu noh di liatin orang." Satria menunjuk orang yang berlalu-lalang.
"Gue gak perduli. Sekarang tunjukin di mana istri gue?!" Ray menarik paksa Satria supaya berdiri.
"Ya Tuhan, remuk dah tubuh gue. Mana mau kawin bentar lagi, gimana kalo encok coba? Kan berabe gak bisa goyang," Dumel Satria sembari meringis.
"Sat!"
"Iya-iya."
Satria pun membawa Ray ke tempat yang konon katanya dia tadi bertemu dengan sang adik. Satria membawa Ray ke pantai sepuluh dengan menaiki lift.
"Bentar Ray, lo mau ngapain?" Satria langsung menarik Ray yang sepertinya hendak mendobrak pintu kamar hotel itu.
"Lo masih nanya mau ngapain?! Istri gue ada di dalem sama laki-laki lain, dan lo pikir gue gue akan diem aja, hah?" Ray mendorong kasar Satria yang berusaha menghalanginya.
"Aduh! Sakit Ray!" Satria berteriak kencang.
Brakk!
Ray langsung mendobrak pintu itu tanpa memperdulikan Satria yang meringis kesakitan.
Jejakπππ
__ADS_1
Sambil nunggu aku up, mampir yuk ke novel ini. Di jamin seru pokonyaπ