
"Gak terasa ya, Yang. Kita pacaran udah satu bulan aja," ucap Rendi bahagia.
"Semoga kita tetep seperti ini, ya. Saling melengkapi dan juga menyayangi." Kiana menatap Rendi dengan penuh cinta.
"Aku janji, aku akan selalu ada untuk kamu. Menjaga kamu, dan menemanimu dalam suka maupun duka," ucap Rendi.
"Kak Rendi janji kan, kalo kakak gak akan ninggalin aku?"
"Aku janji, selama nyawa ini masih dalam raga. Aku gak akan pernah ninggalin kamu." Menyentuh pipi Kiana dengan lembut.
"Ke pantai yuk?" ajak Rendi.
"Pantai?"
"Iya, kita kan udah lama gak jalan-jalan."
"Itu karena kamunya sibuk," Cebik Kiana.
"Kan buat masa depan kita, nah sekarang kan aku lagi free jadi aku punya banyak waktu buat kamu."
"Ya udah deh, kita let's Go jalan-jalan."
Mereka pun pergi ke sebuah pantai terdekat di sana, memang selama ini Rendi selalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia jarang punya waktu untuk Kiana. Namun semua itu juga untuk masa depan mereka, rencananya Rendi akan menikahi Kiana secepatnya supaya Kiana segera terlepas dari rumah itu. Rumah yang selalu membuat Kiana menangis.
"Kita poto yuk, buat kenangan," ajak Kiana.
"Boleh, tapi jangan banyak-banyak ya." ujar Rendi.
"Loh, kenapa emang?"
"Kasian nanti kameranya retak," Kelakar Rendi.
"Iss, mana ada," delik Kiana.
"Takutnya kameranya cemburu sama ke mesraan kita, jadi dia retak."
"Garing banget tau nggak gombalannya."
"Kamu mau yang gak garing?"
"Apa itu?"
"Madep sini deh," titah Rendi.
"Deketan dikit," lanjutnya.
"Ini udah deket...."
"Coba tatap mata aku?" pinta Rendi.
"Udah." Kiana menatap dalam-dalam manik mata Rendi.
"Ada apa di sana?" tanya Rendi yang wajahnya begitu dekat dengan Kiana.
"Ada belek," jawab Kiana.
"Kok belek, Yang?" Protes Rendi.
__ADS_1
"Aku kan jawab jujur, di mata kamu kan emang gak ada apa-apa selain belek."
Cup!
Rendi mengecup bibir ranum Kiana.
"Ikhh! Kak Rendi nyuri ciuman aku mulu," Kesal Kiana.
Cup!
"Nih, aku balikin ciumannya." Rendi tersenyum menggoda.
"Au ah," ketus Kiana yang berbalik memunggungi Rendi.
"Ciee, ngambek nih ceritanya," ledek Rendi.
Kiana tidak menjawab, dia malah memandang indahnya hamparan air laut yang biru. Begitu indah di pandang dengan angin yang begitu menyejukan.
"Indah banget ya." Rendi memeluk Kiana dari belakang.
"Iya, indah. Suasananya sejuk lagi. Cocok buat nenangin pikiran," ujar Kiana yang menyandar di dada Rendi.
"Kamu punya tempat yang ingin di kunjungi selain pantai?" tanya Rendi.
"Ada," jawab Kiana cepat.
"Kemana itu?"
"Aku pengen naik kapal laut, terus berdiri di depan dan di peluk kayak gini sama kak Rendi," ujar Kiana.
"kalau begitu, kamu harus ikut dulu ke tempat yang ingin sekali aku kunjungi," ucap Rendi.
"Emangnya kak Rendi mau kemana?"
"Ke KUA," jawab Rendi dengan senyuman manisnya.
"Ih, serius."
"Serius, Ayang. Kan kamu pengen naik kapal laut terus berdiri di depan sambil di peluk? Nah, nanti setelah kita menikah, kita akan bulan madu. Aku akan ngajak kamu keliling naik kapal pesiar," ucap Rendi...
"Tapi aku masih kuliah..."
"Aku akan nunggu kamu sampe siap." Cup! Rendi mengecup bibir Kiana setelah dia membalikan Kiana untuk menghadap ke arahnya.
Tak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat, gelapnya malam pun sudah melanda bumi kembali. Kini Rendi sudah mengantarkan Kiana pulang kerumah.
"Baru pulang Ki?" tanya Diah ibu Kiana.
"Iya, Mah. Tadi abis jalan dulu sama Kak Rendi," ujar Kiana.
"Malam tante," sapa Rendi ramah.
"Malam, pacarnya Kia ya?" Diah tersenyum hangat.
"I-ya tante," jawab Rendi canggung.
"Masuk dulu yuk, tante udah masak banyak. Kita makan malam bersama," ajak Diah.
__ADS_1
"Gak usah tante, saya langsung pulang aja," tolak Rendi halus.
"Buru-buru banget, mending makan malam dulu. Abangnya Kia lagi nggak ada di rumah, sayang makanannya kita nggak sanggup ngabisin berdua." Diah tampak memaksa.
"Baik tante kalau tidak merepotkan."
"Tidak sama sekali, ayok masuk."
Rendi pun masuk kedalam mengikuti Diah dan Kiana, ini pertama kalinya Rendi masuk kedalam rumah itu. Sangat nyaman, bersih dan cukup luas. Sampai di dalam Diah langsung mengajak Rendi untuk makan malam. Rendi begitu menikmati masakan Diah yang sangat lezat dan pas di lidahnya.
Setelah selesai makan malam, Rendi tidak langsung pulang. Melainkan ngobrol di taman bersama Kiana. "Malam ini terang banget ya," ujar Kiana sembari memandangi bintang yang berkelap-kelip di langit.
"Seterang hati aku," ucap Rendi.
"Kak Rendi..." Kiana menyandarkan kepalanya di dada Rendi.
"Apa, Sayang?" Rendi mengecup pucuk kepala Kiana.
"Entah kenapa, rasanya aku gak mau pisah dari kak Rendi," lirih Kiana.
"Ciee, ada yang udah bucin nih." Ledek Rendi.
"Aku serius, aku kangen banget sama kak Rendi." Kiana mendongkak dan menatap wajah Rendi.
"Maaf ya, aku sibuk banget akhir-akhir ini. Jadi jarang punya waktu banyak buat kamu." Sesal Rendi.
"Gak pa-pa kok, yang penting sekarang kak Rendi ada di samping aku," ucap Kiana sembari tersenyum manis.
"Kamu lihat deh bintang itu, Sayang." Rendi menunjuk keatas langit.
"Yang mana?" tanya Kiana.
"Itu, bintang yang paling terang di antara yang lainnya."
"Iya aku liat, emangnya kenapa?"
"Jika suatu saat, kamu rindu aku. Kamu tatap bintang itu, anggap aja itu aku yang sedang menatap kamu dengan senyuman paling manis," ujar Rendi.
"Kenapa harus natap bintang? Kan kalo aku kangen tinggal temuin kamu aja."
"Gak selamanya kita bisa ketemu, kalo aku sibuk gimana? Tapi yakinlah, meskipun aku sibuk dan gak bisa nemuin kamu. Bukan berati aku tak rindu, aku selalu rindu kamu." Memeluk Kiana semakin erat.
"Anggap aja bintang itu aku yang sedang menatap kamu dari kejauhan." Entah kenapa Rendi tidak ingin meninggalkan Kiana. Dia masih merindukan gadis ini dan enggan beranjak pulang.
"Aku pulang ya," Pamir Rendi.
"Aku masih kangen." Kiana kembali menghambur memeluk Rendi.
"Makannya kita ke KUA dulu biar kamu bisa ikut aku," goda Rendi.
Kiana semakin mempererat pelukan itu, sepertinya dia tidak ingin melepaskan Rendi.
Cup!
Rendi mengangkat dagu Kiana lalu menciumnya dengan lembut, menikmati manisnya bibir Kiana yang begitu manis di temani semilir angin malam yang begitu dingi menusuk ke permukaan kulit. Kiana memejamkan matanya menikmati setiap ciuman Rendi yang terasa begitu memabukan hingga akhirnya tautan bibir mereka terlepas dan Rendi berpamitan pulang.
"Ini gak mungkin kan, Kak Ray?! Ini pasti cuma mimpi, ini mimpi. Gak mungkin!" Teriak Ella di akhiri dengan nada lirih.
__ADS_1