
Keesokan harinya Ella terbangun lebih awal, untung saja dia tidak mengalami morning sickness dia begitu sehat dan juga bugar. Setelah dia membersihkan diri dia langsung saja memasak untuk sarapan mereka, Ella memasak hanya dengan mengenakan kemeja Ray yang hanya menutupi setengah paha mulusnya saja.
"Enak, mayan lah masih bisa di makan."ucapnya sembari mencicipi nasi goreng yang telah di buatnya.
"Masak apa lu dek?"tanya Satria yang baru saja tiba di dapur untuk mengambil air minum.
"Nasi goreng."Jawab Ella singkat.
"Kayak bisa masak aja, lu."cibir Satria.
"Wiss, abang jangan ngeremehin aku. Gini-gini aku tu serba bisa."Ella berucap dengan bangga.
"Cih, pede banget lu. Palingan masakan lu asin."ladek Satria.
"Enak aja asin, ini enak tau. Cobain deh."Ella menyodorkan sesendok nasi goreng pada Satria.
"Gimana? enak kan?"Ella menaik turun kan alisnya.
"Mayan."
"Sayang aku cari-cari ternyata kamu di sini."ucap Ray dengan wajah bantalnya.
"Aku lagi bikin sarapan, kak Ray cuci muka dulu sana, habis itu sarapan. Abang juga bangunin kak Rendi biar kita sarapan bareng, aku mau pesen baju dulu di onlen buat nanti berangkan kuliah."ujar Ella sembari melangkah pergi meninggalkan mereka.
Ray pun menuruti perintah Ella begitu juga dengan Satria. Sementara itu, Ella kini sedang memilih baju yang akan di pesannya di balkon apartemen, setelah dirasa dia sudah menemukan pilihannya Ella pun langsung saja menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Udah pesennya sayang?"tanya Ray yang sudah duduk manis.
"Udah, kak Rendi mana kok belum kesini?"
"Masih di kamar mandi."Satria yang menjawab, Ella pun manggut-manggut kemudian dia menundukan dirinya di samping Ray.
Mereka belum memulai sarapan karna masih menunggu Rendi, beberapa saat kemudian Rendi pun datang dengan berjalan seperti anak sehabis di sunat.
"Kak Rendi kenapa egang begitu dah?"tanya Ella.
"Perkutut gue perih Ell, kegesek-gesek ini mah semalem dah kayaknya makannya jadi gini."Jawab Rendi.
"Lah kok bisa, gimana ceritanya? bukannya itunya kak Rendi di kasih sangkar kenapa bisa kegesek-gesek?"heran Ella.
"Nah entu dia, gue kagak pake."ujar Rendi sembari duduk di kursi samping Satria.
__ADS_1
"Pantesan aja, pasti gara-gara kak Rendi ngompol semalem ya? makannya jadi cowok jangan penakut harus berani. Gimana mau ngelindungin ceweknya nanti kalau baru di geretak aja udah ngompol."ucap Ella sembari menuangkan nasi goreng ke piring mereka semua.
"Iya, Ell. Gue mau mencoba untuk berani biar gak jadi cowok penakut lagi."ujar Rendi dengan wajah memerah menahan malu.
"Good."Ella mengacungkan jempolnya.
Mereka pun memulai sarapan pagi dengan nasi goreng buatan Ella yang masih bisa di nikmati lah.
Setelah selesai sarapan Ella dan juga Ray langsung saja bersiap untuk berangkat ke kampus, untung saja baju pesanan Ella sudah datang, kalau untuk Ray dia mah banyak stok baju yang tersimpan di apartemen ini.
"Kita berangkat dulu, ya."ucap Ray pada Rendi dan juga Satria yang tengah asik bermain game.
"Ok, gue pinjem baju lo ya, Ray."ujar Rendi.
"Pake aja,"ucap Ray kemudian melangkah pergi keluar dari apartemen dengan merangkul Ella.
Sepanjang perjalanan menuju mobil Ray tidak melepaskan rangkulannya dari Ella, dia merangkul Ella dengan posesiv, apa lagi banyak pasang mata yang melihat istri mungilnya dengan tatapan kagum sehingga membuat Ray langsung melotot ke arah mereka.
Sesampainya di mobil Ray langsung saja melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, seperti biasa di perjalanan Ella selalu asik dengan ponselnya, akhir-akhir ini dia sangat sibuk dengan urusan dunia bawah yang selalu banyak masalah. Berbagai tantangan dan juga ancaman datang kepada AOD, banyak sekali yang ingin menjatuhkan gangster terkuat itu, mereka ingin menduduki peringkat pertama yang di sandang oleh AOD.
"Sudah sampai sayang."ucap Ray seketika membuat Ella menghentikan aktipitasnya.
"Morning, Dedel."sapa Ella pada Dela yang tengah asik membaca buku.
"Morning too, Ell. Sini duduk."ucap Dela dengan menunjuk kursi di sampingnya.
"Tumben banget kamu nyuruh aku duduk."ujar Ella sembari mendudukan dirinya di kursi samping Dela.
"Kamu hutang penjelasan sama aku, Ell."Dela menatap wajah Ella dengan serius.
"Penjelasan apa?"Ella pura-pura tidak tahu.
"Itu loh yang kemarin, kenapa kamu bisa sama pak Ray?"
"Oh itu, sebenarnya...."ucapan Ella terpotong oleh Vino temen se pakultas mereka.
"Di suruh ngumpul sama para senior di lapangan buruan."ucap Vino tergesa.
"Ada apa sih? kenapa tiba-tiba di suruh ngumpul?"tanya Ella.
"Gue gak tau, mending kita ke lapangan aja."ujar Vino.
__ADS_1
Mereka pun berjalan kelapangan dengan sedikit terburu-buru, ternyata di sana sudah banyak mahasiswa/mahasiswi yang berkumpul.
"Apakah semua anak-anak pakultas manajemen sudah terkumpul semua?"tanya Alvaro senior tampan di kampus itu.
"Sudah kak,"jawab mereka kompak.
"Jadi begini, saya mengumpulkan kalian di sini ingin mengajak kalian untuk bermain game tantangan, tujuannya supaya kalian tidak jenuh setiap hari hanya berkutak dengan pelajaran saja. Kenapa bermain game tantangan? karna menurut saya itu adalah permainan yang paling di gemari, yang saya tau anak-anak pakultas manajemen sangat menyukai tantangan. Setiap pakultas akan mendapat gilirannya masing-masing bukan hanya pakultas ini saja dan untuk tantangan ini kalian akan di tugas kan dengan berkelompok, masing-masing kelompok empat orang kalian mengerti?"jelas Alvaro panjang lebar.
"Mengerti kak."Jawab mereka semua.
"Baiklah kalau begitu kalian bisa memilih kelompok kalian masing-masing."ujar Alvaro.
Mereka pun memilih kelompok mereka, Ella berkelompok dengan Vino, Dela dan juga Siska. Setelah mereka selesai memilih kelompok merekapun kembali mendengarkan penjelasan Alvaro tentang apa saja yangharus mereka lakukan.
"Tantangan pertama, kalian harus mendapat kan tanda tangan dari seluruh dosen di kampus ini termasuk pak Dekan dalam waktu 15 menit, yang kalah akan mendapat hukuman dan yang paling cepat akan mendapat kan keringanan di tantangan kedua."ucap Alvaro.
"Waktunya di mulai dari sekarang."
Merekapun berlari berhamburan menuju ruangan dosen untuk meminta tanda tangan, tantangan di sini adalah memita tanda tangan pak Dekan dan juga Rayen karna dua orang itu terkenal sangat acuh dan tidak peduli, mereka tidak yakin akan mendapat kan tanda tangan kedua orang itu, yang ada bukan tanda tangan yang mereka dapat, tapi pelototan tajam yang begitu menghunus ke dalam jiwa.
"Bu Linda udah, bu Stefy udah, pak Aryo udah. kita ke siapa lagi sekarang?"tanya Siska.
"Pak Rayen dulu aja, nanti pak Dekan."ujar Dela.
"Kebetulan noh, pak Rayen ada di sana."ucap Vino.
"Mana?"
"Entu."Vino menunjuk Ray yang tengah mengobrol dengan pak Dekan.
"Duh, lagi sama pak dekan lagi. Gue gak mau dah kalo di suruh minta tanda tangan mereka, yang ada gue di pelototin. Ih serem."ucap Siska.
"Lo aja Ell yang minta sono, cepet keburu waktunya abis, kita minta ke dosen yang lain yang belom."ujar Vino.
"Iya deh,"Ella berjalan dengan gontai menghampiri Ray sembari mengerucutkan bibirnya dengan keringat yang sedikit menetes di dahinya.
"Tanda tangan."ucap Ella to the point sambil menyerahkan kertas dan juga bolpoint kepada Ray..
__ADS_1